
Sementara itu, Sadiyah masih bersembunyi di toilet. Ia tatap layar ponselnya menunggu kabar dari Kagendra. Lama ia menunggu tetapi Kagendra tidak menelepon pun mengirim pesan. Sadiyah tambah cemas dengan keadaan tidak jelas seperti ini. Ia tahan air matanya agar tidak menangis. Saat air mata tidak terbendung, Sadiyah menutup mulutnya dengan tangan agar suara isakannya tidak terdengar.
Sadiyah benci dengan ketidakberdayaannya. Ia tidak dapat melakukan apapun, hanya menunggu dan menunggu.
Tok…tok…
“Mrs. Nataprawira,” seseorang memanggilnya.
Sadiyah tidak berani menjawab karena khawatir orang yang mencarinya adalah suruhan Marco.
"Mr. Nataprawira send me to pick you up.”
Sadiyah belum yakin jika orang tersebut pengawal mereka.
Setelah pengawal itu menyebutkan nama dan memberikan kode-kode tertentu, baru Sadiyah percaya jika orang tersebut pengawal mereka.
Masih diliputi kekhawatiran, Sadiyah memberanikan diri untuk keluar dan menemui orang yang mencarinya.
“Quick, Mrs. Nataprawira!” pengawal perempuan bernama Laura bergegas menarik tangan Sadiyah kembali ke bilik toilet.
Mereka bertukar pakaian untuk mengelabui Marco dan anak buahnya. Sadiyah melepas jilbab kemudian menutup kepalanya dengan hoodie dan topi. Beruntung ukuran dan tinggi badan mereka hampir sama sehingga tidak kesulitan untuk bertukar pakaian.
Terdengar suara pengumuman bahwa pesawat mereka akan segera berangkat dan meminta agar para penumpang segera memasuki pesawat.
Laura meminta Sadiyah untuk bersikap tenang agar tidak dicurigai. Mereka keluar dari toilet bersama-sama. Sadiyah melihat anak buah Marco dari balik kacamata hitam milik Laura yang dipakainya. Jantungnya berpacu cepat. Ia benar-benar merasa ketakutan. Tangannya bergetar hebat saat melewati gate pemeriksaan sebelum masuk ke dalam pesawat. Agar tidak dicurigai oleh petugas bandara, ia kepalkan tangannya kuat-kuat hingga tangannya memutih dan sedikit terluka terkena kuku-kukunya.
Seorang pramugari mengantarkan Sadiyah menuju kursinya. Sadiyah selamat sampai ke dalam pesawat tetapi ia belum merasa tenang karena kursi sebelah yang seharusnya dihuni Kagendra terlihat masih kosong.
Sadiyah kembali melihat ponselnya berharap mendapatkan kabar dari Kagendra tetapi tidak ada satupun pesan dari suaminya. Ia hanya bisa berdo’a untuk keselamatan Kagendra dan dirinya.
**********
Bug…
“Aargh… Sialan!”
Kagendra mengusap bibirnya yang sobek terkena pukulan anak buah Marco. Kali ketiga Kagendra menghadapi anak buah Marco, dua pukulan mengenai wajahnya. Wajar saja karena lawannya kali ini berbadan jauh lebih besar dibandingkan tubuhnya. Darah segar mengucur dari hidung dan mulutnya.
Bug…
__ADS_1
Kraak…
Dengan teknik beladiri yang dimilikinya, Kagendra berhasil membalas pukulan anak buah Marco.
Kagendra cepat-cepat mengaitkan kakinya pada kaki lawannya hingga terjatuh. Mereka bergumul di atas lantai. Dengan menggunakan teknik okuri erijime atau penguncian pada leher lawan, Kagendra berhasil melumpuhkan lawannya. Setelah lawan tidak berkutik, tanpa rasa kasihan Kagendra mematahkan tangan dan kaki lawan.
Kagendra menghubungi Laura dan memerintahkannya untuk segera membawa Sadiyah masuk ke dalam pesawat. Ia sendiri akan menyusul setelah situasinya aman.
Kagendra belum merasa tenang karena tidak melihat Marco. Ia khawatir Marco berhasil menemukan Sadiyah.
Dari jarak sekitar 500 meter, Kagendra melihat Marco bersama dengan dua orang anak buahnya masih berkeliaran mencari Sadiyah. Ia masih bersembunyi dan akan bergerak setelah yakin Sadiyah berada dalam pesawat.
Drrt...
Kagendra merasa getaran ponselnya dan membuka pesan dari Laura, pengawal yang menjaga Sadiyah. Laura mengirimkan pesan gambar Sadiyah yang sudah berada di dalam pesawat. Setelah melihat foto Sadiyah di dalam pesawat baru Kagendra merasa tenang.
Panggilan terakhir untuk para penumpang pesawat menuju Indonesia terdengar dari pengeras suara. Kagendra keluar dari persembunyian dan mempercepat langkahnya. Ia sudah melihat gate menuju pesawat saat Marco berdiri dengan gagah menghalangi langkahnya.
Ingin rasanya Kagendra menghajar Marco hingga babak belur, tetapi ia urungkan niatnya karena tidak ingin memprovokasi Marco sehingga berakibat buruk pada dirinya dan Sadiyah.
“Sialan!” umpat Kagendra keras. Ia tidak peduli dengan umpatan kasar yang ia tujukan pada Marco.
“There’s nothing to talk, Mr. Romagnoli.”
“Please, Mr. Nataprawira. I’ll give you everything.”
“I need nothing from you, Mr. Romagnoli,” ucap Kagendra tegas.
“I ask you politely.”
“Ha-ha-ha… Give me a break. Ask politely? You’re ignorant. You’re insulting me, Mr. Romagnoli. Asking someone’s wife for yourself is amoral. You’re a crazy man.”
“Yes, I’m crazy. I’m crazy about Sadiyah. I love her. I’ll give you everything you want if you hand Sadiyah over to me.”
“Sadiyah is everything to me. She’s my whole world. You can’t exchange her for anything. Even if you give all of your money, stocks, companies, and islands, I won’t give up my wife.” Kagendra menegaskan setiap kata yang ia lontarkan.
“Please, Mr. Nataprawira.” Marco memohon untuk terakhir kalinya.
“There’s nothing more to talk. Get out of my way.” Kagendra mendorong tubuh Marco lalu berjalan tenang memasuki gate pesawat. Walaupun bersikap tenang, jantung Kagendra berdetak sangat kencang. Ia takut kalau Marco bertindak nekad dengan melakukan segala cara untuk merebut Sadiyah darinya.
__ADS_1
Marco masih berdiri diam di tempatnya. Kagendra bersyukur Marco menyerah tetapi ia harus tetap waspada karena tidak mengetahui tindakan Marco selanjutnya. Ia harus siaga jika suatu hari Marco kembali untuk mengacaukan hidup keluarganya.
********
Sadiyah sudah berada dalam pesawat yang akan membawanya kembali ke Indonesia tetapi ia gelisah karena tempat duduk di sebelahnya masih kosong. Sudah berulang kali ia mencoba menghubungi Kagendra tapi tidak ada jawaban. Ia semakin gelisah saat terdengar pilot announcements atau pengumuman dari pilot bahwa pesawat akan segera lepas landas.
Sadiyah mulai terisak saat pramugari mulai mengecek para penumpang untuk menggunakan sabuk pengaman.
Seorang pramugari cantik menyapa Sadiyah dan bertanya apakah ia membutuhkan sesuatu karena pramugari itu melihat Sadiyah yang gelisah.
Dengan air mata yang sudah mulai keluar, Sadiyah memberitahukan pada pramugari itu bahwa suaminya belum masuk ke pesawat.
Pramugari itu terlihat bingung dengan perkataan Sadiyah. Pesawat akan tinggal landas dalam beberapa menit tetapi masih ada penumpang yang belum masuk.
“Iyah…,” terdengar suara familer.
“Aa…!”
Melihat Kagendra, Sadiyah merasa lega luar biasa. Tidak memedulikan pramugari dan penumpang lain, ia langsung memeluk Kagendra dengan sangat erat. Tangis yang sejak tadi ia tahan langsung dikeluarkan membasahi bagian depan pakaian Kagendra.
Pelukan Sadiyah meredakan ketegangan yang dirasakan oleh Kagendra sejak masuk ke bandara. Ia menciumi kening dan wajah Sadiyah berkali-kali untuk meluapkan perasaan leganya hingga pramugari yang sejak tadi menonton adegan pertemuan suami dan istri di pesawat menegur mereka untuk segera duduk di kursi masing-masing dan mengencangkan sabuk pengaman karena pesawat akan tinggal landas dalam hitungan detik.
Selama perjalanan yang memakan waktu kurang lebih delapan jam, Kagendra dan Sadiyah saling berpelukan tanpa melepaskan genggaman tangan mereka. Dalam hati masing-masing berdo’a agar Tuhan tidak memberikan ujian perpisahan lagi pada mereka.
Kagendra bertekad akan selalu menjaga keselamatan Sadiyah, Aras dan Aris bahkan dengan nyawanya. Ia tidak akan pernah lagi melepaskan Sadiyah apapun alasannya.
Bagi Kagendra, Sadiyah adalah oksigennya. Tanpa Sadiyah sama saja seperti hidup tanpa oksigen artinya Kagendra tak akan sanggup hidup tanpa Sadiyah. Bagi Sadiyah, Kagendra adalah mataharinya. Tanpa Kagendra sama saja hidup tanpa sinar artinya hidup Sadiyah akan gelap tanpa sinar matahari.
Begitulah apa yang dirasakan oleh Kagendra dan Sadiyah. Mereka saling membutuhkan dan melengkapi. Mereka saling berjanji untuk melupakan kesalahan mereka di masa lalu dan menjadikannya sebagai pelajaran hidup yang akan semakin menguatkan ikatan cinta dan pernikahan mereka.
Mereka menyadari bahwa kehidupan pernikahan mereka tidak akan semulus yang diharapkan. Pasti ada riak-riak di dalamnya. Namun mereka percaya bahwa ikatan cinta mereka akan tetap kuat.
Natasha dan Marco Romagnoli adalah riak yang mewarnai kehidupan mereka. Dua orang yang terobsesi untuk memiliki sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain. Terkadang cinta itu tak ada logika. Seseorang akan melakukan apapun baik itu perbuatan baik ataupun jahat untuk mendapatkan hal yang mereka anggap sebagai cinta. Seperti Natasha yang masih saja mengharapkan Kagendra untuk menjadi pasangannya. Ia melakukan apapun untuk mendapatkan kembali cinta Kagendra. Begitu juga Marco Romagnoli yang menganggap Sadiyah sebagai cinta sejatinya. Ia lupa atau pura-pura tidak tahu jika wanita yang dicintainya telah menjadi milik laki-laki lain.
Kagendra dan Sadiyah mendarat di bandara internasional Soeta tengah malam. Sudah ada empat orang anak buah Kagendra yang menjemput mereka. Tiga orang pengawal dari Maldives langsung kembali ke negara mereka pada penerbangan ke Maldives selanjutnya.
Menginjakkan kaki kembali di tanah air membuat keresahan dan kekhawatiran yang bercokol di dada Sadiyah hilang begitu saja. Sesak dalam dada yang ia rasakan sejak dari Bandara Mali langsung hilang begitu saja. Di Indonesia, Sadiyah merasa lebih aman karena ia yakin kekuasaan Kagendra cukup kuat untuk melindunginya.
*********
__ADS_1
to be continued...