Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
91. Bermain Bersama


__ADS_3

“Tempatnya masih jauh?” tanya Kagendra.


Tuti sudah kepayahan mengikuti langkah Faras, Faris, Kagendra dan Rudi.


“Itu di sana, Om.” tunjuk Faras.


“Kita harus naik ke atas sana?” tanya Rudi.


“Ya kan namanya juga mau main seluncuran. Kalau tempatnya bukan di atas mana bisa kita seluncuran.” Faras menjawab seperti biasa dengan nada ketusnya.


“Aras…Om kan sudah pernah bilang tidak boleh berkata ketus sama orang yang lebih tua. Itu tidak sopan.” Kagendra sudah tidak segan-segan lagi menegur sikap Faras yang ketus.


Faras mendecih mendengar teguran Kagendra.


“Aras…..” panggil Kagendra.


“Iya…iya…Aras minta maaf.” ucap Faras.


“Kalau sudah minta maaf, Aras jangan mengulanginya lagi.”


Kagendra melihat mata Faras yang sudah mulai memerah hendak mengeluarkan air mata. Melihat itu, Kagendra langsung menghampiri Faras dan memeluknya.


“Ayo cepat kita ke sana.” Kagendra mencoba mengalihkan perhatian Faras agar tidak menangis. Walaupun sikap Faras keras, tapi ia hanyalah anak-anak yang masih berusia lima tahun dan perasaannya masih rapuh. Apalagi selama ini ia tidak pernah mendapatkan teguran atau kasih sayang dari sosok seorang ayah.


“Tuh Aris sudah di atas. Ayo kita susul.” Kagendra menuntun tangan mungil Faras.


********


“Ini benar kita akan meluncur dari sini? Aman tidak?” tanya Kagendra ketika melihat turunan yang sedikit agak curam. Luncuran ini seperti yang ada di waterboom, hanya saja ini seluncuran yang lebih natural.


“Sepertinya sih aman, Om. Aras dan Aris sering melihat anak-anak yang lebih besar berseluncur dari sini. Sepertinya Aras dan Aris kabita melihat anak-anak yang lain main seluncuran.” ujar Tuti


“Ya kalau didampingi sama orang dewasa sih sepertinya tidak akan berbahaya.” ujar Rudi.


“Aras mau meluncurnya bareng sama Om Endra.”


“Aris juga.”


“Kan Om Endra nya cuma satu. Salah satu dari kalian seluncurannya sama Om Rudi saja.” tawar Rudi.


“Tidak mau.” tolak Faras dan Faris kompak.


“Ya sudah nanti Om Endra yang menemani kalian. Tapi satu persatu, jangan barengan. Kalian suit siapa yang duluan.”


“Tuti, kamu mau ikut berseluncur?”


Tuti menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

__ADS_1


“Kalau begitu kamu tunggu saja di bawah sana.” perintah Kagendra.


“Kalau tahu begini, dari tadi saja Tuti tidak usah capek-capek ikut naik.” gerutu Tuti.


Rudi tertawa mendengar gerutuan dari Tuti.


“Siapa juga yang menyuruh dia ikut naik.” ujar Kagendra setelah mendengar omelan Tuti.


“Jangan ketus seperti itu, Bos. Nanti terdengar sama Aras.” tegur Rudi.


Kagendra yang menyadari dirinya sudah berkata ketus langsung menutup mulutnya.


“Siapa yang duluan meluncur?” tanya Kagendra.


“Aris, Om….” seru Faris gembira.


Faras dan Faris langsung melepas baju kaos mereka tetapi masih tetap menggunakan celana pendeknya. Begitupun dengan Kagendra dan Rudi yang segera melepas kameja berwarna hitam mereka. Kagendra dan Rudi kerap memakai pakaian dengan warna senada saking kompaknya. Terkadang beberapa orang banyak yang salah dalam membedakan meraka. Maklum saja dengan postur tubuh yang sama tinggi dan berat badan yang tidak jauh berbeda, mereka sulit dibedakan jika dilihat dari belakang.


“Kamu juga mau ikut seluncuran?”


“Iya dong Bos. Masa Bos saja yang senang-senang. Saya duluan ya Bos.


Rudi sudah bersiap untuk meluncur.


Dengan air yang terus mengalir dari hulunya, memudahkan mereka untuk meluncur karena tempat seluncurannya selalu teraliri air.


“Aras, kamu tidak apa-apa sendirian di sini? Nanti Om balik lagi kesini buat berseluncur sama Aras.”


Faras menganggukkan kepalanya.


“Rud, cepat balik kesini.”


“Siap, Bos.” teriak Rudi dari bawah sana.


“Sudah siap?” tanya Kagendra pada Faris.


“Siap, Om.”


“Yeeeeey……..” Faris berteriak gembira ketika meluncur bersama Kagendra.


Setelah mereka sudah sampai di bawah, Kagendra langsung bangun dan segera naik lagi untuk melakukan luncuran keduanya bersama dengan Faras.


Faras sudah bersiap di depan Kagendra dan Kagendra memeluk Faras untuk bersiap meluncur.


Faras pun berteriak senang.


Faras dan Faris meluncur sebanyak lima kali dan Kagendra harus bolak balik sebanyak lima kali dan meluncur sebanyak sepuluh kali karena Faras dan Faris tidak mau meluncur bersama Rudi.

__ADS_1


“Kalian senang?” tanya Kagendra setelah mereka selesai bermain dan mengenakan kembali pakaian mereka.


”Senaaaang….” seru Faras dan Faris sambil memeluk Kagendra.


“Besok mau kemana lagi?” tanya Kagendra?


“Kita main ke hutan di sana.” seru Faris.


“Ada apa di hutan? Cuma ada pohon-pohon kan?”


“Di sana ada tambang-tambang buat gelantungan. Kita bisa main gelantungan kaya monyet.” jelas Faris.


“Tidak bahaya?” tanya Kagendra pada Tuti.


“Tidak. Mereka sering main ke sana sama A Atep.” jawab Tuti.


“Sekarang kita pulang. Sudah sore. Nanti ibu kalian marah kalau kalian terlambat pulang.” ucap Kagendra tegas. Walaupun Kagendra terlihat sangat menyayangi Faras dan Faris tetapi ia tidak mau terlalu memanjakan anak kembar itu. Kagendra yang terkenal sangat disiplin menerapkan juga sikap disiplinnya itu pada Faras dan Faris.


“Ibu sedang pergi ke Bandung, Om. Kalau kita mau main lagi juga gak apa-apa.” ucap Faris.


“Tidak bisa. Kalian harus tahu kapan waktu untuk bermain dan kapan waktu untuk pulang. Kalian belum sekolah, kan? Kalau sudah sekolah, tidak boleh sering main seperti ini.” kata Kagendra tegas.


“Iya, Om.” Faras dan Faris mengangguk tidak berani membantah. Hal ini sangat mengejutkan bagi Tuti yang mengenal Faras dan Faris. Anak kembar itu tidak pernah menuruti perkataan orang lain kecuali ibu mereka dan Mak Isah.


Setelah mereka kembali ke lokasi syuting, Faras dan Faris berpamitan.


“Besok jadi ya Om?” tanya Faris.


Kagendra menganggukkan kepalanya.


“Dadah Om……” Faras dan Faris melambaikan tangan mereka.


“Bos pasti bahagia. Iya, kan?” tanya Rudi.


“Hmmmm….sangat…sangat bahagia.” jawab Kagendra dengan senyum yang Rudi lihat sebagai senyum yang sampai pada mata.


Malam ini, Kagendra merebahkan tubuh lelahnya di atas Kasur empuk hotel. Dia memandang langit-langit kamar dan ada wajah Sadiyah di sana.


“I miss you.”


Kagendra benar-benar merindukan Sadiyah. Walaupun ia sudah berusaha untuk melupakan dengan bekerja lebih keras dari siapapun, di saat-saat seperti ini, rasa rindu itu akan muncul. Di saat ia mengistirahatkan tubuhnya seusai kesibukan yang ia sengaja ciptakan, wajah Sadiyah akan muncul secara tiba-tiba di langit-langit kamar, di cermin, di dapur, bahkan di layar telepon yang sedang tidak Kagendra gunakan.


Demi mengobati rasa rindu yang mendera, Kagendra membuka folder dalam teleponnya yang berisi gambar-gambar Sadiyah. Kagendra pernah menghapus semua gambar Sadiyahyang ada di teleponnya, tetapi dengan segera ia menyesal dan meminta ahli IT untuk me-restore gambar-gambar yang sudah dihapusnya. Kagendra sudah beberapa kali berganti telepon dan berkali-kali juga ia memindahkan satu atau dua gambar Sadiyah dari telepon lama ke telepon barunya.


Sekarang, rasa kesepian Kagendra sedikit terobati oleh kehadiran Faras dan Faris. Entah mengapa Kagendra merasa bahwa Faras dan Faris itu gambaran dari dirinya dan Sadiyah. Melihat Faris mengingatkan ia akan sosok Sadiyah. Ah, hari ini ia merasa bahagia setelah bertahun-tahun ia lupa rasanya bahagia.


*******

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2