Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
136. Makan Banyak


__ADS_3

Prang...


Sadiyah melempar garpu yang sedang dipegangnya ke atas meja.


“Makan tidak boleh, masuk ke ruangan Aa tidak boleh, bertanya tidak boleh, semuanya tidak boleh. Aa anggap Iyah itu apa? Orang asing? Pembantu? Atau musuh Aa, hah?”


Sadiyah tidak tahan lagi menahan rasa kesal. Sekarang, ia tumpahkan kekesalan yang sejak pagi ia tahan di hadapan Kagendra.


“Kalau serba tidak boleh, Iyah mau pulang saja. Lebih baik Iyah hidup bertiga saja sama Aras dan Aris tanpa Aa daripada seperti ini. Aa selalu bikin Iyah kesal dan sedih sekaligus. Maunya Aa itu apa sih? Kalau sudah bosan dengan Iyah, bilang saja. Jangan memperlakukan Iyah seperti ini,” ungkap Sadiyah sambil berurai air mata.


Kagendra memeluk Sadiyah erat.


“Jangan bicara seperti itu, Sayang. Maafkan Aa. Maaf  Aa sudah mengabaikan dan membuat kamu sedih. Maafkan, Aa.”


Kagendra menciumi kening dan puncak kepala Sadiyah. Ia menyesal telah bersikap tidak acuh tadi pagi.


Tangis Sadiyah semakin keras saat Kagendra memeluknya. Air mata membasahi baju kagendra. Tanpa berpikir, Sadiyah membersit hidungnya yang penuh dengan ingus menggunakan kaus Kagendra.


Kagendra mengeryit jijik saat ingus Sadiyah memenuhi kausnya tetapi ia hanya bisa pasrah kausnya digunakan untuk membersihkan air mata dan ingus.


Sepertinya semakin lama ia hidup bersama dengan Sadiyah, semakin mampu ia untuk mentoleransi segala bentuk kotoran. Terbukti dengan berkurangnya durasi ia mandi. Jika dulu ia menghabiskan waktu hampir satu jam di kamar mandi, sekarang ia bisa mandi kurang dari 10 menit. Sejak mengurus Faras dan Faris untuk pertama kalinya, ia sudah tidak dapat berlama-lama di kamar mandi. Sebenarnya bukan tanpa sebab ia menghabiskan banyak waktu di kamar mandi. Trauma di masa kanak-kanak membuat Kagendra menderita obsessive compulsive disorder. Jika tidak menggosok tubuh berulang kali, Kagendra merasa tubuhnya belum cukup bersih. Saat masih anak-anak, ia pernah diculik dan disekap di tempat yang sempit dan kotor selama satu minggu. Penculiknya kerap melumuri tubuh Kagendra kecil dengan berbagai macam kotoran.


Setelah berhasil diselamatkan oleh polisi dan kembali ke rumah, Kagendra kecil akan berteriak-teriak dan marah-marah saat disentuh oleh siapapun. Orangtuanya membawa Kagendra kecil ke psikolog dan psikiater untuk mengatasi traumanya. Lima tahun, Kagendra berjuang untuk terlepas dari trauma. Kagendra memang berhasil sembuh dari traumanya dan mampu untuk kembali ke sekolah dan bergaul kembali bersama teman-temannya tetapi sikapnya berubah banyak. Kagendra memang memiliki sikap yang dingin sejak kecil tetapi setelah peristiwa penculikan, sikapnya semakin dingin, pemurung, penyendiri dan hanya memiliki sedikit teman. Ia menjadi sosok yang sulit untuk mempercayai orang lain.


Beranjak dewasa, kebiasaannya dalam hal kebersihan tetap menempel. Ia menghabiskan banyak waktu hanya untuk sekadar mandi. Kamarnya harus selalu bersih dan hanya ia yang boleh membersihkan ruangan pribadinya. Kagendra tidak mengizinkan siapapun untuk masuk ke dalam kamar. Ia hanya akan makan makanan yang dimasak oleh ibunya. Jika memang harus terpaksa makan di luar bersama dengan klien, Kagendra akan memilih restoran dengan tingkat kebersihan yang sesuai dengan standarnya.


Awal Kagendra berpacaran dengan Natasha pun, ia jarang menggenggam tangan dan memeluk Natasha. Setelah beberapa tahun berpacaran, baru ia berani untuk menyentuh dan mencium Natasha. Bisa dikatakan Natasha memberikan sedikit andil dalam mengatasi trauma yang dideritanya. Saat itu, Kagendra sangat berterima kasih dan berpikir bahwa Natasha adalah dewi penolongnya hingga memutuskan untuk mencintai Natasha selamanya.


“Maaf, kaus Aa jadi kotor,” sesal Sadiyah sambil terus membersit hidungnya menggunakan ujung kaus milik Kagendra.


“Tidak apa-apa. Kamu boleh sesukanya membersit hidung kamu dengan menggunakan kaus Aa.”


Kagendra melepaskan pelukan lalu membuka kaus dan memberikannya pada Sadiyah.


“Nih, ambil kaus Aa.”


“Aa kenapa jadi telanjang dada begini?” seru Sadiyah dengan wajah memerah.


“Kenapa? Mau?”


“Apaan sih?” Sadiyah mencubit perut Kagendra yang ternyata sulit untuk dicubit saking kerasnya.”


“Kamu boleh pegang-pegang semua bagian tubuh Aa.”


Kagendra kembali memeluk Sadiyah erat.


“Dasar mesum.”

__ADS_1


“Tidak apa-apa mesum sama istri sendiri.”


“Sudah, lepaskan! Iyah mau meneruskan makan.”


“Kamu belum kenyang?”


“Belum!”


“Astaghfirullah. Kamu nanti gendut kalau terlalu banyak makan,” protes Kagendra.


“Kenapa kalau gendut? Aa tidak mau Iyah jadi gendut? Kalau Iyah gendut, Iyah jadi jelek terus Aa gak mau lagi sama Iyah. Begitu?”


“Bukan begitu, Sayang. Kalau kamu terlalu banyak makan, tidak baik buat kesehatan kamu.


“Huh, semua laki-laki sama saja. Kalau istrinya berubah jadi gendut dan jelek, cari perempuan seksi di luar.”


“Makanya kalau tidak mau suaminya berpaling, istri harus menjaga penampilan agar suami betah di rumah,” sahut Kagendra blak-blakan.


“Aa…!” Sadiyah mendorong tubuh Kagendra. “Jadi begitu pikiran Aa? Picik sekali.”


“Iyah sayang. Aa berjanji dan akan berusaha sekuatnya untuk tidak berpaling dari kamu.”


“Apa?” seru Sadiyah.


“Laki-laki memang menyukai perempuan seksi dan cantik. Aa tidak memungkiri hal itu. Makanya godaan terbesar laki-laki itu perempuan.”


Sadiyah melotot mendengar perkataan Kagendra. Ia tidak menyangka dengan pemikiran Kagendra yang menurutnya sempit hanya melihat perempuan dari penampilan fisiknya.


“Gombal.”


“Only for you,” ucap Kagendra sambil mengecupi pipi Sadiyah.


“Aa…, Iyah masih marah?” rajuk Sadiyah.


“Masa sudah makan banyak dan menangis kencang masih marah saja?” goda Kagendra.


“Iyah beneran marah.”


“Biar tidak marah, kita ke kamar saja, yuk!”


“Ih, ngapain ke kamar? Iyah mau meneruskan makan.”


“Iyah!”


“Biarin atuh, A. Tidak setiap hari juga Iyah makan banyak. Aa lapar tidak?”


Kagendra mengangguk.

__ADS_1


“Masih ada pizza satu kotak dan mie goreng satu box. Walaupun Iyah marah tapi masih ingat sama Aa. Iyah beli juga buat Aa.”


“Beli darimana? Kamu kan tahu kalau Aa tidak makan sembarangan.”


“Jangan jadi picky eater, A.”


“Aa bukan picky eater tapi tidak sembarangan mengkonsumsi makanan yang dibeli dari luar. Kalau kamu yang masak, Aa tidak pernah pilih-pilih, kan? Semuanya Aa makan.”


“Iya juga sih.”


Kagendra memang selektif dan rewel perkara makanan yang dibeli dari luar tapi tidak akan rewel jika Sadiyah atau ibu yang memasaknya.


“Kalau tidak mau makanan yang dibeli, tunggu Iyah masak. Masih kuat nahan lapar?”


“Hm…”


Sadiyah bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan siang bagi Kagendra. Beruntung tadi pagi ia sudah mencuci sayuran dan ayam. Sadiyah akan memasak sayur sop ayam yang mudah dan cepat dimasak. Sambil menunggu sopnya matang, Sadiyah menggoreng perkedel jagung.


Kagendra masuk ke kamar mengambil kaus ganti untuk dipakai.


30 menit kemudian, sayur sop ayam dan perkedel jagung sudah tersaji di atas meja.


“Temani Aa makan!” pinta Kagendra ketika ia melihat Sadiyah hendak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Iyah sudah kenyang. Aa makan saja sendiri.”


“Masa istri tidak menemani suaminya makan.”


“Dih, tadi saja Iyah makan sendirian. Aa mah makin kolokan melebihi manjanya Aras dan Aris.”


“Mumpung Aras dan Aris tidak ada,” kekeh Kagendra.


Sadiyah menyendokkan nasi untuk Kagendra dan untuknya sendiri lalu menuangkan sayur sop ke dalam mangkuk untuk Kagendra dan menuangkan langsung sayur sop ke dalam piringnya yang sudah terisi nasi.


“Kenapa sih kamu makan kuah sop langsung sama nasinya?” tanya Kagendra.


“Kenapa Aa makan sayur harus pakai mangkuk terpisah?”


“Memang begini makan dengan sesuatu yang berkuah.”


“Ribet, A. Sama saja kalau sudah masuk ke dalam mulut dan perut. Apalagi kalau sudah dikeluarkan.”


“Stop! Jangan bicara jorok di meja makan.”


“He-he-he, maaf…” Sadiyah terkikik melihat raut jijik di wajah Kagendra. “Enak sopnya?”


“Masakan kamu selalu enak. Sangat cocok di lidah Aa.”

__ADS_1


*********


to be continued...


__ADS_2