Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
162. Pertolongan?


__ADS_3

Plak…


Salah seorang penculik menampar Faras. Setelah para penculik itu kembali ke gudang tua, mereka menemukan bahwa salah satu dari anak kembar yang mereka sekap menghilang. Jendela kecil dalam ruangan yang mereka gunakan untuk menyekap Faras dan Faris telah terbuka.


“Kemana saudara kembarmu pergi, hah?” bentak si penculik dengan rajah di sekujur tubuhnya.


Faras diam tidak menjawab pertanyaan si penculik.


“Kalau kamu tidak bicara. Kamu akan dipukul lagi. Kamu mau dipukul, hah?” ancam di penculik.


Seakan tidak peduli dengan ancaman si penculik, Faras diam seribu bahasa.


Karena kesal, penculik itu kembali menampar pipi Faras lalu membanting kursi dan mengenai tubuh kecil Faras.


Seakan ingin mengatakan bahwa dirinya tidak takut, Faras tidak mengaduh kesakitan. Ia tahan semua rasa sakit yang mendera tubuhnya. Suhu tubuhnya yang mulai menurun kini kembali tinggi karena rasa sakit yang dideritanya.


Malam itu, Faras meracau dalam tidurnya. Ia memanggil-manggil ayah dan ibunya.


“Bang, anak itu deman lagi. Sekarang suhu tubuhnya lebih tinggi dari malam kemarin.”


“Beri dia obat yang kamu beli di warung.”


“Tapi dia bilang kalau dia tidak bisa minum obat sembarangan, Bang. Bagaimana kalau anak itu mati?”


“Kalau dia mati ya sudah tinggal kamu kuburkan saja.”


“Takut saya, Bang. Takut dosa.”


“Dasar cemen, lu. Penjahat seperti kita tidak boleh mengenal rasa takut. Kita ini udah banyak dosanya. Kalau kita tambah sedikit dosa, gak akan ngaruh. Udah, lu sana kasih obatnya.”


“Dia gak akan mati kan, Bang?”


“Gue juga gak tau dia bakal mati atau kagak.”


“Kalau dia mati, kita bakal kena damprat bos besar kagak, Bang?”


“Udah! Jangan banyak bacot! Kasih tuh obat.”

__ADS_1


Si penculik penakut itu memberikan obat pada Faras. “Hei, bangun!” dia mengguncang-guncangkan tubuh Faras supaya bangun.


Faras membuka matanya tetapi langung menutupnya kembali karena silau dengan sinar lampu. Ia mengernyit menahan sakit yang luar biasa pada kepalanya.


“Kenapa, lu? Sakit, hah? Makanya kalau dikasih makan dan obat itu kudu dimakan.”


Faras memalingkan muka, tidak ingin melihat wajah jelek penculiknya.


“Nih, makan obatnya!” penculik itu menyodorkan sebutir obat pada Faras.


Tidak mendapatkan respon positif dari Faras, si penculik mulai kehilangan kesabaran. Dia memaksa Faras untuk meminum obat dengan cara memiting kepala Faras lalu menjejalkan paksa obat itu ke dalam mulut Faras.


Tidak memiliki kekuatan untuk melawan, Faras pasrah menelan obat yang dijejalkan ke dalam mulutnya.


“Jadi anak itu jangan bandel. Kalau disuruh minum obat jangan melawan.”


Penculik itu meninggalkan Faras sendirian. Sepeninggal penculiknya, Faras mulai menangis tertahan. Ia sangat merindukan ayah, ibu, dan saudara kembarnya.


“Ayah, Ibu… Aras kangen. Aras ingin ketemu ayah dan ibu. Kenapa ayah lama sekali datangnya. Aras sudah tidak tahan lagi. Badan Aras semuanya sakit, Bu. Ayah kapan datang jemput Aras?” berulang kali Faras memanggil ayah dan ibunya dalam tangis.


“Berengsek kalian semua! Kalian semua tidak becus. Menjaga dua orang anak saja tidak becus. Percuma aku membayar mahal kalian. Kerja kalian recehan, tidak sesuai dengan upah yang kuberikan.”


“Maaf, Nyonya. Anak itu kabur saat kami berganti shift.”


“Hah, omong kosong. Kalian hanya beralasan. Bagaimana mungkin anak itu bisa kabur dari pengawasan kalian jika kalian bekerja dengan benar.”


Pintu ruangan tempat Faras disekap terbuka.


“Oh, sayangku. Kenapa kamu begitu pucat. Kamu sakit, sayang?”


“T-tante siapa?” tanya Faras terbata-bata. Kepalanya masih sakit, tetapi ia penasaran dengan sosok perempuan dewasa yang ada di hadapannya.


“Tante adalah tantemu.”


“Aras tidak punya tante lain selain tante Lena,” jawab Faras.


“Nama Tante, Natasha. Kamu bisa memanggilku Tante Tasha, seperti ayahmu memanggil namaku, Tasha." Natasha kembali mengingat masa-masa indahnya bersama Kagendra. Ia sangat bahagia saat Kagendra memanggil namanya dengan mesra.

__ADS_1


“Tante kenal ayahnya Aras?” tanya Faras. Setelah mengetahui perempuan di hadapannya mengenal ayahnya, Faras memiliki harapan untuk bisa bebas dari para penculiknya dan dapat segera bertemu dengan ayah, ibu, dan saudara kembarnya.


“Tentu saja Tante mengenal ayahmu. Bahkan Tante sangat mengenal ayahmu. Ayahmu sangat mencintai Tante. Kami berdua saling mencintai. Kamu tahu itu, sayang?”


“Tapi ayah mencintai ibu, bukan Tante,” sanggah Faras.


Plak…


Natasha menampar pipi Faras.


“Jangan pernah mengatakan kalau ayahmu mencintai ibumu. Ayahmu, Kagendra hanya mencintaiku. Paham?”


Faras menatap Natasha tajam. Tatapannya sangat mirip dengan tatapan tajam Kagendra. Natasha merasa seperti sedang ditatap oleh Kagendra.


“Oh, maafkan Tante, sayang. Tante tidak bermaksud memukulmu.” Natasha memeluk Faras dan mengelus-ngelus puncak kepalanya.


Faras terdiam dalam pelukan Natasha. Harapannya untuk bebas dari para penculik dan segera berkumpul lagi bersama dengan keluarganya langsung sirna.


“Makanya kamu jangan bilang kalau ayahmu mencintai ibumu. Kagendra hanya mencintaiku. Kamu harus tahu itu! Kamu ngerti, huh?”


Faras diam tidak ingin menjawab apapun pertanyaan dari Natasha. Ia mulai membenci perempuan dewasa di hadapannya. Faras menatap tajam Natasha.


“Kagendra,” desis Natasha. Tiba-tiba ia teringat kejadian saat Kagendra menolaknya. Rasa sakit itu kembali menyerang hatinya.


“Jangan menatapku seperti itu, Kagendra. Aku tidak bersalah. Aku hanya mencintaimu. Kamu tahu itu, Kagendra. Hanya kau yang aku cintai.”


Natasha mulai meraung-raung. Ia berteriak-teriak histeris.


“Calm down, Babe!”


Tiba-tiba muncul seorang laki-laki dewasa yang mencoba untuk menenangkannya.


“Marco!” seru Natasha.


*******


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2