
Dua hari kemudian…
Seharusnya besok Kagendra dan Sadiyah pergi ke Pulau Maladewa atau lebih dikenal dengan sebutan Maldives Island untuk liburan. Namun ada masalah di perusahaan Kagendra yang perlu penyelesaian secepatnya. Kagendra segera menelepon Sadiyah untuk mengabarkan berita yang kurang baik ini.
“Maaf Sayang karena kita harus menunda liburan kita. Aa juga tidak menyangka akan ada masalah seperti ini. Kamu pasti kecewa karena sudah menyiapkan segala sesuatunya. Pakaian kita juga sudah selesai kamu packing, kan?”
“Tidak apa-apa, A. Kebetulan Iyah juga lagi datang bulan. Tidak nyaman rasanya kalau liburan tapi perut Iyah sakit karena datang bulan seperti ini.”
“Kamu masih sakit perut kalau lagi datang bulan? Kata orang kalau sudah menikah dan melahirkan, sakitnya akan hilang.”
“Kata siapa? Siapa yang bilang? Yang pasti dua sampai tiga hari, perut akan berasa tidak akan nyaman. Setelah empat hari baru mulai nyaman. Tapi memang tidak terlalu sakit seperti sebelum melahirkan sih. Oh iya, tiket pesawat, hotel, dan lain-lainnya sudah dibatalkan belum?”
“Sudah beres. Rudi yang atur buat reschedule liburan kita. Kamu tenang saja. Setelah semua masalah di kantor beres, kita langsung pergi liburan. Mudah-mudahan dalam satu minggu semua urusan bisa beres. Balik lagi ke sakit perut. Kamu sudah periksa ke dokter? Aa khawatir ada penyakit lain di organ dalam tubuh kamu.”
“Sudah dan dokter bilang tidak masalah. Sakitnya masih dalam tahap wajar.”
“Syukurlah. Nanti Aa pulang telat lagi. Kamu langsung tidur dan tidak usah menunggu Aa pulang.”
“Iya, A. Aa juga jangan lupa makan. Jangan telat makan, nanti lambung Aa sakit lagi.”
“Iya, Sayang. Kamu juga jangan lupa makan. Walaupun makannya tidak ditemani Aa, kamu bisa makan sambil membayangkan Aa ada di depan kamu.”
“Ih, mana ada makan sambil melamun? Yang ada makannya tidak akan beres-beres.”
“Sudah waktunya makan siang. Biar tidak perlu makan sambil melamun, kita makan bersama sambil video call-an saja. Makan siang Aa sudah disiapkan Rudi.”
Kagendra mengubah pengaturan panggilannya menjadi video call. Tidak lama kemudian muncul wajah cantik Sadiyah di layar teleponnya. Sungguh ia sangat merindukan istrinya.
“Rud, saya mau makan di ruangan saya sendirian. Kamu makan di luar saja. Jangan ganggu kencan kami.”
“Cih, dasar Bos kejam. Sekarang sudah bersama dengan Bu Bos, saya dilupakan. Habis manis sepah dibuang. Bos anggap saya laki-laki apaan main buang saja?” terdengar suara Rudi yang protes pada bosnya.
Sadiyah tertawa mendengar candaan Kagendra dan Rudi. Kalau saja Rudi itu seorang perempuan, mungkin Sadiyah sudah cemburu dengan kemesraan yang terjalin antara bos dan asisten merangkap sekertaris itu.
“Aras dan Aris mana?” tanya Kagendra.
“Ibu mengajak Aras dan Aris pergi ke mall untuk membeli keperluan liburan mereka.”
__ADS_1
“Abah dan Ibu jadi mengajak Aras dan Aris liburan? Aras dan Aris tega meninggalkan kita?”
“Jadilah. Abah dan Ibu kan memang sudah merencanakan untuk mengajak Aras dan Aris pergi liburan selama kita liburan.”
“Kita kan mengundurkan waktu liburan. Seharusnya mereka juga mengundurkan waktunya. Nanti kalau kita pergi liburan, mereka dengan siapa?”
“Kata Ibu sih, mereka akan menambah waktu liburan mereka yang tadinya satu minggu menjadi dua minggu. Jadi waktu pulangnya sama dengan kita. Liburan kita hanya diundur satu minggu, kan?” tanya Sadiyah menegaskan.
“Hmmm…” Kagendra tidak yakin dengan jawabannya sehingga ia tidak bisa langsung memberikan jawaban.
“Kalau diundur lebih dari satu minggu, liburannya tidak usah jadi. Iyah mau balik ke Bandung saja.”
“Iya, Sayang. Kita jadi liburan. Aa akan bekerja keras menyelesaikan masalahnya supaya honeymoon kita jadi. Kamu jangan marah-marah dong.”
“Siapa yang marah-marah?” sahut Sadiyah ketus.
“Nah itu nada suara orang yang marah-marah. Wajahnya juga jadi jutek begitu”
“Iyah tidak marah.” Sadiyah langsung mematikan sambungan video call-nya.
Kagendra tersenyum melihat istrinya yang marah-marah. Sekarang ia memahami sikap perempuan yang sedang datang bulan itu memang sangat sensitif sehingga ia tidak terpancing atau terganggu dengan sikap menyebalkan perempuan yang kerap muncul setiap bulannya.
“Ada apa, Bos?” Rudi datang sambil membawa kotak makan yang isinya baru setengah ia makan.
“Temani saya makan.”
“Tidak jadi kencan sama Bu Bos? Kena marah ya?” Rudi terkikik melihat ekspresi kesal wajah Kagendra.
“Sekali lagi kamu menyindir saya, jatah cuti kamu saya potong.”
Rudi semakin terbahak mendengar ancaman dari Bos rasa sahabat itu.
********
Malam harinya…
“Ayah belum pulang, Bu?’ tanya Faris.
__ADS_1
“Belum.”
“Memangnya Ayah kemana? Sudah malam tapi belum pulang.” Faras bertanya dengan nada sedikit ketus. Ia marah karena selama di Jakarta ia jarang sekali bertemu dengan ayahnya.
“Ayah lagi kerja. Pekerjaannya banyak sekali.” Sadiyah mencoba menjelaskan alasan Kagendra yang jarang pulang.
“Memangnya Ayah kerja apa sih, Bu?”
“Kalian pernah diajak kerja sama Ayah, kan? Nah, itu lah pekerjaan Ayah.”
“Aras lihat Ayah hanya baca-baca kertas terus nulis apa gitu di kertasnya. Aras lupa padahal Ayah pernah ngasih tau.” Faras tampak mengingat-ingat istilah yang pernah diberitahu oleh ayahnya.
“Tanda tangan. Aras ingat, Ayah nulis tanda tangan saja. Yang bekerja itu hanya Om Rudi, Tante Elsa, Om Salman, Om Raka, Tante Rena, Tante Riana, sama tante siapalah itu Aras lupa namanya. Soalnya banyak tante-tante cantik yang bekerja di kantor Ayah.”
“Aras bilang apa? Banyak tante-tante cantik yang bekerja di kantor Ayah?”
“Iya Bu. Tidak hanya cantik tapi juga wangi dan baik. Mereka suka ngasih kue dan permen sama Aris. Ngasih ke Aras juga,” pernyataan Faris membuat hati Sadiyah menjadi panas.
“Sejak kapan banyak perempuan cantik yang bekerja di perusahaan Aa? Seingat Iyah, hanya di front office dan ruangan sekertaris saja yang ada karyawan perempuannya.” Sadiyah bertanya-tanya dalam hatinya. Ada rasa tidak nyaman menyeruak ke dalam dadanya.
Sadiyah memang belum pernah berkunjung lagi ke kantor Kagendra sejak ia memergoki perbuatan asusila antara Natasha dan suaminya sehingga ia belum mengetahui perusahaan Kagendra yang sudah berkembang dengan pesat sejak ia pergi meninggalkan Kagendra. Seiring dengan berkembangnya perusahaan, semakin banyak juga karyawan yang bekerja di perusahaan milik Kagendra.
“Besok siang, Aras dan Aris mau ikut sama Ibu?”
“Ikut kemana, Bu?”
“Ke kantor Ayah. Kita antar bekal makan siang untuk Ayah.”
“Gak ah. Aras mau di rumah saja. Mau baca buku.”
“Aris?”
“Aris juga gak ikut. Aris mau main aja di rumah. Mau berenang.”
Mendengar jawaban kedua anaknya membuat Sadiyah sedikit kesal.
*********
__ADS_1
to be continued...