
Atep memanggil Kagendra yang sedang berada di ruangan Sadiyah. Ia ingin segera memberitahu kabar kemungkinan Faras dan Faris diculik pada Kagendra.
“A, bisa bicara sebentar di luar?” Atep berusaha menyembunyikan raut wajah sedihnya.
“Makanannya sudah sampai?” tanya Kagendra.
Atep hanya mampu mengangguk.
“Mana rantang nasinya, Len?” tanya Kagendra. Kemudian ia melihat rantang nasi di samping Alena dan langsung membuka tutupnya, kemudian menyendokkan beberapa sendok nasi dan lauk ke dalam mulutnya.
“Pelan-pelan makannya, A.” Alena sebenarnya sudah tidak mampu menahan isak tangisnya di depan Kagendra tapi ia harus membiarkan kakaknya makan dulu supaya memiliki energi untuk mencari Faras dan Faris.
“Kamu kenapa sih, Len?” tanya Kagendra heran saat melihat air mata Alena yang bercucuran.
“Aa…” Alena tidak bisa lagi menahan tangis di depan Kagendra.
“Ada apa, Len?” Raut wajah Kagendra terlihat khawatir dan lelah. Ia langsung menghentikan kegiatan makannya dan memeluk Alena. Tidak biasanya Alena menangis seperti itu.
“Aa… Aras dan Aris.”
“Kenapa dengan mereka?”
Air mata yang mengucur deras membuat Alena tidak bisa berkata-kata.
“Ada apa, Tep?” tanya Kagendra beralih pada Atep.
“Tenang dulu, A.”
Kagendra dan Atep duduk bersisian, sedangkan Alena masih terisak dengan bahu bergetar sambil memeluk lengan kakaknya.
“Tadi Nani telepon kalau ada polisi yang datang ke rumah dan melaporkan bahwa Pak Sholeh ditemukan tidak sadarkan diri di dalam mobil lalu dibawa ke rumah sakit oleh polisi. Menurut polisi, mereka tidak menemukan Aras dan Aris bersama dengan Pak Sholeh.”
“Apa?” Kagendra hampir berteriak mendengar perkataan Atep. “Mereka diculik!” Kagendra marah, sorot matanya membias antara marah dan khawatir.
“Saya juga berpikir seperti itu. Makanya saya akan segera lapor ke polisi,” kata Atep.
“Len, kamu tunggu di sini. Aa dan Atep akan ke kantor polisi,” perintah Kagendra pada Alena.
__ADS_1
Alena menganggukkan kepala.
“Jangan bilang apa-apa dulu sama Iyah kalau kamu nanti menemui Iyah. Basuh dulu wajah kamu. Jangan sampai Iyah tahu kalau kamu menangis. Mengerti?” perintah Kagendra tegas.
“Iya, A.” Alena belum bisa mengendalikan diri. Bahunya masih bergerak naik dan turun karena tangisan. Mata dan hidungnya berwarna merah karena banyaknya air mata yang keluar.
“Len, jagain Teh Iyah,” ucap Atep.
“Atep, kamu harus menemukan Aras dan Aris. Bagaimana pun caranya. Jangan balik kalau mereka belum ketemu.”
“Insya Allah, Len. Aras dan Aris pasti segera ditemukan. Mungkin mereka mencari bantuan saat Pak Sholeh pingsan.”
Alena berharap apa yang dikatakan Atep benar kalau Faras dan Faris hanya keluar mencari bantuan.
Atep meninggalkan Alena dalam keadaan yang masih menangis. Ia berharap bisa menemukan Faras dan Faris tanpa harus menceritakan kabar buruk itu pada Sadiyah.
Kagendra sudah selesai melaporkan kejadian hilangnya Faras dan Faris, lalu ia menghubungi orang-orangnya lewat telepon dan terdengar nada suaranya yang meninggi.
“Bagaimana, A?”
“Aku sudah mengerahkan anak buahku untuk mencari mereka. Sekarang kita kembali ke TKP. Mobilnya masih di sana. Kita lihat apakah cam yang ada di dashboard masih bisa kita buka. Itu pun kalau mereka tidak menghancurkannya.”
Kagendra langsung melihat ponselnya lalu mengaktifkan salah satu aplikasi.
“Yes!”
“Kenapa, A?” tanya Atep penasaran karena melihat raut wajah Kagendra yag berubah sedikit cerah.
“Aras dan Aris memakai jam tangan khusus sehingga aku bisa menangkap sinyal keberadaan mereka. Bodohnya aku karena saking kalutnya tidak teringat akan hal ini.”
“Dimana mereka, A?”
“Masih di dalam kota, tidak jauh dari sini.”
Kagendra kembali memberikan perintah kepada para anak buahnya.
Satu jam kemudian, Kagendra dan Atep sampai di sebuah gedung kosong. Dengan hati-hati mereka masuk ke dalam gedung tersebut tapi sayang tidak ada siapapun dalam gedung tua tersebut. Hanya ada dua jam tangan yang tergeletak di atas lantai.
__ADS_1
“Sialan,” umpat Kagendra.
Atep memungut kedua jam tangan milik Aras dan Aris, lalu menyerahkannya pada Kagendra.
“Ini jam tangannya, A”
“Mereka mengetahui kalau aku memasang tracker di jam tangan mereka.”
Kagendra memukuli dinding gedung hingga darah segar keluar dari pori-pori kulitnya yang terluka.
“Sabar, A. Kita pasti menemukan Aras dan Aris.” Atep menepuk pundak calon kakak iparnya untuk menenangkan.
Arrrgh…..!!!
Kagendra merasa putus asa, wajahnya kusut masai dengan luka di buku-buku jarinya. Matanya memerah dan ada air mata yang menetes mengaliri pipi.
“Sabar, A. Kita pasti menemukan Aras dan Aris. Saya yakin para penculik itu tidak akan menyakiti Aras dan Aris karena mereka mengingingkan sesuatu dari Aa sebagai tebusan.”
Kagendra kembali menelepon anak buahnya dan memberikan perintah untuk terus memantau pergerakan para penculik walaupun dengan sedikit petunjuk. Ia kan membubarkan organisasi yang sudah dipimpinnya bertahun-tahun jika tidak berhasil menemukan anak-anaknya.
Atep menyupiri mobil yang membawa mereka berdua kembali ke rumah sakit.
“Sebaiknya A Endra membersihkan diri dulu sebelum ke rumah sakit. Saya khawatir Teh Iyah akan bertanya-tanya melihat keadaan A Endra yang seperti ini.”
“Ya. Sebaiknya begitu.”
Atep membelokkan mobil menuju rumah agar Kagendra bisa membersihkan diri sekalian membawa keperluan Sadiyah dan bayi-bayinya yang tadi tidak sempat terbawa.
“Apa ada yang dicurigai, A?” tanya Atep hati-hati. Mereka sudah berada di mobil menuju rumah sakit.
“Belum ada, Tep. Timku sedang menyelidiki beberapa orang yang dicurigai.
“Apa Natasha termasuk?” Atep menyebutkan sebuah nama yang mungkin tabu diucapkan di hadapan Kagendra dan Sadiyah.
“Apa? Natasha? Kenapa kamu mencurigai Natasha?”
**************
__ADS_1
to be continued...