Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
166. Bergerak


__ADS_3

“Kita bergerak sekarang, Ndra. Orang Abah sudah menemukan gudang tempat mereka menyekap Aras. Hanya saja, saat mereka tiba, para penculik sepertinya sudah mengendus kalau kita menemukan persembunyian mereka. Sepertinya ada kekuatan besar yang jadi backing-nya. Tidak mungkin Natasha bisa bertindak seperti itu jika dia bekerja sendirian. Apa kamu mencurigai seseorang?”


“Marco,” desis Kagendra.


“Siapa Marco? Apa kamu menyinggung orang besar?”


“Kami bertemu saat di pulau Maldives. Mafia besar. Dia suka sama Iyah.”


“Apa? Kenapa kamu tidak cerita sama Abah? Masalah sebesar ini seharusnya kamu sharing.”


“Aku kira tidak akan menjadi masalah. Kami berhasil kabur dari dia. Aku tidak menyangka dia berulah sejauh ini dan tidak menyangka Natasha bisa mengenal Marco.”


“Mereka berdua bekerjasama untuk tujuan yang sama, yaitu orang yang mereka cintai.”


“Itu bukan cinta, Abah. Natasha tidak mencintaiku, begitupun Marco. Mereka hanya terobsesi pada kami. Karena kalau memang benar cinta, mereka tidak akan menyakiti kami.”


“Mereka belum menyadari kalau mereka telah menyakiti kalian. Mereka fokus pada tujuan utamanya, yaitu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Abah yakin kalau mereka sadar sudah menyakiti orang yang mereka cintai, baik Natasha maupun Marco akan berhenti.”


“Entahlah, Bah. Dua orang itu sakit.”


“Makanya kamu yang harus menyadarkan mereka.”


Salah satu anak buah Kagendra memberikan informasi tentang keberadaan tempat terakhir Faras bisa terdeteksi.


Kagendra memerintahkan semua anak buahnya untuk segera bergerak. Tidak mau kalah, Yusuf pun langsung memerintahkan semua anak buahnya untuk mendampingi kelompok Kagendra.


Kagendra dan Yusuf bertemu Sadiyah saat mereka keluar dari ruangan.


“Aa mau ke mana?” tanya Sadiyah. “Abah juga?”


Keduanya saling pandang, sulit menjawab pertanyaan yang diajukan Sadiyah.


“Eh, Aa dan Abah mau keluar sebentar,” jawab Kagendra sedikit gugup.


“Kemana?” Sadiyah curiga dengan sikap Kagendra yang tidak seperti biasanya. Sikapnya terlihat gugup dan raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran.


“Kami mendapatkan informasi kalau…”

__ADS_1


“Abah!” Kagendra memotong kalimat ayahnya. Ia tidak ingin Sadiyah mengetahui mereka sudah mendapatkan informasi keberadaan Faras. Bukannya tidak ingin berbagi informasi, Kagendra hanya tidak ingin memberikan harapan kepada Sadiyah sebelum ia benar-benar mendapatkan Faras kembali.


“Sudahlah, Ndra. Iyah juga berhak tahu,” tukas ayahnya.


“Tapi…”


“Aa jangan pernah menyembunyikan apapun lagi dari Iyah! Iyah akan benar-benar marah dan tidak akan pernah memaafkan Aa lagi.”


Mendapatkan ancaman dari Sadiyah, tentu saja membuat Kagendra sedikit gentar.


“Aa mendapatkan informasi keberadaan Faras. Sekarang, Aa dan Abah akan berangkat menuju tempat Aras disekap,” jelas Kagendra sesingkat mungkin.


“Iyah ikut!”


“Tidak boleh!”


“Kenapa? Iyah ini ibunya Aras. Kenapa tidak boleh ikut?” tuntut Sadiyah.


“Keberadaan kamu tidak akan membantu. Aa khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan kalau kamu ikut.”


“Pokoknya Iyah ikut,” tegas Sadiyah keras kepala. “Iyah ingin bertemu Natasha.”


“Sudahlah, Ndra. Kalau kalian terus berdebat, kita akan kehilangan waktu. Kita harus bergerak cepat!” ujar Yusuf.


“Kalian mau kemana?”


Alena dan Atep baru saja pulang dari mini market membeli susu formula untuk si kembar Ardan dan Arkan.


“Aras sudah ditemukan,” jawab Sadiyah. “Kita mau pergi menjemput Aras.”


“Lena ikut,” ucap Alena tanpa basa-basi.


“Tidak boleh!” bentak Kagendra.


“Kenapa? Lena itu tantenya Aras. Lena juga mau labrak si nenek lampir itu. Lena mau tampar dia sampai puas,” balas Alena geram.


“Kenapa sih kamu…”

__ADS_1


“Sudahlah, Ndra. Biarkan mereka ikut,” ujar Yusuf menengahi. Ia tidak mau gara-gara perdebatan anak-anaknya, mereka akan kehilangan momentum. Ia khawatir, pergerakan mereka akan tercium Marco dan anak buahnya.


Kagendra, Yusuf, Sadiyah, Alena, dan Atep berangkat dalam satu mobil yang disupiri oleh Rudi. Tidak mau kecolongan lagi, Kagendra tidak lupa menempkan beberapa anak buahnya untuk berjaga-jaga di rumahnya. Ia pun meminta bantuan Kiran, saudara sepupunya yang berprofesi sebagai polisi untuk ikut mengawasi rumah dan lingkungan di sekitar rumahnya. Kiran sudah menempatkan dua orang rekannya untuk berjaga  dan mengawasi rumah Kagendra.


20 menit kemudian, mereka tiba di sebuah heliport.


“Kenapa kita ke sini, A? Aras disekap di sini?” tanya Sadiyah heran dengan lokasi yang didatanginya. Terdapat dua helikopter yang sudah siap untuk terbang.


“Di sebuah pulau yang hanya bisa dijangkau oleh helikopter atau speedboat.”


Sadiyah diam seribu bahasa setelah mendapatkan jawaban dari Kagendra. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Faras disekap di lokasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Lokasi yang jauh dan terpencil.


Kiran sudah menunggu kedatangan Kagendra. Ia hanya mampu menyediakan satu buah helikopter, satu helikopter yang lainnya, ia dapatkan dari pihak lain.


“Setelah menggunakan helikopter, kita akan meneruskan perjalanan dengan menggunakan speedboat. Lokasinya tidak memungkinkan untuk helikopter mendarat,” jelas Kiran pada Kagendra dan Yusuf.


“Kamu ikut?” tanya Kagendra yang dijawab Kiran dengan anggukan.


“Sekarang kalian tahu kalau operasi ini tidak mudah. Lokasi terpencil dengan transportasi yang sulit. Kalian ikut pun tidak akan berkontribusi banyak,” ucap Kagendra pedas.


Baik Sadiyah maupun Alena menulikan telinga mereka berpura-pura tidak mendengar perkataan Kagendra. Hanya Atep yang merasa canggung berada di sana.


“Maaf, A. Kalau begitu saya tidak…”


“Mungkin aku akan membutuhkan tenaga kamu, Tep. Setidaknya aku bisa memanfaatkan skill kamu dalam bertarung. Kamu biasa tarung, kan?”


“Kalau hanya memukul orang sampai babak belur sih bisa, A,” jawab Atep.


“Bagus.”


“Lena juga bisa tarung, A. Memangnya Aa tidak tahu kalau Lena biasa latihan boxing di sasana Koh Juan?”


“Latihan itu beda dengan bertarung sungguhan. Saat di lapangan, kamu akan dihadapkan pada dua pilihan, menang atau mati.”


Alena bergidik mendengar ucapan Kagendra. Ia memang bisa bela diri, tapi dihadapkan pada kemungkinan kalah dan mati tentu saja menyurutkan kepercayaan dirinya. Apalagi yang mungkin akan dihadapinya para preman professional yang tidak segan untuk menghabisi lawannya.


********

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2