Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
48. Janji


__ADS_3

Siang ini, Kagendra berencana untuk pulang ke rumah dan membawakan Sadiyah makan siang. Tetapi ketika Kagendra sudah ada di parkiran dan bersiap untuk meluncurkan mobilnya untuk pulang, ia mendapatkan panggilan dari Natasha yang meminta Kagendra untuk menemaninya.


Natasha merasa kepalanya sangat pusing dan ia ingin ditemani oleh Kagendra.


“Sayang, I miss you. I need you. Aku tunggu kamu di sini.” Natasha memohon dengan suaranya yang merajuk.


Setelah sampai di depan pintu unit apartemen Natasha, Kagendra segera masuk setelah memijit beberapa angka sebagai password.


Natasha sedang terbaring lemah di atas sofa.


“Kamu kenapa?”


“I’m hungry. I want you cook something for me.” rajuk Natasha.


“Pesan online saja.” tawar Kagendra.


“Aku mau makan buatan kamu, sayang.”


“Tapi aku tidak bisa masak.” elak Kagendra.


“Ada bubur instan di lemari makanan. Buatkan untukku.” pinta Natasha.


Kagendra beranjak menuju dapur dan membuatkan bubur instan untuk Natasha. Setelah bubur selesai dibuat, Kagendra segera membawakannya ke hadapan Natasha.


“Ini bubur kamu.”


“Suapi.”


Tanpa banyak kata, Kagendra menyuapi Natasha bubur yang dibuatnya hingga habis tak tersisa.


“Aku mau minum susu.”


“Dimana kamu simpan susunya?”


“Persediaan susuku habis. Bisa kamu belikan di mini market? Atau susunya diganti saja dengan ciuman kamu.”


Kagendra memberikan segelas air mineral pada Natasha.


“Minum ini dulu.”


“I wanna kiss you.” Natasha menarik tengkuk Kagendra dan mengecup bibir Kagendra. Dengan enggan Kagendra membalas ciuman Natasha.


Natasha yang merasakan dinginnya ciuman Kagendra semakin memperdalam ciumannya.


“Cukup, Sha.” Kagendra segera melepaskan tangan Natasha yang melingkar di lehernya.


“Kenapa kamu jadi dingin begini padaku?” protes Natasha.


“Kamu sedang sakit, Sha. Sebaiknya kamu banyak istirahat.”


“Kapan kamu menceraikan istri kamu?” tanya Natasha diam-diam.


Kagendra terdiam mendengar pertanyaan Natasha.

__ADS_1


“Kenapa kamu diam, sayang?” Bukankah dulu kamu berjanji kalau kamu akan menceraikan perempuan itu dan menikahi aku. Dulu kamu bilang kalau kamu akan menceraikan dia setelah dia mengandung dan melahirkan anak kamu. Tapi sekarang aku tidak mau menunggu lagi.” Natasha mulai terisak.


“Kamu sedang sakit, Sha. Sebaiknya kamu…..”


“Persetan dengan penyakitku. Aku ingin bersama kamu selamanya. Aku tidak mau diduakan lagi. Aku mau kamu menceraikan perempuan itu.” Natasha semakin histeris.


“Aku…aku tidak…” Kagendra tergagap.


“Aku tidak mau dengar perkataan kamu yang bilang kalau kamu tidak akan akan menceraikan dia. Aku mau kamu. Kamu milikku” jerit Natasha.


“Sha dengarkan aku dulu.”


“Aku tidak mau dengar. Kalau kamu masih bersama dia, aku akan mati di hadapan kamu.” ancam Natasha.


“Jangan seperti ini, Sha. Tenangkanlah dirimu.” bujuk Kagendra.


“Sekarang kamu tidak pernah lagi mengucapkan kata cinta padaku. Kamu juga tidak pernah lagi menyebut sayang kepadaku. Kamu berubah.” Natasha menjerit dan berlari ke arah dapur untuk mengambil pisau dan menempelkan mata pisau di dekat pangkal lehernya.


Kagendra yang melihat tindakan nekad Natasha langsung berlari ke arah dapur dan mencengkram tangan Natasha agar melepaskan pisau yang berada dalam genggaman tangannya.


“Kamu jangan berbuat nekad seperti ini, Sha. Jangan gila.”


“Jangan tinggalkan aku. Berjanjilah.” Natasha jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan Kagendra.


Kagendra menggendong Natasha dan membaringkannya di atas tempat tidur. Ia menatap wajah Natasha yang penuh dengan bekas air mata.


“Kamu jangan begini, Sha. Aku jadi semakin tidak tega untuk meninggalkan kamu. Aku harus bagaimana? Aku bingung dengan hatiku. Tolong jangan tambah lagi kebingunganku ini dengan tindakan kamu yang nekad seperti ini.”


Kagendra menemani Natasha hingga ia sadar dari pingsannya.


“Ada apa?” Kagendra mendongakkan kepalanya dari ponsel ketika mendengar suara Natasha yang memanggilnya.


“Haus.”


Kagendra segera mengambilkan minum untuk Natasha dan membantunya minum. Setelah itu ia duduk di sebelah Natasha yang masih berbaring.


“Sayang, tolong ambilkan ponselku.” pinta Natasha.


Kagendra segera mencari keberadaan ponsel Natasha dan setelah menemukannya ia segera memberikannya pada Natasha.


“Sayang, duduk di sini. Di dekatku.” pinta Natasha.


Kagendra kembali duduk di sebelah Natasha.


“Sayang, tolong berjanjilah padaku.”


“Janji apa?”


“Kamu masih ingatkan janji kamu saat itu. Janji kalau kamu akan menceraikan dia. Aku mau kamu mengulang janji kamu sekarang, please.”


Kagendra menghela nafasnya dengan kasar.


“Aku…aku tidak.”

__ADS_1


“Please….” Natasha memeluk pinggang Kagendra.


“Ini permintaan terakhirku.”


“Tapi aku….”


“Please….”


“Bagaimana jika aku bilang kalau aku tidak bisa menceraikan istriku?”


“Aku akan mati.”


“Kamu jangan becanda.”


“Aku tidak becanda. Aku akan mati jika kamu meninggalkan aku.”


Kagendra terdiam.


“I love you. Aku tidak ingin berpisah lagi dengan kamu. Maaf kalau dulu aku pernah meninggalkan kamu. Sekarang aku berjanji tidak akan pernah lagi pergi dari sisi kamu.


Sungguh saat ini Kagendra tidak bisa memutuskan apa yang harus dia lakukan. Ia tidak mau menceraikan Sadiyah tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Natasha. Dirinya dalam dilema.


“Apa kamu sanggup melihat aku mati?”


“Baiklah…”


Natasha mendongakkan kepalanya memandang wajah Kagendra dengan penuh harap. Tangannya sudah sedari tadi memijit tombol record di ponselnya.


“Aku akan menceraikan dia.” dada* Kagendra terasa sakit dan sesak setelah mengatakannya.


“Kapan kamu akan menceraikannya?” kejar Natasha.


“Entahlah. Aku harus meyakinkan dulu keluargaku. Aku tidak bisa seenaknya menceraikan dia.”


“Keluarga kamu hanya membutuhkan keturunan dari kamu. Bisakan kamu menceraikan dia setelah dia hamil dan melahirkan? Atau aku saja yang memberikan keturunan buat keluarga kamu. Aku bisa hamil anak kamu”


Kagendra memejamkan matanya dan membayangkan jika ia harus menceraikan Sadiyah setelah anak mereka lahir. Sejujurnya Kagendra tidak kuasa untuk membayangkannya. Dadanya terasa sangat sakit dan sesak.


“Ya mungkin aku akan menceraikan dia setelah dia melahirkan anakku.” dengan berat hati Kagendra mengucapkan kalimat yang terasa seperti menghujam jantungnya.


“Jangan ada kata mungkin.”


“Aku akan menceraikan dia setelah dia melahirkan anakku.” lagi, Kagendra merasakan hujaman pisau tajam di dadanya.


“I love you. Aku mencintai kamu. Kamu juga mencintai aku kan?” Natasha memeluk erat Kagendra.


“Hmmm….”


“Sekarang aku harus pergi. Aku harus kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Kamu jangan berbuat nekad lagi.”


“Sekarang aku merasa lega setelah mendengar janji dari kamu. Aku tidak akan berbuat nekad lagi karena sekarang aku yakin kalau kamu memang mencintaiku.” Natasha mencium bibir Kagendra.


**********

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2