
Satu tahun berlalu, Kagendra masih terus berusaha mencari keberadaan Sadiyah tapi belum menemukan petunjuk yang berarti.
Sekarang berat badan Kagendra sudah sedikit bertambah, wajahnya tidak lagi terlihat tirus dan otot-otot di tubuhnya telah kembali hasil dari olahraga yang dilakoninya setiap hari. Ia memaksakan diri untuk makan walaupun tidak lagi menikmatinya. Ia makan hanya untuk menjaga tubuhnya agar tetap sehat.
Hampir setiap minggu, Kagendra menemui Rostita dan Darmawan untuk menanyakan keberadaan Sadiyah tapi baik Rostita maupun Darmawan juga tidak mengetahui dimana Sadiyah tinggal sekarang.
“Fai, bagaimana progressnya? Sudah ada petunjuk dimana keberadaan istri saya?”
“Belum, Bos. Saya dan tim, 24 jam mengawasi rumah Bu Rostita dan Pak Darmawan. Selama pengawasan kami, tidak pernah sekalipun Bu Rostita atau Pak Darmawan pergi ke tempat yang tidak biasa. Mereka hanya pergi ke tempat-tempat yang memang biasa mereka kunjungi.”
“Sudah kamu cek, orang-orang yang ditemui mereka? Kemungkinan Sadiyah menemui mereka di tempat yang biasanya mereka kunjungi dengan menyamar.”
“Sudah, Bos. Kami sudah mengecek semua relasi, klien ataupun sanak saudara yang Bu Rostita dan Pak Darmawan kunjungi. Tidak ada yang mencurigakan. Sepertinya Bu Sadiyah memang bersembunyi dengan cerdas, Bos. Dia tahu kalau Bos pasti akan mengawasi rumah bibi dan pamannya sehingga istri Bos tidak pernah sekalipun menghubungi bibi dan pamannya.”
“Ya, sepertinya memang begitu. Saya menyesal karena saya telah memberitahu pekerjaan saya yang lainnya. Saya pernah bercerita pada istri saya kalau saya menyuruh kalian untuk mengawasi dia. Saya tidak menyangka kalau ini menjadi bumerang bagi saya.” sesal Kagendra.
“Selama Bos masih memerintahkan kami untuk mengawasi kediaman Bu Rostita, kami akan stand by 24 jam.”
“Bagus. Jangan sampai lengah. Ingat kesalahan kalian sebelumnya yang mengakibatkan kalian kehilangan jejak istri saya. Semuanya berawal karena kelalaian dan kelengahan kalian menganggap remeh istri saya.”
“Siap laksanakan.”
__ADS_1
***************
Tangisan dua bayi bersamaan pada tengah malam membuat Sadiyah kewalahan. Sudah hampir lima bulan Sadiyah tidak tidur dengan nyenyak. Setiap kali dia terlelap pasti akan segera terbangun karena mendengar tangisan dua bayi kembar yang masih berusia lima bulan.
Sadiyah berusaha memberi ASI eksklusif pada kedua bayinya, tapi faktor stress dan kelelahan membuat produksi ASI-nya tidak cukup banyak. Dengan terpaksa di bulan kelima, ia harus menambahkan susu formula untuk si kembar.
Sadiyah bersyukur ada Mak Isah dan Atep yang membantunya sehingga ia bisa tertolong dari sindrom pasca melahirkan. Atep sampai memutuskan untuk cuti kuliah demi membantunya dalam mengurus si kembar dan juga usaha yang baru dirintisnya.
Berat badan Sadiyah yang bertambah dua puluh kilogram selama hamil, sekarang sudah kembali ke berat awal sebelum dia hamil. Bahkan berat badannya semakin berkurang akibat mengurus si kembar dan bisnis barunya dalam waktu bersamaan.
“Neng, jangan terlalu memaksakan diri. Neng harus ingat kesehatan sendiri. Hasil dari sawah sangat cukup untuk menghidupi Neng dan si kembar setiap harinya. Neng tidak perlu bekerja keras seperti ini sampai mengabaikan kesehatan.” nasehat Mak Isah ketika melihat Sadiyah yang bekerja keras setiap harinya.
“Apa yang Neng kejar? Apa Neng melakukan semua ini sebagai bentuk pelarian untuk melupakan dia? Apa Neng masih cinta sama dia?” Mak Isah tidak berani menyebut nama Kagendra tapi ia tidak bisa menahan diri untuk menanyakan hal ini untuk menyadarkan Sadiyah.
Sadiyah memang belum bisa melupakan Kagendra. Mak Isah sering melihat Sadiyah yang sedang menangis tengah malam sambil memandangi fotonya bersama Kagendra yang berpose mesra di layar ponsel.
“Pelan-pelan saja Neng. Kalau Neng memang masih belum bisa melupakan dia, jangan paksakan diri untuk melupakan. Mak yakin seiring waktu, Neng pasti bisa melupakan dia.” ucap Mak Isah membesarkan hati Sadiyah walaupun ia sendiri tidak yakin kalau Sadiyah akan mampu melupakan Kagendra apalagi telah ada dua anak yang lahir dari pernikahan mereka.
Dalam rangka melupakan kisah cintanya, sekarang Sadiyah semakin menyibukkan diri dengan mencoba memulai bisnis kuliner, selain mengurus beberapa hektar sawah yang diwariskan oleh ayahnya. Sadiyah mencoba untuk membuka toko kue di kota terdekat dari desa yang sekarang ia tinggali. Dia merasa usaha toko kue dan café tidak akan maju jika dibuka di desa. Oleh sebab itu, dia melebarkan sayap ke kota terdekat. Rencana jangka panjangnya setelah si kembar sudah bisa ditinggal lama, ia akan membuka toko kue dan café di Bandung. Untuk sementara pengelolaan toko dan café saat ini ia serahkan pada Atep.
********
__ADS_1
Dua tahun sudah berlalu sejak kepergian Sadiyah. Sekarang Kagendra sudah mulai kesal karena dia sulit menemukan keberadaan Sadiyah. Dia tidak percaya dengan reputasinya sebagai agen terbaik yang telah berhasil memecahkan berbagai macam kasus tetapi tidak bisa menemukan istri sendiri.
Jam 2 malam, teleponnya berdering. Sejak Sadiyah meninggalkannya, ia mengalami kesulitan tidur. Dia akan sulit tertidur tapi akan dengan mudahnya terbangun. Hampir setiap malam, Kagendra baru bisa tertidur setelah jam 12 malam. Oleh sebab itu, untuk mengisi waktunya agar tidak terus menerus memikirkan Sadiyah, Kagendra bekerja hingga tengah malam. Setelah lelah bekerja baru ia bisa tertidur.
Kebiasaannya bekerja hingga larut malam menghasilkan hal yang positif bagi karir Kagendra tapi sebaliknya dengan kesehatannya yang semakin memburuk. Selama dua tahun ini, Kagendra sudah berhasil membuka cabang perusahaan di negara tetangga. Ia juga sedang memulai membuka cabang perusahaan baru di negara Thailand. Negara Thailand terkenal dengan produk advertisingnya yang luar biasa. Oleh sebab itu Kagendra merasa tertantang untuk bersaing dan berkompetisi di salah satu negara dengan produk advertising terbaik di dunia. Dengan begitu jiwa kompetitifnya semakin tertantang.
Kagendra sudah pasrah dengan kisah cintanya dengan Sadiyah. Daripada berlarut-larut dalam kesedihan, ia memilih untuk bekerja tanpa mengenal waktu. Ia ingin mulai melupakan Sadiyah dan sakit yang ditorehkan oleh kegagalan kisah cintanya.
Rasa sakit karena ditinggal oleh Sadiyah lebih menyakitkan jika dibandingkan dengan rasa sakit ketika ia ditinggalkan oleh Natasha. Hingga saat ini, dadanya masih terasa sakit dan sesak jika mengingat momen kebersamaannya bersama dengan Sadiyah.
Dua kali ditinggalkan oleh perempuan yang dia cintai membuat hatinya kembali dingin dan kali ini, hatinya lebih dingin. Rasa bersalahnya pada Sadiyah ditutupi dengan kemarahan pada menghilangnya Sadiyah. Kagendra mulai menyalahkan Sadiyah yang pergi meninggalkannya. Dengan tindakan menyalahkan Sadiyah ini, Kagendra berusaha menutupi keterpurukannya dan rasa bersalahnya pada Sadiyah.
“Halo, Ndra. lo masih bangun?” tanya Arfian langsung setelah sambungan teleponnya diangkat oleh Kagendra.
“Sialan. Ngapain malam-malam nelepon? Tidak tahu waktu.” umpat Kagendra yang kesal karena tidur yang susah ia dapatkan terganggu oleh panggilan telepon dari Arfian, sepupu sekaligus sahabat satu-satunya.
“Ndra, lo harus bantuin gue. Cuma lo yang bisa bantu gue saat ini.” tuntut Arfian.
“Bantuin apaan sih? Besok saja kita ngobrolnya.” Kagendra menutup telepon dan menonaktifkannya.
Kagendra berusaha untuk tidur kembali tapi ternyata sulit walaupun Kagendra sudah berusaha memejamkan mata tapi tidak kunjung tertidur juga. Ia baru bisa tidur setelah subuh.
__ADS_1
***********
to be continued...