Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
97. I Miss You


__ADS_3

“Kenapa kamu tidak memberitahu tentang mereka kepada saya?” desak Kagendra.


“Mereka siapa?”


“Aras dan Aris. Mereka anak kandung saya, kan? Saya ayah mereka, kan?”


“Siapa yang bilang mereka anak kamu?” nada suara Sadiyah meninggi.


“Saya tanya sekali lagi. Apakah Aras dan Aris anak saya?”


Sadiyah terdiam tidak menjawab pertanyaan Kagendra.


“Kenapa kamu diam? Apa kamu merasa bersalah karena telah menyembunyikan mereka dari saya?”


“Kenapa saya harus merasa bersalah kalau saya memang tidak bersalah?”


“Sadiyah! Saya tanya satu kali lagi. Aras dan Aris, mereka anak saya kan?”


Sementara itu di kamar, Faras dan Faris semakin penasaran dengan keributan yang mereka dengar dari luar.


“Suara yang memanggil-manggil nama Ibu seperti suaranya Om Endra.” ujar Faris.


Faras menganggukkan kepala dan berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu itu pelan-pelan agar tidak ketahuan.


“Aras…Ibu bilang kalau kita kita tidak boleh keluar dari kamar.”


“Stttt…jangan ribut. Kita ngintipnya sembunyi-sembunyi saja. Kamu mau lihat tidak orang yang tadi teriak-teriak memanggil nama Ibu. Kamu kan tadi bilang kalau suaranya mirip Om Endra. Kita lihat apa benar itu Om Endra atau bukan. Kamu mau ikut tidak?”


Faris mengangguk-anggukkan kepala dengan semangat.


Mereka  keluar dari kamar dan berjalan mengendap-ngendap menuju ruang tamu.


“Benar itu Om Endra.” seru Faris dengan suara tertahan.


“Sttt….jangan keras-keras ngomongnya, nanti ketahuan sama Ibu terus kita dimarahin lagi.”


Faris menutup mulut dengan tangannya.


“Jawab saya, Sadiyah!” bentak Kagendra.


Faras dan Faris kaget melihat Kagendra yang membentak Ibu mereka.


“Kenapa kamu diam? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan saya. Untuk terakhir kalinya saya tanya sama kamu. Benar Aras dan Aris itu anak-anak saya? Jawab!”


“Mereka bukan anak-anak kamu.” jawab Sadiyah tegas sambil memalingkan wajah.


“Kalau saya bukan ayah mereka, dimana ayah mereka sekarang? Jawab sambil tatap mata saya. Jangan menghindar!”


Sadiyah terdiam.


“Kamu tidak bisa menjawab kan? Karena memang saya ayah mereka. Kamu tidak bisa mengelak lagi. Aras dan Aris bercerita pada saya kalau ayah mereka bekerja memberi makan ikan piranha dan anaconda di hutan Amazon. Kebohongan macam apa yang kamu ceritakan tentang ayah mereka?”


“Ayah mereka memang…”


Kagendra memotong perkataan Sadiyah. “Ayah mereka itu saya. Kamu hanya mengada-ngada saja menceritakan kebohongan tentang ayah mereka. Kamu mau mengelak apa lagi?”

__ADS_1


Sadiyah mulai *******-***** ujung bawah baju tunik yang sedang dipakainya.


“Saya mau bertemu dengan mereka.” ucap Kagendra tegas.


“Tidak boleh.” Sadiyah langsung berdiri menghalangi Kagendra dengan merentangkan tangannya.


Kagendra melihat sekeliling ruangan mencari celah untuk bisa mencari keberadaan Faras dan Faris.


Tak berapa lama, tatapan Kagendra bertemu dengan tatapan Faras dan Faris yang memang sedang bersembunyi di balik tembok. Kagendra mulai berjalan mendekati Faras dan Faris.


“Tidak boleh.” Sadiyah menarik tangan Kagendra.


Kagendra menepis tangan Sadiyah dan berjalan mendekati Faras dan Faris.


“Jangan, A.” Sadiyah memeluk tangan Kagendra untuk menahannya agar tidak mendekati Faras dan Faris. Ia ketakutan jika nanti Kagendra akan mengambil Faras dan Faris dari sisinya. Sampai saat ini Sadiyah tidak tahu jika Kagendra belum menceraikannya. Ia tidak pernah mencari tahu kabar tentang Kagendra dan juga melarang Rostita untuk bercerita.


Tidak membuang kesempatan dari keadaan Sadiyah yang memeluk lengannya dengan erat, Kagendra berbalik dan langsung memeluk Sadiyah, hal yang paling Kagendra inginkan saat ini.


Sadiyah terpekik kaget tidak menyangka Kagendra akan memeluknya dengan erat.


“Jangan begini. Lepaskan!” Sadiyah mencoba melepaskan diri dari pelukan Kagendra.


“Sebentar saja seperti ini. I miss you so much.” Kagendra menghidu aroma tubuh Sadiyah yang telah ia rindukan selama enam tahun.


“Jangan begini, A.” Sadiyah mulai terisak, ia merasa tidak nyaman dipeluk oleh Kagendra karena ia berpikir kalau mereka sudah bukan suami istri lagi.


“Kenapa menangis?” Kagendra melepaskan pelukannya karena mendengar isakan dari Sadiyah.


Isakan Sadiyah berubah menjadi tangisan yang terdengar menyayat hati. Perasaannya sangat kalut karena di satu sisi ia masih mencintai Kagendra tapi disisi lain ia merasa tidak nyaman dengan pelukan laki-laki yang ia anggap sudah bukan suaminya lagi. Perpisahan selama 6 tahun  ternyata tidak mampu menyurutkan cinta Sadiyah pada Kagendra.


Awalnya Sadiyah berpikir kalau ia sudah bisa melupakan Kagendra dan sudah tidak mencintainya lagi. Tetapi ketika ia bertemu dengan Kagendra dan merasakan pelukannya, ia yakin kalau masih ada cinta untuk Kagendra dan cinta itu masih kuat tertanam dalam hatinya.


Sadiyah terduduk dan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya agar sedu sedannya tidak terlalu terdengar.


Kagendra berlutut di hadapan Sadiyah dan meletakkan tangannya di bahu Sadiyah.


“Kenapa menangis?”


Sadiyah mengeleng-gelengkan kepala dengan tangis yang bukannya mereda malah semakin keras.


“Ibu…….” Faras dan Faris menghambur memeluk Sadiyah.


“Ibu…kenapa menangis?” tanya Faris.


“Ibu kenapa berantem dengan Om Endra?” tanya Faras.


“Aras…Aris…” panggil Kagendra.


Faras dan Faris melepas pelukan mereka pada Sadiyah dan melihat ke arah Kagendra.


“Om…kenapa Ibu nangis? Diapain sama Om?” tanya Faras sambil menatap Kagendra tajam.


Kagendra menatap wajah Faras dan Faris bergantian lalu memeluk mereka dengan erat.


“Aras…Aris…mulai sekarang jangan panggil Om lagi.”

__ADS_1


Faras dan Faris menatap Kagendra dengan serius.


“Mulai sekarang panggil Ay…”


“Jangan A….”


Kagendra tidak mengindahkan larangan Sadiyah.


“Mulai sekarang panggil Ayah.”


“Kenapa? Ayahnya Aras dan Aris kan sedang bekerja di hutan Amazon. Ibu bilang Ayah pulangnya kalau kita ulang tahun ke 10. Sekarang Aras dan Aris baru ulang tahun yang kelima. Ibu bilang Ayah pulangnya masih lama.” jelas Faras.


“Ini Ayahnya Aras dan Aris.” Kagendra menunjuk dadanya sendiri.


“Memangnya Ayah sudah tidak kerja lagi di hutan Amazon?” tanya Faris polos.


Kagendra menganggukkan kepala.


“Ayah sudah berhenti kerja di hutan Amazon karena Ayah sudah kangen sekali sama kalian.” kata Kagendra dengan suara tercekat menahan tangis.


“Ayah tidak akan pergi lagi?” tanya Faras


Kagendra menggelengkan kepala.


“Benar?” tanya Faris.


Kagendra tersenyum dan menganggukkan kepala lagi.


Faras dan Faris menghambur ke dalam pelukan Kagendra dan ia menciumi wajah Faras dan Faris bergantian.


Rostita dan Mak Isah yang melihat semua adegan tersebut dari dalam dapur meneteskan air mata haru.


“Sekarang Aris sudah punya Ayah. Kalau nanti sekolah, Aris diantar sama Ayah. Hore…hore….” Faris melompat-lompat kegirangan.


Kagendra menatap Faras dan melihat wajah dinginnya.


“Aras senang bertemu dengan Ayah?” tanya Kagendra.


Faras mengangguk dan kembali menghambur ke dalam pelukan Kagendra sambil menangis dalam pelukan Kagendra.


“Kenapa Aras menangis?”


“Ayah tidak boleh pergi lagi.” ujar Faras tersedu-sedu.


“Tidak akan. Ayah tidak akan pernah lagi pergi jauh dari kalian.” Kagendra memeluk erat Faras.


Faris yang melihat Kagendra dan Faras berpelukan, melompat-lompat memutari Kagendra dan Faras sambil bertepuk tangan.


“Iyah…..” Kagendra mendekati Sadiyah yang sudah mulai tenang.


Sadiyah masih menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Kagendra menarik pergelangan tangan Sadiyah dan mencoba untuk menatap wajah Sadiyah.


“Iyah, Aa akan membawa anak-anak menemui Aki, Abah dan Ibu. Aki pasti bahagia mengetahui kalau Aki sudah menjadi uyut. Abah dan Ibu juga pasti bahagia bertemu dengan cucu pertama mereka. Kita berangkat sekarang.”


“Tidak bisa. Iyah tidak akan ikut.”

__ADS_1


***********


to be continued...


__ADS_2