
“Aa … Kok ada mukena di sini sih? Siapa perempuan yang suka salat di sini?” tanya Sadiyah berteriak ketika menemukan satu set mukena berwarna putih.
“Yaa Salaam… mukena ini Aa siapkan untuk berjaga-jaga saja. Ibu juga suka berkunjung ke sini. Mukena ini biasa dipakai ibu. Kamu jangan suka berprasangka buruk seperti itu. Kalau kamu cemburu, ngeri juga. Mirip sama macan marah.”
“Hehehe… maaf. Iyah kira ada perempuan yang suka salat di sini.
“Memang ada. Ibu dan Lena itu perempuan dan mereka sering salat di sini. Cemburu juga sama Ibu dan Lena?”
Eh, maksud Aa apa bilang Iyah cemburu? Tadi juga bilang Iyah seperti macan marah? Iyah tidak cemburu! Iyah bukan macan!” teriak Sadiyah kesal.
Kagendra mengecup bibir Sadiyah untuk menghentikan kemarahannya. “Jangan kesal dan marah. Kalau begini terus, Aa akan terlambat salat zuhur karena akan meneruskan ini untuk membungkam bibir kamu.”
Sadiyah menutup mulut dengan tangannya sendiri untuk menghalangi bibir Kagendra yang terus menyerang. “Sudah. Iyah tidak akan kesal lagi. Tidak usah cium-cium lagi.”
Kagendra terkekeh mendengar Sadiyah yang merajuk.
Kagendra salat zuhur sedangkan Sadiyah berbaring di ranjang yang ada di ruangan khusus sambil menunggu Kagendra selesai salat.
“Iyah boleh tidur di sini tidak, A?” tanya Sadiyah setelah melihat Kagendra mengucapkan salam.
“Boleh. Sekalian saja kita tidur bareng. Yuk!” Kagendra berdiri dan melipat sajadahnya lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Sadiyah. Ia mulai menyentuh beberapa titik area sensitif istrinya.
“Aa lupa? Iyah kan masih datang bulan,” ungkap Sadiyah sambil terkikik.
Sejenak Kagendra lupa jika istrinya itu dalam keadaan yang masih terlarang. Dalam hati, Kagendra bertekad untuk makan sepuasnya saat liburan nanti.
“Kalau mencicipi sedikit tidak apa-apa kan?” Kagendra mulai mencumbu Sadiyah. Ia paham batas-batasnya dan tidak akan melakukan apa yang masih terlarang untuk disentuh.
Sadiyah membuka matanya dan bingung ketika melihat sekeliling yang terasa asing. Ia baru teringat kalau dirinya berada di kamar khusus milik Kagendra. Ia beranjak dari ranjang menuju pintu. Di depan pintu kamar, Ia melihat Kagendra yang sedang asyik menekuri berkas-berkas bersama Rudi. Rambut Kagendra masih terlihat basah dan segar. Sadiyah tersipu ketika teringat apa yang mereka lakukan tadi.
Sebelum keluar dari kamar, Sadiyah merapikan dirinya yang tampak acak-acakan akibat ulah suaminya. Ia mengenakan kembali jilbab yang tadi dilepaskan oleh Kagendra. Sebelum mengenakan jilbab, Sadiyah tersenyum melihat beberapa tanda cinta yang diberikan oleh Kagendra di leher dan dadanya.
“A, Iyah pulang dulu.”
Kagendra mendongakkan kepalanya dari berkas-berkas yang sedang dibaca bersama Rudi.
“Ya, hati-hati pulangnya. Tadi kamu bawa mobil atau taksi online?”
“Pakai taksi online.”
“Rud, minta supir perusahaan buat mengantar Iyah pulang.”
“Laksanakan.” Rudi langsung melaksanakan perintah Kagendra. “Bu Bos, saya antar ke parkiran.”
“Nanti pulang jam berapa? Jangan terlalu malam,” tanya Sadiyah.
“Jadi menginap di rumah Aki?”
“Jadi. Besok pagi kan Abah, Ibu, Aras dan Aris pergi pagi-pagi.”
“Besok mereka jadi pergi? Jadi ke Bali?”
“Ya.”
__ADS_1
“Ya sudah, nanti Aa pulangnya ke rumah besar.” ucap Kagendra. Rumah besar adalah sebutan untuk rumah yang sekarang ditinggali oleh Aki Musa, Yusuf, dan Indriani.
“Aa harus pulang! Aras dan Aris pasti sedih kalau besok pagi ayah mereka tidak mengantar ke bandara.” Sadiyah mencium punggung tangan Kagendra.
“Iya, hati-hati di jalan.” Kagendra mencium puncak kepala Sadiyah.
Malam harinya, di rumah besar. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Faras dan Faris masih asyik bermain bersama tante mereka.
“Lena, suruh Aras dan Aris tidur! Ini malah kamu ajak main terus. Besok kita kan pergi pagi-pagi sekali,” tegur Indriani saat melihat Alena, Faras, dan Faris yang masih asyik bercengkrama di ruang keluarga.
“Iya, Bu.”
“Besok, Tante ikut tidak?” tanya Faris.
“Tante harus kerja. Nanti Tante menyusul saja kalau libur.”
“Janji?”
“Iya…” Alena menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Faris. Jangan ditanya bagaimana cueknya Faras. Ia tidak memedulikan ikrar janji antara saudara kembar dan tantenya.
Kagendra tiba di rumah besar tepat ketika Faras dan Faris pergi ke kamar tidur mereka.
“Ayah pulang…” teriak Faris kegirangan. Hampir satu minggu Faras dan Faris tidak bertemu dengan ayah mereka. Kagendra pulang saat mereka sudah tertidur dan pergi lagi ketika mereka belum bangun.
Faras dan Faris yang sudah berada di ambang pintu kamar tidur langsung berlarian menyongsong Kagendra. Kagendra pun tak kalah rindu pada anak kembarnya. Seminggu ini, Kagendra hanya bisa melihat wajah Faras dan Faris yang sudah tertidur.
“Besok Ayah ikut?” tanya Faras antusias.
“Maaf ya, besok Ayah tidak akan ikut. Kan Aras sudah tahu kalau Aras dan Aris pergi liburannya sama Aki dan Nenek.”
“Nanti kalau pekerjaan Ayah sudah selesai, kita liburan bersama. Ayah, Ibu, Aras dan Aris. Ok?”
“Janji?” tanya Faras berharap.
“Insya Allah,” janji Kagendra.
“Asyik! Hore… hore…” Faras dan Faris meloncat-loncat gembira. Berlari-lari di ruang keluarga.
“Aras… Aris… tidur!” terdengar teriakan Sadiyah menyuruh Faras dan Faris tidur. Sudah susah payah ia membujuk anak kembarnya untuk segera tidur namun Kagendra merusak usahanya dalam sekejap.
Bukannya Sadiyah tidak suka jika Kagendra pulang, hanya saja waktu pulangnya tepat menjelang Faras dan Faris tidur.
Melihat ekspresi Sadiyah, Kagendra langsung menggiring anak kembar mereka ke dalam kamar tidur. “Ayo, cepat tidur. Besok kalian pergi setelah subuh. Kalau susah bangun nanti kalian ditinggal. Mau?”
“Siap, Ayah…” serentak Faras dan Faris mematuhi perintah ayah mereka.
“Disuruh tidur sama Ibu susahnya bukan main tapi satu kata saja dari ayah langsung kalian patuhi,” protes Sadiyah gondok.
Seperti tidak mendengar protes dari ibu mereka, Faras dan Faris menarik tangan Kagendra untuk mengikuti mereka. Setelah lebih dari satu minggu tidak bertemu muka, Faras dan Faris ingin dibacakan cerita sebelum tidur oleh ayah mereka.
“Kalau ada Ayah, kalian lupa sama Ibu.”
Sadiyah masih saja mencurahkan kekesalannya. Sindrom datang bulan sepertinya membuat emosinya meluap-luap. Alena terkikik mendengar kakak iparnya menggerutu. Ternyata seru juga menyaksikan drama keluarga yang tayang secara live. Seorang perempuan itu tidak hanya cemburu jika suami mereka didekati perempuan lain tetapi anak-anak yang lebih suka cita ketika bertemu dengan ayah mereka sampai mengabaikan ibunya juga bisa jadi bahan untuk dicemburui.
__ADS_1
Pagi hari sebelum keberangkatan ke bandara adalah pagi yang menghebohkan. Faras dan Faris yang tidur terlalu malam sulit dibangunkan. Semalam setelah Kagendra membacakan cerita, ternyata mereka tidak langsung tidur. Selama satu jam Faras dan Faris bercerita tentang kegiatan mereka selama satu minggu penuh. Alhasil mereka baru tertidur pukul 12 malam.
“Aras… Aris… cepat bangun! Kalau tidak bangun sekarang juga, kalian tidak usah ikut liburan bersama Aki dan Nenek,” suara menggelegar Kagendra memenuhi kamar.
“Bangunkan pelan-pelan, A. Jangan teriak-teriak!” Sadiyah berusaha membangunkan Faras dan Faris dengan menepuk-nepuk pipi mereka.
“Kalau kamu membangunkan seperti itu, bukannya mereka bangun tapi malah tidur lebih pulas. Minggir!” Kagendra menepis tangan Sadiyah kemudian menggendong Faras dan Faris menuju kamar mandi.
Di kamar mandi, Kagendra mendudukkan Faras dan Faris di dalam bath tub lalu membasuh wajah mereka. Merasakan air dingin di wajah, Faras dan Faris langsung terbangun lalu menggerundel.
“Dingin … Ayah!” protes Faras.
“Kalau mau ikut sama Aki dan Nenek, cepat mandi! Kecuali kalian tidak akan ikut ke Bali, boleh kembali tidur. Bagaimana?”
Mendengar nada suara ayahnya yang meninggi, Faras dan Faris langsung melepaskan pakaian tidur mereka.
“Mau mandi sendiri atau Ayah mandikan?”
Faras dan Faris langsung menuju shower dan membuka airnya.
“Brr… dingin …” Faris menggeletukkan giginya menahan dingin. Bibir Faras juga terlihat gemetaran. Melihat anak kembarnya kedinginan, Kagendra tidak tega dan langsung memindahkan tombol air dingin menjadi air hangat.
Kagendra membantu Faras dan Faris mandi dengan menyabuni tubuh mereka. Sadiyah menyerahkan handuk pada Kagendra untuk mengeringkan tubuh si kembar.
Di bandara, drama kembali terjadi. Faris merajuk ingin Sadiyah ikut dengan mereka. Sadiyah mencoba membujuk Faris dengan lembut bahwa ia tidak bisa ikut karena harus menemani ayah mereka.
“Ayah kan sudah besar, tidak perlu ditemani lagi,” protes Faris.
“Aris…! Kalau kamu memang ingin bersama dengan Ibu, tidak usah ikut sama Aki dan Nenek. Tidak usah ikut liburan sama mereka.”
“Tapi Aris mau pergi – “
“Kalau mau pergi, jangan merajuk!” kata Kagendra tegas.
Air mata mulai membasahi pipi Faris namun Kagendra harus tegas pada Faris dengan tidak menuruti segala keinginan anaknya itu.
“Tapi Aris ingin Ibu juga ikut.”
“Ibu tidak akan ikut. Kalau memang kamu ingin bersama dengan Ibu, maka kamu tidak pergi bersama Aki, Nenek, dan Faras. Kamu tidak ikut liburan dan tinggal bersama dengan Ibu atau kamu pergi bersama Aki, Nenek, dan Faras tanpa Ibu karena Ibu harus menemani Ayah di sini. Itu pilihannya!” tegas Kagendra.
Tampak Faras menggandeng tangan Faris lalu membantunya untuk mengelap air mata yang mengaliri di pipi Faris.
“Aris mau ikut tidak? Kan ada Aki, Nenek, dan Aras. Kita mainnya berempat saja. Semalam juga Ayah kan sudah bilang kalau kerja Ayah sudah selesai, kita bisa pergi liburannya sama Ayah dan Ibu.”
Faris menganggukkan kepala dan mengusap sisa air matanya dengan punggung tangan.
“Sudah, jangan menangis. Sekarang Aris pergi liburannya sama Aki, Nenek, dan Aras. Nanti setelah pekerjaan Ayah selesai, kita pergi liburan bersama. Ayah, Ibu, Aras dan Aris,” bujuk Sadiyah.
Kagendra memeluk Faris untuk meredakan kekecewaannya. Ia mengelus puncak kepala Faras dan miminta Faras untuk menjaga saudara kembarannya yang diangguki oleh Faras. Faras memang lebih dewasa dan kuat dibandingkan Faris. Ia terbiasa melindungi Faris sejak masih di desa Cibeber. Faras akan pasang badan jika ada anak-anak lain yang suka mengejek mereka karena tidak punya ayah. Faras juga yang akan melawan anak-anak yang suka menjahili adik kembarnya.
Tidak jarang Faras pulang ke rumah dengan luka-luka di tubuh dan wajahnya akibat dari perkelahian yang ia lakukan. Faras tidak berkelahi karena ia nakal atau sok jagoan, tetapi ia hanya akan melawan anak-anak yang sering merundung mereka.
Sadiyah sudah sering menasihati Faras agar tidak gampang terpancing emosi, namun Faras tidak mendengar perkataan ibunya. Ia hanya berjanji untuk tidak pernah memulai perkelahian tetapi tidak akan tinggal diam jika ia atau adiknya kena perundungan.
__ADS_1
*****
to be continued...