
Setelah dari apartemen Natasha, Kagendra segera pulang ke rumahnya. Ia merasa tidak tenang meninggalkan Sadiyah yang sedang sakit. Masa bodoh dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya.
Kagendra sampai di rumah menjelang maghrib dan melihat Sadiyah yang sedang duduk santai di atas sofa sambil membaca buku.
“Kamu sudah sembuh?” suara Kagendra mengagetkan Sadiyah yang sedang asyik membaca bukunya.
“Aa sudah pulang? Kok tidak kedengaran suara mobil masuk.”
“Kamu terlalu fokus dengan bacaan kamu sampai-sampai tidak mendengar ucapan salam saya.”
“Maaf A.” Sadiyah menghampiri Kagendra dan mencium punggung tangan Kagendra dengan takzim.
Kagendra senang dengan kebiasaan Sadiyah yang mencium punggung tangannya ketika ia akan berangkat ke kantor dan setelah ia pulang dari kantor.
Setelah Sadiyah mencium punggung tangannya, Kagendra mencium kening Sadiyah dengan takzim pula. Ia ingin menikmati momen-momen seperti ini yang ia sendiri tidak yakin akan bertahan sampai kapan.
“Aa mau disiapkan apa untuk makan malamnya?” tanya Sadiyah.
“Kamu masih sakit. Kamu tidak usah masak untuk makan malam.”
“Iyah sudah mendingan kok. Iyah masih sanggup lah kalau membuat masakan yang simpel.”
“Tidak perlu. Kita order atau beli saja.”
“Jangan A. Kita kan tidak tahu kualitas makanan yang kita pesan dari luar.” protes Sadiyah.
“Tidak apa-apa. Sekali-kali saja, tidak akan membuat kita sakit kan. Banyak restoran dengan kualitas yang bagus yang bisa kita pesan.” sahut Kagendra.
“Terserah Aa saja deh.” akhirnya Sadiyah mengalah.
“Saya sholat magrib dan isya di masjid komplek. Pulangnya saya beli makanan. Kamu mau makan apa buat makan malam?”
Sadiyah segera membayangkan makanan-makanan apa saja yang diinginkannya malam ini.
“Iyah pengen martabak telur yang pakai telur bebek, terus martabak manis isi keju yang double, kalau boleh nasi goreng yang di depan komplek yang jualnya bapak-bapak yang suka pakai peci. Penjualnya sholeh, suka berjamaah di masjid.”
“Kamu tahu darimana kalau bapak penjual nasi goreng itu sholeh. Jangan karena dia hobi pakai peci kamu bilang sholeh.”
“Iyah pernah lihat pas menjelang magrib, bapak penjual nasi goreng itu meninggalkan gerobaknya begitu saja untuk sholat berjamaah di masjid. Kalau seorang pria sholat berjamaah di masjid berarti tandanya pria itu sholeh. Ya itu sih salah satu tandanya saja. Kalau seorang laki-laki tidak sholat berjamaah di masjid apalagi tidak pernah mengerjakan sholat. Duuuh udah deh kelaut aja tuh.”
__ADS_1
“Berarti saya termasuk pria yang sholeh dong.” Kagendra merasa bangga dengan perkataan Sadiyah.
“Aamiiin. Mudah-mudahan Allah senantiasa memudahkan langkah Aa untuk selalu sholat berjamaah ke masjid.” do’a Sadiyah.
Kagendra telah bersiap untuk pergi sholat berjamaah ke masjid. Dengan koko warna putih, peci warna putih dan sarung bercoraknya, Kagendra terlihat sangat tampan dengan tampilannya.
“Masya Allah. Suaminya Iyah ganteng banget.” seru Sadiyah ketika melihat Kagendra yang sudah siap pergi ke masjid.
“Selain martabak telur spesial, martabak keju dan nasi goreng. Kamu mau pesan apa lagi?” tanya Kagendra menantang.
“Boleh pesan lagi?”
“Memangnya kamu mau pesan apa lagi?”
“Iyah pengen es jeruk.” ujar Sadiyah malu-malu.
“Siap Bos!. Laksanakan!.” seru Kagendra.
Setelah selesai sholat isya berjamaah di masjid, Kagendra rela mengantri untuk membelikan pesanan sang istri.
Jam 8 malam, Kagendra baru kembali ke rumah dengan menenteng banyak kantong keresek.
“Ya ampun Aa. Kenapa Aa lupa bawa tas belanjaan. Kan kita sedang berusaha untuk mengurangi sampah plastik. Gimana sih Aa sampai lupa dengan perkara yang simpel seperti itu. Itu keresek jadi sampah yang sulit untuk terurai. Gimana sih Aa. Kan sudah sering Iyah ingatkan kan supaya bawa kantong belanja dan kotak makan kalau mau beli makan di luar.”
“Maaf, saya lupa. Lagian kenapa tadi tidak kamu ingatkan.”
“Kan sudah sering Iyah ingatkan untuk selalu bawa tas belanja.” ujar Sadiyah membela dirinya.
“Ya kan saya cuma manusia biasa tempatnya lupa. Nanti kantong keresek bekasnya jangan dibuang. Kita simpan untuk nanti kita pergunakan lagi. Bahan kantong keresek sekarang ini kan lebih mudah untuk diuraikan jadi tidak seperti bahan kantong keresek zaman dulu yang sulit terurai.” Kagendra berusaha membela diri.
“Ya tapi tetap saja itu kan nantinya jadi sampah plastik yang bisa mengotori lingkungan. Kalau sampai si Rahyang sepupunya Iyah yang aktivis lingkungan itu tahu, bisa digorok deh leher Iyah.”
“Ya jangan sampai si Rahyang tahu lah.”
“Aa gimana sih kalau ngomong suka seenaknya. Walaupun si Rahyang tidak tahu. Kan Allah Maha Tahu segalanya, walaupun kita sembunyikan serapat mungkin.
Perkataan Sadiyah yang menyatakan bahwa Allah Maha Mengetahui segalanya seperti menohok Kagendra. Ia sadar bahwa perbuatannya menyembunyikan kebusukan hubungannya dengan Natasha lambat laun akan tercium juga. Ia bukannya tidak sadar dengan dosa yang telah diperbuatnya, tapi untuk saat ini, ia sendiri pun bingung harus berbuat bagaimana.
“Sudah jangan meributkan masalah sampah plastik. Kita maafkan diri kita untuk kesalahan yang ini. Kita jangan ulangi lagi di kemudian hari.”
__ADS_1
“Aa, suaminya Iyah yang tersayang. Kalau Aa dengan mudahnya bilang untuk memaafkan kesalahan diri sendiri seperti ini ya tidak akan jadi solusi.”
“Sadiyah, istriku tersayang. Sekarang kita makan dulu. Kalau kita terus berdebat, nanti makanannya jadi dingin dan tidak enak lalu kita buang, jadi dosa karena kita membuang-buang makanan.”
Deg…
Jantung Sadiyah berdetak sangat kencang ketika mendengar Kagendra yang mengatakan bahwa ia adalah istri tersayangnya.
Kagendra segera mengeluarkan makanan-makanan yang ia beli. Ada tiga macam makanan yang tersaji di hadapan mereka. Satu porsi martabak telur spesial, satu porsi martabak keju, dan satu porsi nasi goreng serta satu cup es jeruk.
“Aa cuma beli nasi gorengnya satu bungkus. Nanti Aa makan sama apa? Kan ini semua pesanan Iyah.”
“Makanan sebanyak ini memangnya sanggup kamu habiskan semuanya?”
“Iyah lapar banget. Tadi siang cuma makan setangkup roti.”
“Kenapa kamu tidak makan yang benar?”
“Malas makan. Tapi sekarang perut Iyah lapar banget. Jadi mungkin ini makanan bakal Iyah habiskan semuanya.”
“Saya makan sisanya saja setelah kamu kenyang. Mubazir kalau nanti ada makanan yang terbuang. Kalau kamu menghabiskan semua makanannya, saya makan buah saja yang ada di kulkas.” ujar Kagendra.
Walaupun mengatakan jika ia sedang dalam kondisi kelaparan, tapi tidak membuat Sadiyah menghabiskan semua makanan yang tadi ia pesan. Setelah makan martabak telur dan martabak keju hampir habis setengahnya, Sadiyah hanya sanggup menghabiskan beberapa sendok saja nasi gorengnya.
“Tuh kan, kamu tidak mampu menghabiskan semuanya. Untung saja saya tidak beli makanan khusus buat saya. Ini saja masih banyak sisanya.” Kagendra mulai menghabiskan sisa makanan yang ditinggalkan oleh Sadiyah.
“Aa tidak masalah makan bekas sisanya Iyah?” tanya Sadiyah heran yang tidak terbiasa dengan perilaku Kagendra yang diluar kebiasaannya.
“Kenapa harus bermasalah?”
“Kan biasanya Aa selalu ingin makan yang baru, fresh dan sehat.”
“Sekali-kali makan seperti ini enak juga.”
Sadiyah tersenyum bahagia setelah kemarin sempat merasa kecewa oleh Kagendra. Sebenarnya sekarang pun Sadiyah masih merasa sedih jika mengingat Kagendra dan perempuan yang digandengnya di rumah sakit. Tapi Sadiyah mengesampingkan dulu rasa sedihnya. Ia ingin menikmati momen saat ini yang membuat hatinya berbunga-bunga. Masalah Kagendra dengan perempuan lain bisa ia bahas kapan-kapan saja.
************
to be continued...
__ADS_1