Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
63. Berpisah


__ADS_3

Rostita sudah menunggu di gerbang depan. Dari kejauhan, Rostita sudah melihat mobil yang membawa Sadiyah.


“Bah, Abah…Iyah sudah datang.” Rostita memanggil Darmawan yang sedang menyiram bunga di halaman belakang.


Segera setelah mobil yang dikemudikan Aep berhenti di depan gerbang, Sadiyah langsung turun dari mobil dan menghambur ke dalam pelukan Rostita.


Di dalam pelukan Rostita, tangis Sadiyah kembali pecah.


“Ayo kita masuk ke rumah. Bibi sudah siapkan makanan kesukaan Iyah. Iyah sudah lapar kan?” Rostita menuntun Sadiyah untuk masuk ke dalam rumah. Ia terus memeluk Sadiyah.


“Iya, Bi. Bi Ita masak apa saja?” Sadiyah bertanya dengan suara sesenggukan. Rostita mengusap sisa air mata yang masih ada di pipi Sadiyah.


“Bi Ita masak banyak kesukaan Iyah. Ada sayur lodeh, gurame goreng, karedok, perkedel jagung, dan sambel. Sambelnya juga ada sambal muncang sama sambal kecap.”


Mendengar daftar nama menu masakan yang disebutkan oleh Rostita membuat Sadiyah menelan air liurnya.


“Iyah laper banget, Bi.” punggung tangannya menyusut ingus yang keluar dari hidungnya.


“Sudah jangan nangis terus, tuh ingusnya banyak keluar seperti anak kecil saja.” goda Rostita.


“Biarin atuh, Bi. Namanya juga habis menangis, pasti banyak ingusnya.” Sadiyah melepaskan pelukannya.


“Cuci tangannya dulu terus langsung makan. Setelah makan baru bersihkan diri.”


“Siap, Bi.” hati Sadiyah sudah mulai tenang setelah bertemu dengan Bibi yang sudah dianggap sebagai ibunya itu. Rasa rindu kepada orangtuanya sedikit terobati dengan pelukan dari Rostita.


“Neng, ini Mamang buatkan air jahe. Tadi Mak Isah bilang kalau Neng muntah-muntah. Diminum dulu air jahenya biar tubuhnya hangat.”


“Nuhun, Mang.” Sadiyah menerima segelas air jahe hangat dari Darmawan dan langsung meneguknya pelan-pelan sampai habis.


“Gimana, sudah enakan perutnya?” tanya Rostita


“Sudah Bi, sekarang perut Iyah keroncongan banget, Iyah ingin makan. Iyah sudah kangen sama masakannya Bi Ita.”


“Minum dulu air putih.” Rostita mengasongkan segelas air hangat yang juga langsung direguk hingga tandas oleh Sadiyah. Lalu ia mengambil nasi hangat dan goreng ikan beserta sambal kecapnya dan makan dengan menggunakan tangannya. Setelah goreng ikannya habis, Sadiyah langsung melanjutkan menggado karedok dengan kerupuk. Setelah karedoknya habis, sayur lodeh pun dilahapnya habis.


“Kenyang banget, Bi.” Sadiyah mengusap-ngusap perutnya yang kekenyangan.


“Kepalanya masih pusing? Perutnya masih mual?” tanya Rostita cemas.


“Sudah tidak, Bi. Sekarang Iyah ngantuk, mau tidur dulu.”


“Jangan langsung tidur. Kamu baru saja makan, masa mau langsung tidur. Tidak baik.” nasehat Rostita.

__ADS_1


“Iyah mau istirahat saja dulu di kamar ya Bi. Habis sholat dzuhur baru Iyah tidur.”


“Terserah kamu saja.”


Setelah sholat dzuhur, Sadiyah benar-benar langsung tidur. Matanya sudah tidak kuat lagi menahan kantuk. Sejak semalam ia tidak bisa tidur dan beberapa hari setelah kejadian Natasha yang mengirimkan foto dan rekaman suara Kagendra, tidur Sadiyah pun tidak pernah nyenyak.


Sekarang,  ia sudah merasa nyaman berada di tengah keluarganya, tubuhnya menyerah dan terlelap hingga sore hari.


“Neng, bangun. Sudah sore.” Rostita menggoyangkan lengan Sadiyah dengan lembut.


“Jam berapa, Bi?”


“Sudah jam setengah lima. Bangun dulu lalu sholat.”


Sadiyah segera bangun dari tidurnya dan beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci wajah dan mengambil wudhu.


********


Iyah, maaf Aa baru kasih kabar. Dari airport tadi subuh langsung bertemu klien dan meeting. Ini baru selesai meetingnya. Kamu masih sakit? Sudah makan belum?


Kagendra mengirimkan pesan teks.


Alhamdulillah kalau Aa sudah sampai di sana. Aa tidak terlewat jadwal makannya kan?


Aa baru nemu makan ini. Dari tadi belum sempat makan.


Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Sadiyah membuka pesan tersebut dan membaca isi pesannya.


Kamu memblokir nomer aku, tapi aku akan terus mengirimkan foto-foto yang seharusnya membuat kamu sadar diri kalau kamu itu tidak berarti apa-apa buat Kagendra.


Sadiyah melihat foto-foto kebersamaan Kagendra dan Natasha di sebuah bandara. Dadanya kembali terasa sakit dan sesak ketika melihat foto-foto Natasha yang sedang memeluk lengan Kagendra dengan mesra.


Suami kamu bilang apa sama kamu? Bilang kalau dia pergi untuk kerja. Kamu salah. Kami sedang berlibur bersama. Foto-foto ini yang menjadi bukti kebersamaan kami.


Sadiyah tidak membalas pesan dari nomor tak dikenal itu. Lalu mengirim pesan teks kepada Kagendra menanyakan satu pertanyaan yang Sadiyah harap Kagendra akan menjawabnya dengan jujur. Ini adalah harapan terakhirnya, jika Kagendra tidak jujur menjawab satu pertanyaan terakhir darinya maka ia akan benar-benar menutup hatinya untuk Kagendra.


Aa pergi ke Thailand bersama siapa saja?


Lama pesan itu tidak dijawab oleh Kagendra. Setelah dua jam berlalu, Kagendra baru membalas pesan dari Sadiyah.


Aa ke Thailand hanya dengan Rudi. Maaf Aa baru balas pesannya karena barusan klien yang disini menelpon Aa dan baru selesai barusan.


Sebenarnya Kagendra berkata jujur, ia pergi ke Thailand hanya bersama dengan Rudi. Hanya saja, Natasha dan asistennya mengetahui keberangkatan Kagendra lalu segera menyusul dan beruntung mendapatkan pesawat yang sama walaupun duduk berjauhan.

__ADS_1


Kagendra tidak mengharapkan kehadiran Natasha dan mempertanyakan mengapa Natasha ada di penerbangan yang sama dengannya. Tapi Natasha berkelit bahwa ia ada pekerjaan di negara yang sama yang dituju oleh Kagendra.


Ketika baru landing di Bandara Internasional di negara Thailand, Natasha lah yang agresif mendekatkan diri dan bermanja pada Kagendra. Tanpa diketahui oleh Kagendra, asisten Natasha mengambil momen yang menampilkan kemesraan antara Kagendra dan Natasha dengan kamera ponselnya.


Ketika tidak mendapatkan balasan dari Sadiyah, Kagendra mengirim lagi pesan teks.


Iyah sudah tidur?


Masih tidak ada balasan dari Sadiyah.


Aa juga mau tidur. Besok pagi, Aa telpon kamu ya.


Kagendra pun mulai memejamkan matanya, mengistirahatkan tubuh lelahnya setelah seharian ini penuh dengan jadwal meeting dengan beberapa klien.


********


Pagi harinya, Sadiyah membuka ponselnya dan mendapatkan beberapa pesan teks dari Kagendra yang belum terbaca.


“Dasar pembohong.” rutuk Sadiyah setelah membaca balasan pesan dari Kagendra.


Baru saja Sadiyah menutup aplikasi chat di ponselnya, notifikasi baru muncul di layar ponselnya.


Iyah, sayang. Agenda kamu hari apa saja? Hari ini Aa mau meninjau lokasi. Kemarin Aa sempat melihat lokasi untuk pengambilan iklan. Alamnya bagus sekali. Nanti kita bulan madu kesini yuk.


Sekarang Kagendra tidak segan untuk menambahkan kata sayang pada Sadiyah.


“Cih…” dengus Sadiyah.


Hari ini Iyah mau istirahat saja di rumah. Badan Iyah masih belum enak.


Kamu masih mual-mual? Kalau Aa di samping Iyah, pasti Aa pijitin lagi.


Sadiyah melempar ponselnya ke atas kasur merasa kesal dengan kata-kata Kagendra yang tidak tulus dan penuh kepura-puraan.


“Dasar laki-laki berengsek, pembohong, pendusta. Iyah benci banget. Sekarang aja bilang sayang sayang hanya untuk menutupi kebohongannya. Iyah benci orang yang namanya Kagendra itu.” Sadiyah memukul mukul bantal seakan-akan bantal itu berwajah mirip Kagendra.


Sayang, Aa mau pergi dulu ya. Nanti malam kita lanjut lagi ngobrolnya. Mudah-mudahan pekerjaannya selesai sebelum kamu tidur, jadi Aa bisa telpon kamu.


Sadiyah mengambil lagi ponsel yang tadi dilemparnya dan membaca pesan baru dari Kagendra.


“Bodo amat.” teriak Sadiyah.


*********

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2