
Kagendra melepaskan pelatuk yang dari tadi ditahannya. Peluru mengenai lantai, tidak jauh dari kaki kanan Marco.
“Kalau kamu bersikeras dengan keinginan gilamu, maka peluruku tidak akan mengenai lantai lagi, tapi tepat menembus jantung atau otakmu,” ancam Kagendra. Ia tidak main-main dengan ancamannya. Ia tidak takut menghadapi hukum setelah ia menghabisi nyawa Marco.
Marco tidak terkejut dengan kenekadan Kagendra, tetapi ia tidak menyangka jika skill Kagendra dalam menembak sangat baik. Kagendra mampu menembak tepat mengenai sasaran dalam jarak yang cukup jauh. Marco gentar juga. Ia belum siap mati konyol di usianya yang masih muda. Perempuan dan cinta bisa ia cari lagi, walaupun mungkin tidak akan ada perempuan yang seperti Sadiyah, tapi setidaknya ia masih bisa membeli kenikmatan yang bisa diberikan perempuan.
“Baiklah, Mr. Nataprawira. Aku tidak akan mengganggu lagi istrimu. Perempuan tidak hanya dia kan. Mungkin aku bisa mengambil hati adik perempuanmu,” ucap Marco menyeringai. Dia tidak tahu kalau ada seseorang dibalik tembok menahan geram mendengar ucapannya.
Atep terpaksa membiarkan Sadiyah dan Alena yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan di dalam. Setelah beberapa runtutan tembakan, Sadiyah sudah tidak mampu lagi menahannya. Ia harus melihat keadaan Kagendra dengan mata dan kepalanya sendiri. Begitupula dengan Alena. Ia memaksa Atep mengantar, setidaknya mengintip keadaan kakaknya. Atep tidak kuasa menahan dua orang perempuan yang ingin mengetahui keadaan orang yang sangat mereka cintai.
Atep, Sadiyah, dan Alena berhasil menyelinap ke dalam tanpa ketahuan. Sadiyah mendengar semua perkataan Kagendra dan Marco.
“Len, sepertinya laki-laki gila itu sudah mengetahui tentang dirimu.”
“Laki-laki itu emang benar-benar gila. Bagaimana bisa dia memperlakukan seorang perempuan seperti barang. Memangnya aku mau gitu sama dia.”
__ADS_1
“Tapi dia ganteng, Len,” kata Sadiyah becanda.
“Teteh!” bisa-bisanya becanda disaat seperti ini,” protes Alena.
“Kamu harus kuat untuk melindungi Lena, Tep.” Sadiyah tidak tahu kalau Atep sedang berusaha menahan diri agar tidak keluar dan langsung menghajar wajah Marco.
Sadiyah melihat tangan Atep memutih saking kuatnya memegang senjata.
“Tenang saja, Len. Aa dan Abah tidak akan membiarkan Marco berbuat yang tidak-tidak sama kamu. Mungkin Abah yang akan turun tangan kalau sampai kamu yang jadi target Marco.”
Alena mengangguk.
Alena heran, bisa-bisa Sadiyah menggodanya disaat genting seperti ini.
“Permainan ini sudah tidak menarik lagi. Lepaskan anak itu!” perintah Marco.
__ADS_1
Kagendra mendengar laporan Kiran lewat earphone yang dipakainya. Kiran melaporkan bahwa tim-nya telah bersil mengamankan Faras, sekaligus membekuk dan melumpuhkan anak buah Marco.
Setelah mendengar laporan Kiran, Kagendra bisa bernapas lega. Walaupun Faras sudah aman, Kagendra tidak mengurangi tingkat kewaspadaannya. Selama mereka belum keluar dari pulau ini, semua kemungkinan bisa terjadi, termasuk kemungkinan terburuk.
“Tidak, Marco! Kau tidak bisa melepaskan anak itu,” teriak Natasha yang tiba-tiba muncul. “Kau tidak bisa seenaknya mengkhianati perjanjian kita.”
“Sudahlah, Natasha. Sebaiknya kau lepaskan saja laki-laki itu. Dia tidak mencintaimu. Untuk apa kau mengharapkan sesuatu yang impossible. Masih banyak laki-laki di dunia ia, bukan hanya dia seorang.”
“Diam, Marco! Kau tidak tahu apa-apa. Hanya dia yang kuinginkan.” Natasha mengacungkan pistolnya ke arah Marco.
“Jangan gegabah, Tasha!” teriak Kagendra.
Natasha tercenung mendengar panggilan Kagendra padanya. Tasha, panggilan yang digunakan Kagendra saat mereka masih berpacaran.
“Sayang, bisakah kau memanggilku dengan nama itu sekali lagi?” pinta Natasha menghiba.
__ADS_1
**********
to be continued...