
Faras dan Faris sudah duduk di kursi penumpang di dalam mobil yang disupiri oleh Kagendra.
Kagendra akan membawa Faras dan Faris untuk diperkenalkan pada Aki Musa, Yusuf, Indriani dan Alena.
“Ayah, kita mau kemana?” tanya Faras.
“Kita mau ke rumah kakek dan orangtua Ayah. Di sana kalian akan bertemu dengan aki uyut, kakek, nenek dan tante kalian. Tapi terserah kalian nanti mau memanggil mereka apa. Boleh panggil aki dan enin seperti pada aki Awan dan enin Ita, atau kakek dan nenek. Tapi kalau panggil akinya Ayah, kalian harus panggil aki uyut. Sama adik Ayah kalian bisa panggil tante.”
“Jadi Aras dan Aris juga punya nenek dan kakek seperti Aki Awan dan Enin Ita?”
“Ya.” jawab Kagendra singkat.
Mereka menempuh perjalanan selama empat jam dan sepanjang perjalanan, Faras dan Faris tidak hentinya berbicara menceritakan apapun pada Kagendra. Mereka bercerita tentang teman-teman bermain, tempat-tempat kesukaan mereka, dan kota-kota yang telah mereka kunjungi bersama Sadiyah. Sepanjang perjalanan, Kagendra ditemani oleh celotehan Faras dan Faris. Mereka mulai tertidur ketika mobil Kagendra baru saja keluar dari gerbang tol.
Kagendra memasukkan mobil ke dalam garasi rumah keluarga besarnya yang luas. Faras dan Faris masih tertidur lalu Kagendra membangunkan mereka dengan lembut.
“Aras…Aris…kita sudah sampai. Mau jalan sendiri atau digendong sama Ayah?”
Kagendra menggoyang-goyangkan lengan Faras dan Faris bergantian.
Faras dan Faris membuka dan mengedip-ngedipkan mata mereka.
“Ayo, kita sudah sampai di rumah aki uyut. Mau Ayah gendong atau jalan sendiri?”
Faras dan Faris merentangkan kedua tangan mereka sebagai tanda kalau mereka ingin digendong.
Kagendra memerintahkan Mbok Asih, ART yang sudah mengabdi puluhan tahun di rumah Aki Musa dan suaminya, Mang Dadang, pengurus taman di rumah mereka untuk membawakan dua tas besar berisi pakaian Faras dan Faris.
Dengan mata terpejam, Faras dan Faris mengalungkan tangan mereka ke leher Kagendra yang sedang menggendong mereka.
“Assalamu’alaikum.” Kagendra mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumsalam.” jawab Indriani dari dalam rumah.
Indriani heran melihat Kagendra yang menggendong dua orang anak.
“A, kamu bawa anak siapa?” tanya Indriani.
Kagendra menurunkan Faras dan Faris dari gendongannya. Faras dan Faris berdiri bersisian di depan Kagendra.
“Ini Aras dan ini Aris.” Kagendra memperkenalkan Faras dan Faris pada ibunya.
Indriani terkesiap melihat wajah Faras dan Faris, ia seperti melihat Kagendra ketika masih anak-anak.
“A, mereka itu siapa?”
“Ini Aras.” Faras menunjuk dada dengan telunjuknya.
“Ini Aris.” Faris juga menunjuk dada dengan telunjuknya.
Tangis Indriani pecah. Ia berlutut dan memeluk Faras dan Faris. Setelah puas memeluk Faras dan Faris, Indriani menciumi wajah Faras dan Faris.
__ADS_1
“Mereka ini cucu-cucunya Ibu, kan?” tanya Indriani disela-sela tangisnya.
“Iya, Bu. Aras dan Aris ini anak kembar Aa dan Sadiyah.”
Tangis Indriani semakin kencang setelah mendengar kalau anak kembar yang sedang dipeluknya itu benar-benar cucu-cucunya.
Aki Musa yang mendengar tangisan Indriani segera keluar dari kamarnya.
“Kenapa kamu menangis, Ndri?” tanya Aki Musa.
Indriani tidak menjawab pertanyaan Aki Musa karena ia masih sibuk memeluk dan menciumi wajah Faras dan Faris.
“Mereka siapa, Ndri?”
“Mereka ini cucu-cucunya Indri, Bah.” jawab Indriani setelah berhasil sedikit menenangkan dirinya.
Aki Musa menatap lekat wajah Faras dan Faris. Ia melihat wajah Kagendra cilik yang dulu sering diajaknya bermain bersama.
“Mereka anak-anak kamu, Ndra?” tanya Aki Musa sambil memandang takjub pada Faras dan Faris.
“Iya, Ki.” jawab Kagendra.
Reaksi Aki Musa pun tidak jauh berbeda dengan Indriani setelah mendengar jawaban dari Kagendra. Air mata Aki Musa tak terbendung lagi, ia menangis sesenggukan.
Aki Musa pun berlutut mensejajarkan dirinya dengan tinggi Faras dan Faris.
“Sini, peluk Aki Uyut.” panggil Aki Musa pada Faras dan Faris.
Faras dan Faris menghambur ke dalam pelukan Aki Musa.
“Mana Iyah? Mereka anak-anak kalian kan?” bisik Indriani pada Kagendra.
“Iya, Bu. Mereka anak kembar kami. Kan tadi Aa sudah bilang sama Ibu.” Kagendra menjawab pertanyaan yang sebenarnya sudah ia jawab sebelumnya dengan sabar.
“Mana Iyah?”
“Dia belum mau ikut sama Aa. Ini juga Aa sedang diuji dulu sama Iyah. Aa disuruh mengurus mereka sendirian tanpa bantuan siapapun.”
“Kenapa Iyah tidak pernah bilang sama kamu kalau dia hamil?”
“Ceritanya panjang, Bu. Nanti Aa ceritakan kalau kita sudah kumpul semua.”
“Abah harus segera diberitahu.” Indriani segera menelepon suaminya dan menyuruh untuk segera pulang.
“Lena mana, Bu?”
“Dia kan sudah mengajar di Bandung.”
“Eeeh…kenapa Lena tidak bilang-bilang sama Aa kalau sekarang dia mengajar di Bandung.”
“Aa terlalu sibuk dengan urusan Aa sih sampai lupa sama adik sendiri.”
__ADS_1
“Lena tidak cerita kalau sekarang dia jadi dosen di Bandung.”
“Sudah tiga bulan dia mengajar di sana.” ujar Indriani.
“Kalau Aa tahu Lena ada di Bandung, sudah Aa kasih tahu duluan tentang Faras dan Faris.”
“Biar Ibu yang telepon Lena. Kalau dia tahu kabar ini, dia pasti langsung ke sini.”
Indriani langsung mengubungi Alena untuk memberitahu kabar yang sangat mengembirakan ini.
*******
Dua jam kemudian, Yusuf memasuki rumah dengan tergesa-gesa.
“Bu….” teriak Yusuf memanggil istrinya.
Indriani beranjak mendekati Yusuf yang celingukan mencari-cari sesuatu.
“Mana, Bu? Mana cucu-cucunya Abah?”
“Jangan riweuh seperti itu atuh Bah. Mereka lagi tidur siang. Sepertinya mereka kecapekkan karena perjalanan jauh.
“Mana anak bandel itu?” Yusuf menanyakan keberadaan Kagendra.
“Tuh lagi makan di ruang makan.”
Yusuf yang diikuti Indriani langsung menuju ruang makan.
“Aa, dasar anak nakal kamu.” Yusuf menjewer telinga Kagendra yang sedang asyik makan nasi dan ikan goreng lengkap dengan sambal kecapnya.
“Aw…aw…sakit atuh Bah. Aa bukan anak kecil, kenapa dijewer?” Kagendra mengaduh kesakitan.
“Kamu memang bukan anak kecil, bahkan kamu sudah punya anak kecil. Tapi kelakuan kamu seperti anak kecil yang bandel dan harus dijewer sama orangtuanya.”
“Itu namanya panganiayaan terhadap anak. Nanti Aa laporkan Abah ke KPAI.”
“Cih….” dengus Yusuf sambil duduk di hadapan Kagendra yang melanjutkan makannya.
“Bagaimana ceritanya kamu sampai punya anak kembar?” tanya Yusuf to the point.
“Kalau punya istri ya wajar saja kan kalau punya anak.” jawab Kagendra asal.
“Iya, Abah tahu. Tapi bagaimana cerita lengkapnya, anak nakal?” tanya Yusuf gemas.
“Nanti saja deh ceritanya. Aa lagi menikmati makan sama ikan goreng buatan Ibu yang makyus. Abah jangan ganggu dulu.”
“Cih…dasar anak kurang ajar.” Yusuf memukul pelan kepala Kagendra dengan gulungan koran yang dipegangnya.
“Bu, ambilkan juga makan buat Abah. Sepertinya Abah juga lapar dan mau makan siang sama ikan goreng. Masih ada kan?
“Ada, Bah.” Indriani mengambilkan nasi dan ikan goreng untuk Yusuf.
__ADS_1
************
to be continued...