Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
116. Kakak & Adik


__ADS_3

“Lena mana, Bu? Tumben adik durhaka itu tidak menemani kakaknya yang sedang terbaring tidak berdaya di sini.


“Sewaktu Aa koma, Lena ke sini setiap hari. Baru hari ini saja Lena belum datang kemari. Sepertinya dia lagi sibuk dengan bimbingan mahasiswanya. Ada dosen yang cuti melahirkan dan dia jadi pengganti dosen tersebut untuk membimbing skripsi para mahasiswa arahan dosen yang cuti itu.


“Hebat juga si Lena sudah dipercaya untuk membimbing skripsi.”


“Adik kamu itu memang hebat. Kamunya saja yang kurang perhatian sama karir adik kamu.”


“Iya tapi karir hebatnya itu malah membuat dia jadi tidak peduli sama Aa.”


“Siapa yang bilang kalau Lena sudah tidak peduli lagi sama Aa?” ujar Alena marah. Ia sudah berdiri tegak di ambang pintu.


“Eh, ada adik Aa yang manis.”


“Tidak usah bilang-bilang manis. Apa maksudnya tadi Aa bilang begitu?”


“Bilang apa?” tanya Kagendra pura-pura tidak paham.


“Tadi itu Aa bilang karena karir, Lena jadi tidak peduli lagi sama Aa.” bentak Alena.


“Jangan marah-marah sama pasien.”


“Pasien lebay…” sungut Alena.


Alena langsung menghambur memeluk Kagendra yang terbaring dengan posisi kepala yang sedikit tegak. Tadi Indriani menyetel posisi tempat tidurnya agar Kagendra tidak berbaring terlalu telentang. “Aa… kenapa sih tidurnya lama sekali? Hobi sekali bikin Lena khawatir.”


Alena memeluk Kagendra dengan air mata yang bercucuran tetapi kali ini air mata yang keluar adalah air mata kelegaan dan kebahagiaan karena kakaknya telah kembali.


“Jangan seperti ini. Jangan bikin Lena jantungan terus. Aa jahat sama Lena.” Alena masih belum mau melepaskan pelukannya.


“Iya, iya… Aa minta maaf.” Kagendra mencium puncak kepala Alena. “Sudah jangan menangis terus. Baju Aa jadi basah kena air mata kamu. Ia mengusap punggung adiknya yang gemetar. Kagendra sangat paham dengan rasa sayang Alena untuknya. Alena pula lah yang menemaninya ketika ia sedang terpuruk.


“Awas kalau nanti seperti ini lagi. Lena gak akan maafin.” Alena melepaskan pelukan dan menyusut sisa air matanya dengan punggung tangan.

__ADS_1


“Adik Aa yang cantik ini kok jadi cengeng seperti ini sih.” Kagendra ikut menghapus sisa air mata Alena dengan tangan kirinya yang bebas dari jarum infus.


“Menyebalkan.” cebik Alena. Ia duduk di kursi dekat ranjang Kagendra di samping ibunya.


“Eh, kenapa pas tadi datang anak Ibu yang manis ini marah-marah sih?” tanya Indriani sambil mengelus puncak kepala Alena dengan sayang. Sejak Alena mendapatkan pekerjaan mengajar di Universitas beda kota, Indriani jadi jarang bertemu dengan anak gadis satu-satunya itu.


“Lena sedang kesal Bu.” sungut Alena.


“Kesal kenapa?”


“kesal sama Aa yang ngatain Lena adik durhaka.” ucap Alena sambil menatap tajam kakaknya. “Lena juga sedang kesal sama mahasiswa bimbingan Lena. Orangnya songong banget. Dikasih nasihat malah marah-marah. Kan nyebelin dan bikin mood Lena jadi berantakan. Akibatnya Aa jadi kena omel Lena juga kan.” adu Alena pada Indriani.


“Sebagai dosen pembimbing, kamu harus sabar. Karakter mahasiswa kan beda-beda. Kamu harus punya stok sabar lebih.”


“Biasanya juga dosen yang bikin mahasiswa sebel, kan? ini sih kebalik, mahasiswa yang bikin dosen mangkel.”


“Mahasiswanya perempuan atau laki-laki? Kalau perempuan mungkin dia iri sama kecantikan dosen pembimbingnya.” goda Indriani sambil menjawil hidung mungil Alena.


“Mahasiswanya laki-laki, Bu. Heran deh, laki-laki kok kelakuannya persis banget sama perempuan yang hobinya nyinyir sama orang. Lena ini bukan hanya seorang perempuan tapi juga dosen pembimbing dia. Masa tidak ada hormat-hormatnya sih sama Lena.” Alena masih asyik mengomel mencurahkan kekesalannya.


“Naksir apaan, kaya kulkas gitu. Aku juga heran, orang kaya kulkas gitu tapi banyak cewek-cewek yang suka sama dia. Apa bagusnya coba dia?” Alena masih bersungut-sungut menceritakan mahasiswanya.


“Eeeh jangan salah loh, cewek-cewek sekarang tuh sukanya cowok yang dingin kaya kulkas. Tuh contohnya kakak ipar kamu yang cinta mati sama Aa.”


“Cinta mati apaan. Yang ada tuh Aa yang cinta mati sama Teh Iyah sampai sakit dan dirawat dulu gara-gara ditinggalin Teh Iyah.” Alena menjulurkan lidahnya mengejek Kagendra.


“Tapi kan sekarang Iyah sudah balik lagi sama Aa.” bantah Kagendra.


“Ah itu juga karena Aa terluka sampai hampir mati. Kalau gak begini juga mana mau Teh Iyah maafin Aa.” Alena berkata tanpa tedeng aling. Ia tidak peduli jika kakaknya akan tersinggung dengan ucapan yang ia lontarkan. Toh, ia sangat paham kalau kakaknya itu tidak akan marah dengan ucapannya.


“Eh… sembarangan kalau ngomong ya.” Kagendra melemparkan bantalnya hingga tepat mengenai wajah Alena.


“Ibuuuuu…Aa jahaaaat……”

__ADS_1


Alena mengambil bantal yang terjatuh di lantai setelah mengenai wajahnya dan hendak balas melempar bantal ke arah Kagendra tapi segera ditahan oleh Indriani.


“Lena, jangan dilempar! Takutnya lemparan kamu tidak tepat sasaran malah mengenai lukanya Aa kamu.”


“Weeee….” Kagendra menjulurkan lidahnya mengejek Alena.


“Kalau mau balas, cubit saja lengannya yang tidak luka.”  Indriani menyuruh Alena untuk mencubit lengan Kagendra sambil terkikik.


Dengan segera Alena beranjak dari tempat duduknya dan mengembalikan bantal ke bawah kepala Kagendra. Setelah membetulkan posisi bantal Kagendra, Alena langsung mencubit lengan kiri Kagendra sekerasnya.


“Awwww….sakit Lenaaa…..” teriak Kagendra.


“Makanya jadi orang itu jangan nyebelin. Harus dirubah tuh sikap nyebelinnya. Jangan sampai ditinggal lagi sama istri.” Alena tertawa terbahak-bahak setelah memberikan ejekan pada Kagendra.


“Kamu tuh kenapa bicara yang negatif terus tentang Aa dan Iyah? Kamu tidak suka kalau Aa dan Iyah sudah bersama lagi.” protes Kagendra karena kesal dengan ejekan Alena.


“Bukannya tidak senang. Lena cuma mengingatkan Aa supaya jangan jadi orang yang nyebelin. Jangan sampai nyakitin lagi Teh Iyah yang akhirnya malah bikin Aa menderita juga, dan menderitanya itu pakai banget. Lena yang jadi saksi gimana menderitanya Aa dulu. Makanya Lena gak mau Aa mengalami penderitaan seperti itu lagi. Saat itu, Aa mirip zombie, tau gak sih?” karena gemas dengan kakaknya, Alena kembali mencubit Kagendra dan sekarang yang menjadi sasarannya adalah pipi Kagendra.


“Awwww….” Kagendra mengaduh kesakitan karena cubitan keras dari Alena.


“Lena tuh sayaaaaang sekali sama Aa……” Alena menangkup pipi Kagendra dan mengoyang-goyangkan wajahnya ke kanan dan ke kiri.


“Pusing, Lena……”


Alena kemudian memeluk Kagendra dengan erat.


“Jangan sakit dan terluka seperti ini lagi A. Jangan bikin Lena khawatir terus.”


“Hmmm…..makasih ya Len.” Kagendra menepuk-nepuk bahu adik perempuan satu-satunya itu. Kemudian balas mencubit pipi Alena yang sedikit tembam enak untuk dicubit.


“Aa… sakittt…”


Indriani meneteskan air mata haru melihat kedua anaknya yang saling berbalas cubitan. Jika mereka bertemu memang seperti Tom and Jerry tetapi sebenarnya mereka saling mendukung dan saling menyayangi.

__ADS_1


***********


to be continued...


__ADS_2