
“Kamu bilang kalau perkataan perempuan sering tidak seirama dengan kata hatinya. Kamu juga seperti itu, kan?”
“Iyah gak seperti itu?”
“Jadi kamu bukan perempuan, huh?” Kagendra menaikkan sebelah alisnya.
“Aa gak usah ikut campur. Iyah lagi bicara sama Atep bukan sama Aa.”
Kagendra tertawa mendengar pernyataan Sadiyah. Setelah berbaikan dengan Sadiyah dan lebih mengenal karakter istrinya, Kagendra mencoba lebih bertoleransi dengan segala keunikan sifat Sadiyah.
“Memangnya Teteh tahu isi hatinya Lena?” tanya Atep penasaran.
“Sebagai sesama perempuan, sedikitnya Teteh tahu gimana perasaan Lena sama kamu.”
“Memangnya gimana, Teh?” Atep mencondongkan tubuh ke depan demi mendengarkan penjelasan Sadiyah.
“Heh, jangan dekat-dekat sama istri orang. Kamu mau aku bikin babak belur, hah?” hardik Kagendra sambil menarik kerah kameja milik Atep.
“Si Aa mah cemburuannya tingkat dewa. Sama adik sendiri saja cemburu.”
“Bukan adik sedarah. Kalian tidak diharamkan untuk menikah. Siapa yang tahu kalau dulu aku tidak datang tepat waktu, ini bocah melamar kamu buat jadi istrinya.”
“Iiiih kalau ngomong tuh suka asal deh,” Sadiyah memukul lengan suaminya sedangkan Atep memerah wajahnya.
“Jadi bagaimana, Teh?” tanya Atep mengalihkan pembicaraan karena khawatir Kagendra mengetahui kenyataan bahwa dirinya pernah menyukai Sadiyah sebagai seorang perempuan.
“Bagaimana apanya sih?” tanya Sadiyah.
“Itu bagaimana perasaan Lena sama Atep?” tuntut Atep.
“Oh, kamu pengen tau atau pengen tau banget?” goda Sadiyah sambil mengedip-ngedipkan mata.
“Tidak usah genit. Nanti dia ke ge-eran!” ucap Kagendra tajam.
“Apa sih, A? Aa lucu kalau cemburu. Iiih gemes deh,” Sadiyah mencubit kedua pipi Kagendra.
__ADS_1
Atep memalingkan wajahnya dari pemandangan yang membuatnya jengah.
“Teh, jadi tidak memberikan penjelasannya? Kalau mau mesra-mesraan jangan di hadapan jomblo. Di ruangan pribadi kalian saja. Bebas mau ngapain juga.”
“Heh, anak muda. Kamu siapa? Berani-beraninya mengatur di rumahku sendiri. Aku dan Iyah bebas mau mesra-mesraan dimana saja termasuk di hadapan kamu. Dasar adik durjana,”
“Aa, bahasanya tolong dijaga ya. Kalau Aras dan Aris dengar gak baik,” peringat Sadiyah.
“Adik kamu memang menyebalkan. Dasar adik jadi-jadian.”
Atep mendengus mendengar gerutuan Kagendra.
“Tuh kan. Adik kurang ajar.”
“Aa… Bisa diam, tidak?”
Kagendra menyilangkan tangan di depan dada. Wajahnya menunjukkan kalau ia sedang kesal karena Sadiyah malah membela Atep.
“Jadi gini, Tep. Perempuan itu pandai menutupi isi hati yang sebenarnya. Kalau menurut Teteh, Lena itu ada perhatian juga sama kamu. Buktinya, dia sering cerita tentang mahasiswa yang sering membuatnya kesal. Nah mahasiswa yang nyebelin itu ternyata kamu. Sering loh kita godain Lena kalau dia mungkin bakalan suka sama mahasiswanya. Sampai sini kamu ngerti?” tanya Sadiyah.
“Wanita memang makhluk yang sangat luar biasa uniknya. Aku sampai tidak mengerti dengan penjelasan dari istriku sendiri,” ucap Kagendra sarkas.
“Aa…” rajuk Sadiyah manja.
“Coba jelaskan lagi, sayang. Biar kami lebih paham,” pinta Kagendra.
“Dasar kalian para lelaki memang lemot. Gak peka. Makanya kami, kaum perempuan sering dibuat jengkel karena ulah kalian,” gerutu Sadiyah.
Kagendra dan Atep saling bertukar pandang.
“Tadi musuhan sekarang malah saling pandang-pandangan. Dasar aneh!” decih Sadiyah.
“Karena otak kami sangat lemot, kami tidak paham dengan penjelasan kamu, Sayang. Makanya kami saling pandang,” sahut Kagendra memberikan alasan. Sekarang kadar sabarnya sudah berada pada level tertinggi
Nih, Iyah kasih tau. Dengarkan baik-baik. Aa juga dengarkan baik-baik biar tidak sering bikin Iyah kesal.”
__ADS_1
“Iya, Sayang. Sekarang coba jelaskan kembali pada kami agar kami sedikit paham dengan pemikiran kaum hawa.
Yang namanya perempuan itu suka menutupi apa yang sebenarnya mereka rasakan. Kalau dia bilang tidak suka, sebenarnya dia itu suka. Jadi kalau Lena bilang tidak suka sama Atep, artinya dia suka sama Atep. Buktinya sangat jelas.”
“Bukti apa?” tanya Kagendra dan Atep kompak.
“Bukti kalau Atep sudah mendapatkan perhatian dari Lena. Aa ingat kan bagaimana Lena bercerita tentang mahasiswanya itu?” tanya Sadiyah pada suaminya.
“Mahasiswa yang bikin dia kesal?” tanya Kagendra menyindir.
“Iya sih, mahasiswa yang menjengkelkan. Tapi karena itulah Lena jadi terus kepikiran sama Atep. Nah karena sering dipikirkan jadi suka deh.”
“Teori darimana itu? Teori ngasal,” gerutu Kagendra.
“Itu teori khusus kaum wanita. Hanya kami yang paham teori itu.”
Kagendra menggeleng-gelengkan kepala mendengar teori yang dicetuskan Sadiyah.
“Teori yang aneh.”
“Aa gak percaya sama Iyah?” bentak Sadiyah.
“Percaya sayang… sangat percaya,” jawab Kagendra.
“Nah gitu dong. Seharusnya suami dan istri itu saling percaya. Kalau sudah tidak ada kepercayaan, apa yang sudah capek-capek dibangun akan roboh. Iya, kan?”
“Iya, Sayangnya Kagendra.”
Terdengar dengusan Atep tanda ia sudah super jengan dengan kelakuan pasangan yang ada di hadapannya.
Kagendra dan Sadiyah saling menatap mencurah rasa kasih sayang mereka.
**********
to be continued.....
__ADS_1