
Masih flashback…
Di ruang kerjanya, Kagendra segera mengambil ponselnya yang memang sengaja ia tinggalkan tadi. Ia memijit nomer Sadiyah dan panggilannya tidak mendapatkan respon dari Sadiyah. Beberapa kali ia menelepon Sadiyah tapi tidak diangkat oleh Sadiyah. Karena kesal ia membanting ponselnya ke lantai yang untungnya lantai itu dilapisi karpet tebal sehingga ponselnya tidak hancur.
“Aaaaaaaargh…..” teriak Kagendra meluapkan emosinya yang ia sendiripun merasa heran kenapa ia bisa sekesal ini.
Kagendra mencari ponsel yang ia lempar tadi dan menemukannya tergeletak tak berdaya di bawah kolong meja dekat sofa. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Yan, gue tunggu di sasana tempat biasa.” Kagendra menghubungi sepupunya Arfian.
“Ngapain?” tanya Arfian di seberang sana.
“Gue pengen nonjok orang.” jawab Kagendra asal.
“Sial*n.” umpat Arfian.
“Atau gue datang ke kantor lo terus gue acak-acak kantor lo.” ancam Kagendra.
“Berengs*k… tunggu gue 1 jam lagi. Gue lagi banyak kerjaan. Dasar siala*n.” terdengar umpatan* Arfian yang walaupun mengumpat masih menyetujui keinginan Kagendra untuk tarung di atas ring.
Kagendra melonggarkan dasinya dan beranjak menuju lemari tempat menyimpan peralatan olahraganya.
2 jam kemudian….
Kagendra telah berada di sebuah sasana boxing tempat ia rutin berlatih boxing dengan sepupunya Arfian satu jam yang lalu. Ia semakin kesal karena sudah 1 jam lebih ia menunggu sepupunya datang. Pada jam siang seperti ini, tidak banyak orang yang berlatih di sasana tersebut dan tidak ada seorangpun yang ia kenal sehingga tidak ada orang yang bisa ia ajak sparing.
30 menit kemudian, Arfian datang dengan wajah cengengesannya.
“Maaf, Bro. Telat banget. Lagian gak biasanya lo ngajak sparing jam segini.” protes Arfian yang terpaksa meninggalkan berkas-berkas pekerjaannya demi mengabulkan permintaan dari sepupunya itu.
“Ganti baju.” perintah Kagendra tegas.
“Ya ampun, muka lo garang banget. Santai, Bro.” Arfian bergegas ke ruang ganti untuk mengganti pakaian kerjanya.
__ADS_1
Dua jam, Kagendra dan Arfian bertarung di atas ring tinju. Pelipis Arfian sedikit terluka hasil dari pukulan Kagendra, begitu pula bibir Kagendra yang sedikit sobek akibat pukulan balasan dari Arfian.
“Udah lega. Bro?” tanya Arfian.
“Hmmm….” jawab Kagendra datar.
“Gue pulang.” ujar Arfian tanpa menanyakan lebih jauh masalah yang menimpa sepupunya itu karena ia yakin jika Kagendra ingin bercerita maka sudah dipastikan Kagendra akan bercerita padanya.
“Thanks, Bro.” sahut Kagendra.
Kagendra dan Arfian, selain sepupu, mereka juga sahabat. Mereka seumuran dan sekolah di tempat yang sama dari mulai TK sampai SMA. Arfian sepupunya itu pun sedang dilanda masalah percintaan. Gadis yang dicintainya menghilang dan sampai sekarang belum diketemukan. Kagendra dan beberapa anak buahnya berusaha untuk ikut membantu mencarinya tapi sampai sekarang belum ada hasilnya. Gadis yang dicintai sepupunya itu bersembunyi dengan cerdik.
***************
Sayang, aku kangen…..
Kagendra membaca sebuah pesan teks dari Natasha. Dan setelah membersihkan diri dan mengganti baju olahraganya, ia langsung melajukan mobilnya ke gedung apartemen Natasha.
“Sayang, aku kangen. Sehari saja tidak bertemu sudah membuat aku menderita.” rayu Natasha ketika ia memeluk Kagendra.
“Aku tahu aku salah. Maafkan aku, babe.” rayu Natasha sambil mengecupkan bibirnya pada bibir Kagendra.
Kagendra merasa heran, kenapa sekarang jantungnya tidak berdegup kencang seperti biasanya jika ia bertemu dengan Natasha. Ia tidak bisa lagi mengartikan kerja jantungnya yang malah akan berdegup kencang jika ia menatap Sadiyah. Kagendra menggelengkan kepalanya dengan cepat mengusir pikirannya yang sedang terisi oleh Sadiyah.
“Kamu kenapa sayang? Wajah kamu sedikit pucat. Mau aku pijiti?” tawar Natasha dengan suaranya yang mendesah.
“Hmmmm….” sahut Kagendra sambil membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan kepala berada di atas pangkuan Natasha.
Natasha mulai memijiti kepala Kagendra dengan lembut dan sesekali mengecupi wajah Kagendra.
“Kapan kamu akan menceraikan dia?” tanya Natasha tiba-tiba.
“Huh, apa?” tanya Kagendra yang pandangannya masih lurus menatap langit-langit unit apartemen milik Natasha.
__ADS_1
“Kapan kamu menceraikan dia?” ulang Natasha.
“Setelah dia melahirkan anak aku.” jawab Kagendra tidak yakin.
Kamu sudah menggaulinya?” tanya Natasha dengan nada suara cemburu.
Kagendra menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
“Kapan kamu akan melakukannya?” tanya Natasha tidak sabar.
“Entahlah.” jawab Kagendra dengan nada lelah.
“Sebelum kamu melakukannya dengan dia. Aku mau kamu melakukannya denganku.” tuntut Natasha.
Kagendra bangun dari berbaringnya.
“Tidak bisa.” jawab Kagendra tegas.
“Kenapa tidak bisa?. Kamu mencintai aku, akupun mencintai kamu. Kita saling mencintai. Aku rela kau mengambil hal pertamaku. Aku rela jika itu kamu.” ujar Natasha putus asa.
“Tidak bisa. Itu tidak boleh. Aku akan melakukannya jika kamu sudah sah menjadi istriku. Aku tidak ingin menambah dosaku dengan menggauli kamu tanpa ikatan pernikahan.” jawab Kagendra tegas.
Kagendra tahu bahwa tindakannya bersama Natasha ini sangat salah. Tapi ia tidak bisa menahan dorongan hatinya yang telah merindui Natasha selama empat tahun lebih.
“I love you.” ucap Natasha. Ia mulai melancarkan serangannya dengan menciumi wajah Kagendra dan bibirnya lama berada di bibir Kagendra.
“Cukup.” Kagendra mendorong tubuh Natasha.
“Sayang….” rayu Natasha yang tangannya mulai melingkari leher kagendra.
“Aku pulang dulu.” Kagendra melepaskan tangan Natasha dengan sedikit kasar.
Di dalam mobil yang sedang melaju menuju unit apartemennya, potongan demi potongan adengan tadi siang di restoran kembali berkelebat dalam pikiran Kagendra. Ia pun menginjak pedal gas dalam-dalam ingin segera tiba di unitnya.
__ADS_1
Flashback end
*************