
Hari ini, salah seorang sepupu Kagendra melaksanakan syukuran untuk kehamilan istrinya yang memasuki bulan keempat. Kagendra mengajak Faras dan Faris ke rumah tantenya, Maya. Arfan, salah satu anak kembar tantenya dan juga adik dari Arfian sedang menanti anak kedua.
Aki Musa tidak ikut pergi ke syukuran di rumah Maya dan lebih memilih untuk tinggal di rumah karena merasa kurang enak badan. Abah dan Ibunya sudah pergi lebih awal ke rumah Maya begitupun dengan Alena yang sengaja datang dari Bandung untuk menghadiri syukuran empat bulanan dari sahabat sekaligus sepupu iparnya itu. Prita yang menjadi istri dari Arfan adalah sahabat Alena sejak di bangku SD.
Alena, Prita dan Keisha duduk bersama di kursi taman yang mengelilingi meja bundar berukuran mini.
Keisha melihat Kagendra datang membawa dua anak yang wajahnya mirip.
“Len, anak kembar yang dibawa sama kakak kamu itu siapa?” tanya Keisha.
“Keponakan aku.” Jawab Alena singkat.
“What?” teriak Keisha dan Prita bersamaan.
“Gak usah teriak-teriak kaya gitu deh.” protes Alena.
“Jadi mereka itu anaknya A Endra?” tanya Prita.
“Yes.”
“Kok bisa?” tanya Keisha heran.
“Ya bisalah.” sahut Alena malas.
“Maksudnya gimana caranya kakak kamu dapetin tuh anak kembar?” Keisha memperjelas pertanyaannya.
“Itu anak A Endra sama istrinya lah.” jawab Alena dengan mulut penuh makanan.
“Oh, kakak kamu udah nikah ternyata.” Keisha baru paham karena selama pelariannya ia tidak mengetahui kabar selain tentang keluarga dan sahabat-sahabatnya. “Berarti perempuan yang aku temui di Bandung itu istrinya A Endra.” gumam Keisha.
“Kamu ketemu sama Teh Iyah?” tanya Alena sedikit terkejut.
“Aku jadi desainer di butiknya Teh Iyah.” jawab Keisha.
‘Bukannya istrinya itu kabur?” tanya Prita menyelidik.
“Udah ketemu, tapi belum balikan. Syukurin deh, A Endra emang orangnya nyebelin.” Sahut Alena.
“Ponakan kamu lucu-lucu. Bisa minta satu gak buat jodohnya si Ara.” canda Prita.
“Asal kamu sanggup aja punya menantu yang kemungkinan besar nurun kelakuan nyebelin dari ayahnya.” Alena masih saja menjelek-jelekkan kakak kandungnya sendiri.
“Gak jadi deh.” Ujar Prita bergidik. Ia sangat mengetahui bagaimana sikap Kagendra pada orang yang tidak terlalu dikenalnya dengan baik.
Keisha dan Alena tertawa terbahak mendengar ucapan Prita yang sedikit ketakutan membayangkan mempunyai menantu yang sifatnya mirip Kagendra.
“Tapi kalau kamu memang mau jadi menantunya A Endra, kamu masih punya kesempatan kok. Aris anaknya baik gak kaya Aras yang mirip banget kelakuannya kaya bapaknya.” kata Alena sambil terbahak setelahnya.
“Aku pikir-pikir dulu deh. Berabe kalau nanti di Ara malah jatuh cintanya sama si Aras Aras itu. Walaupun wajah sama, tapi rasa itu berbeda. Arfan sama Arfin itu wajahnya sama, baiknya juga sama, tapi aku jatuh cintanya sama Arfan.” Prita terkenang dengan proses perkenalan dan lika liku cintanya bersama Arfan.
__ADS_1
“Ah, itu sih karena kamu kerja di kantor si Arfan dan sering ketemu sama Arfan jadi benih-benih cintanya berkembang. Coba kalau kamu ketemunya sama Arfin, pasti kamu juga jatuh cintanya sama Arfin.” kata Alena.
“Aku gak bisa bayangin jatuh cinta sama Arfin. Katanya Arfin itu galak. Gak akan sanggup deh aku sama cowok galak.”
Alena dan Keisha tergelak mendengar pernyataan Prita.
************
Acara syukuran dimulai setelah dzuhur dan dilanjutkan dengan acara makan-makan bersama.
Setelah selesai acara do’a, Kagendra mengambilkan piring berisi nasi dan lauk pauk untuk Faras dan Faris. Ketika ia sedang mengambilkan nasi dan lauk pauk, ia menyaksikan dengan matanya sendiri kehebohan yang diciptakan oleh sepupu belangsaknya itu. Tampak Arfian keluar dari kamarnya dengan berlari disusul tak lama kemudian oleh Keisha yang juga keluar dari kamar Arfian.
Keisha mengejar Arfian sambil berteriak-teriak pada Arfian untuk tidak melakukan suatu hal. Kagendra tidak mengetahui dan memang tidak ingin tahu drama apa yang sekarang sedang dimainkan oleh sepupu dan gadis yang yang dicintai oleh sepupunya itu. Setelah selesai mengambil makanan, ia langsung disibukkan oleh Faras dan Faris.
Tok…tok…tok
Kagendra mengetuk pintu kamar Arfian.
“Masuk.” terdengar suara Arfian dari dalam yang mempersilahkan masuk.
Kagendra membuka pintunya dan menggandeng Faras dan Faris untuk memasuki kamar Arfian.
“Masuk, Ndra.”
Kagendra masuk sambil menuntun Faras dan Faris.
“Hei, drama macam apa yang kalian pertontonkan tadi?” tanya Kagendra.
“Selamat ya Bro.” Kagendra memberikan selamat pada Arfian yang akan melamar Keisha secara resmi besok.
Arfian berdiri menghampiri Kagendra dan memeluknya.
“Thanks a lot, Bro. Lo udah bantu banyak banget.” Ujar Arfian.
“Akhirnya setelah menunggu 10 tahun, lo bisa dapetin cinta sejati lo.” Kagendra menepuk nepuk punggung Arfian.
“Ayah….” Faras dan Faris memanggil Kagendra.
“Oh iya, Bro. Gue bawa anak kembar gue nih.” Kagendra memperkenalkan Faras dan Faris pada Arfian.
“Salim sama Om Fian.” Kagendra menyuruh kedua anak kembarnya untuk mencium punggung tangan Arfian.
Arfian memandang takjub pada anak kembar Kagendra. Tidak menyangka bahwa sepupunya yang belangsak itu sudah memiliki dua anak kembar berumur 5 tahun.
“Siapa nama kalian?” tanya Arfian pada kedua anak kembar Kagendra.
“Aras.”
“Aris”
__ADS_1
Jawab Faras dan Faris berbarengan.
“Siapa nama lengkapnya, Bro?” tanya Arfian pada Kagendra.
“Yang ini namanya, Faras Kamandaka Nataprawira.” Kagendra mengelus sayang kepala Aras.
“Yang ini namanya, Faris Kamandaka Nataprawira.” Kangendra mengelus puncak kepala Aris dengan sama sayangnya.
“Istri lo gak kreatif banget sih kasih namanya, cuma tambah nama Faras dan Faris doang” ujar Arfian.
“Ya mau gimana lagi, gue cuma bisa terima jadi. Segini juga, gue termasuk beruntung masih bisa ketemu dan diakui ayah sama mereka.” Kagendra hanya bisa pasrah dengan keadaannya sekarang.
“Sekarang, lo baru bisa bawa anak-anak lo kesini. Nanti juga lo bakalan bisa bawa istri lo. Minimal lo bawa istri lo ke nikahan gue.” ujar Arfian sambil menepuk bahu Kagendra memberikan semangat.
“Hmmmm…. Semoga saja. Aamiiin…” harap Kagendra.
“Yah, Aras mau ke Aki sama nenek dulu ya.” Pamit Aras
“Aris juga.”
Kagendra tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Aras dan Aris.
“Gimana ceritanya lo sampai bikin kehebohan di bawah sana?” tanya Kagendra penasaran.
“Ceritanya menegangkan.” Sahut Arfian.
Kemudian Arfian menceritakan kejadian yang membuat heboh seluruh keluarganya itu yang mana ia melamar langsung Keisha pada kedua orangtuanya.
“Lo nekad tapi hebat, Bro. Lo beruntung Keisha gak nolak lo di depan para tetua.” Kagendra mengacungkan dua jempol tangannya.
“Gue mesti gerak cepat, Bro. Gue gak mau lagi telat mengambil kesempatan.” Seru Arfian.
“Seandainya ibu dari anak-anak gue mau memaafkan gue, pasti langsung gue ajak nikah ulang.” Kagendra menghela nafasnya kasar.
“Lo terlalu berengsek jadi laki-laki. Diawal pernikahan kalian, istri lo udah baik banget berusaha menerima lo jadi suaminya walaupun dia juga gak ada rasa cinta. Tapi emang dasarnya lo berengsek banget udah nyakitin dia sebegitu dalemnya. Sekarang lo musti rasain dulu penderitaan yang sama seperti penderitaan istri lo dulu.” Arfian dengan teganya mengatai Kagendra.
“Memangnya gue seberengsek itu, Yan?” tanya Kagendra dengan suara hampir tak terdengar.
“Iya.” Jawab Arfian tegas.
“Apa gue nyerah aja ya, Yan?” Kagendra pasrah dengan keadaanya.
“Terserah lo. Lo kan yang menjalaninya.” Tanpa belas kasihan Arfian menjawab.
“Anyway, good luck buat acara lamaran besok. Besok gue usahain banget buat nemenin lo ngelamar Keisha. Biar dapet ide juga buat ngelamar lagi istri gue.” Kagendra berlalu dari kamar Arfian dengan kepala tertunduk dan langkah gontai.
Arfian memandang Kagendra dengan pandangan prihatin.
****************
__ADS_1
to be continued...