Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
105. Keponakan Alena


__ADS_3

Setelah selesai makan siang, Kagendra menceritakan semuanya, mulai dari pertemuan yang tidak disengaja antara dirinya dengan Faras dan Faris yang ternyata anak kandungnya. Kemudian pertemuan dengan Faras dan Faris mengantarkannya bertemu juga dengan Sadiyah. Kagendra juga menceritakan tentang Sadiyah yang masih belum bisa menerima dan belum mau untuk kembali bersama dengannya. Ditambah Sadiyah semakin marah ketika melihat berita gosip di infotainment tentang hubungannya dengan model bernama Grace Angelina.


“Kan Ibu sudah memperingatkan kamu tentang model itu. Ibu sudah lihat beritanya di infotainment dua atau tiga bulan yang lalu. Gelagat si Grace memang mencurigakan. Sejak 3 bulan lalu, dia sudah woro-woro kalau kalian punya hubungan khusus. Ibu sudah memperingatkan, tapi Aa cuek. Aa bilang kalau itu cuma gossip. Nah sekarang kejadian kan? Coba dari dulu kamu klarifikasi, gak akan tuh ada kejadian seperti ini. Salah kamu sendiri, A.” omel Indriani panjang lebar.


“Iya…iya. Aa yang salah. Aa tidak menyangka kalau si Grace itu nekad dan tidak tahu malu. Tapi biarkan saja, nanti juga gossipnya hilang sendiri kalau Aa tidak tanggapi. Kalau Aa tanggapi nanti beritanya semakin menjadi.”


“Tapi kalau kamu biarkan, Abah rasa itu tindakan yang tidak tepat. Iyah menunggu kepastian dan ketegasan kamu agar ia bisa bersama dengan kamu lagi. Sikap kamu yang tidak tegas seperti ini yang membuat Iyah pergi dari kamu. Kamu tidak tegas dan menganggap remeh sebuah masalah. Kamu masih ingat kan alasan Iyah meninggalkan kamu? Itu karena kamu tidak tegas terhadap Natasha.” jelas Yusuf.


Kagendra tampak merenungi apa yang dikatakan oleh Abahnya.


“Nanti Aa pikirkan untuk membereskannya. Aa juga belum tahu bagaimana cara untuk mengklarifikasinya karena Aa memang sama sekali tidak punya hubungan dengan si Grace itu. Kenal dekat pun tidak. Aa hanya kenal sebatas pemberi kerja dan pekerja saja. Perusahaan Aa mengontrak dia sebagai salah satu model hanya untuk satu iklan. Itu juga karena agensinya menawarkan dia dengan gencar dengan bayaran di bawah standar. Saat itu Aa pikir lumayan kan dapat model tenar dengan bayaran murah. Tapi Aa tidak menyangka dia berani mengaku-ngaku jadi pacar Aa.”


“Itu karena Aa ganteng dan kegenitan.” Indriani mencubit pipi putranya itu dengan gemas.


“Mana ada Aa genit? Orang-orang bilang Aa itu galak dan judes. Ibu seenaknya saja bilang Aa genit.” protes Kagendra.


“Iya juga ya. Aa itu kan galak, judes, tidak ada ramah-ramahnya sama orang. Apalagi waktu masih kecil, Aa selalu bikin malu Ibu karena ibu-ibu teman kamu pada protes karena anak mereka itu dijudesin dan digalakin sama kamu.” Indriani tertawa teringat sikap Kagendra sewaktu masih anak-anak.


“Ibu bakalan kaget nanti kalau lihat Aras. Aras mirip sekali dengan Aa. Nanti Ibu lihat saja.” ujar Kagendra terkekeh mengingat kegalakan salah satu anaknya itu.


“Abah sudah tidak sabar bertemu dengan mereka. Abah mau ke kamar lihat mereka tidur.” Yusuf sudah beranjak dari tempat duduknya ketika mendengar teriakan Faras dan Faris yang memanggil Kagendra.


“Ayaaaah….” teriak Faras dan Faris berbarengan.


Kagendra segera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Faras dan Faris.


“Anak-anaknya Ayah sudah bangun. Lapar tidak? Mau makan sekarang? Mau makan sama apa?” Kagendra memberondong Faras dan Faris dengan pertanyaan.


Yusuf berjalan cepat melewati Kagendra dan ketika ia tepat berada di hadapan Faras dan Faris, ia berlutut menyamakan posisinya dengan Faras dan Faris.


Yusuf menatap wajah kedua cucunya lalu memeluk mereka dengan erat. Air mata berjatuhan dari pelupuk matanya.


Faras dan Faris menatap Kagendra karena bingung dengan sikap Yusuf yang tiba-tiba saja memeluk mereka.


“Ini kakek kalian, namanya Aki Yusuf. Aki Yusuf ini Ayahnya Ayah.” Kagendra memperkenalkan Yusuf pada Faras dan Faris.


Setelah mendengarkan penjelasan dari Kagendra, Faras dan Faris membalas pelukan Yusuf.


“Nama kalian siapa?” tanya Yusuf setelah melepaskan pelukannya.


“Aras. Nama lengkapnya Faras Kamandaka Nataprawira.” ucap Faras dengan jelas.


“Ini Aris. Nama lengkapnya Faris Kamandaka Nataprawira.” Faris juga mengucapkannya dengan jelas. Sejak kecil Sadiyah selalu mengkoreksi ucapan mereka yang cadel ataupun kurang jelas sehingga diumur mereka sekarang, bicaranya sudah jelas tidak seperti kebanyakan anak-anak yang bicaranya masih cadel atau kurang jelas.


“Sadiyah memberikan nama kamu di belakang nama mereka.”


“Ya iyalah Bah. Aa kan Ayah mereka.”


“Kamu harus bersyukur karena Sadiyah masih mengakui kamu sebagai ayah mereka.”

__ADS_1


“Sebagai ayah Aras dan Aris sih sudah diakui tapi sebagai suami Sadiyah belum tuh. Kasihan deh kamu.” goda Indriani.


Kagendra diam tidak menanggapi candaan ibunya.


“Tuh kan, datang lagi gaya cool nya. Nyebelin.” protes Indriani.


“Aras dan Aris sepertinya sudah lapar, Bu. Ada makanan buat mereka tidak?” Kagendra bertanya pada Indriani.


“Aras dan Aris mau makan sama apa, sayang?” tanya Indriani sambil berlutut agar wajahnya sejajar dengan Faras dan Faris.


“Nenek masak apa? Boleh tidak kalau Aris makannya sama ayam goreng yang seperti di tivi?” tanya Faris berharap kalau ia akan makan ayam goreng yang suka dilihatnya di iklan.


“Aris mau makan sama ayam crispy ya? Nanti Nenek buatkan. Kalau Aras mau makan sama apa?” tanya Indriani.


“Apa saja.” jawab Faras singkat.


Indriani tertegun melihat Faras. Benar apa yang dikatakan oleh Kagendra kalau Faras mirip dengan Kagendra ketika kecil.


***********


“Hmmmmm…. ayam crispy buatan nenek enaaaaak banget….” puji Faris saat mencicipi ayam crispy buatan Indriani.


“Aris suka?”


“Sukaaaaaa sekali…. boleh nambah tidak, Nek?”


“Boleh….” jawab Indriani sambil tersenyum bahagia.


“Aras suka ayam gorengnya?”


Faras menganggukan kepala.


“Aras mau ayam gorengnya lagi?” tawar Indriani.


Lagi-lagi Faras hanya menganggukkan kepala.


Indriani mengambilkan dua potong ayam untuk Faras dan Faris, “Ya ampun . Aras memang benar-benar mirip kamu waktu kecil. Sudah tidak terbantahkan lagi kalau Aras dan Aris memang anak kandung Aa. Tidak usah tes DNA segala sih kalau sudah begini.”


Kagendra tersenyum melihat tingkah polah anak kembarnya yang walaupun kembar tapi sifatnya sangat bertolak belakang.


*******


Sore hari, Faras dan Faris baru selesai mandi setelah seharian tadi bermain dan berenang di halaman belakang.


“Aa……. mana ponakan-ponakan Lena yang lucu-lucu itu?” Alena teriak-teriak dari depan rumah hingga halaman belakang. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan Faras dan Faris sejak Indriani menelefon dan mengirimkan foto mereka yang sedang bermain.


Alena tertegun melihat dua anak kembar dengan wajah yang sangat mirip di hadapannya. Alena berlutut untuk menyamakan tinggi badannya dengan Faras dan Faris. Air matanya sudah mulai berjatuhan.


“Ini beneran keponakan-keponakan Tante Lena?” Alena memeluk Faras dan Faris dalam satu rengkuhan.

__ADS_1


Faras dan Faris memandang pada Kagendra seakan meminta penjelasan tentang sosok wanita dewasa yang sekarang sedang memeluk mereka.


“Ini namanya Tante Lena. Tante Lena adiknya Ayah. Tante Lena bekerja di Bandung, jadi nanti kalian bisa sering ketemu sama Tante Lena.” Kagendra memberikan perkenalan singkat tentang Alena pada Faras dan Faris.


“Kalian namanya siapa saja?” tanya Alena setelah menguraikan pelukannya.


“Ini Aris.” jawab Faris sambil mengarahkan telunjuk ke arah dadanya.


“Ini Aras.” Faras juga melakukan hal yang sama seperti adik kembarnya.


“Kalian mirip sekali. Tante jadi bingung yang mana Aras dan yang mana Aris. Bagaimana cara membedakan kalian berdua?” tanya Alena sambil sibuk menyusut air mata.


“Nanti juga kamu bakal bisa membedakannya, Len.” jawab Indriani.


“Gimana caranya, Bu?”


“Aras lebih mirip sifatnya sama Kakak kamu. Sedangkan Aris sifatnya lebih mirip pada Sadiyah.”


Alena ber oh ria walaupun ia sendiri belum paham dengan apa yang dikatakan oleh Ibunya.


“Tante beliin mainan lego buat kalian. Kalian suka tidak?” Alena memberikan Faras dan Faris masing-masing 1 set lego.


“Makasih, Tante…” Faris langsung menghambur memeluk Alena dan mencium pipi kiri dan kanannya.


Alena juga memberikan 1 set lego pada Faras.


“Makasih.” ucap Faras singkat sambil memandang dan meneliti kotak lego yang sedang dipegangnya.


Alena menatap lekat wajah Faras dan melihat tatapan Faras yang sangat mirip dengan tatapan dingin khas Kagendra.


“Sama-sama, Aras. Kamu pasti Aras kan?”


Faras menganggukkan kepala.


“Dan pasti kamu Aris.”


Faris menganggukkan kepala sambil tersenyum dengan manis lalu memeluk Alena dengan erat. “Tante hebat bisa langsung tahu yang mana Aras dan Aris.”


“Tuh kan Len. Dalam waktu yang singkat kamu sudah bisa membedakan Aras dan Aris.” ujar Indriani takjub.


“Aras mirip banget sama Aa, Bu. Tatapan mata Aras itu loh bikin Lena merinding. Mirip banget sama Aa.”


“Jutek dan galaknya juga mirip banget sama Aa kamu.” tambah Indriani.


“Kok bisa ya mirip banget gitu?”


“Ya bisalah, Aa kan ayah mareka.” Kagendra yang kesal mendengar perkataan Alena langsung menjitak kepala adik satu-satunya itu.


“Aww…sakit A.” protes Alena.

__ADS_1


*************


to be continued...


__ADS_2