
“Buuuu…boleh ya kita main keluar? Aras dan Aris sudah janjian mau main bersama.” rajuk Faris agar diizinkan untuk pergi bermain.
“Tidak boleh. Tidak ada yang mengantar kalian kesana. Teh Tuti sedang sibuk membantu Mak Isah. Ibu juga sedang sibuk.”
Sadiyah tidak mengindahkan rengekan Faris.
“Tapi kita kan sudah janji mau main bersama.” Faris masih berusaha merayu Sadiyah.
“Besok lagi saja mainnya. Seperti tidak ada hari esok saja.” omel Sadiyah kesal karena Faris terus merengek.
Faras menarik lengan Faris dan mengajaknya untuk pergi ke kamar tidur mereka.
“Kita pergi sendiri saja.” ajak Faras.
“Memangnya Aras tau jalan ke tempat Om Endra?”
“Tau…. kan kita sudah sering ke sana. Masa kamu tidak ingat?”
“Bagaimana kalau nanti Ibu marah.”
“Kita bilang saja kalau kita sudah janji sama Om Endra. Janji kan harus ditepati.”
Faris mengangguk-anggukkan kepala menyetujui rencana Faras.
“Kita berangkat kapan?” tanya Faris.
“Sebentar lagi, kalau Ibu tidak melihat kita.”
Setelah beberapa saat Faras dan Faris mengendap-ngendap keluar dari kamar mereka menuju ke luar.
Setelah berada di luar pekarangan rumah mereka, Faras dan Faris langsung berlari kencang hingga sampai di perempatan jalan. Dari sana, setelah yakin situasinya sudah aman, mereka berhenti berlari dan mulai berjalan menyusuri jalanan menuju tempat mereka akan bertemu dengan Kagendra.
“Aras…Aris….” Kagendra melihat Faras dan Faris dari kejauhan dan segera menyongsong menjemput mereka.
“Om menunggu lama tidak?” tanya Faras.
“Tidak.”
“Kalian datang ke sini hanya berdua saja?” tanya Kagendra merasa heran karena tidak melihat Tuti yang biasanya menemani mereka.
“Mana Teh Tutinya?” tanya Rudi.
“Teh Tutinya sedang sibuk membantu Mak Nene masak.” jawab Faras.
“Seharusnya kalian meminta Om buat menjemput kalian. Tuti kan sudah tahu nomor kontaknya Om.”
__ADS_1
“Kita kan sudah di sini, Om. Ayo kita pergi sekarang.” ajak Faras dengan nada ketusnya.
”Aras…kan sudah Om bilang kalau kamu tidak boleh…..”
“Iya…iya…Aras ngerti.”
“Tidak minta maaf?” tanya Kagendra.
“Iya maaf.” ucap Faras setengah hati.
“Ikhlas tidak minta maafnya?” tanya Rudi yang cekikan melihat tingkah Faras dan Kagendra yang benar-benar mirip.
“Ikhlas itu apa, Om?” tanya Faris.
“Apa ya…” Rudi terjebak dengan pertanyaannya sendiri. Ia juga bingung bagaimana menjawab pertanyaan dari Faris.
“Ikhlas dalam meminta maaf itu benar-benar minta maafnya, tidak terpaksa dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.” Kagendra mencoba menjelaskan dengan bahasa yang sesederhana mungkin agar dimengerti oleh anak umur lima tahun.
“Ooooh…”
“Aras sering bicara ketus sama orang lain. Lain kali tidak boleh, ya.” ucap Kagendra sambil mengelus puncak kepala Faras dengan sayang.
“Aras tidak bicara ketus. Bicara Aras memang seperti ini.”
“Aras memang bicaranya seperti itu. Ibu juga sering marahin Aras karena bicaranya begitu.” kata Faris menjelaskan.
Kagendra melihat perubahan raut wajah Faras. Ia menjadi teringat masa kecilnya yang sama persis dengan Faras. Saat itu, teman-temannya banyak yang mengadu pada orang tua mereka perihal sikap buruk Kagendra sehingga ibunya sering dipanggil ke sekolah. Kagendra tidak bisa menyalahkan sikap Faras yang ketus karena ia melihat dirinya dalam diri Faras. Tetapi Kagendra juga tidak bisa membiarkan sikap buruk Faras. Ia mencoba untuk memberi nasehat pada Faras sesuai dengan usianya.
“Tidak apa-apa. Tidak harus langsung berubah. Pelan-pelan saja Aras coba untuk tidak bicara ketus. Kalau Aras sudah terlanjur berbicara ketus, Aras harus segera minta maaf. Mengerti?” Kagendra berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Faras agar bisa bicara dari mata ke mata. Ini juga yang dulu dilakukan oleh abahnya saat berbicara untuk menasehatinya.
Faras menganggukkan kepala dengan mata yang hampir mengeluarkan tangisan. Kemudian Kagendra segera memeluk Faras untuk menenangkannya.
“Ke sananya mau jalan atau naik mobil?” tanya Kagendra segera mengalihkan perhatian agar Faras tidak larut dalam kesedihan.
“Jalan saja, Om.” seru Faris
“Kalian tidak capek?” tanya Rudi.
“Kalau kalian capek, mau Om gendong?” tawar Kagendra
“Tidak usah. Aras sudah biasa jalan ke hutan.”
“Aris juga.”
Tidak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di hutan.
__ADS_1
“Itu Om gelantungannya.” Faris menunjuk tali-tali dari akar-akar yang disatukan membentuk seperti tali dan bisa dipakai untuk bermain dan bergelantungan. Ada juga ayunan besar yang terbuat dari ban bekas yang diikat oleh akar-akar yang dibentuk seperti tali.
Biasanya hutan akan ramai dikunjungi pada saat akhir pekan, tapi hari ini hanya ada mereka saja karena hari ini bukan akhir pekan sehingga tidak ada yang berkunjung ke hutan itu selain mereka berempat.
“Ini tidak ada orang lain yang datang ke tempat ini?” tanya Rudi.
Kalau hari Sabtu atau Minggu banyak yang main ke sini, Om. Tapi karena baru hari Jum’at, yang datangnya ya cuma kita saja. Tapi kalau sepi begini kan enak, Om. Tidak usah nunggu buat main ayunannya.
Faras dan Faris tampak asyik bergelantungan dengan tali akar.
“Aras…Aris…hati-hati….” seru Kagendra.
“Om, Aras mau meluncur dari sana. Pakai ban bekas ini.” Faras tampak menunjuk ke arah tempat yang agak tinggi dan ada jalur untuk berseluncur menggunakan ban bekas yang dimodifikasi seperti papan seluncuran.
“Kamu berani?”
Faras mengangguk dengan percaya diri.
“Ya sudah, Om antar naik ke sana.” Kagendra menuntun tangan Faras dengan tangan kirinya dan memegang ban bekas dengan tangan kanannya.
Aris mau seluncuran juga tidak?” tawar Kagendra.
“Aris di sini saja main ayunan.” tolak Faris.
Setelah sampai di atas, Faras bersiap untuk meluncur dan Kagendra sedikit mendorong bannya agar bisa meluncur.
Faras meluncur dengan agak kencang, di tengan jalan ia tidak bisa mengendalikan laju ban dan terguling ke sebelah kanan. Beruntung banyak daun kering yang menahan hempasan tubuhnya.
Kagendra yang kaget melihat Faras terguling langsung berlari menghampiri Faras.
“Aras…kamu tidak apa-apa?” Kagendra memeriksa semua bagian tubuh yang dicurigai cedera karena terguling tadi.
“Tidak apa-apa, Om.” bukannya menangis atau mengaduh kesakitan tapi Faras malah tertawa-tawa senang.
“Kenapa tertawa? Apa ada yang sakit?” tanya Kagendra khawatir.
“Seru, Om. Aras berguling-gulingan seperti di film kartun.”
“Benar tidak ada yang sakit?”
“Om cerewet ih. Sudah Aras bilang berapa kali tapi Om gak percaya. Sudah ah.” Faras meninggalkan Kagendra yang masih terbengong mendengar jawaban dari Faras.
Setelah lelah bermain-main, Faras dan Faris tertidur di pelukan Kagendra. Mereka bertiga tertidur di atas hammock yang tergantung di antara pepohonan. Sementara Kagendra, Faras dan Faris beristirahat di atas hammock, Rudi berbaring sendirian di atas tanah dengan tumpukan daun-daun kering. Angin sepoi-sepoi membuat mereka tertidur dengan damai.
**********
__ADS_1
to be continued...