
Sudah satu minggu Sadiyah, Faras, dan Faris tinggal di Jakarta. Beberapa hari ini, Kagendra sibuk menyelesaikan pekerjaannya setelah satu bulan lebih ia tinggalkan akibat musibah yang ia alami. Rudi dibuat pusing dengan ritme kerja Kagendra yang super cepat, efektif dan efisien. Selain menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, Kagendra pun sibuk menyelesaikan beberapa rencana kerja untuk dua minggu ke depan.
Bukan tanpa alasan Kagendra bekerja keras bagai kuda. Orangtuanya menepati janji mereka untuk memberikan paket liburan untuk bulan madu yang belum pernah dijalaninya saat awal menikah. Yusuf dan Indriani memberikan paket bulan madu ke Maldives Island. Tentu saja hal ini tidak akan disia-siakan olehnya. Meskipun ia sendiri sanggup untuk memberikan liburan bulan madu yang lebih mahal, tetapi dengan senang hati ia akan menerima paket liburan gratis dari orangtuanya.
Yusuf dan Indriani juga akan mengajak Faras dan Faris untuk liburan bersama mereka. Tentu saja Yusuf dan Indriani tidak akan membiarkan cucu-cucu mereka mengganggu liburan kedua orangtuanya. Diam-diam Yusuf dan Indriani mengharapkan kehadiran adik-adiknya Faras dan Faris. Mereka berharap Kagendra dan Sadiyah memanfaatkan liburan kali ini untuk dinikmati hanya berdua saja dan pulang membawa oleh-oleh yang tidak biasa.
Sadiyah yang tertidur di sofa ruang keluarga terbangun saat mendengar suara pintu depan dibuka. Ia melihat Kagendra yang baru pulang sambil membawa beberapa berkas di tangan kanannya. Wajah dan pakaian suaminya sudah tidak serapi tadi pagi. Jas kerjanya ditenteng bersama dengan berkas dan tas laptopnya. Kameja putihnya sudah digulung hingga batas siku dengan dasi yang sudah tidak terpasang dengan sempurna.
Sadiyah sedikit terkejut dengan penampilan Kagendra yang terbiasa rapi. Namun Sadiyah teringat jika suaminya itu memang sedang bekerja keras menuntaskan pekerjaan yang terbengkalai karena musibah yang dialaminya.
“Baru pulang, A? jam berapa ini?” Sadiyah melihat jam di dinding. “Jam satu malam. Kenapa baru pulang? Sibuk sekali?”
“Pekerjaan Aa terbengkalai selama lebih dari satu bulan. Aa juga harus menyelesaikan pekerjaan untuk dua minggu mendatang. Lalu Aa juga - ”
“Sudah… sudah… Iyah jadi pusing mendengarnya. Buat apa sih Aa bekerja tidak mengenal waktu seperti ini? Aa itu baru saja sembuh. Kenapa memforsir tenaga dan pikiran seperti ini? Apa yang dicari? Uang sebesar pintu?” tanya Sadiyah ketus.
“Jangan marah, Sayang. Aa mencari uang untuk kalian supaya kalian bisa hidup dengan nyaman tanpa kekurangan apapun.”
“Iyah tidak ingin Aa sakit. Aa itu baru saja sembuh kalau sakit lagi bagaimana?”
“Ya… tidak bagaimana-bagaimana. Kalau Aa sakit kan ada kamu yang mengobati dan menemani.” Jawaban Kagendra membuat Sadiyah kesal hingga membuatnya terisak.
Mengabaikan ucapan suaminya, Sadiyah terus mengeluarkan kekhawatirannya lewat kata-kata.
Kalau Aa terus bekerja seperti ini, kami memang tidak akan kekurangan uang tapi kekurangan waktu bersama dengan Aa. Buat apa uang banyak tapi kekurangan family time. Tadi Aras dan Aris menunggu ayah mereka sampai ketiduran. Mereka berharap bisa bermain bersama ayah mereka atau dibacakan cerita sebelum tidur.”
“Apa kamu juga minta disayang-sayang dulu sebelum tidur?” goda Kagendra.
“Apaan sih? Gak lucu. Iyah ini bicara serius, A. Jangan dianggap bercanda.”
“Aa bukan komedian, wajar kalau tidak lucu.”
__ADS_1
Kegendra meletakkan jas, tas dan berkas pekerjaannya di atas meja lalu duduk di sebelah Sadiyah yang menyilangkan tangan di atas dadanya.
“Jangan marah. Kamu jadi semakin imut kalau sedang merajuk seperti ini.” Kagendra menjawil hidung mungil Sadiyah kemudian merangkum wajah Sadiyah agar ia dapat melihat wajah merajuk yang sedari tadi enggan untuk menatapnya.
Kagendra melihat bola mata Sadiyah yang sedikit memerah dengan genangan air mata yang belum sempat menetes. “Kenapa menangis? Kesal dan marah pada Aa sampai menangis seperti ini, huh?” tanya Kagendra lembut.
Sadiyah terdiam tidak menjawab pertanyaan suaminya.
“Maafkan kalau Aa sudah membuat kamu kesal dan marah. Maafkan Aa karena tidak ada waktu untuk bermain bersama dengan Aras dan Aris. Satu bulan lebih Aa meninggalkan pekerjaan. Sebagai pemilik perusahaan, kamu juga pasti paham bagaimana tanggung jawab kita terhadap perusahaan dan pegawai yang kita miliki. Iya, kan?”
Kagendra melihat Sadiyah menganggukan kepala. Ia merasa lega karena emosi Sadiyah mulai mereda.
“Kamu juga ingat kan kalau dua hari lagi kita akan pergi liburan? Aa tidak ingin meninggalkan pekerjaan yang tertunda sebelum kita pergi liburan. Aa ingin kita liburan tanpa memikirkan pekerjaan. Mengerti kan kenapa selama satu minggu ini Aa bekerja keras bagai kuda sampai terkadang tidak ingat waktu?”
Sadiyah kembali menganggukan kepala.
“Kenapa tidak menjawab? Buat apa ada bibir kalau tidak dipergunakan untuk menjawab, huh? Minta dicium, ya?”
Sadiyah merona mendengar pertanyaan suaminya. Ia terkesiap ketika tiba-tiba Kagendra menggendongnya.
“Di kamar saja biar lebih bebas,” bisik Kagendra nakal.
“Bagaimana dengan pekerjaan Aa? Sudah bawa berkas-berkas ke rumah tapi tidak dikerjakan.”
“Kamu lebih penting dan menarik daripada berkas-berkas itu.” Kagendra kembali membungkam bibir Sadiyah.
**********
Setelah salat subuh, Kagendra pergi ke ruangan kerja dan langsung membaca berkas-berkas yang semalam ia abaikan.
Sadiyah melihat Kagendra yang masuk ke ruangan kerjanya. “Dasar manusia robot, tidak ada capeknya. Aku saja yang sempat tidur sebelum dia pulang merasa capek.”
__ADS_1
Sebelum pergi ke dapur untuk memasak, Sadiyah masuk ke ruangan kerja Kagendra. “Aa tidak capek?”
“Lelah tapi bahagia. Apalagi semalam, kamu agresif sekali, Sayang.”
Sadiyah merona mendengar ucapan Kagendra. Ia teringat kembali kejadian tadi malam. Ia tidak menyangka jika dirinya bisa seagresif itu.
“Aa mau Iyah buatkan apa? Kopi?”
“Tidak usah. Aa sudah tidak minum kopi. Ketika awal-awal kamu pergi, Aa terlalu over minum kopi sebagai doping agar bisa terus begadang untuk bekerja sampai lambung Aa rusak dan sempat dirawat. Jadi sekarang tidak bisa minum kopi lagi.”
“Maaf.” ucap Sadiyah lirih.
“Jangan merasa bersalah seperti itu, Sayang. Dulu itu murni kesalahan Aa bukan salah kamu. Kamu jangan selalu bicara minta maaf setiap kali Aa -” belum sempat Kagendra meneruskan bicara, Sadiyah sudah memotongnya.
“Iyah juga salah. Kalau saja Iyah tidak cemburu buta dan menggunakan logika, mungkin Iyah tidak akan seenaknya pergi meninggalkan Aa.”
“Sttt… tidak perlu dibahas lagi.” Kagendra memeluk dan mencium puncak kepala Sadiyah.
Sadiyah mengangguk-anggukan kepalanya dalam pelukan Kagendra.
“Mau olah raga pagi dulu tidak?”
“Tidak ah, Iyah capek. Besok saja kita lari keliling komplek bareng Aras dan Aris.”
“Bukan olah raga yang itu tapi olah raga yang lain.” Kagendra berkata sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Dasar mesum.” Sadiyah melepaskan diri dari pelukan Kagendra dan langsung menuju kamar Faras dan Faris untuk membangunkan mereka.
*******
to be continued...
__ADS_1