Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
140. Menjodohkan


__ADS_3

“Atep Dananjaya. Darimana saja kamu? Baru datang jam segini, Hah!” omel Sadiyah.


“Maaf, Teh. Macet banget.”


“Alasan.”


“Serius, Teh. Macet banget,” kata Atep membela diri.


“Sudah tahu kalau weekends suka macet. Sudah sana makan dulu!” perintah Teh Iyah.


Atep mengangguk dan berjalan menuju tempat makanan dihidangkan dengan Faras dan Faris yang menggelayuti lengannya.


“Mang Atep tau gak?” tanya Aris.


“Tau apa?”


“Aras dan Aris sebentar lagi mau punya adik?”


“Hah?” Atep terkejut mendengar apa yang diucapkan Faris.


“Beneran Aras dan Aris mau punya adik?” tanya Atep pada Faras.


“Kan tadi udah dikasih tau sama Aris. Kenapa masih tanya sama Aras?” protes Faras.


“Ya, untuk memastikan saja. Mamang khawatir salah dengar.”


“Iiih kok Mang Atep gak percaya sama Aris sih?” protes Faris.


“Percaya kok. Eh, tapi bener ibu mau punya dedek bayi lagi?” tanya Atep masih tidak percaya.


“Beneer… adiknya Aras dan Aris kembar juga seperti Aras dan Aris.”


“Haaah?” Atep semakin terkejut dengan kabar bahagia yang didengarnya.


“Kalau Mang Atep sudah makan, nanti Aris kenalin Mamang sama Tante Lena.”


Atep mengambil makanan dari meja parasmanan dan makan dalam waktu yang singkat karena lapar. Setelah menyimpan piring kosong ke tempat cuci, Faras dan Faris menarik tangan Atep dan menggiringnya ke halaman belakang.


“Tanteee…” teriak Faris memanggil Alena.


***************


“Aras, Aris mau kemana kalian?” teriak Sadiyah dari dalam rumah.


“Aris mau ngenalin Mang Atep sama Tante Lena.”


“Ayah manggil kalian. Sana!” usir Sadiyah.


“Ah, ayah mah ganggu aja. Ngapain sih ayah manggil-manggil segala?” Faris menggerutu karena gagal memperkenalkan tantenya pada Atep.


Faras dan Faris masuk ke dalam rumah tanpa semangat.

__ADS_1


Sadiyah berjalan sambil menggandeng tangan Atep menuju meja tempat Alena dan teman-temannya berkumpul.


“Atep, Teteh kenalkan kamu pada Alena, adiknya A Endra. Nama Lengkapnya Alena Damayanti Nataprawira, biasa dipanggil Lena. Lena, ini Atep, adiknya Teteh. Nama lengkapnya Atep Dananjaya, biasa dipanggil Atep.”


Sadiyah memperkenalkan Atep pada Alena. Melihat tatapan Atep pada Alena dan Alena yang menunduk malu membuatnya sedikit bingung. Pandangan Atep pada Alena terlihat berbeda, ada pendar cinta di dalamnya. Sadiyah mencium sesuatu yang mencurigakan.


“Nah sudah Teteh kenalkan kalian berdua. Selanjutnya terserah kalian. Perlu kalian ketahui kalau keluarga besar sudah menyetujui jika kalian ingin melanjutkan ke arah yang lebih jauh.”


“Haah…” Atep dan Alena tampak terkejut mendengar perkataan Sadiyah.


“Kompak bener kagetnya,” seloroh Sadiyah.


“Maksud Teh Iyah apa?” tanya Alena.


Atep dan Alena menatap Sadiyah penuh tanya mengharapkan jawaban.


“Abah sama Ibu sudah setuju kalau nanti kalian cocok dan ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan,” jawab Sadiyah enteng. “Ibu kamu juga sudah setuju kalau kamu mau melamar dan menikahi Lena,” lanjut Sadiyah sambil mengedipkan sebelah matanya pada Atep.


“Tapi kan kami baru saja kenalan,” protes Alena.


“Walaupun baru berkenalan bukan berarti tidak cocok, kan?” goda Sadiyah.


“Iya, Len. Aa melihat kalau Atep ini laki-laki yang baik dan penyayang. Apa salahnya jika kalian mencoba,” ucap Kagendra yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping istrinya.


“Eh, Aa ngapain ke sini?” tanya Sadiyah yang sepertinya tidak suka kalau suaminya ikut campur dalam usahanya menjodohkan Atep dan Alena.


“Tadi Aras dan Aris marah-marah sama Aa. Mereka bilang kalau Aa sudah mengganggu rencana mereka mengenalkan tante dan mamangnya,” jelas Kagendra.


Sadiyah terkekeh mendengar penjelasan Kagendra.


“Iya,” jawab Sadiyah tanpa merasa bersalah.


pletak…


Kagendra menyentil pelan dahi Sadiyah.


“Aw… sakit Aa!” Sadiyah mengusap dahinya yang tadi disentil Kagendra.


“Makanya jangan suka bohongi anak sendiri. Kebiasaan buruk.”


Cup


Kagendra mencium dahi Sadiyah. “Biar tidak sakit lagi.”


Atep dan Alena mendengus melihat pemandangan yang terpampang di hadapan mereka. Tentu saja kemesraan yang ditampilkan Kagendra dan Sadiyah membuat mereka jengah.


“Dasar pasangan bucin,” dengus Alena kesal.


Sadiyah dan Kagendra menghentikan public display affection mereka setelah mendengar protes Alena.


“Aa, Teteh… ubah dong kebiasaan kalian mesra-mesraan di depan umum. Jangan bikin para jomblo jadi jengah melihat kemesraan kalian.” Alena menyuarakan protes kerasnya.

__ADS_1


“Kenapa? Mau? Iri? Makanya cepat menikah. Tuh, calon imam kamu sudah ada,” goda Kagendra.


“Aa…” pekik Alena malu.


“Abah dan Ibu juga merasa kalau Atep ini laki-laki yang baik setelah mendengar cerita dari Aa dan Iyah.” Yusuf dan Indriani menghampiri mereka.


“Ibuuu…” Alena mengadukan kelakuan kakak dan kakak iparnya pada ibunya.


“Saya Yusuf, Abahnya Lena. Kamu boleh memanggil saya Abah seperti Endra, Iyah, dan Lena memanggil saya.” Yusuf mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Atep.


Atep menyambut uluran tangan Yusuf dan mencium punggung tangannya.


“Saya sudah pernah bertemu dengan Bapak ketika dulu Bapak datang ke rumah Teh Iyah.”


“Oh ya? Dulu saya tidak meihat kamu. Mungkin kamu masih remaja saat itu ya?” tanya Yusuf.


“Baru lulus SMA, Pak,” jawab Atep.


“Panggil saja Abah, seperti yang lainnya,” pinta Yusuf.


Atep mengangguk.


“Ini Ibunya Alena. Kamu juga boleh memanggilnya Ibu,” tambah Yusuf.


Atep mencium punggung tangan Indriani yang tersenyum manis.


“Usia kamu sudah mau kepala tiga. Ibu tidak mau kamu kelamaan jadi perempuan single dan nanti malah semakin sibuk sama karir kamu.” Indriani menyindir anak gadisnya.


“Lena baru 28 tahun, Bu,” sahut Alena.


“Iya dua tahun lagi kamu 30 tahun,” balas Indriani tidak mau kalah.


“Zaman sekarang, umur 30 tahun itu masih muda, Bu.” Alena mencoba membela diri.


Indriani tidak menghiraukan protes dari putrinya.


“Nak Atep, kalau boleh Ibu tahu, usia kamu berapa? Apa kamu mau menerima calon istri yang usianya lebih tua. Kata Iyah kamu baru lulus kuliah. Usia kamu berapa? 24 tahun? Atau 25 tahun?” tanya Indriani.


“Usia saya sekarang 27 tahun, Bu,” jawab Atep. “Saya memang sangat terlambat menyelesaikan kuliah karena disibukkan mencari biaya kuliah sendiri.”


“Oh, bagus kalau kamu membiayai kuliah kamu sendiri. Itu artinya kamu laki-laki pekerja keras. Kamu bekerja sambil kuliah?”


“Betul, Bu,” Jawab Atep.


“Atep bantu-bantu Iyah ngurus butik dan café. Dia juga sudah mulai usahanya sendiri,” sahut Sadiyah.


“Bagus! Pria yang bertanggung jawab,” puji Yusuf.


Sadiyah memandang Kagendra penuh arti. Ia sudah merasakan kesuksesan rencananya dalam menjodohkan Alena dan Atep. Sadiyah yakin ada sesuatu yang Alena dan Atep sembunyikan. Ia merasa kalau Alena dan Atep sudah saling mengenal sebelumnya.


“Tep, saya dan Iyah masuk dulu. Kalian berdua ngobrol-ngobrol saja dulu.” Kagendra manarik tangan Sadiyah agar mengikutinya ke dalam rumah.

__ADS_1


**********


to be continued...


__ADS_2