
“Don’t touch my wife!” Kagendra mencengkram tangan kanan Marco.
“Let go of my wife’s hand, Mr. Romagnoli!” Kagendra makin mempererat cengkramannya.
“Alright… alright.” Marco melepaskan tangan Sadiyah. Bukannya menyerah, ia hanya memberikan sedikit waktu lagi bagi Kagendra untuk bersama dengan Sadiyah sebelum ia merebutnya.
Marco mengakui bahwa apa yang dilakukannya sangat kejam, tetapi ia juga ingin mendapatkan kebahagiannya bersama Sadiyah. Ia yakin pelan-pelan tapi pasti, Sadiyah akan mencintainya. Wanita mana yang bisa menolak pesona dan kekayaannya. Ia akan lebih mencintai Sadiyah dan memperlakukannya bak seorang ratu yang mungkin tidak akan bisa Kagendra berikan. Ia juga akan memberi Kagendra kompesasi yang lebih. Ia akan berikan satu pulau pribadi miliknya, lalu akan ia akan berikan wanita yang lebih cantik dan seksi daripada Sadiyah. Laki-laki mana yang menolak kompesasi darinya. Kalau Kagendra meminta lebih dari satu pulau pribadi, ia juga akan berikan tiga pulau sekaligus. Toh, masih banyak pulau pribadi yang ia miliki.
Bahkan jika Kagendra meminta sebagian dari harta kekayaannya, ia mungkin akan memberikannya asalkan ia mendapatkan Sadiyah. Kekayaan bisa ia cari dengan mudah tetapi cinta sejati tidak mudah untuk didapatkan. Marco yakin Sadiyah adalah cintanya. Sebelumnya, Marco belum pernah mengalami apa yang ia rasakan saat ini pada Sadiyah.
“A, kita pulang sekarang juga. Iyah takut.” Sadiyah memeluk lengan kanan Kagendra dengan erat. Masih terbayang peristiwa saat Marco mencengkram tangannya. Ia sangat takut Marco akan memisahkannya dari Kagendra. Sadiyah juga menyadari bahwa Marco adalah pria dengan kekuasaan yang tidak biasa dan bahkan bisa jadi kekuasaannya jauh di atas Kagendra.
Kagendra dan Sadiyah sudah berada dalam mobil yang mereka sewa. Satu orang pengawal menyupir, satu orang pengawal berada di samping supir, dan satu pengawal lagi berada di kursi paling belakang. Kagendra dan Sadiyah duduk di kursi tengah.
“Aa harus melindungi Iyah. Iyah tidak mau kalau harus berpisah sama Aa, Aras dan Aris. Aa pernah bilang ada laki-laki berengsek yang mau menukar Iyah dengan materi yang ia tawarkan. Dia laki-laki yang tadi, kan?” tanya Sadiyah dengan berbisik.
“Hm…” Kagendra menjawab pendek. Banyak hal yang dipikirkannya sehingga ia tidak fokus menjawab pertanyaan Sadiyah.
“Aa jangan pernah mau menukarkan Iyah dengan kekayaan yang ia tawarkan, ya? Lebih baik Iyah mati daripada harus hidup bersama dia.”
“Kamu jangan bicara sembarangan. Aa akan melindungi kamu dengan nyawa Aa. Bahkan kalaupun Aa mati dalam mempertahankan kamu, kamu tidak akan pernah jadi milik pria kejam seperti dia. Aa tidak akan ikhlas.”
“Emang Aa akan ikhlas kalau Iyah dengan pria yang baik selain Aa?” tanya Sadiyah polos. Pertanyaan Sadiyah membuat Kagendra semakin geram. Bisa-bisanya istrinya memberikan pertanyaan seperti itu di saat genting.
“Kalau memang Aa mati muda, kamu boleh bersama dengan yang lain asalkan dia baik sama kamu, juga sama Aras dan Aris,” jawab Kagendra tidak dari hati.
“Aa…!” Sadiyah menangis histeris. Ia tidak menyangka mendapat jawaban seperti itu.
“Kenapa menangis?”
“Sudah Iyah bilang, JANGAN TINGGALKAN IYAH! Kenapa bicara mati muda?”
“Jadi kamu maunya bagaimana? Mau ikut mati juga?”
__ADS_1
“Jangan bicarakan tentang kematian!”
“Setiap jiwa yang hidup itu akan mati. Kita semua akan mati jika saatnya sudah tiba. Kita akan kembali pada Sang Pemilik. Kamu pasti paham tentang hal itu kan?”
“Iyah sangat paham, tapi jangan bicarakan kematian sekarang. Kenapa liburan bulan madu kita jadi seperti ini? Kalau tahu akan seperti ini, Iyah tidak akan pernah mau pergi liburan.”
“Sttt… jangan bicara seperti itu, apalagi di depan Abah dan Ibu. Kita sembunyikan apa yang terjadi pada kita. Mengerti?”
Sadiyah mengangguk. Ia mengerti kalau kejadian ini sampai pada Yusuf dan Indriani, mereka pasti akan merasa bersalah telah memberi hadiah liburan ke Maldives Island.
Sesampainya di villa yang mereka sewa, Kagendra dan Sadiyah langsung membereskan barang-barang. Sadiyah sudah tidak memikirkan lagi oleh-oleh yang belum sempat terbeli.
“Sudah dapat pesawatnya, A?”
“Sudah. Pesawat berangkat dua jam lagi. Sekarang kita langsung check out!” Kagendra sudah tidak peduli dengan biaya yang sudah ia keluarkan untuk tiga hari di villa ini. Keselamatan mereka, terutama keselamatan Sadiyah lebih penting dari segalanya.
Kagendra sudah memesan helikopter sewaan dari temannya dan memastikan helikopter tersebut bukan milik Marco Romagnoli. Ia tidak akan gegabah menyewa alat transportasi tanpa mengetahui pemiliknya.
Helikopter yang Kagendra sewa sudah siap di helipad saat mereka sampai.
Tiga orang pengawal mengikuti mereka sampai ke helikopter. Karena keterbatasan tempat di helikopter, mereka sudah menyiapkan tiga orang pengawal yang akan menjaga Kagendra dan Sadiyah di bandara.
Sesampainya di Bandara Internasional Velana, Kagendra dan Sadiyah langsung memakai masker untuk menyamarkan diri. Kagendra khawatir jika ada orang-orang Marco yang mengawasi mereka. Ketiga pengawal yang ditugaskan untuk menjaga mereka langsung menghampiri Kagendra dan melaporkan keadaan sekitar. Untuk sementara semuanya masih terkendali.
Setelah dirasa aman, Kagendra hendak meninggalkan Sadiyah untuk check in.
“A, jangan tinggalkan Iyah. Iyah ikut sama Aa.”
Kagendra langsung menggandeng tangan Sadiyah. Ia mengerti Sadiyah tidak ingin ditinggalkan barang sedetik pun. Mungkin jika Kagendra pergi ke toilet laki-laki, Sadiyah akan mengekorinya.
Saat Kagendra dan Sadiyah dalam antrian untuk check in, terlihat beberapa orang berperawakan tinggi besar bergerak tidak wajar. Mereka terlihat sedang mencari-cari sesuatu atau seseorang tepatnya. Beberapa dari mereka berkomunikasi lewat earphone yang mereka gunakan.
“A, mereka sedang mencari kita, ya?” bisik Sadiyah ketakutan.
__ADS_1
“Sedang mencari kamu tepatnya,” jawab Kagendra.
“Jangan becanda, A!” Sadiyah semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Kagendra. Saat ini, ia benar-benar merasa ketakutan.
“Bersikap biasa saja. Jangan sampai mencurigakan. Kamu genggam tangan Aa biasa saja. Sekarang kita pergi ke toilet!” Kagendra memakaikan hoodie miliknya pada Sadiyah. Sedangkan ia memakai topi dan kacamata hitam. Pakaian yang mereka kenakan sekarang biasa dalam airport fashion sehingga tidak akan mencurigakan.
“Kita masuk ke Airport Lounge. Jalan biasa saja. Jangan tergesa-gesa!” perintah Kagendra.
Sadiyah mengikuti langkap Kagendra menuju lounge. Beruntung mereka menggunakan first class sehingga dapat mengakses lounge yang tidak bisa diakses oleh sembarang orang.
Kagendra memilih untuk duduk di dekat jendela. Mereka bisa melihat ke luar tapi orang-orang dari luar tidak bisa melihat mereka dengan jelas. Ia memantau keadaan di luar. Tiga orang pengawal mereka bersiaga di sekitar lounge.
“Ini kapan sih pesawatnya berangkat? Kenapa sih orang-orang itu bisa masuk ke bandara tanpa check in?”
“Dia punya kekuasaan, tentu saja orang-orangnya bisa masuk tanpa memiliki tiket,” jelas Kagendra.
“A… itu dia kan?” tunjuk Sadiyah pada seorang laki-laki yang sedang berjalan menuju lounge yang mereka tempati.
“Kamu sembunyi di toilet! Aa akan mengalihkan perhatian dia,” perintah Kagendra.
“Iyah takut.”
“Jangan khawatir. Cepat kamu pergi ke toilet. Sembunyi di sana sampai Aa kasih kabar. Silent ponsel kamu dan hati-hati!” Kagendra mengecup kening Sadiyah sebelum beranjak keluar dari lounge.
Setelah menyelinap keluar dari lounge, Kagendra langsung lari memutar. Tidak lupa ia memberikan perintah kepada pengawal yang sedang bersiaga untuk mengawasi gerak gerik Marco dan menjaga keselamatan Sadiyah. Beruntung salah satu dari tiga orang pengawal itu seorang perempuan, jadi ia bisa memerintahkan pengawal perempuan tersebut untuk langsung pergi ke toilet dan menjaga Sadiyah.
Kagendra melihat anak buah Marco yang masih mencarinya. Salah satu dari mereka mengikutinya ke area yang agak jauh dari keramaian. Kagendra membalikkan tubuhnya dengan tiba-tiba dan langsung menyerangnya. Dua pukulan Kagendra mendarat di wajah orang tersebut dengan telak kemudian ia tarik tangan musuhnya ke belakang dan mematahkannya.
Setelah melumpuhkan salah satu anak buah Marco, Kagendra segera berlalu untuk memancing anak buah Marco yang lain. Dua orang mengikutinya hingga ke sudut sebuah area sepi. Kagendra langsung menghajar kedua orang tersebut. Tidak sia-sia Kagendra melatih kemampuan bela dirinya selama bertahun-tahun. Dalam dua atau tiga pukulan telak, ia mampu membuat lawannya tak berkutik, satu orang patah tangan dan yang lain ia patahkan kakinya.
bug... bug...
"Aargh... Sialan!"
__ADS_1
*******
to be continued...