Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
158. Faris


__ADS_3

Kagendra pulang bersama dengan Faris. Alena menghambur dan memeluk Faris dengan erat.


“Aras mana, A?”


“Aras belum ditemukan. Nanti Aa korek informasi ke Aris bagaimana mereka diculik dan dimana mereka disekap. Biarkan Aris istirahat dulu. Iyah masih tidur?”


“Teteh baru saja tertidur setelah menangis. Atep menemani Teh Iyah di kamarnya.”


“Hm…”


“Aris mandi lalu makan, ya?” kata Kagendra lembut.


Faris mengangguk mendengar perintah ayahnya.


“Mau mandi sendiri atau Ayah mandikan?”


“Sendiri saja.” Faris segera pergi menuju kamarnya untuk mandi.


“Kalau sudah mandi, Aris turun lagi buat makan, ya? Sudah beberapa hari tidak makan enak, kan? Aris mau makan sama apa, hm?”


Faris kembali mengangguk.


“Mau Tante masakin?” tanya Alena.


Faris menggeleng, “Aris mau makan nasi goreng buatan ibu.”


“Ibu masih sakit. Tante saja yang buatin nasi gorengnya, ya?”


“Tidak mau. Masakan Tante tidak enak.”


“Eh…”


Kagendra tersedak mendengar perkataan Faris. Ia jadi teringat Faras yang memang sering berkata pedas.


“Nanti Ayah yang buatkan nasi gorengnya. Aris suka juga nasi goreng buatan Ayah, kan?”


“Iya, sedikit suka.”


“Sekarang cepat mandi sana. Ayah juga mau ke dapur bikin nasi goreng buat Aris.”


Kagendra berjalan menuju dapur. Ia memerintahkan para asisten rumah tangga untuk mengupaskan bawang putih dan bawang merah. Ia sendiri yang akan mengulek sendiri bumbu-bumbunya menggunakan cobek. Ia sering melihat Sadiyah membuat bumbu untuk nasi goreng dengan mengulek bumbunya menggunakan cobek. Kata Sadiyah, bumbunya akan terasa lebih enak jika diulek bukan diblender. Nasi goreng buatan Kagendra pun tidak kalah enak dari buatan Sadiyah.


Alena mengikuti Kagendra ke dapur.


“A…” Alena ragu-ragu memanggil Kagendra setelah menyuruh para asisten rumah tangga meninggalkan dapur.


“Apa?”


“Tadi Teh Iyah menangis histeris sambil menyalahkan Aa. Teteh juga tidak mau dipeluk Lena.”


“Biarkan saja. Kamu juga jangan merasa sakit hati karena Iyah menyalahkan Aa dan tidak mau kamu sentuh.”


“Tidak, A. Lena tidak sakit hati. Lena cuma sedih saja. Kenapa semuanya jadi kacau begini. Kenapa si Natasha nenek lampir itu tega menghancurkan kehidupan Aa dan Teh Iyah? Kenapa sampai melibatkan Aras dan Aris segala? Dasar perempuan laknat. Lena benci banget sama dia.”


“Kamu yakin Natasha yang ada di balik semua ini?”


“Siapa lagi kalau bukan Natasha? Lena yakin 1000 persen.”

__ADS_1


“Aa juga curiga Natasha yang menculik Aras dan Aris tapi Aa belum mendapatkan bukti yang cukup. Sepertinya ada orang kuat yang membantu Natasha. Kalau hanya Natasha yang melakukannya, tidak mungkin Aa dan tim kesulitan menemukan jejak Aras dan Aris. Mereka juga tahu kalau Aras dan Aris memakai jam tangan khusus.”


Kagendra memasukkan bumbu ke penggorengan. Setelah dirasa matang, ia masukkan bahan pelengkapnya seperti suir ayam, sayur, dan telur. Ia campurkan nasi setelah bahan pelengkapnya matang tidak lupa menambahkan garam dan kecap yang banyak. Kedua anaknya menyukai rasa nasi goreng yang sedikit manis.


“Apa ada orang lain yang Aa curigai?”


“Mafia Itali. Aa curiga dia yang membantu Natasha.”


“Siapa? Mafia Itali? Kok bisa Aa berhubungan dengan Mafia Itali?”


“Laki-laki itu suka sama Iyah. Kami bertemu dengan laki-laki itu di Maldives saat kami liburan ke sana.”


“Aa yakin?”


Hm… anak buah Aa menemukan petunjuk yang mengarah pada Marco, mafia Itali itu.”


“Arrgh… siapa lagi sih si Marco Marco itu? Dasar laki-laki berengsek, beraninya nyulik anak kecil. Rasanya Lena pengen kasih bogem sama si Marco itu.”


“Kita harus hati-hati dengan Marco. Dia bukan orang sembarangan.”


“Kenapa sih si Marco itu harus naksir sama Teh Iyah? Memangnya tidak ada perempuan lain yang bisa dipake sama si Marco itu? Memangnya dia gak mampu mendapatkan perempuan-perempuan bule yang seksi? Kenapa harus Teh Iyah? Teh Iyah gak seksi dan semua tubuhnya tertutup. Teteh juga gak cantik banget seperti artis-artis di luaran sana.”


Kagendra menatap Alena tajam saat mendengar Alena menyebut bahwa Sadiyah tidak cantik dan seksi.


“Eh, maksud Lena Teh Iyah cantik dan seksi tapi masih banyak perempuan yang lebih cantik dan seksi, kan?” ralat Alena cepat.


Kagendra selesai memasak nasi goreng. Ia tuangkan nasi goreng yang sudah matang itu ke atas piring.


“Kamu mau nasi gorengnya?”


“Ih, Lena gak suka nasi goreng yang banyak kecapnya. Lagian Lena sudah makan. Buat Aa dan Aris saja.”


Kengendra membagi nasi goreng menjadi dua piring, untuk Aris dan dirinya.


“Oh iya, dua hari lagi mau diadakan acara aqiqah untuk Ardan dan Arkan,” ucap Alena.


“Tolong kamu bantu Aa untuk acara aqiqah mereka, Len.”


“Pasti, A.”


“Jadi nama lengkap mereka siapa?” tanya Alena.


“Aa belum kepikiran, Len. Boro-boro memikirkan nama.”


“Memang Aa tidak menyiapkan nama buat mereka?”


“Baru terpikir Ardana dan Arkana.”


“Tambah dengan nama Putra saja bagaimana? Ardana Putra Nataprawira dan Arkana Putra Nataprawira?” usul Alena.


“Terserah kamu saja. Nama itu juga bagus.”


“Ya sudah. Lena kasih nama itu saja, ya? Lena mau minta tolong Atep buat bikin kartunya.”


“Ya, terima kasih. Bilang juga sama Atep rasa terima kasih dari Aa.”


“Gak usah sungkan begitu, A. Lena kan adik Aa. Atep juga calon adik ipar Aa. Kita wajib bantu Aa dan Teh Iyah.”

__ADS_1


“Hm…”


“Ayah…” panggil Faris lirih. Penampilannya sudah tidak kucel seperti saat pertama kali ditemukan oleh Kagendra. Faris tampak segar setelah mandi.


“Sini!” Kagendra memanggil Faris untuk duduk di kursi meja makan.


Kemudian Kagendra meletakkan satu piring nasi goreng dengan tambahan telur ceplok di atasnya, segelas air mineral dan susu di hadapan Faris.”


“Aris makan dulu, ya? Mau Ayah suapin?” tawar Kagendra.


Faris mengangguk senang saat mendengar tawaran Kagendra.


Kagendra menyodorkan segelas air mineral. “Minum dulu, ya?


Setelah habis satu gelas, Kagendra mulai menyuapi Faris sesendok demi sesendok hingga nasi goreng dalam piring habis tak tersisa.


“Aris masih mau makan nasi gorengnya?”


Air mata mulai merembes lalu mengalir di pipi tembamnya, “Aris kangen sama Aras. Aras sudah makan belum, ya?”


Sekarang Faris sudah benar-benar terisak. Ia teringat akan saudara kembarnya yang mungkin belum bisa menikmati nasi goreng buatan ayah mereka.


“Sebentar lagi Ayah akan membawa Aras pulang. Jangan menangis!”


“Aris tidak bisa menahan air matanya, Yah. Air mata Aris tiba-tiba saja keluar,” ucap Faris tersedu-sedu.


Kagendra memeluk Faris dengan erat. Air mata pun menetes dari ujung matanya.


“Aris juga ingin ketemu sama Ibu.”


“Nanti kalau Ibu sudah bangun, Aris bisa ketemu sama Ibu,” ucap Alena.


“Tidak bisa sekarang? Aris mau lihat Ibu saja. Aris janji gak akan ganggu Ibu.”


Alena melihat ke arah Kagendra.


“Boleh. Aris boleh masuk ke kamar Ibu dan melihat Ibu. Kalau Ibu masih tidur, Aris jangan bangunin Ibu, ya?” ucap Kagendra.


“Iya, Yah.”


Kagendra mengantar Faris ke kamar Sadiyah. Faris melihat Sadiyah yang tidur pulas tetapi masih terlihat jejak air mata di pipinya.


“Ibu menangis terus ya, Yah?”


“Hm… Ibu kangen sama Aras dan Aris.”


“Aris juga kangen sama Ibu dan Ayah. Sekarang Aris kangen sama Aras. Kapan Aris bisa ketemu lagi sama Aras?”


“Segera. Aras akan segera berkumpul lagi sama Aris, Ibu, dan juga Ayah.”


“Aris ingin digendong Ayah. Aris ngantuk.”


Kagendra menggendong Faris hingga ke kamar tidurnya. Sebelum Kagendra sampai ke kamar tidur, Faris sudah tertidur di pundaknya.


********


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2