
Karena mengkhawatirkan keadaan Kagendra, Indriani dan Alena mengunjungi rumah Kagendra. Tampak lampu
di luar rumah menyala tapi keadaan di dalam rumah terlihat gelap gulita.
“Bu, sepertinya Aa tidak ada di rumah.” tebak Alena.
“Tadi Ibu sudah menelpon Rudi. Rudi bilang kalau Aa kamu tidak ke kantor hari ini. Sebenarnya sudah satu minggu Aa kamu tidak pergi ke kantor. Sejak Aki memukuli Aa kamu, kesehatannya belum pulih. Rudi cerita kalau Aa sudah mencari Iyah ke rumah Rostita tapi tidak berhasil bertemu. Aa kamu bilang kalau bibi dan mamangnya juga belum tahu keberadaan Iyah”
"Apa mungkin Teh Iyah menghindar dari Aa? Salah Aa, kenapa dia sampai berhubungan lagi dengan si Natasha. Perempuan mana yang tidak sakit hati jika suaminya selingkuh sama mantan kekasihnya."
"Memang salah Aa. Tetapi menurut Ibu, Iyah juga seharusnya mendiskusikan hal ini bersama kita. Jangan langsung kabur saja. Ibu tidak menyalahkan Iyah, hanya menyayangkan keputusan yang pasti diambil dalam keadaan emosi."
"Mudah-mudahan drama keluarga mereka berakhir bahagia. Mungkin ini ujian buat pernikahan mereka ya, Bu."
"Hmmm..."
Kemudian Alena mencoba memijit bel berkali-kali tapi tidak mendapatkan jawaban dari dalam rumah.
“Aa pergi ke mana ya, Bu?”
“Kita tunggu saja di sini. Barangkali Aa sedang keluar dulu. Kita tunggu di sini sampai Aa datang.”
“Iya, Bu.”
Satu jam mereka menunggu di teras depan rumah Kagendra sampai akhirnya Rudi datang.
Rudi melihat Alena yang sedang berdiri di depan pintu gerbang.
“Assalamu’alaikum, Len. Sedang apa di sini? Kenapa tidak masuk?” sapa Rudi.
“Wa’alaikumsalam Pak Rudi. Saya menunggu Aa pulang. Ada Ibu juga.”
“Loh, Bos tidak kemana-mana kok. Dari tadi pagi ada di rumah.”
“Tapi di dalam rumah gelap. Saya dan Ibu tidak punya kunci untuk masuk ke dalam. Dari tadi saya pijit bel tapi tidak ada jawaban dari dalam.”
Rudi segera bergegas memasuki pekarangan rumah Kagendra. Ia melihat Indriani yang sedang duduk di kursi teras depan.
“Assalamu’alaikum, Bu.” sapa Rudi.
“Wa’alaikumsalam, Rud. Kamu punya kunci rumahnya Endra?”
__ADS_1
“Ada, Bu.” Rudi mengeluarkan kunci duplikat rumah Kagendra dari sakunya dan langsung membuka pintu. Tampak suasana gelap gulita di dalam rumah,idak ada satu pun cahaya. Rudi segera menyalakan lampu di ruangan tengah.
“Aa…..” Indriani berteriak memanggil Kagendra tapi tidak mendapatkan jawaban.
Rudi segera menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar Kagendra yang masih gelap gulita.
“Bos…Bos ada di mana?” Rudi menyalakan lampu di kamar Kagendra.
Indriani dan Alena mengikuti Rudi dari belakang.
“Aa…..” panggil Alena.
Rudi segera berbalik bergegas menuruni tangga menuju perpustakaan tapi tidak juga menemukan
Kagendra di perpustakaan.
Indriani mengikuti Rudi dan ketika sampai di lantai bawah, ia berjalan menuju taman belakang berharap menemukan Kagendra di sana.
Alena tetap di kamar Kagendra dan mencari Kagendra di setiap sudut kamar. Ia memasuki walk in closet dan menemukan Kagendra yang sedang meringkuk di atas lantai sambil memeluk sehelai pakaian.
“Astaghfirulloh, Aa. Bangun A…..” Alena berusaha membangunkan Kagendra dengan menggoyang-goyangkan lengannya.
Alena menangis ketika tidak berhasil membangunkan kakaknya. Ia segera beranjak untuk memanggil Rudi agar kembali ke kamar Kagendra.
Rudi yang mendengar teriakan Alena langsung melesat menaiki tangga.
“Ada apa, Len?”
“Bantu saya, Pak. Sepertinya Aa tidak sadarkan diri di dalam walk in closet.”
Rudi segera menuju tempat yang ditunjukkan Alena dan menemukan Kagendra sedang meringkuk di dekat lemari. Ia langsung mengangkat Kagendra dan membaringkannya di atas tempat tidur.
“Suhu badan Bos tinggi sekali. Sepertinya kita harus memanggil dokter.”
Alena langsung menghubungi dokter keluarga agar segera datang.
“Bagaimana?” tanya Rudi.
“Sebentar lagi dokter Kurnia akan datang.” sahut Alena.
Indriani yang tidak menemukan Kagendra di taman belakang belum mengetahui kejadian Kagendra yang tidak sadarkan diri, memasuki kamar untuk mencari Alena.
__ADS_1
“Len, kamu sudah menemukan Aa?”
“Aa pingsan Bu, sekarang masih belum sadarkan diri. Badannya panas. Sedang dikompres sama Pak Rudi.”
“Astaghfirulloh, Aa kenapa?” Indriani langsung menghambur ke sisi Kagendra. Ia menangis tersedu-sedu melihat keadaan kagendra.
“Kamu kenapa sih A?” Kenapa jadi begini?” Indriani melihat Kagendra yang memeluk erat pakaian Sadiyah meskipun tidak sadarkan diri.
Indriani membasahi handuk kecil yang sudah mulai mengering karena begitu tingginya suhu badan Kagendra.
“Bu, apa Abah harus kita kasih tahu tentang keadaan Aa?” tanya Alena pada Indriani.
“Tidak usah, Len. Sejak tadi pagi, Abah kamu sedikit tidak enak badan, tensinya tinggi. Sepertinya Abah stress memikirkan keadaan Aa. Kalau masih bisa kita atasi, jangan dulu memberi tahu Abah.”
“Iya, Bu. Apalagi Aki. Kalau Aki tahu Aa sakit begini, mungkin Aki akan sakit juga karena merasa bersalah sudah memukuli Aa.”
“Sudahlah, Len. Jangan mengingatkan Ibu lagi tentang kejadian itu. Ibu sedih kalau mengingatnya. Saat itu Ibu tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela Aa. Ibu merasa sangat bersalah pada Aa. Ibu merasa kalau Aa tidak seperti yang diceritakan oleh Iyah. Memang Aa juga salah karena berhubungan lagi dengan Natasha. Tapi sepertinya kejadian sebenarnya tidak seperti yang ada di dalam foto-foto itu. Mungkin si Natasha yang merekayasa foto-foto dan rekaman itu.”
“Natasha itu rubah betina, Bu. Licik sekali dia sampai berbuat seperti itu. Pak Rudi sudah menceritakan sedikit kejadian sebenarnya pada Lena.”
“Rudi menceritakan apa saja?”
“Kejadian yang di bandara Thailand. Di dalam foto kan memperlihatkan Aa dan Natasha yang mesra bergandengan tangan di bandara seolah-olah mereka pergi bersama. Menurut Pak Rudi, kejadian sebenarnya itu Natasha yang bertindak agresif pada Aa. Aa tidak tahu kalau Natasha menyusul ke Thailand dengan dalih ada pekerjaan di sana.”
“Dasar wanita licik.” geram Indriani.
“Terus yang Aa sedang di rumah sakit menemani Natasha. Si rubah betina itu kan mengirim pesan pada Teh Iyah kalau Aa menemaninya karena ada masalah dengan kehamilannya padahal kejadian yang sebenarnya itu Aa menemani Natasha di rumah sakit karena diminta oleh asistennya Natasha. Natasha berusaha bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangan pakai pecahan kaca. Sakit karena mencoba bunuh diri tapi mengaku hamil. Lena kesel banget pas tahu kejadian yang sebenarnya.”
“Astaghfirulloh, jadi itu yang sebenarnya? Rudi tidak berbohong kan buat menutupi kesalahan Aa?”
“Lena percaya sama apa yang diceritakan sama Pak Rudi. Pertama, Pak Rudi kan ada bersama dengan Aa sewaktu di bandara Thailand. Pak Rudi juga menemani Aa saat si wanita licik itu dirawat. Ia mendengar kok apa yang dikatakan dokter saat itu dan yang membuat Lena lebih percaya adalah cerita dari Pak Rudi kalau Aa benar-benar mencintai Teh Iyah. Pak Rudi cerita kalau Aa sering pulang pas jam makan siang untuk makan siang bersama di rumah. Aa juga suka senyam senyum sendiri kalau sedang bekerja. Bisa dikatakan Pak Rudi saksi yang melihat bagaimana sikap Aa terhadap Teh Iyah berubah.”
“Sebenarnya, ibu juga tidak percaya kalau Aa sampai sejauh itu berbuat zina. Ibu tidak yakin kalau si rubah betina itu hamil anaknya Aa. Tapi bukti-bukti saat itu sangat memberatkan Aa. Ada bukti USG nya Natasha, ada bukti Aa sedang tidur bersama dengan si gila, dan banyak lagi foto-foto yang membuktikan Aa memang bersalah. Terutama rekaman itu. Makanya Aki sangat marah pada Aa sampai tega memukuli Aa seperti itu.”
“Kalau masalah foto yang mereka tidur bersama itu, Pak Rudi cerita kalau Aa juga tidak ingat dan tidak mengerti kenapa Aa bisa tidur bertelanjang dada di kasurnya Natasha. Menurut Lena sih Aa dikasih obat tidur atau apalah supaya Aa tidak sadar.”
“Bisa jadi. Cuma sulit untuk membersihkan nama Aa dan membuktikan Aa tidak bersalah, apalagi dimata Aki. Aki sudah sangat meyakini kalau semua kejadian ini karena kesalahan Aa.”
“Kalau Aa sudah mulai bangkit dan emosinya sudah stabil, Lena yakin kalau Aa akan berusaha untuk menemukan bukti-bukti yang menguatkan kalau Aa tidak bersalah.”
“Bu, dokternya sudah datang.”
__ADS_1
***********
to be continued...