Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
173. I Love You till the Day I Die


__ADS_3

Sebelumnya, Natasha memerintahkan lima orang anak buahnya untuk mencari Sadiyah. Ia yakin Sadiyah datang bersama Kagendra. Beruntung baginya, Sadiyah berhasil ditemukan dan sekarang tidak berkutik. Ia akan menghabisi Sadiyah agar ia bisa bersama Kagendra.


“Iyah,” desis Kagendra. Ia kecewa karena Sadiyah tidak mematuhinya. Ia pun yakin, istri dan adiknya pasti memaksa Atep untuk masuk.


“Maaf, A!” Sadiyah mengucapkan maaf dengan gerak bibirnya.


“Sekarang kau sudah ada di sini. Aku akan memberikan pilihan padamu, perempuan. Anakmu ada di tanganku dan mudah saja bagiku untuk menghabisinya. Siapa yang akan kau pilih, anakmu atau suamimu? Kalau kau ingin anakmu tetap hidup, serahkan Kagendra padaku. Tapi jika kau tetap ingin bersama Kagendra, kau tidak akan bertemu dengan anakmu lagi, selamanya.”


Natasha semakin menggila. Ia tertawa terbahak-bahak menyaksikan penderitaan Sadiyah yang pastinya sulit untuk memutuskan.


“Aku akan menghitung sampai sepuluh. Satu… dua… tiga… empat… lima… Kau sudah memutuskan untuk memilih siapa?”


“Jangan memberikan pilihan gila, Natasha!” teriak Sadiyah.


“Enam… tujuh… delapan… sembilan… sepuluh… sudah habis waktunya.”


Sadiyah melihat ke arah Kagendra dan melihatnya menggelengkan kepala. Ia memutuskan untuk mempercayai Kagendra. Ia mengartikan gelengan kepala Kagendra sebagai tanda agar ia tidak memberikan keputusan apapun.


“Apa pilihanmu?”


Sadiyah menggeleng, menolak menjawab pertanyaan gila Natasha.


“Cepat katakan, berengsek!”


Sadiyah tetap diam seribu bahasa.


“Aku akan membunuhmu, aaargh….”


Terdengar suara tembakan membahana di ruangan itu.


“Aa!”


Alena dan Atep mengeluarkan jurus bela diri yang mereka miliki dan berhasil melumpuhkan anak buah Kagendra.


Kagendra ambruk, timah panas berhasil bersarang di punggungnya. Natasha melepaskan tembakan ke arah Sadiyah, dan sebelum peluru itu terlepas dari selongsong, Kagendra berlari menuju Sadiyah untuk melindunginya.

__ADS_1


“Aa! Aa tidak apa-apa?” Sadiyah melontarkan pertanyaan bodoh. Tidak mungkin Kagendra baik-baik saja setelah timah panas menembus kulit punggungnya.


Sadiyah meraba punggung Kagendra, tetapi ia tidak merasakan cairan kental merembes dari pakaian milik Kagendra.


“Kamu baik-baik saja, Sayang. Tidak terkena tembakan, kan?”


“Tidak, A. Iyah baik-baik saja. Aa yang tidak baik-baik saja karena…karena…” Sadiyah teringat kembali saat Kagendra harus meregang nyawa demi menyelamatkannya.


“Aa baik-baik saja.”


“Pelurunya nyasar, A? Iyah juga tidak menemukan darah di tubuh Aa.”


“Darahnya ada di tubuh Aa, Sayang.”


“Mana, A? Di bagian mana Aa terluka?” Sadiyah panik, mencari luka tembak di tubuh Kagendra.


“Darahnya masih mengalir di dalam tubuh Aa.”


Sadiyah memukul lengan Kagendra. “Aa! Jangan becanda!” Sadiyah memeluk Kagendra erat.


“Natasha!” Sadiyah berteriak saat melihat Natasha tergeletak tak bergerak di atas lantai dingin. Cairan berwarna merah pekat merembes membasahi gaun putihnya.


“A, Natasha, A!” Sadiyah melepasakan diri dari pelukan Kagendra untuk menghampiri tubuh Natasha yang sudah tidak bergerak.


Tampak anak buah Kagendra dan Tim Kiran membekuk semua anak buah Natasha dan Marco.


“Iyah, jangan gegabah!” Kagendra menarik tangan Sadiyah.


“Itu, Natasha, A. dia sepertinya tertembak. Mungkin pelurunya nyasar.”


“Gak begitu. Peluru yang ditembakkan Natasha gak nyasar, tapi mengenai punggung Aa,” ungkap Kagendra.


“Benarkah?” Sadiyah kembali panik mendengar penuturan Kagendra.


“Tenang saja. Aa pakai rompi anti peluru, jadi gak apa-apa.”

__ADS_1


“Jadi yang tembak Natasha siapa?” Sadiyah bingung dengan rentetan peristiwa yang terjadi.


“Aa juga gak tahu, mungkin Marco atau anak buahnya.”


“A, Natasha bergerak, A!” tunjuk Sadiyah.


Kagendra dan Sadiyah bergegas mendekati Natasha.


“Kagendra!” panggil Natasha lirih.


“Jangan banyak bergerak!” perintah Kagendra. Ia memang membenci perbuatan Natasha, tetapi melihat kondisi Natasha yang sekarat membuat Kagendra iba juga.


“Kagendra, Sayangku. Cintaku.”


Sadiyah menatap Kagendra dan menganggukkan kepala.


“Sudahlah, Tasha. Jangan banyak bergerak dan bicara.” Entah kenapa Kagendra berharap Natasha tidak berakhir mengenaskan seperti saat ini. Jika saja mereka berada di kota, mungkin Natasha masih bisa terselamatkan dengan mudahnya akses ke rumah sakit, tetapi berada di lokasi terpencil, sangat kecil kemungkinannya untuk menyelamatkannya.


“Untuk apa kamu memintaku untuk tidak banyak bergerak dan bicara? Aku tahu, sebentar lagi kematianku akan tiba. A-aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu. Kau adalah satu-satunya laki-laki yang kucintai.”


“Tasha.”


“Aku bahagia kau memanggilku Tasha. Aku berharap kau mengenangku selamanya, perempuan yang mencintaimu sampai mati. Aku mencintaimu, Kagendra.”


“Hm… aku tahu. Aku tahu kau mencintaiku, Tasha.”


“Sayang, aku titipkan putriku kepadamu. Tolong, rawat dia. Aku takut dia sendirian. Aku harap kau menyayanginya seperti putrimu sendiri. Sungguh aku berharap kalau dia adalah putri kita.” Natasha menatap Kagendra penuh harap. “Berjanjilah padaku, Sayang.”


“Hm… aku akan merawat putrimu.”


“Terima kasih, Kagendra. I love you till the death of me.” Natasha menghembuskan napasnya yang terakhir. Air mata berjatuhan dari sudut matanya.


**********


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2