
“Bos, saya sudah mendapatkan informasi tentang keberadaan Keisha.” salah seorang anak buah Kagendra yang ditugasi untuk mencari Keisha, perempuan yang dicintai oleh Arfian, sepupunya, memberikan informasi yang telah ditunggu selama beberapa tahun ini. Sudah hampir tujuh tahun Kagendra mencoba membantu Arfian untuk menemukan keberadaan Keisha dan baru hari ini ia mendapatkan sedikit titik terang.
Keisha, perempuan yang dicintai Arfian sepupunya, dan Sadiyah yang dicintainya adalah dua orang perempuan cerdas yang pandai sekali menyembunyikan diri mereka. Kagendra dibuat pusing oleh ulah dua perempuan itu.
Setelah mendapatkan informasi yang cukup akurat dari anak buahnya, ia segera menghubungi Arfian.
“Bro, gue udah berhasil ngelacak keberadaan Keisha. Dia sekarang ada di Italy. Nanti gue kirim alamat detailnya di whatsapp.” Kagendra menelepon Arfian untuk mengabarkan berita gembira tentang keberadaan Keisha.
“Lo serius? Ini bukan berita hoax kan?” tanya Arfian antusias.
“Serius banget, Bro. Dan menurut informan gue, dia selama ini gak menjalin hubungan sama laki-laki manapun. Jadi lo musti berjuang buat dapetin cinta lo. Gua gak yakin sih hati dia masih buat lo. Tapi yang pasti lo musti berjuang demi cinta. Gue do’ain lo berhasil mendapatkan kembali cinta Keisha.” Kagendra menyampaikan kabar ini dengan bersemangat.
“Thanks a lot Bro, lo udah bantu banyak banget.” ucap Arfian bersyukur memiliki sahabat sekaligus sepupu seperti Kagendra yang nyatanya hampir memiliki nasib sama dengan dirinya.
“Lo juga musti do’ain gue, Bro. Istri gue juga udah ketemu. Tapi sepertinya gue musti berjuang sangat keras buat ngedapetin cinta dia lagi.” Kagendra mengabarkan tentang pertemuannya dengan Sadiyah.
“Pasti gue do’ain. Kita sama-sama berjuang buat meraih cinta sejati kita.” Sahut arfian.
“Kita berdua ini mirip cowok-cowok alay yang musti berjuang buat dapetin cinta…. hahahha…” mereka berdua tertawa terbahak menertawakan nasib mereka masing-masing.
“Eh, Bro. Lo tau gak, ternyata gue udah punya anak, anak gue kembar, dua-duanya cowok.” Kagendra memberitahukan kabar gembira ini pada Arfian dengan hati yang berdegup kencang. Ia merasa bahagia sekali mengabarkan kalau ia memiliki anak bersama Sadiyah pada Arfian.
“Serius?” tanya Arfian kaget.
“Serius banget. Jadi pas istri gue itu kabur, dia lagi hamil. Alhamdulillah, anak gue tumbuh dengan baik dan sehat. Gue udah ketemu sama mereka. Gak nyangka aja, lokasi syuting buat iklan terbaru ternyata di daerah tempat tinggal istri sama anak-anak gue selama ini.”
“Selamet Bro, lo udah jadi seorang bapak.” Arfian memberikan selamat pada Kagendra dengan tulus.
“Gue emang udah ketemu sama anak-anak gue bahkan udah main bareng mereka tanpa menyadari kalau mereka itu anak-anak kandung gue. Tapi mereka belum tau kalau gue bapaknya mereka. Ibu mereka galak banget melebihi induk singa. Auman dan cakarannya itu lebih menyeramkan dari pada induk singa.” Kagendra menceritakan bahwa istrinya masih belum bisa menerima lagi dirinya sebagai suami maupun ayah dari anak-anaknya.
“Lo jauh lebih beruntung daripada gue, Ndra. Setidaknya lo udah ketemu sama istri dan anak-anak lo. Lo tinggal berjuang meyakinkan ibunya anak-anak buat nerima lo lagi. Beda sama gue yang belum ada kepastian”. Ujar Arfian sedih memikirkan nasibnya sendiri.
“Kita saling menganggap bahwa orang lain lebih beruntung dari diri sendiri. Gue anggap lo lebih beruntung karena setidaknya Keisha gak benci sama lo. Lo musti tau, sepertinya istri gue benci banget sama gue. Dia bersikeras dan menolak gak mau menemui gue.” ungkap Kagendra sedih.
“I’m sorry to hear that Bro.” ujar Arfian memberikan rasa simpatinya.
“That was my own bad mistake.” Sahut Kagendra menyesal.
“Udah lah gak usah sedih-sedih lagi. Lebih baik lo simpan energi buat dapetin maaf dari istri lo.” ujar Arfian memberi semangat.
Mereka berdua tertawa bersamaan. Menertawakan nasib mereka masing-masing.
******************
Pagi ini, Kagendra mencoba untuk menemui Sadiyah lagi. Jam tujuh pagi, ia sudah berada di depan rumah Sadiyah.
“Assalamu’alaikum, Bi Ita….” Kagendra menyapa Rostita yang sedang duduk di teras depan.
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam…masuk Ndra.”
Kagendra mencium punggung tangan Rostita.
“Sudah sarapan?”
“Belum, Bi…”
“Sarapan dulu gih. Bi Ita tadi buat nasi goreng. Sepertinya masih banyak.” tawar Rostita.
“Terima kasih, Bi. Nanti saja. Saya belum tenang kalau saya belum bicara sama Iyah.”
“Ya sudah, Bi Ita panggilkan dulu Iyah.”
Rostita mengetuk pelan kamar Sadiyah dan tak lama kemudian, Sadiyah membuka kamarnya.
“Ada apa, Bi?”
“Ada Endra di depan….”
Belum selesai Rostita bicara, Sadiyah langsung berlari menuju kamar Faras dan Faris dan segera mengunci pintu kamar.
“Ndra, sepertinya Iyah belum mau bicara sama kamu.” ujar Rostita ketika menemui Kagendra di ruang tamu.
“Iyah…Iyah…saya harus bicara sama kamu. Kamu harus mendengarkan penjelasan dari saya.” Kagendra berteriak-teriak memanggil Sadiyah.
Kagendra membuka pintu kamar Sadiyah dan mendapati kamar yang kosong. Lalu ia mencoba membuka kamar Faras dan Faris. Ia menemukan pintu kamar dikunci dari dalam.
“Iyah…Iyah…buka pintunya!” Kagendra menggedor pintu kamar Faras dan Faris menyuruh Sadiyah untuk keluar.
“Bu, ada yang memanggil-manggil nama Ibu.” Faris beranjak membuka pintu kamarnya untuk melihat orang yang memanggil-manggil nama Sadiyah.
“Aris, jangan dibuka pintunya.” teriak Sadiyah.
“Kenapa, Bu?”
“Kalian tunggu di sini. Jangan keluar! Ingat, jangan keluar!”
Sadiyah segera mengambil kerudung instan yang tersampir di kursi dan bergegas keluar dari kamar Faras dan Faris karena khawatir Faras dan Faris menemukan orang yang mencarinya itu ayah mereka.
“Iyah….Iyah…” Kagendra masih berteriak-teriak memanggil nama Sadiyah.
“Tidak usah teriak-teriak di rumah orang. Jangan berbuat keributan. Tidak usah juga menggedor-gedor pintu dengan kuat, nanti pintunya rusak!” Sadiyah membuka pintu yang sedari tadi digedor-gedor oleh Kagendra dan mengomel.
“Iyah….” panggil Kagendra lirih.
Kagendra mendekati Sadiyah dan hendak memeluknya.
__ADS_1
Sadiyah mundur beberapa langkah ketika Kagendra mendekat. Ia mendorong tubuh Kagendra yang hendak memeluk.
“Mau apa kamu datang kemari?” tanya Sadiyah ketus.
“Kita harus bicara.”
Kagendra meraih tangan Sadiyah tapi segera ditepis oleh Sadiyah.
“Mau bicara apa lagi?”
“Banyak yang harus kita bicarakan.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.” tolak Sadiyah.
“Kita duduk dulu.”
Kagendra mencoba meraih lagi tangan Sadiyah dan kali ini ia memegangnya lebih kuat. Sadiyah berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kagendra.
“Lepas!”
Kagendra tidak mengindahakan permintaan Sadiyah untuk melepaskan tangannya. Ia sedikit menyeret Sadiyah yang enggan untuk mengikuti.
“Tidak usah tarik-tarik.” protes Sadiyah.
Setelah sampai di ruang tamu, Sadiyah menghentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman tangan Kagendra.
“Duduk!” perintah Kagendra.
Dengah terpaksa, Sadiyah menuruti Kagendra dan duduk di hadapan Kagendra.
“Silahkan. Mau bicara apa?’ tantang Sadiyah.
“Kenapa kamu pergi meninggalkan saya?” Kagendra menatap Sadiyah tajam.
“Kamu seharusnya tahu kenapa saya pergi. Saya juga sudah memberitahu kamu lewat surat alasan saya pergi.” Sadiyah membalas tatapan tajam Kagendra.
“Kenapa kamu tidak memberikan kesempatan kepada saya untuk menjelaskan segalanya pada kamu?”
“Semuanya sudah jelas. Tidak perlu ada penjelasan lagi.”
“Kenapa kamu begitu yakin dengan informasi yang kamu terima dari sati pihak saja. Kamu tidak adil pada saya.”
“Kamu yang membuat saya pergi. Karena perlakuan kamu pada saya telah memaksa saya untuk menyerah dan pergi. Saya sudah memberikan kesempatan itu sejak hari dimana kamu mengucapakan akad itu, tapi kamu tidak memanfaatkan kesempatan itu. Bukan salah saya jika kamu terlambat. Bagi saya informasi yang saya dapat itu sudah akurat dan tidak perlu untuk diperdebatkan. Jika sudah selesai bicara, silahkan pergi dari rumah saya.” usir Sadiyah.
***********
to be continued ...
__ADS_1