
Kagendra, Sadiyah, Faras dan Faris berada di rumah mereka di Jakarta. Pagi ini, mereka berkunjung ke rumah Aki Musa. Aki Musa sangat bersyukur masih diberi kesempatan bertemu dengan cucu menantunya. Menurutnya sudah tidak ada lagi masalah yang harus ia selesaikan sehingga kelak ia dapat menemui sahabatnya, yaitu kakeknya Sadiyah dengan kepala yang tegak.
Sadiyah menangis dalam pelukan Aki Musa. Ia merasa bersalah karena telah membuat Aki Musa sedih dan kecewa.
“Aki, maafkan Iyah karena sudah membuat Aki kecewa. Iyah sangat bersalah sama Aki. Maafkan Iyah, Ki.”
“Aki yang seharusnya minta maaf sama Iyah. Aki yang sudah membuat Iyah sedih dan kecewa sehingga terpaksa harus pergi menjauh. Kalau saja Aki tidak memaksa Iyah untuk menikah dengan cucu Aki yang bedegong* mungkin Iyah tidak akan merasakan penderitaan.” Aki Musa mengelus puncak kepala dan punggung Sadiyah dengan lembut.
*nakal
“Tapi kalau Aki tidak memaksa Iyah menikah dengan A Endra, Iyah tidak akan jadi istrinya A Endra dan punya Aras dan Aris. Sekarang Iyah bahagia, Aki. Iyah bahagia menjadi bagian keluarga Aki, menjadi menantu Abah dan Ibu, juga jadi istrinya A Endra.” Sadiyah mengusap air mata dengan punggung tangannya.
Aki Musa terharu mendengar perkataan Sadiyah. Ia bersyukur Sadiyah sudah tidak menderita lagi.
“Benar begitu? Sudah memaafkan Endra? Tidak akan lagi kabur meninggalkan rumah?” goda Aki Musa.
Sadiyah mengangguk dan tersipu mendengar pertanyaan Aki Musa.
“Iya, Aki. Maafkan Iyah karena dulu pergi dari rumah.”
“Bukan salah Iyah tetapi salah Endra. Dia sudah menyakiti kamu begitu dalamnya tetapi Endra juga sudah mendapatkan balasannya. Selama ditinggalkan kamu, Endra sangat menderita. Dia bekerja sampai tidak tahu waktu agar tidak terus memikirkan istri yang pergi meninggalkannya. Aki juga sudah memberikan hukuman pada Endra walaupun akhirnya Aki juga yang merasa sakit karena sudah memukulnya.”
Mata Aki Musa berkaca-kaca ketika mengingat kembali peristiwa pemukulan yang ia lakukan pada cucu laki-laki kesayangannya.
“Sekarang Iyah sudah sangat yakin kalau A Endra mencintai Iyah. Cinta Iyah sudah tidak bertepuk sebelah tangan lagi.” ucap Sadiyah sembari tersenyum bahagia.
“Terima kasih, Iyah. Terima kasih karena sudah mau kembali dan mencintai cucu Aki. Terima kasih karena sudah membawa kebahagiaan yang luar biasa dengan hadirnya Aras dan Aris. Aki do’akan semoga kalian selalu bahagia agar Aki tenang meninggalkan dunia untuk menemui Aki kamu di sana.”
“Aki jangan bicara seperti itu. Aki harus sehat. Aki kan harus melihat Lena menikah dulu. Jadi jangan bicara seperti itu.” air mata Sadiyah kembali mengalir mendengar perkataan Aki Musa.
Aki Musa tersenyum, “Insya Allah, kalau Allah memberikan umur yang panjang agar Aki bisa menyaksikan Lena menikah dan melihat anak-anak kalian tumbuh besar.”
Sadiyah kembali memeluk Aki Musa dengan erat.
“Yaa Allah, terima kasih Engkau telah memberikan kebahagian kepada kami. Engkau panjangkan jodoh untuk cucu-cucuku.” Aki Musa bersyukur dalam hatinya.
“Sudah dong acara peluk-pelukannya, Ki. Endra kan jadi cemburu melihat Aki peluk terus istri Endra.”
“Apaan sih, A?” Sadiyah memukul pelan lengan Kagendra.
“Aa kan jadi cemburu melihat kamu dipeluk sama laki-laki lain.” sahut Kagendra asal.
Sadiyah menatap Kagendra dengan kesal.
“Dasar cucu kurang ajar. Aki sendiri dicemburuin.” Aki Musa mengacungkan tongkatnya. “Apa mau dipukul lagi sama iteuk-nya Aki, hah?”
__ADS_1
“Enggak, Ki. Ampun… ampun…” Kagendra langsung berlindung di belakang tubuh Sadiyah pura-pura ketakutan dipukul oleh tongkat kayu jati milik Aki Musa.
“Ih laki-laki apaan berlindung di belakang perempuan? Ibu malu punya anak laki-laki penakut seperti itu.” sindir Indriani ketika melihat adegan Kagendra yang sedang berdiri di belakang Sadiyah untuk menghindari pukulan dari mertuanya.
“Biarin…” Kagendra membalas sindiran dari ibunya dengan menjulurkan lidah.
“Dasar anak nakal.” Indriani gemas melihat tingkah anak laki-lakinya lalu menghampiri Kagendra dan mencubit lengan Kagendra sekerasnya.
“Aww… sakit Buuu…” Kagendra mengaduh kemudian terdengarlah tawa membahana dari semua orang yang ada di ruangan itu.
“Syukurin…” Alena mengejek kakaknya dengan juluran lidah dan langsung mendapatkan balasan pelototan dari kakaknya yang bermakna ‘tunggu pembelasanku’. Alena langsung berlari mengekori ibunya karena takut balasan langsung dari kakaknya. Indriani hanya tersenyum melihat tingkah kedua anaknya.
Mereka sedang berkumpul di ruang keluarga. Aki Musa duduk di sofa tunggal yang memang hanya digunakannya olehnya. Yusuf dan Indriani duduk di sofa Panjang. Alena berbaring dengan kepala berada di paha ibunya. Kagendra dan Sadiyah duduk di lantai di atas karpet tebal. Mereka semua sedang menyaksikan atraksi dari Faras dan Faris yang sedang bernyanyi. Setelah selesai bernyanyi Faras dan Faris membaca beberapa surat pendek Al-Qur’an yang sudah mereka hapal.
“Habat anak Ayah.” Kagendra bertepuk tangan setelah Faras dan Faris selesai membacakan hapalannya.
“Siapa dulu dong ibunya.” seru Alena dari belakang.
Kagendra beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri Alena yang sedang tiduran. Dari tadi Kagendra memang sudah ingin membalas ejekan dari adiknya itu. Kagendra langsung mengelitiki pinggang Alena hingga membuat Alena tertawa dan mengeluarkan air mata.
“Ampun, A… Ampun… Sudah ampun…” Alena memohon pada Kagendra agar menghentikan aksinya.
“Tidak akan aku ampuni sebelum kamu meminta maaf dan manjadi pelayananku selama satu hari penuh.” ucap Kagendra sambil terus menggelitiki pinggang Alena.
“Lena minta maaf tapi Lena gak mau jadi pelayannya Aa… Ibuuu tolongin Lenaa….” Alena memohon sambil terus tertawa-tawa menahan rasa geli.
“Ssttt… jangan keras-keras ngomongnya. Tante Lena itu bukan seperti si Uneh tetapi Tante Lena merasa geli karena digelitiki sama Ayah.” jawab Sadiyah.
“Ibuuu… Aa kejaaam…” teriak Lena dengan suara cemprengnya.
“Sudah atuh, A. Kasihan adik kamu. Sudah… sudah…” Indriani mencoba menangkis tangan Kagendra yang menggelitik pinggang Alena.
“Janji dulu.”
“Iya, Lena janji. Tapi satu hari saja.” akhirnya Alena menyerah juga.
Kagendra mengakhiri aksi balas dendamnya. “Makanya jangan suka melawan sama orang yang lebih tua.”
“Dasar manusia kejam.” sungut Alena kesal.
“Kejam itu apa, Bu?” tanya Faras pada Sadiyah.
“Ehm… kejam itu… apa ya…?” Sadiyah bingung memberikan arti dari kata kejam pada Faras.
“Orang yang kejam itu seperti ayah kalian.” Alena menjawab dengan perasaan yang masih kesal.
__ADS_1
“Hus, jangan mengajarkan kata-kata yang kurang baik pada anak-anak.” Indriani memperingatkan.
“Tante Lena hanya bercanda. Kejam itu artinya jahat. Kalian paham kenapa seseorang disebut jahat?” tanya Kagendra pada kedua anaknya.
“Tau, Yah. Orang jahat itu yang suka mukulin orang lain kan? Orang jahat juga yang suka maksa minta uang sama orang-orang kaya Mang Dadi.” jawab Faras teringat dengan preman pasar di desa Cibeber bernama Dadi yang memang kerap memukuli orang-orang yang menolak memberikan uang padanya.
“Iya, kalian tidak boleh menjadi orang jahat seperti itu ya?” ucap Kagendra sambil menatap sayang pada Faras dan Faris.
“Jadi kalau begini tidak jahat ya, Ayah?” tanya Faris sambil menggelitiki pinggang Kagendra.
“Eh… tidak sih… bagaimana kalau kita serang Ibu?” Kagendra menatap Faras dan Faris, mata mereka saling berkomunikasi. “Satu, dua, tiga…”
Kagendra, Faras dan Faris langsung menghambur ke arah Sadiyah dan mulai menggelitiki pinggang Sadiyah dengan jari-jari mereka.
Sadiyah tertawa-tawa menahan gelitikan dari suami dan kedua anaknya.
“Serang Ayaaah…” teriak Alena memberikan instruksi pada Faras dan Faris.
Melihat kesempatan yang ada, Sadiyah pun ikut berteriak, “Waktunya serang Ayaah…”
Mendengar komando dari tante dan ibunya, Faras dan Faris berhenti menggelitiki pinggang Sadiyah dan balik menyerang menggelitiki pinggang Kagendra. Sekarang empat orang yang terdiri dari dua orang dewasa dan dua orang anak-anak bersatu padu memberikan gelitikan pada pinggang Kagendra.
“Dasar pengkhianat cilik.” desis Kagendra yang bersiap menahan geli.
Tiga orang dewasa lain yang menyaksikan aksi konyol mereka hanya tersenyum. Mereka merasa bahagia mendengar gelak tawa di rumah yang hampir enam tahun ini jarang terdengar seperti saat ini.
“Sudah…sudah…main-mainnya… waktunya makan siang.” suara Indriani menghentikan acara saling menggelitiki.
“Ah… terima kasih dewi penyelamat. Akhirnya engkau datang juga.” Kagendra bersyukur ketika mendengar suara ibunya yang memanggil mereka untuk makan siang.
Mendengar suara nenek yang memanggil untuk makan siang, membuat Faras dan Faris menghentikan aksinya.
“Makannya sama ayam crispy, Nek?” tanya Faris.
“Iya.” Indriani tersenyum mendengar pertanyaan dari Faris. Ia sudah sangat mengetahui makanan kesukaan salah satu cucunya itu. Itulah sebabnya ia selalu membuat ayam crispy special buatannya untuk Faris.
“Aras boleh makan sama ayam crispy juga tidak, Nek?” tanya Faras.
“Nenek bikin ayam crispynya banyak. Jadi Aras dan Aris bisa makan sepuasnya.” jawab Indriani.
“Asyiik…” Faras dan Faris langsung mengekor Indriani menuju ruang makan.
Kagendra sekeluarga menginap di rumah keluarga besarnya atas permintaan Aki Musa yang masih merasa rindu dengan kedua cicitnya. Kagendra dan Sadiyah kembali ke rumah mereka untuk mengambil baju ganti dan seragam keluarga untuk pernikahan Arfian dan Keisha. Besok pagi mereka akan pergi bersama-sama dari rumah Aki Musa menuju tempat akad pernikahan Arfian dan Keisha yang akan dilangsungkan di rumah keluarga Keisha.
*********
__ADS_1
to be continued...