
Yusuf dan Indriani kembali ke ruangan dimana Kagendra masih duduk berlutut di atas lantai, sedangkan Aki Musa dan Alena berada di teras rumah mereka. Mereka berdua duduk di kursi taman dengan pikirannya masing-masing.
“Endra, kamu sudah menyadari apa kesalahan terbesar kamu?” Yusuf duduk di sofa sambil menatap tajam kearah Kagendra, emosi yang tadi meninggi sudah mulai mereda.
“Iya, Bah. Saya yang salah dan saya pantas mendapatkan hukuman lebih dari ini.” kepala Kagendra tertunduk tidak berani menatap wajah ayah dan ibunya.
“Ceraikan Sadiyah!” perintah Yusuf.
Kagendra mengangkat kepalanya demi mendengar perintah dari ayahnya untuk menceraikan Sadiyah.
“Tidak. Saya tidak akan pernah menceraikan Sadiyah.” Kagendra menatap tajam pada ayahnya, tersirat kesedihan dalam sorot matanya.
“Sadiyah sudah mendaftarkan gugatan cerai. Kamu tidak boleh egois dan serakah dengan menginginkan Sadiyah menjadi istrimu sekaligus menginginkan Natasha sebagai kekasihmu. Andaikata dari awal kamu tidak salah dalam bertindak, mungkin Sadiyah tidak akan semenderita ini hingga meminta cerai dari kamu. Tapi kamu telah memilih jalan yang salah. Kamu telah memilih Natasha sebagai perempuan yang kamu cintai.”
“Saya sudah tidak mencintai lagi Natasha. Saya sudah berniat untuk mengakhiri hubungan kami. Tapi ada suatu hal yang mengakibatkan saya belum bisa meninggalkan Natasha.” Kagendra kembali menundukkan kepala teringat dengan penyakit yang diderita oleh Natasha.
“Itu hanya alasan yang kamu buat-buat saja, Aa. Ibu tidak menyangka kalau anak laki-laki yang Ibu banggakan selama ini bisa berbuat hal yang tercela seperti ini. Apa Aa sudah lupa semua ajaran agama yang Abah dan Ibu ajarkan? Ibu sangat kecewa atas tindakan kamu kali ini. Tindakan kamu sulit untuk dimaafkan, A. Ibu mendukung permintaan Sadiyah untuk bercerai dari Aa. Ia berhak bahagia juga, mungkin nanti Sadiyah akan menemukan laki-laki yang tulus mencintainya dan menerima ia apa adanya.”
“Tapi Endra mencintai Sadiyah, Bu. Endra tidak akan pernah menceraikan Sadiyah. Kalaupun Sadiyah tetap memaksa bercerai, dia akan mendapatkan status cerai mati dari Endra.
“Aa…Aa jangan sembarangan bicara tentang kematian. Apa maksud Aa bicara Sadiyah akan mendapatkan status cerai mati dari Aa?” tangis Indriani kembali pecah. Ia duduk berlutut mensejajarkan diri dengan Kagendra yang masih berlutut di atas lantai. Indriani memukul-mukul dada Kagendra kemudian memeluk putra semata wayangnya itu.
“Abah, Ibu…Endra tidak akan pernah menceraikan Sadiyah. Endra akan memberikan bukti jika apa yang ada di dalam foto dan rekaman suara itu semuanya hanya rekayasa saja. Endra akui jika awalnya Endra dan Natasha memiliki hubungan khusus. Tapi perasaan cinta Endra pada Natasha sudah tidak ada lagi. Sekarang cinta seorang Kagendra hanya untuk Sadiyah.
“Sudah terlambat, A. kamu terlambat menyadari rasa cinta kamu pada Sadiyah. Andai saja dari awal kamu mencoba untuk menghindari Natasha mungkin nasib percintaan kamu tidak akan setragis ini. Tapi di dunia ini tidak ada kata andaikan. Sekalinya kamu berbuat kesalahan, kamu tidak bisa memutar ulang waktu." Kagendra tidak bisa menerima perkataan abahnya.
“Tidak, Bah. Endra akan berusaha untuk menemui Sadiyah dan menjelaskan semua kesalahan pahaman ini. Endra bersumpah apa yang ada dalam foto itu tidak benar. Endra tidak pernah merasa kalau perah tidur berdua dengan Natasha di kasur yang sama. Memang, Endra pernah menginap di unit apartemen Natasha. Tapi Endra yakin kalau tidak pernah berbuat sejauh itu bersama dengan Natasha. Sumpah demi Allah, kalau Endra tidak pernah berhubungan suami istri dengan Natasha. Memang Endra akui kalau pernah berciuman beberapa kali dengan Natasha tapi hanya sebatas itu. Endra juga masih tahu batasannya, Bu.” Kagendra mencoba meyakinkan kedua orangtuanya sekaligus meminta restu dan dukungan mereka untuk mendapatkan kembali cinta Sadiyah.
“Berciuman bukan dengan istri itu juga dosa, Aa.” Indriani menjewer gemas telinga Kagendra.
“Aww, sakit Bu. Iya Aa juga tahu kalau itu dosa. Tapi saat itu syetan yang mengganggu Aa terlalu banyak Bu.” Kagendra sudah mulai bisa bercanda dengan Ibunya.
“Kamu itu jangan nyalahin syetan. Itu mah kamu saja yang memang mesum” Indriani memukul lengan Kagendra.
“Aww sakit, Bu. Kena bekas pukulan Aki tadi.” rintih Kagendra sambil mengusap lengannya yang memar akibat pukulan dari akinya.
“Syukurin! Kenapa kamu tadi diam saja ketika dipukuli sama Aki. Lagaknya saja kamu seperti super hero yang kebal dari rasa sakit. Sekarang sama Ibu, keluar manjanya. Baru juga dijewer dan dipukul pelan sudah mengaduh kesakitan.” omel Indriani.
“Jimat anti sakitnya sudah habis, Bu.” canda Kagendra.
Indriani menatap wajah Kagendra dan menemukan beberapa luka baru di sana.
__ADS_1
“Ini luka kenapa? Tadi Ibu lihat Aki kamu hanya memukuli lengan, pundak dan punggung kamu. Kenapa wajah kamu juga ikut terluka.” Indriani menggoyangkan wajah Kagendra ke kanan dan ke kiri memeriksa luka yang ada di wajah Kagendra.
“Tadi pagi habis sparing sama anak buah Aa.”
“Kenapa wajah kamu bisa bonyok begitu. Masa kamu kalah oleh anak buah kamu. Bos macam apa kamu?” sindir Yusuf.
“Aa langsung lawan dua orang, Bah. Dan anak buah Aa yang sparing dengan Aa itu anak buah yang terbaik.”
“Buat apa kamu sparing lawan anak buah kamu? Seperti tidak ada kerjaan. Biasanya lawan sparing kamu itu si Fian.” tanya abah heran.
“Tidak ada rotan, akar pun jadi, Bah. Tadi pagi yang ada di hadapan Aa cuma anak buah Aa. Kalau sparing sama si Fian gak akan keburu waktunya.”
“Kamu ini ada-ada saja sih, A. Ikut Ibu ke kamar! Ibu bersihkan dan obati dulu luka-luka kamu.
“Tidak perlu, Bu. Aa mau langsung pulang saja. Nanti Aa suruh Rudi saja yang obati.”
“Kamu itu anaknya Ibu. Kalau kamu terluka harus Ibu yang obati kamu.”
“Tidak perlu, Bu. Aa mau langsung pulang saja.”
“Mau kemana kamu?” tanya Aki Musa yang sudah berdiri di depan pintu.
“Aa pulang dulu, Ki. Seperti yang sudah Aa katakan sama Abah dan Ibu. Aa tegaskan kalau Aa tidak akan pernah menceraikan Sadiyah. Aa akan buktikan kalau apa yang ada di dalam foto-foto itu tidak benar. Aa akan menemui Sadiyah dan menjelaskan semua kesalahpahaman ini.” ujar Kagendra tegas.
“Aa mau pulang? Lena yang bawa mobilnya ya A.”
“Tidak perlu. Nanti kamu pulangnya bagaimana?”
“Lena kan bisa pulang pakai taksi. Lena takut kalau di jalan nanti Aa kenapa-kenapa.”
“Tidak perlu khawatir. Aa masih kuat kalau cuma nyetir. Sudah kamu temani saja Ibu disini.”
“Nanti siapa yang bersihkan dan mengobati luka-lukanya Aa?. Aa kan sekarang sendirian di rumah.” Alena melihat kameja Kagendra yang robek dihiasi warna merah dari darah di punggung, pundak, dan lengannya.
“Gampang itu mah. Nanti Aa minta Rudi datang menemani dan mengobati luka-luka Aa.”
“Daripada minta tolong sama Rudi kan lebih baik Lena saja yang temani Aa.”
“Aa tahu kalau kamu sedang mempersiapkan sidang tesis kamu. Aa tidak mau mengganggu konsentrasi kamu.”
“Tapi kan Aa jauh lebih penting dibandingkan sidang tesis. Walaupun dalam hal ini tindakan perselingkuhan Aa memang tidak bisa dibenarkan dan Lena sangat benci akan hal itu tapi Aa masih tetap kakaknya Lena. Masa Lena abai dengan kakak sendiri.”
__ADS_1
“Sudah tidak usah berlebihan seperti itu. Jangan cerewet.” Kagendra mencubit gemas pipi Alena.
“Sakit, Aa….” protes Alena.
“Abah, Ibu…Aa pamit pulang dulu.” Kagendra mencium punggung tangan Yusuf dan Indriani.
“Jaga diri kamu jangan sampai sakit. Cepat obati luka-luka kamu jangan sampai infeksi.” Indriani mencium kening dan memeluk Kagendra.
Kagendra membalas pelukan Indriani. “Jangan terlalu erat meluknya Bu. Punggung Aa sakit.”
“Maaf kalau tadi Ibu tidak membela kamu. Kamu tahu kan kalau Ibu tidak bisa membela kamu karena kamu memang salah.
“Tidak apa-apa, Bu. Aa paham dengan tindakan yang Ibu ambil. Dalam hal ini memang Aa yang salah.”
“Abah dan Aki kamu berbuat seperti ini karena kami sangat sayang sama kamu. Perbuatan kamu ini sudah melanggar norma agama. Abah dan Aki kamu harus ambil tindakan keras seperti ini agar kamu bisa kembali ke jalan yang benar.”
“Iya, Bah. Aa paham dengan apa yang dilakukan oleh Abah dan Aki. Aa tidak akan pernah menyalahkan Abah dan Aki. Malah Aa berterima kasih sama Abah dan Aki karena sudah menghukum Aa seperti ini.” Yusuf memeluk Kagendra dan setelahnya menepuk pundak Kagendra agak keras.
“Aww…sakit, Bah.” Kagendra meringis menahan sakit di pundaknya.
“Maaf, tidak sengaja.”
Yusuf mendapatkan cubitan di perut dari istrinya.
“Abah tega ngisengin anak sendiri.” ucap Indriani sambil memelototkan mata.
“Bukan iseng, Bu. Hanya menambahkan hukuman. Tepukan lembut seperti ini tidak sebanding dengan pukulan tongkat saktinya Aki.” ujar Yusuf.
“Aa yakin mau pulang sekarang dengan keadaan seperti ini?” Indriani masih mengkhawatirkan keadaan Kagendra yang babak belur. Walaupun Kagendra sudah dewasa, dimata Indriani, ia tetaplah seorang anak yang perlu perlindungan dari ibunya.
“Yakin, Bu. Ibu jangan khawatir. Aa bukan anak kecil yang mengadu pada ibunya tatkala terluka.”
“Bagi Ibu, kamu tetap bocah nakalnya Ibu.” Indriani kembali meneteskan air matanya.
“Sudah, Bu. Jangan menangis terus. Aa pamit pulang dulu ya.”
“Kalau kamu demam atau sakit cepat telepon Ibu. Jangan abai dengan rasa sakit.”
“Iya….. Ibu cerewet.”
***********
__ADS_1
to be continued