Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
58. Sakit


__ADS_3

Jam 10 pagi, Kagendra tiba di kantornya. Segera setelah memegang ponselnya ia memeriksa apakah ada telepon dari Sadiyah. Namun Kagendra tidak melihat satu pun panggilan dari sadiyah. Ia merasa heran karena Sadiyah tidak menghubunginya kendati ia tidak pulang semalam.


Kagendra segera menghubungi ponsel Sadiyah. Setelah beberapa kali melakukan panggilan baru Sadiyah mengangkat teleponnya.


“Assalamu’alaikum, Iyah. Kamu baik-baik saja kan di rumah? Tidak terjadi hal yang buruk kan?”


“Ada apa, A?” tanya Sadiyah dengan suara yang masih terdengar serak.


“Kamu sakit?” tanya Kagendra khawatir.


“Tidak.”


“Suara kamu terdengar serak. Benar kamu tidak sakit?”


“Iyah baru bangun tidur.”


“Tumben jam segini kamu baru bangun tidur.”


“Semalam kepala Iyah sakit. Jadi tadi habis subuh tidur lagi.” jelas Sadiyah.


“Maaf Iyah. Semalam Aa tidak sempat mengabari kamu kalau Aa tidak pulang.”


“Iya tidak apa-apa A. semalam juga Iyah tidur cepat jadi tidak tahu kalau Aa tidak pulang.”


“Maaf Aa tidak ada di samping kamu ketika kamu sakit.” sesal Kagendra.


“Tidak apa-apa A, ini cuma sakit kepala biasa. Sudah dulu ya A. Iyah mau mandi dulu.”


“Kalau kamu masih sakit kepala, nanti siang pas jam istirahat, Aa pulang buat antar kamu ke dokter.”


“Tidak usah A. Iyah minum vitamin saja sudah cukup. Ini juga sudah mendingan.”


“Ya sudah. Kamu istirahat saja ya. Tidak usah masak dulu. Nanti Aa belikan makan siang untuk kamu.” tawar Kagendra.


“Tidak usah A. Nanti Iyah pesan lewat delivery saja. Aa tenang saja bekerja.”


“Baiklah kalau begitu. Kamu baik-baik di rumah ya. Kalau dirasa masih belum kuat beraktivitas kamu istirahat saja di kamar. Jangan kemana-mana.”


“Iya A. Sudah dulu ya. Assalamu’alaikum.”

__ADS_1


“Wa’alaikum…” sebelum Kagendra selesai membalas salam, Sadiyah sudah mematikan sambungan teleponnya.


Kagendra meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya. Ia merasa heran dengan sikap Sadiyah. Tidak biasanya Sadiyah bersikap setenang ini ketika Kagendra lupa tidak memberikan kabar. Biasanya Sadiyah akan marah-marah dan merajuk jika Kagendra tidak pulang dan tidak memberi kabar.


Tidak merasa tenang dengan kondisi seperti ini, Kagendra memutuskan untuk pulang dan meninggalkan berkas-berkas yang mulai menggunung lagi di atas meja kerjanya. Ia memberikan perintah pada Rudi untuk memeriksa berkas-berkas tersebut menggantikan dirinya.


Di perjalanan pulang, Kagendra mampir ke restoran untuk membeli makanan untuk makan siang dirinya dan Sadiyah.


Tiba di rumah, suasana terlihat sepi dan hening seperti tidak ada kehidupan. Setelah menyimpan kresek berisi makanan di atas meja makan, Kagendra segera menaiki tangga untuk melihat keadaan Sadiyah.


Sadiyah sedang terbaring di atas tempat tidur. Tubuhnya ditutupi selimut hingga batas dada*.


“Sayang kamu kenapa?” Kagendra duduk di sisi tempat tidur dan mengelus lembut kepala Sadiyah.


Sadiyah yang mendengar panggilan sayang pertama kalinya dari Kagendra merasa miris. Disaat Sadiyah mengetahui hubungan yang sesungguhnya antara Kagendra dan Natasha, kata sayang yang ingin Sadiyah dengar sejak dulu, malah baru diucapkan Kagendra sekarang.


Sadiyah tidak merasa bahagia dengan panggilan sayang dari Kagendra. Sebaliknya ia merasa jijik mendengar kata sayang yang meluncur dari bibir Kagendra. Ia merasa semua yang Kagendra lakukan kepadanya hanyalah pura-pura belaka.


Sadiyah memejamkan matanya dan menahan diri  sekuat tenaga agar air matanya tidak kembali keluar.


Kagendra meraba kening Sadiyah dan merasakan suhu tubuh Sadiyah sedikit tinggi.


Sadiyah tetap memejamkan matanya.


Kagendra yang melihat Sadiyah yang tidak terbangun segera pergi ke dapur dan kembali membawa sebaskom air dingin dan handuk kecil untuk mengompres kening Sadiyah.


Sadiyah dengan mata terpejamnya menyadari apa yang dilakukan Kagendra padanya setelah merasakan handuk dingin mengenai keningnya yang panas.


Tidak ingin air mata keluar dari matanya, Sadiyah segera membuka matanya dan melihat Kagendra yang sedang memeras handuk basah dan meletakkannya kembali di atas keningnya.


“Aa sedang apa?”


“Aa sedang mengompres kamu. Suhu tubuh kamu tinggi. Kamu makan dulu ya. Aa belikan bubur ayam buat kamu. Sebentar Aa ke dapur dulu untuk mengambilkan buburnya.”


Kagendra kembali ke kamar tidur dengan membawa semangkuk bubur dan segelas air mineral.


“Kamu makan dulu ya. Aa suapi.”


Kagendra menyendokkan bubur dan mendekatkannya ke bibir Sadiyah.

__ADS_1


“Biar Iyah makan sendiri saja.”


Kagendra memegang sendoknya dan tidak membiarkan Sadiyah mengambil sendoknya.


“Biar Aa yang suapi. Kamu kan lagi sakit.”


Sadiyah sudah tidak bisa lagi menahan air matanya untuk keluar.


“Kenapa kamu menangis? Terharu ya karena Aa suapi?” goda Kagendra.


Sadiyah hanya mampu menganggukkan kepalanya. Berbagai macam perasaan menghuni hatinya. Sadiyah sudah tidak paham lagi perasaan apa yang ia miliki untuk kagendra. Rasa cinta dan benci untuk Kagendra bertarung di benaknya.


“Kamu minum obat dulu ya. Setelah itu kamu bisa tidur lagi. Eh, kamu sudah sholat dzuhur belum?”


Sadiyah menggelengkan kepalanya.


“Masih sakit kepalanya?”


Sadiyah menganggukan kepalanya.


Kegendra segera menyusupkan tangannya di bawah tubuh Sadiyah dan mengangkat tubuh Sadiyah.


Sadiyah terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh Kagendra.


“Aa mau ngapain?”


“Gendong kamu ke kamar mandi supaya kamu bisa berwudhu.”


“Turunkan Iyah. Iyah bisa jalan sendiri.”


“Sudah. Jangan cerewet. Nanti kepala kamu tambah pusing kalau kamu jalan sendiri.”


Akhirnya Sadiyah membiarkan Kagendra menggendong dirinya ke kamar mandi dan membantunya untuk berwudhu. Setelah selesai berwudhu, Kagendra kembali menggendong Sadiyah dan mendudukannya di atas kasur. Kagendra menyiapkan keperluan Sadiyah untuk sholat.


“Kalau Iyah tidak kuat untuk sholat berdiri, sholatnya sambil duduk saja ya.”


Sadiyah memang merasa tidak sanggup untuk berdiri, akhirnya ia sholat sambil duduk di atas kasur.


Setelah membantu Sadiyah, Kagendra kembali ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena sejak semalam ia belum sempat mandi.

__ADS_1


*******


__ADS_2