Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
77. Mual


__ADS_3

Selama trimester pertama kehamilannya, Sadiyah tidak merasakan mual atau pusing di pagi hari seperti layaknya para perempuan yang sedang hamil muda. Selera makannya pun tidak terganggu, malah semakin banyak makan. Hanya saja, Sadiyah harus menahan keinginan ngidam seperti umumnya para perempuan yang sedang hamil dan ingin bermanja pada suaminya. Sadiyah tidak bisa seenaknya mengungkapkan keinginan untuk menyantap makanan yang dibayangkan dan diinginkan karena ia tidak ingin merepotkan Mak Isah dan Atep, putra Mak Isah yang sedang sibuk kuliah dan bekerja.


“Neng mau makan apa? Kalau Neng mengidam sesuatu, jangan sungkan untuk bilang sama Mak maupun Atep. Kalau Mak atau Atep bisa membelikan, pasti kami usahakan."


“Iyah tidak ingin makan yang aneh-aneh kok. Iyah makan yang seperti biasa saja. Apa yang ada di rumah, pasti dimakan.”


“Biasanya ibu hamil itu ingin makan yang aneh-aneh. Kalau Teteh mau makan yang tidak biasanya, bilang saja sama Atep. Kalau Teteh mau makanan dari café di kota, nanti Atep belikan sekalian Atep kuliah.”


“Gak usah, Tep. Teteh makan yang ada saja.” ucap Sadiyah. Padahal saat itu ia ingin makan martabak telur special dengan isian telur bebek dan cincang daging sapi. Sadiyah menekan keinginannya karena tidak ingin menyusahkan Mak Isah dan Atep. Lagipula ia tidak mempercayai anak-anaknya akan ngences kalau keinginannya tidak terpenuhi.


“Jangan sungkan, Teh. Atep bakal marah kalau Teteh masih merasa sungkan sama Atep.” ancam Atep.


“Ya sudah, kalau kamu pulang kuliah, belikan saja martabak telur yang ada di jalan depan.” pinta Sadiyah.


“Teteh yakin cuma mau martabak telur saja? Tidak sekalian dengan martabak keju coklatnya?” tanya Atep dengan senyum mengoda.


“Kamu mah sering menggoda begitu. Teteh kan jadinya tergoda.” protes Sadiyah yang sepertinya tergoda dengan tawaran dari Atep.


“Jadi sekalian martabak keju coklatnya?” Sadiyah menganggukkan kepala dengan semangat. “Keju coklat special?”


“Ateeep…” Sadiyah berteriak kesal karena Atep terus menggodanya. Ia tidak ingin berat badannya bertambah banyak karena kehamilan dengan janin kembar walaupun ia yakin bahwa hamil dengan bayi kembar itu berbeda dengan hamil hanya satu bayi. Perutnya akan terlihat lebih besar dan pasti berat badannya pun akan bertambah lebih banyak.


Sadiyah bersyukur karena selama trimester pertama yang banyak orang bilang menyusahkan ternyata tidak berlaku padanya. Ia merasa baik-baik saja dan jarang mual di pagi hari. Selera makannya pun tidak berkurang malah bertambah. Hal sebaliknya terjadi pada Kagendra. Setiap pagi Kagendra mengalami mual-mual. Begitupun dengan selera makannya yang menurun drastis. Selain karena tidak bisa lagi menikmati masakan hasil olahan istrinya, rasa mual yang dialami oleh Kagendra tiap pagi semakin mengurangi selera makannya.


Berat badan Kagendra turun dengan drastis. Dengan tinggi badan 180 cm, berat badan yang tadinya ideal sekitar 72-73 kilogram, sekarang hanya sekitar 65 kilogram. Selama satu bulan, Kagendra kehilangan berat badan hingga 8 kilogram. Hal ini membuat ibu dan adiknya khawatir. Ibu selalu berusaha membuat makanan kesukaan Kagendra tapi masakan buatan dari ibu hanya sedikit saja disantapnya.


Pagi itu, Alena datang berkunjung dikala Kagendra sedang muntah di wastafel dapur. Setelah makan dua sendok oatmeal untuk sarapan, ia tidak sempat pergi ke kamar mandi karena rasa mual tiba-tiba menyerang.


“Aa kenapa?” Alena segera melemparkan tas ransel yang dibawanya ke atas sofa dan meletakkan rantang berisi nasi, sayur dan ayam goreng di atas meja makan. Kemudian ia menghampiri Kagendra dan membantu dengan memijit tengkuknya.


Kagendra memuntahkan kembali dua sendok oatmeal yang tadi dimakannya hingga cairan asam dan pahit ikut keluar.


“Aa kenapa sampai muntah-muntah begini?”


Alena mengambil minyak kayu putih dari kotak P3K yang menempel di dinding dapur dan mengusapkan ke tengkuk, dada dan perut Kagendra.


“Aa gak suka sama baunya.” protes Kagedra ketika Alena membalurkan minyak kayu putih pada tubuhnya.

__ADS_1


“Walau tidak suka sama baunya tapi tidak bikin Aa mual lagi kan?”


“Hmm…” Kagendra menganggukkan kepala.


“Mau Lena kerik punggungnya?”


Kagendra menggeleng. Raut wajahnya berubah menjadi semakin sedih karena ia teringat dengan Sadiyah yang suka kerikan jika mual atau sakit badan. Air mata mulai menggenang tapi ia menghapusnya dengan kasar, ia benci dengan keadaan dirinya sekarang yang sangat rapuh.


“Aa ke kamar dulu.” pamit Kagendra.


Di kamar mandi, Kagendra membasuh wajah. Air mata mulai memaksa untuk keluar tapi ia tahan sekuat tenaga hingga dadanya terasa begitu menyesakkan. Cermin di hadapannya menampilkan sosok Kagendra yang berbeda, seorang pria dewasa yang menyedihkan dengan bentuk wajah tirus dan kusam. Kagendra membenci sosoknya yang seperti ini. Ia menghancurkan cermin di hadapannya dan darah segar langsung merembes keluar dari buku-buku jarinya.


Alena yang mendengar suara benda yang pecah dari arah kamar mandi di kamar Kagendra langsung berlari dan menemukan Kagendra yang sadang muntah di wastafel. Pecahan kaca berserakan di atas lantai. Darah mengucur dari tangan kanan Kagendra menetes mengotori lantai dengan warna merah darah. Kaki Kagendra pun terkena pecahan kaca hingga lantai kamar mandi dihiasi pula oleh tapak kaki berwarna merah darah.


“Kenapa seperti ini, A?” Alena memeluk Kagendra dari belakang. “Jangan seperti ini, A!” air mata Alena membasahi punggung Kagendra. “Aa harus kuat dan sabar. Jangan lemah seperti ini.”


Satu menit Kagendra membiarkan Alena menangis. Sebenarnya ia pun ingin menangis tapi ia tidak bisa terus menangis di hadapan adiknya. Biarlah ia menangis dalam kesendiriannya.


Setelah berhasil menghentikan tangisannya, Alena memegang tangan Kagendra yang terluka.


“Aa diam dulu di sini. Jangan berjalan dulu. Lena ambil sapu dulu buat membersihkan lantai. Ingat! Jangan jalan dulu, nanti lukanya semakin dalam.”


“Lena pakai sandal. Gak akan keca pecahan kaca. Tidak seperti Aa yang telanjang kaki. Jangan sok kuat. Tubuh Aa ini terbuatnya dari daging bukan besi, kalau kena pecahan kaca bakal berdarah. Jangan suka menyakiti diri.”


“Iya…iya…dasar cerewet.”


Setelah Alena berlalu, Kagendra mulai membersihkan kekacauan yang sudah ia buat. Pecahan kaca yang bisa dipungutnya dengan tangan ia kumpulkan jadi satu. Alena kembali dengan membawa sapu dan pengki.


“Jangan dipungut sama tangan. Nanti tangannya tambah luka. Aa ini nyebelin banget sih.” omel Alena.


“Tidak akan, Len. Kamu kok jadi cerewet begini?”


“Lena cerewet karena Aa yang susah dibilangin. Kenapa sih keras kepala?”


Kagendra hanya terkekeh menanggapi protes Alena.


Alena membersihkan luka Kagendra dengan hati-hati dan mengoleskan salep antiseptik agar tidak infeksi.

__ADS_1


“Sudah tidak mual-mual lagi?”


Kagendra menggelengkan kepala. “Setiap pagi selalu mual dan muntah. Aa juga tidak tahu kenapa. Mungkin karena stress, tubuh Aa bereaksi seperti ini.”


“Sudah berapa lama mual-mual seperti ini? Sudah ke dokter? Apa kata dokternya?”


“Sudah hampir satu bulan, tiap pagi Aa mual dan muntah.”


“Haaa… sudah satu bulan sakit kenapa tidak bilang sama Lena?”


“Kenapa harus lapor sama kamu?”


“Dasar nyebelin.” Alena mencebik.


“Aa memang menyebalkan. Istri sendiri saja sampai kabur karena tidak tahan dengan sikap menyebalkan Aa. Iya kan?” Kagendra berkata sambal tertawa miris.


“Makanya berhenti jadi orang yang menyebalkan.” ucap Alena lirih.


“Hmmm…”


“Oh iya, jadi kata dokter sakit apa?”


“Tidak sakit apa-apa. Mungkin karena kelelahan saja.”


“Mual dan muntah setiap pagi seperti perempuan yang hamil muda saja.” goda Alena.


“Mungkin ini hukuman buat Aa. Rasa sakit yang Aa rasakan pasti tidak sebanding dengan rasa sakit yang Iyah rasakan karena kelakuan Aa yang menyebalkan. Aa adalah laki-laki yang berengsek. Aa tidak pantas untuk hidup bahagia tanpa Iyah.”


“Jangan berpikir seperti itu, A. Kalau Aa benar-benar bertobat dan menyesali kesalahan yang pernah Aa perbuat, Aa berhak untuk mendapatkan maaf dari Teh Iyah. Teh Iyah itu perempuan yang sangat baik. Dia pasti mengerti dan memaafkan jika Aa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


“Tapi banyak yang bilang kalau perempuan itu mungkin memaafkan tapi tidak pernah melupakan. Mungkin


Iyah akan memaafkan Aa tapi dia tidak akan lupa kalau Aa itu orang yang berengsek.”


“Hehehe…iya sih.” reaksi Alena membuat semangat Kagendra Kembali menurun.


**********

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2