Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
37. Belanja Bersama


__ADS_3

Sadiyah dan Kagendra telah berada di sebuah supermarket yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat mereka tinggal. Sadiyah sedang memilih-milih sayuran segar sedangkan Kagendra asyik mendorong kereta belanjaan di samping Sadiyah.


Inilah salah satu momen yang diharapkan Sadiyah hadir di tengah rumah tangga yang awalnya memang tidak dilandasi saling mencintai. Momen dimana istri memilih barang yang akan dibeli dengan suami yang  membawa keranjang belanjaan mereka mendampingi istrinya untuk berbelanja.


Sadiyah berharap agar momen-momen seperti ini kerap hadir dalam rumah tangganya. Ia berdo’a semoga rumah tangganya menjadi rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah.


“Sudah selesai belanjanya?” rengut Kagendra kesal karena melihat barang-barang dalam troli belanjanya sudah menggunung tapi belum ada tanda-tanda dari Sadiyah untuk mengakhiri kegiatan berbelanjanya.


“Sekalian belanja kebutuhan yang lain A.  Mumpung ditemani Aa belanjanya, jadi ada yang membantu membawakan kantong belanjaannya.” sahut Sadiyah santai.


“Dasar perempuan.” dengus Kagendra.


“Suruh siapa ikut belanja.” desis Sadiyah sambil berlalu dari lorong peralatan mandi.


Mereka tiba di depan kasir dengan barang-barang belanjaan mereka yang menggunung di atas troli belanja yang besar.


“Aa yang bayarin ya” pinta Sadiyah pada Kagendra.


“Enak saja. Kan sudah saya kasih uang bulanan, eh mingguan. Memangnya uang jatah mingguannya sudah habis?” tanya Kagendra.


“Dasar pelit.” gumam Sadiyah pelan sambil mengeluarkan kartu debitnya.


Setelah Sadiyah selesai membereskan transaksi, Kagendra melihat tiga kresek besar di hadapannya.


“Bagaimana cara membawa tiga kresek besar ini. Tempat parkir juga jauh dari sini. Kamu tega nyuruh saya membawa tiga kresek yang super big ini?” keluh Kagendra.


“Taruh kereseknya di trolinya terus dorong trolinya sampai tempat parkir. Dorong sampai ke dekat mobil kita. Baru pindahkan kreseknya ke bagasi mobil.” Sadiyah memberikan instruksi secara mendetail seakan-akan Kagendra tidak tahu cara mendorong troli sampai tempat parkir.


“Tidak usah menyindir seperti itu. Ini kan pertama kalinya saya belanja sebanyak ini.” sungut Kagendra kesal.


“Siapa yang menyindir? Saya kan hanya memberitahu caranya saja. Kenapa jadi marah-marah. Siapa juga tadi yang bilang mau ikut belanja.” sahut Sadiyah sambil berlalu dari hadapan Kagendra yang masih terbengong-bengong.


Kagendra mendorong trolinya sampai tempat parkir dan memindahkan tiga buah kantong kresek yang super besar itu ke dalam bagasi mobilnya. Sadiyah tersenyum bahagia melihat momen yang terjadi di depan matanya. Dadanya terasa sesak karena jantungnya berdetak secara tidak normal. Sepertinya ia semakin jatuh ke dalam pesona seorang Kagendra.


“Kita makan siang dulu.” ujar Kagendra ketika ia mulai menjalankan mobilnya.


“Loh katanya ingin makan masakan saya. Kenapa sekarang malah ngajak makan siang?” tanya Sadiyah heran.


“Kamu kira sekarang jam berapa?”


Sadiyah melihat jam tangan di pergelangan tangan kanannya. Dan terkejut melihat jarum pendek yang menunjuk hampir ke angka satu.


“Astaghfirulloh. Berarti kita belanjanya hampir dua jam lebih. Gak kerasa ih.”


“Kamu yang tidak merasa. Kalau saya terasa sekali pegal dan kesal ngekorin kamu belanja.” sahut Kagendra sedikit kesal.


“Hehehe…maaf A.” Sadiyah terkikik melihat raut wajah kesal suaminya.


“Kalau saya nunggu kamu masak. Bisa-bisa maag saya kambuh.” Kagendra masih dalam mode kesal.

__ADS_1


“Iya…iya maaf Aa.” sesal Sadiyah.


“Kita mau makan di mana?” tanya Sadiyah


Kagendra membelokkan mobilnya ke restoran sunda.


“Di sini saja.” sahut Kagendra.


“Okaaaay…..” seru Sadiyah.


“Semangat banget kamu mau makan di restoran. Senang karena terbebas dari keharusan memasak.” tanya Kagendra.


“Aa tau aja.” sahut Sadiyah yang tanpa sengaja berkata dengan nada suara manjanya.


Kagendra memandang wajah Sadiyah yang dihiasi senyuman, sepertinya Kagendra tertular virus kebahagian dari Sadiyah sehingga kedua sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk senyuman.


*************


Setelah sampai di basemen gedung apartemen mereka, Sadiyah segera turun dan mengambil satu kresek besar yang berisi makanan ringan. Sedangkan ia membiarkan sisa dua kresek besar lainnya untuk dibawakan oleh Kagendra.


“Aa bawa dua kresek yang itu ya. Saya bawa yang ini.” Sadiyah berkata sambil berlalu meninggalkan Kagendra. Ia mengulum senyumnya.


Kagendra menenteng dua kresek lainnya yang cukup berat berisi bahan-bahan untuk memasak dan barang-barang lainnya.


Sesampainya di unit mereka, Kagendra langsung menyimpan dua kresek besar itu di atas meja bar. Ia merasakan tangannya seperti mau copot saking beratnya kresek yang harus ia bawa dari basemen parkir ke unitnya yang berada di lantai lima.


Kagendra menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


“Gak usah tanya. Berisik.” sahut Kagendra ketus.


“Ditanya baik-baik malah marah.” ujar Sadiyah lagi sambil mengasongkan segelas air sirup dingin.


“Sudah tahu berat, masih tanya.” Kagendra mengambil segelas sirup dari tangan Sadiyah dan langsung menghabiskannya hingga tandas.


“Ih main habisin saja. Memangnya saya bikin buat Aa.” goda Sadiyah.


Kagendra langsung melayangkan tatapan tajamnya.


“Becanda, A.” Sadiyah terkikik menahan tawa sambil mengambil gelas kosong dari tangan Kagendra.


“Mau lagi?” tanya Sadiyah.


“Gak.” sahut Kagendra ketus.


“Gitu aja marah. Dasar cowok bengis gak punya selera humor. Dibecandain segitu aja marah.” omel Sadiyah dengan suara rendah.


“Dosa kalau seorang istri mengumpat pada suaminya.” sindir Kagendra.


“Siapa yang mengumpat Aa sayaaaang….eh.” Sadiyah langsung menutup mulutnya dengan tangan. Wajahnya berubah warna merona memerah.

__ADS_1


Wajah Kagendra dihiasi senyuman karena mendengar Sadiyah yang keceplosan menyebutnya sayang. Dada* kirinya pun berdenyut sedikit kencang.


“Sadiyah.” Kagendra memanggil istrinya.


“Apa, A?” sahut Sadiyah dari arah dapur.


“Sini dulu.” pinta Kagendra dengan suara yang sudah tidak teriak-teriak lagi seperti biasanya.


Sadiyah melap tangannya yang basah dengan lap dan berjalan menuju ruang tengah menuruti panggilan Kagendra.


“Duduk sini.” perintah Kagendra.


Sadiyah duduk di sofa di samping Kagendra.


“Besok kita mulai bereskan barang-barang untuk pindah ke rumah.”


“Eh, bukannya dua hari lagi kita pindahnya.” tanya Sadiyah heran.


“Saya bilang dua hari itu kan kemarin, jadi artinya besok kita pindah.” jelas Kagendra.


Sadiyah terdiam sambil memikirkan kata-kata Kagendra.


“Iya juga ya. Hehehe..” Sadiyah menyadari kebodohannya.


Kagendra tersenyum melihat raut wajah Sadiyah yang baru menyadari kesalahannya. Menurut Kagendra wajah Sadiyah yang seperti itu terlihat lucu dan imut.


Kagendra memalingkan wajahnya karena menyadari bibirnya terangkat membentuk senyuman. Ia masih gengsi memperlihatkan raut wajah bahagianya di depan Sadiyah.


“Kita bawa pakaian saja kan?” tanya Sadiyah.


“Ya.” jawab Kagendra singkat.


Sadiyah segera berdiri dan memasuki kamar mereka untuk membereskan pakaian mereka dan memasukkannya ke dalam koper.


Kagendra mengekor Sadiyah berjalan menuju kamar mereka.


“Bereskan saja pakaian kamu. Pakaian saya biar besok sekretaris saya yang membereskannya.” ujar Kagendra sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.


“Siap, A.” jawab Sadiyah.


Setelah satu jam berkutat membereskan semua barang-barang yang ada di kamar. Sadiyah tertegun di depan koper yang masih terbuka dengan tumpukan pakaian sedangkan pakaiannya di dalam lemari masih tersisa beberapa potong.


“A, sepertinya pakaian saya tidak muat dimasukkan semuanya ke dalam koper. Padahal ini sudah 2 koper penuh.” Dengan wajah kelelahan, Sadiyah berdiri di depan lemarinya.


“Ya tidak perlu langsung semuanya dibawa. Nanti kita bisa balik lagi.” jawab Kagendra santai yang tatapannya pada ponselnya tidak beralih.


“Bilang kek dari tadi kalau beberesnya gak usah sekaligus.” Sadiyah kesal dengan jawaban santai dari Kagendra.


Kagendra yang mendengar kekesalan Sadiyah menyunggingkan senyumnya. Membuat Sadiyah kesal mungkin sudah menjadi hobinya sekarang. Ia senang melihat wajah kesal Sadiyah yang terlihat imut di matanya.

__ADS_1


************


to be continued...


__ADS_2