
“Sebagai seorang kakak laki-laki, aku juga berkewajiban untuk menjaga adik perempuanku satu-satunya. Aku minta sama kamu untuk memperlakukan Lena dengan baik. Jangan sakiti dia seperti dulu aku pernah menyakiti Iyah.”
“A Endra percaya sama saya?” tanya Atep gugup.
“Aku percaya kamu laki-laki baik yang akan memperlakukan perempuan dengan baik,” Jawab Kagendra yakin.
“Tapi bisa saja saya tidak sesuai dengan harapan Aa dan juga keluarga Aa. Saya baru lulus kuliah dan belum punya penghasilan tetap. Saya juga bukan berasal dari keluarga menak seperti keluarga Aa ataupun keluarga Teh Iyah. Saya takut kalau saya tidak sesuai dengan harapan kalian.” Atep mengungkapkan kekhawatirannya.
“Iyah banyak cerita tentang kamu. Tentang kontribusi kamu pada bisnis-bisnisnya. Juga tentang kamu yang sedang merintis usaha sendiri. Jika apa yang diceritakan oleh Iyah tentang kamu itu benar adanya maka tidak ada masalah bagi keluarga kami.”
“Saya khawatir akan jadi masalah di kemudian hari.”
“Masalah seperti apa?”
“Saya menyadari jika Lena sudah hidup enak sejak kecil. Saya khawatir jika nanti dia menikah dengan saya, dia tidak akan terbiasa dengan hidup sederhana yang saya jalani.”
“Lena bukan tipe perempuan matrealistis. Kami tidak dididik secara bermewah-mewahan. Walaupun nanti pasti ada perbedaan kebiasaan, itu tugas kamu sebagai suami untuk membimbing Lena supaya bisa jadi istri yang salehah. Aku percaya kamu bisa melakukannya.”
“Terima kasih atas kepercayaannya. Tapi saya belum yakin kalau Lena bisa dan mau menerima saya. Sekarang saja dia masih suka marah-marah kalau ketemu sama saya.” Atep mengungkapkan kekhawatirannya pada Kagendra.
“Sepertinya kamu harus belajar lagi trik menghadapi perempuan. Menghadapi perempuan itu gampang-gampang susah. Kadang kita dibuat jengkel sama sikap mereka yang tidak jelas. Kamu tadi lihat kan bagaimana sikap Teteh kamu?” Kagendra terkekeh.
“Iya, Lena juga sering marah-marah tidak jelas. Kalau ditanya suka bilang terserah tapi marah kalau kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Pas dia sakit, saya tanya dia mau makan apa, malah dijawab terserah. Saya kan….”
“Eh, tunggu! kenapa kamu bisa tahu kalau dia pernah sakit?” selidik Kagendra.
“Eh… ehm…” Atep gugup melihat tatapan tajam Kagendra.
“Ceritakan dengan jelas dan rinci!” perintah Kagendra.
“Ehm, tapi A Endra jangan marah kalau saya menceritakan kejadian saat Lena sakit,” pinta Atep.
“Ya… Cepat ceritakan! Jangan banyak basa-basi tidak jelas.”
Atep menceritakan kejadian ketika Alena sakit. Mulai dari saat ia melihat Alena yang hampir pingsan di tempat parkir sampai saat ia bermalam di unit milik Alena.
“Sialan! Kenapa kamu tidak mengabari kami?” umpat Kagendra.
“Mana saya tahu kalau Lena itu adik A Endra. Saya juga baru tahu Lena itu adik Aa pas kemarin dikenalkan sama Teh Iyah,” kata Atep membela diri.
__ADS_1
“Kamu menginap di apartemen Lena?”
“Hm…” Atep mengangguk.
“Kamu sudah melakukan apa saja sama Lena, hah?” suara Kagendra yang meninggi ditambah gebrakan tangannya pada meja membuat Atep terbelalak kaget.
“Tidak melakukan apa-apa, A. Lena kan sedang sakit. Saya cuma membantu menggendong dia sampai ke unitnya lalu menemani dia sampai dia bisa ditinggal. Saya sudah menanyakan orang yang bisa dihubungi tapi Lena menolak. Dia malah marah sama saya karena saya tidak ikhlas menemani dia. Ya sudah saya terpaksa menginap di apartemennya. Itu juga cuma satu malam. Besok paginya juga saya pulang,” jelas Atep.
“Terus apa maksud kamu gendong-gendong si Lena?”
“Lah kan saat itu Lena kena vertigo dan susah buat jalan sendiri. Ya sudah saya bantu gendong.”
“Jadi kamu pegang-pegang badan si Lena, hah?” tanya Kagendra sambil membentak.
“Ya kalau tidak pegang mana bisa saya gendong dia,” jawab Atep santai.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Aku musti lapor sama Abah. Biar kalian cepat-cepat dinikahkan.”
“Eh, jangan gitu juga A. Nanti Lena marah sama saya kalau Aa lapor sama Abah. Please, jangan lapor A. Saya yang nanti kena marah karena cerita masalah dia sakit ke A Endra.” Atep memelas minta kebijakan pada Kagendra.
“Dasar anak nakal. Sudah kubilang untuk tinggal bersama kami, malah keras kepala mau tinggal sendiri. Ketika sakit yang jagain bukan mahromnya. Untung saja kamu tidak khilaf.”
“Jangan tertawa kamu!” bentak Kagendra.
“I-iya, A. Maaf,” cicit Atep.
“Iyaah!” Kagendra berteriak memanggil istrinya.
“Apa sih teriak-teriak? Berisik!” Sadiyah datang tergopoh-gopoh dari dalam rumah sambil membawa sepiring singkong dan ubi rebus diikuti oleh asisten rumah tangga mereka yang membawa dua gelas air teh.
“Ini nih adik kamu. Seenaknya tidur di apartemen Lena.”
“Apaaa?”
“Gak usah teriak-teriak,” tegur Kagendra pada istrinya.
“Siapa yang bilang, A?” tanya Sadiyah pada suaminya.
“Tuh, adik kesayangan kamu.” Kagendra menunjuk Atep.
__ADS_1
“Beneran, Tep? Kamu menginap di apartemennya Lena?” tanya Sadiyah seraya melotot.
“Ya begitulah,” jawab Atep asal.
“Ya begitulah bagaimana sih? Kenapa kamu bisa menginap di apartemen Lena? Kalian ngapain berduaan di sana, hah? Gak berbuat mesum kan?” selidik Sadiyah.
“Astaghfirullah. Teteh jangan menuduh begitu. Atep cuma menemani Lena yang sedang sakit,” jawab Atep tidak terima dengan tuduhan Sadiyah.
“Ya habisnya kamu gak jelas sih ngomongnya. Yang namanya laki-laki dan perempuan bukan mahrom menginap dalam satu tempat itu tidak diperbolehkan. Kalau kamu berbuat begitu di desa bisa digerebek sama warga terus diarak dan dinikahkan langsung. Dasar kamu itu seperti tidak tahu adat saja,” Sadiyah menggerutu panjang lebar.
“Bukannya begitu Teh. Atep kasihan sama Lena karena tidak ada yang menemani ketika sakit.”
“Pas Lena sakit itu kamu yang menemani dia?” tanya Sadiyah.
“Ya begitulah,” kemudian Atep mulai menceritakan kejadian saat Alena sakit dan bagaimana dia sampai menginap di apartemennya.
“Kalian sudah berbuat sejauh itu kenapa tidak cerita sama kami, hah?” bentak Sadiyah.
“Berbuat jauh bagaimana maksud Teteh? Atep sama Lena tidak melakukan apapun yang di luar batas. Atep cuma menolong Lena,” kata Atep membela diri.
“Kenapa pas Teteh kenalkan kalian tidak cerita kalau kalian sudah saling mengenal bahkan sudah pernah bermalam bersama. Kenapa malah pura-pura tidak pernah kenal sebelumnya?” cecar Sadiyah.
“Kalau Atep cerita, takut Lena marah. Kan Teteh tahu sendiri bagaimana galaknya Lena. Hampir tiap ketemu sama Atep, Lena selalu marah sama Atep. Makanya pas Teteh kenalkan Lena ke Atep dan ada rencana menjodohkan kami, Atep khawatir Lena akan menolaknya.”
“Memang dia nolak. He-he-he,” kekeh Sadiyah. “Tapi kan kamu tahu sendiri, Tep. Kalau apa yang dikatakan oleh perempuan itu seringnya tidak sesuai dengan kata hatinya. Mulutnya memang menolak tapi hatinya kan siapa yang tahu.”
“Kamu banget, kan?” sindir Kagendra.
“Apa sih, A? nyambung aja,” kesal Sadiyah karena keceplosan bicara kenyataan.
“Kamu bilang kalau perkataan perempuan sering tidak seirama dengan kata hatinya. Kamu juga seperti itu, kan?”
“Iyah gak seperti itu?”
“Jadi kamu bukan perempuan, huh?” Kagendra menaikkan sebelah alisnya.
“Aa gak usah ikut campur. Iyah lagi bicara sama Atep bukan sama Aa.”
*******
__ADS_1
to be continued...