
Setelah selesai sholat subuh, Sadiyah mengunci diri di kamar tidur yang lainnya. Ia tidak ingin melihat wajah Kagendra. Tidak dipedulikannya sarapan yang seharusnya ia siapkan tiap pagi. Sekarang ini, Sadiyah merasakan hatinya hancur luluh lantak dan ia merasa harga dirinya telah dinjak-injak oleh Kagendra. Kagendra tidak menghargainya sebagai istri, bahkan tidak menghargai ia sebagai seorang manusia. Sejak selesai sholat shubuh tadi tak hentinya air mata mengucur dari mata beningnya.
Yang membuat Sadiyah semakin kesal adalah karena sikapnya yang tidak bisa menolak. Ia sadar bahwa seharusnya ia lebih gigih lagi untuk mempertahankan dirinya tapi ia takut dosa jika tidak memenuhi hak dari suaminya. Malam itu ia berada dalam situasi yang mebuatnya dilema. Di satu sisi ia harus mau memenuhi hak suaminya tapi disisi lain, akalnya menolak. Akalnya menolak diperlakukan seperti itu. Selain membenci perbuatan Kagendra, Sadiyah juga membenci tubuhnya yang mengkhianati akal sehatnya. Tubuhnya menerima dengan rela terhadap apa yang dilakukan oleh suaminya itu dan karena itu Sadiyah membencinya.
Kagendra tidak melihat Sadiyah setelah ia kembali dari kegiatan lari paginya. Ia mencari Sadiyah di kamar tidur tapi tidak menemukan Sadiyah di sana. Lalu ia mengecek ke kamar mandi dan juga tidak menemukannya. Kagendra berteriak memanggil-manggil Sadiyah tapi ia tidak mendapatkan sahutan. Akhirnya ia mencoba membuka kamar tidur lainnya yang ada di unit apartemennya itu. Kagendra berusaha membuka pintunya tapi sepertinya terkunci dari dalam. Ia yakin Sadiyah ada di dalam kamar itu. Kagendra mengetuk pintu kamar itu tapi tetap tidak ada sahutan. Akhirnya, Kagendra membiarkan saja. Ia menyiapkan pakaian kerjanya sendiri dan pergi ke kantor tanpa sarapan.
*************
Flashback
Sejak pagi hingga siang menjelang makan siang, berkas-berkas yang harus diperiksa oleh Kagendra masih saja menumpuk di atas meja kerjanya. Ia merasakan perutnya yang mulai meronta merasakan lapar yang luar biasa. Kagendra merasa rindu dengan masakan buatan dari istrinya yang selama satu minggu lebih ini tidak ia nikmati karena ulahnya sendiri yang menyuruh Sadiyah untuk tidak lagi mengantarkan makan siangnya ke kantor.
Melihat berkas-berkas yang masih saja menggunung membuat kepala Kagendra sakit. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah makan yang dekat dengan kantornya. Ia masih merasa gengsi untuk meminta Sadiyah membuatkan dan mengantarkan makan siangnya.
__ADS_1
Siang ini, tidak seperti biasanya, Natasha tidak mengunjunginya di kantor sehingga ia memutuskan untuk makan siang bersama sekertarisnya saja.
Sesampainya di sebuah restoran makanan sunda yang menjadi favoritnya, Kagendra sudah duduk manis menunggu pesanannya datang. Karena ia meninggalkan ponsel di ruangannya otomatis ia tidak bisa membuka ponselnya untuk sekadar surfing atau browsing di dunia maya sambil menunggu makanan pesanannya tiba. Kagendra melayangkan pandangannya ke seluruh sudut restoran, hal yang sering ia lakukan untuk mengamati berbagai macam ekspresi orang-orang yang berada di dalam restoran tersebut. Hal ini adalah kebiasaan yang ia lakukan sejak ia bekerja menjadi pegawai magang saat kuliah dulu. Pekerjaannya hanya mengamati ekspresi dari orang-orang yang ada di sekelilingnya, apa yang mereka lakukan saat menunggu, saat bertemu dengan orang lainnya, dan ekspresi lainnya. Kebiasaan ini masih berlanjut hingga sekarang, ketika ia sedang berada di keramaian dan sedang tidak ada aktivitas yang dia kerjakan, maka ia akan mengamati orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Kebiasaan mengamati ini juga yang mengantarkan Kagendra untuk menjadi seorang mata-mata atau pengintai dan sekarang ia memiliki agensi rahasia selain perusahaan advertising yang ia miliki sekarang. Banyak klien yang menggunakan jasanya, dari mulai pejabat, artis, ataupun pengusaha-pengusaha besar yang selalu puas dengan hasil pekerjaannya.
Tatapan Kagendra berhenti pada seorang perempuan yang berada sedikit jauh dengan lokasinya tempat duduknya sekarang. Walaupun agak jauh, Kagendra yakin bahwa perempuan berjilbab yang sedang bersama seorang laki-laki yang tidak ia kenal itu adalah istrinya. Ia melihat istrinya sedang mengobrol dengan pria tak dikenal itu yang sesekali tertawa dan tersenyum. Dengan senyum dan tawa yang hadir di wajah Sadiyah, tampak sekali jika perempuan itu bahagia. Tidak terlihat kesedihan dari wajah perempuan yang suaminya ketahuan berselingkuh.
Kagendra merasakan dadanya sesak dan jantungnya bertalu dengan kencang. Ada emosi yang bergejolak dan menggelegak di dalam dadanya. Ia mengepalkan tangannya dan hendak melabrak istrinya yang sedang tertawa bahagia bersama lelaki lain.
“Mau kemana, Bos?” tanya Rudi, sekertarisnya, ketika ia melihat Bosnya berdiri dari duduknya.
Pandangan tajam Kagendra masih tertuju pada Sadiyah dan laki-laki itu.
__ADS_1
“Bos, makanannya sudah ada.” Rudi kembali mengingatkan Bosnya itu.
Kagendra kembali duduk dan membuang nafasnya dengan kasar. Ia menatap tajam pada sekertarisnya.
“Saya tidak lapar. Kamu makan saja sendiri.” bentak Kagendra.
Rudi hanya bisa menatap Bosnya itu dengan tatapan heran. “Tadi bilang lapar sampai memesan banyak makanan. Sekarang bilang tidak lapar. Dasar Bos labil.” umpat Rudi dalam hatinya saja karena ia tidak mungkin berani mengumpat atasannya itu langsung.
Kagendra kembali melayangkan pandangannya ke arah meja tempat Sadiyah dan laki-laki itu berada tapi ia sudah tidak menemukan mereka di meja tersebut. Dengan kalap, ia menajamkan pandangannya ke seluruh area restoran. Ia menemukan Sadiyah dan laki-laki itu sedang berjalan menuju pintu keluar restoran.
Kagendra segera beranjak dari tempat duduknya, tidak dipedulikan lagi rasa laparnya. Ia berusaha untuk mengejar Sadiyah dan laki-laki itu. Sesampainya di tempat parkir, ia menelusuri area parkir dengan matanya. Ketika Kagendra melihat sosok istrinya yang hendak masuk ke dalam mobil, ia berlari kencang menuju mobil yang mulai bergerak maju. Mobil itu tak terkejar, tapi ia berhasil mengingat nomer plat mobil tersebut.
Kagendra kembali masuk ke dalam restoran. Ia melihat sekertarisnya yang sedang lahap memakan hidangan yang tersedia di meja. Perutnya yang lapar kembali memberontak. Walaupun selera makannya sudah menghilang begitu saja tapi ia tidak mau sakit gara-gara penyakit maagnya kambuh. Ia paksakan makan walaupun tidak berselera.
__ADS_1
**************