Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
66. Amarah Kagendra


__ADS_3

Ketika sampai di depan rumahnya, Kagendra melihat rumahnya sudah terang dengan cahaya lampu. Jam menunjuk ke angka 12, waktu yang sudah sangat larut.


Kagendra membuka pintu rumahnya dengan kunci cadangan yang ia bawa.


Segera setelah menutup kembali pintu rumah dan menguncinya, Kagendra langsung menuju lantai dua ingin segera menemui Sadiyah. Ia yakin Sadiyah sudah tidur karena beberapa lampu di dalam rumah tidak menyala.


Setelah sampai di depan pintu kamar, kagendra membuka pintu dengan perlahan karena tidak ingin membangunkan Sadiyah yang sudah tertidur.


Batapa terkejutnya Kagendra katika ia tidak menemukan Sadiyah di kamar mereka. Kamar mereka sekarang ini gelap gulita tanpa adanya penerangan lampu, hanya mengandalkan sinar lampu dari luar.


Kemudian Kagendra membuka pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka. Seperti yang sudah diduganya, Sadiyah juga tidak berada di kamar mandi.


Dengan kekalutan yang luar biasa, Kagendra segera melakukan panggilan pada Alena untuk menanyakan keberadaan Sadiyah. Ia tidak menghubungi Abah atau Ibunya karena tidak ingin mengganggu mereka dan membuat kehebohan.


Alena mengangkat telepon setelah Kagendra beberapa kali melakukan panggilan.


“Ada apa A. malam-malam begini nelepon Lena?”


“Iyah ada di rumah tidak?” tanya Kagendra tanpa basa basi.


“Teteh ada di rumah kalian lah. Aa ngapain nanyain istri sendiri ke Lena?”


“Iyah tidak ada di rumah.”


“Apa?” teriak Alena, matanya langsung terbuka dan ia terbangun dari tidurnya.


“Iyah tidak ada di sini.” ulang Kagendra.


“Teh Iyah ada di mana?”


“Makanya Aa telepon kamu, barangkali Iyah menginap di situ.”


“Teteh gak ada di sini. Tapi memang pernah ke sini beberapa hari yang lalu.”


“Hari apa?” tanya Kagendra cepat.


“Kalau tidak salah sih tiga hari yang lalu. Teh Iyah bawain masakan untuk makan siang kita.” jawab Alena sambil mengingat-ingat kembali kapan Sadiyah datang berkunjung.


“Dia bilang apa?”


“Lena tidak ketemu Teh Iyah tapi tahu kalau Teh Iyah datang karena diberitahu Ibu. Besok pagi Lena tanyakan sama Ibu.”


“Terima kasih, Len. Maaf ya Aa telepon malam-malam.”

__ADS_1


“Gak apa-apa, A. Lena juga jadi kepikiran sama Teh Iyah.” sekarang Alena sudah benar-benar terjaga dan mengkhawatirkan Sadiyah.


Alena baru bisa tertidur lagi setelah beberapa saat, sedangkan Kagendra tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak karena terus memikirkan keberadaan Sadiyah tapi belum bisa menghubungi orangtuanya atau keluarga Sadiyah karena masih dini hari.


Kagendra baru bisa tidur setelah subuh dan itupun tidak lama. Ia terbangun jam 7 pagi dan langsung menghubungi Faiq, anak buahnya yang ditugasi untuk mengawasi Sadiyah.


“Pagi, Bos.”


“Saya tunggu di rumah.” perintah Kagendra.


Setengah jam kemudian, Faiq sudah berada di rumah Kagendra.


“Ada apa, Bos?”


“Kamu berpartner dengan siapa dalam misi pengawasan istri saya?”


“Dengan Badru, Bos.”


“Laporkan dengan detail kejadian 3-4 hari yang lalu. Kemana dan dengan siapa istri saya pergi?”


“Sejak Bos pergi ke luar negeri dan menugaskan saya untuk mengawasi istri Bos, istri Bos tidak pernah keluar sama sekali.”


Kagendra melemparkan buku tebal yang ada di atas meja kerja ke arah meja yang ada di sudut ruangan dan membuat vas bunga yang ada di atasnya terpelanting dan pecah berserakan.


“Maaf Bos. Tapi berdasarkan pantauan saya dan Badru, istri Bos memang tidak pernah sekalipun keluar dari rumah.


“Berengsk kalian berdua. Kerja kalian tidak becus. Faktanya istri saya tidak ada di rumah dan itu lepas dari pantauan kalian.”


“Maaf, Bos. Akan saya tanyakan pada Badru, mungkin dia meninggalkan posnya tanpa sepengetahuan saya.”


“Cepat panggil Badru.”


“Siap, Bos.”


Faiq dengan bersegera memanggil Badru yang sedang bertugas mengawasi rumah Kagendra.


10 menit kemudian, Badru datang dengan tergopoh-gopoh.


“Ada apa, Bang?” tanya Badru sedikit terkejut karena tidak biasanya ia dipanggil ketika sedang bertugas.


“Bos ngamuk.”


“Wah gawat.”

__ADS_1


Badru masuk ke ruangan Kagendra dengan hati yang was-was bersiap menerima kemarahan Kagendra.


Sesaat setelah Badru masuk ke ruangan kerja Kagendra, bosnya itu langsung melayangkan pukulan ke arah wajah dan perut Badru. Setelah selesai dengan Badru, Kagendra memanggil Faiq untuk masuk ke ruangannya. Faiq pun senasib dengan Badru yang babak belur karena pukulan dari Kagendra.


“Seharusnya kalian mendapatkan lebih dari ini. Hanya saja saya tidak mau mengeluarkan uang untuk biaya rumah sakit. Kerja kalian kali ini sangat buruk, sudah untung saya tidak langsung memecat kalian karena saya mempertimbangkan kerja bagus kalian sebelumnya.”


Faiq dan Badru menundukkan kepala mereka tak berani melihat ke arah Kagendra.


“Maaf, Bos. Ini kelalaian kami.” Faiq sebagai leader dari misi ini sangat menyesal dengan kinerja tim mereka yang buruk.


Kagendra semakin kesal karena cctv di rumahnya pun tidak berfungsi karena sepertinya Sadiyah mengetahui titik mana saja yang dipasang cctv karena Sadiyah mematikan semua cctv yang ada di rumah mereka.


“Sialan. Untuk apa kamu melakukan semua ini? Apa penyebab kamu pergi dari rumah ini? Aku tidak mengerti alasan kamu pergi dariku, apa salahku?” Kagendra menelungkupkan kedua tangannya di atas tengkuknya, dahinya dibentur-benturkan ke atas meja kerja.


Tadinya Kagendra masih memiliki harapan kalau Sadiyah mungkin sedang berkunjung ke rumah Bibi dan Pamannya tanpa memberitahu. Tapi setelah melihat cara Sadiyah pergi dari rumah dengan terencana, hilanglah harapan Kagendra. Sekarang ia yakin kalau Sadiyah memang pergi darinya. Yang harus ia lakukan sekarang adalah mencari tahu alasan Sadiyah pergi.


“Aaaaargh……..” Kagendra beranjak dari kursi kerja lalu memukul-mukul tembok dengan tangannya untuk melampiaskan emosi.


Faiq dan Badru yang melihat tindakan Bos mereka yang menyakiti diri sendiri langsung menarik tangan kagendra agar berhenti memukuli tembok ruangan perpustakaan yang sudah ternoda warna merah dari darah yang keluar dari tangan Kagendra.


“Bos, berhenti Bos. Jangan seperti ini.” Faiq menarik tangan kanan Kagendra dan Badru menarik tangan kirinya.


“Kalau Bos ingin melampiaskan emosi Bos, lampiaskan saja pada saya.” Badru sudah memasang badannya untuk dijadikan samsak tinju oleh Kagendra.


Walaupun Kagendra bersikap keras pada semua anak buahnya, tapi Badru tidak pernah sekalipun membenci Kagendra. Baginya, Kagendra adalah malaikat penolong  bagi ia dan keluarganya. Disaat adiknya hampir mati karena tidak mempunyai biaya untuk operasi, Kagendra lah yang saat itu tidak mengenal Badru sama sekali, membiayai semua biaya operasi dan perawatan adiknya tanpa meminta imbalan apapun. Untuk membalas semua kebaikan Kagendra, Badru menawarkan diri untuk mengabdi padanya.


Tadinya Badru bekerja sebagai OB di perusahaan periklanan milik Kagendra, tapi Bosnya itu melihat potensi yang dimiliki oleh Badru sehingga menarik ia sebagai agen spionase dan bodyguard di perusahaan Kagendra lainnya.


“Saya tidak mau kalian menjadi samsak hidup buat saya, tapi saya mau kalian jadi partner sparing saya.” perintah Kagendra.


“Siap, Bos.” jawab Faiq dan Badru serentak.


Bergantian, Faiq dan Badru menjadi partner sparing Kagendra. Setelah hampir setengah jam mereka saling berjibaku. Kagendra menghempaskan tubuh lelahnya di atas sofa.


“Cukup untuk hari ini. Siapkan diri kalian untuk menebus kesalahan yang sudah kalian lakukan. Sekarang, pergilah kalian dari sini. Saya akan menghubungi kalian nanti.”


“Baik, Bos. Terima kasih.” Faiq dan Badru berlalu dari hadapan Kagendra dan lega karena Bosnya tidak menghukum mereka dengan hukuman yang berat apalagi sampai memecat mereka.


Tidak lama kemudian, ponsel Kagendra berbunyi. Nama Alena muncul di layar ponsel Kagendra.


“Ada apa, Len? Ada kabar dari Sadiyah?” tanya Kagendra lemah.


“Ada Bi Ita dan Mang Awan di sini. Cepat Aa kesini.”

__ADS_1


*******


__ADS_2