
Jam tujuh malam, Kagendra berhasil menyelesaikan semua berkas yang harus ia periksa. Dengan segera ia memerintahkan sekretarisnya untuk membereskan berkas-berkas tersebut.
“Besok penerbangannya jam enam pagi, Bos. Saya jemput Bos jam empat pagi ya, kita sholat subuh di bandara saja.” Rudi, sekretaris Kagendra memberitahukan tentang jadwal penerbangan.
“Hmmmm….semua sudah kamu siapkan?” tanya Kagendra.
“Semua beres, Bos.”
Kagendra menaiki lift gedung apartemennya dengan hati yang berbunga-bunga membayangkan kegiatan yang akan ia lakukan bersama dengan Natasha saat di Lombok nanti. Walaupun ia dan Natasha hanya bisa menikmati satu atau dua hari saja setelah dirinya menyelesaikan urusan bisnisnya, tapi ia rasa dua hari saja sudah cukup untuk bisa bersenang-senang berdua saja bersama kekasih hatinya.
Ketika lift yang dinaiki oleh Kagendra berhenti di lantai unitnya, ia berpapasan dengan sorang pria yang wajahnya cukup familiar. Kagendra mencoba mengingat-ngingat dimana ia pernah melihat wajah pria tersebut.
Karena pekerjaannya dulu yang menuntut ia untuk bisa mengingat banyak wajah orang, ia terlatih untuk dengan mudah mengingat wajah banyak orang. Jantungnya berdegup dengan kencang ketika ia mengingat wajah pria yang pernah berduaan dengan istrinya di restoran. Ia mengepalkan tangannya menahan emosi mendapati pria tersebut berada di gedung apartemen yang sama dan juga berada di lantai yang sama dengan lokasi unitnya berada. Dengan emosi yang telah memuncak, ia menyimpulkan bahwa pria tersebut telah menemui istrinya di unitnya ketika ia sedang tidak ada.
“Dasar istri kurang aj*r, membiarkan pria lain memasuki rumahnya ketika suaminya tidak ada di tempat.” geram Kagendra yang belum menyadari bahwa dirinya sangat cemburu pada pria tersebut.
Dengan sedikit berlari, Kagendra memasuki unitnya.
“Sadiyah…sadiyah….” Kagendra berteriak-teriak memanggil istrinya.
Sadiyah yang sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur tidak berniat untuk menjawab teriakan Kagendra. Ia masih marah pada Kagendra dan tidak ingin bertemu muka dengan suaminya itu. Sadiyah menaikkan selimutnya sampai ujung kepalanya dan menutup telinganya dengan bantal.
Tidak mendapatkan sahutan dari Sadiyah, Kagendra bergegas memasuki kamar utama tapi ia tidak melihat Sadiyah di sana. Kemudian Kagendra menuju ke kamar tamu dan mencoba untuk membuka pintu kamarnya tapi terkunci.
Dok…dok…dok…
Kagendra menggedor pintu kamar dengan keras.
“Sadiyah…buka pintunya….!” perintah Kagendra sambil terus menggedor pintunya.
Tak tahan dengan suara berisik Kagendra yang berteriak-teriak ditambah dengan suara gedoran pintunya, Sadiyah beranjak dari tempat tidurnya dan membukakan pintu kamar.
Setelah pintu terbuka sedikit, Kagendra langsung membanting pintu tersebut hingga terbuka dengan lebar.
“Jangan berani-beraninya kamu mengunci kamar tidur. Ini terakhir kalinya kamu berbuat kurang aj*r seperti ini” bentak Kagendra.
Sadiyah berjalan keluar kamar melewati tubuh kagendra yang sedikit menghalangi jalan keluar.
“Jawab saya!” bentak Kagendra lagi.
“Saya harus menjawab apa?” tanya Sadiyah polos.
“Cih.” dengus Kagendra kesal.
__ADS_1
“Siapkan pakaian dan keperluan saya untuk tujuh hari.” perintah Kagendra.
Sadiyah menatap wajah Kagendra dengan heran. Ini pertama kalinya Sadiyah menatap wajah Kagendra setelah kejadian tadi malam.
“Saya keluar kota seminggu untuk business trip.” ujar Kagendra menjawab pertanyaan dari Sadiyah yang tak terucapkan oleh mulutnya.
Sadiyah menganggukan kepalanya dan berjalan menuju kamar utama dan menyiapkan segala keperluan Kagendra untuk perjalanan bisnisnya.
Setelah selesai menyiapkan keperluan Kagendra, Sadiyah keluar dari kamar dan mendapati Kagendra sedang duduk santai sambil senyam senyum di hadapan ponselnya.
“Sudah makan malam?” tanya Sadiyah
“Belum.” Kagendra mendongakkan kepalanya.
“Saya siapkan makan malamnya.” ujar Sadiyah sambil membuka kulkas dan hendak memanaskan makanan yang ada di kulkas ke dalam microwave.
Sadiyah sudah mengetahui jika Kagendra tidak menyukai makanan berkalori banyak untuk makan malamnya. Ia memanaskan capcay yang tadi sore dikirimkan oleh Rika tetangganya.
“Makanannya sudah siap.” Sadiyah masih belum mau memanggil Kagendra dengan panggilan yang biasa ia gunakan. Ini adalah bentuk kemarahan dan protesnya pada Kagendra.
Kagendra yang tidak menyadari kemarahan Sadiyah, segera duduk di untuk menikmati makan malamnya. Sudah seminggu lebih ia tidak makan masakan buatan istrinya itu dan ia merasa rindu dengan rasa masakan buatan Sadiyah.
Dengan hati senang, Kagendra mulai menyendokkan nasi dan sayur capcay ke dalam mulutnya. Setelah mengunyah beberapa saat, ia merasakan bahwa rasa dari masakan itu tidak seperti masakan Sadiyah seperti biasanya.
“Ini siapa yang masak?” tanya Kagendra dingin.
“Kenapa bukan kamu yang masak?” desak Kagendra.
“Mubazir kalau saya masak lagi.” jawab Sadiyah asal.
“Salah satu tugas kamu itu membuat makanan untuk saya. Kamu jangan seenaknya memberi saya makanan sembarangan.” bentak Kagendra.
“Maaf.” sahut Sadiyah lirih.
“Siapa yang kirim?” tanya Kagendra kasar
“Tetangga.” jawab Sadiyah.
Kagendra teringat kembali pria yang berpapasan dengannya ketika ia keluar dari lift.
“Apa laki-laki itu yang kirim?” tanya Kagendra dengan nada tinggi.
“Laki-laki mana?” tanya Sadiyah polos.
__ADS_1
“Jangan pura-pura kamu. Saya tahu kalau kamu menemui laki-laki itu ketika saya sedang tidak ada.” tuduh Kagendra.
“Laki-laki yang mana sih maksud kamu?” Sadiyah kembali bertanya dengan wajah polosnya.
Praaaang…..
Kagendra membanting piring yang berisi nasi dan sayur capcay itu ke lantai dan menyebabkan piringnya pecah dengan isinya yang berhamburan.
Sadiyah kaget dengan tindakan Kagendra dan dengan reflek ia menutup telinga dengan kedua tangannya.
Emosi sudah menguasai Kagendra. Ia mencengkram tangan kiri Sadiyah dan menyeretnya ke dalam kamar.
“Kamu tidak mau mengaku?” bentak Kagendra.
“Mengakui apa?” Sadiyah semakin heran dengan pertanyaan-pertanyaan Kagendra.
“Masih saja pura-pura.” Kagendra menatap wajah Sadiyah dengan tatapan tajamnya.
Sadiyah merasa ketakutan dengan ekspresi yang ditampilkan oleh wajah Kagendra dan dengan spontan ia menundukkan kepalanya.
Tangan kanan Kagendra merangkum dagu Sadiyah dan mendongakkan kepalanya dengan paksa.
“Masih belum mau mengaku?” Kagendra semakin mengeratkan rangkuman tangannya pada dagu Sadiyah.
Sadiyah menatap Kagendra dengan matanya yang berair.
“Jangan berani-beraninya kamu bermain api.” Kagendra menghentakkan tangannya dan menyerang bibir Sadiyah dengan bibirnya.
Sadiyah memukul-mukul da-da Kagendra dengan kepalan tangannya. Bukannya melepaskan pagutan bibirnya, Kagendra malah semakin memperdalam ciumannya.
Sadiyah mencoba menggigit bibir Kagendra, tapi saat ini bibir Kagendra menguasai sepenuhnya. Ketika Sadiyah berhasil menggigit sedikit ujung bibir Kagendra, bibir Kagendra terlepas sesaat karena kesakitan tapi hanya sebentar saja yang kemudian bibirnya kembali menguasai bibir Sadiyah.
Emosi dan gairah semakin menguasai Kagendra sehingga dengan kekuatannya ia kembali menyerang Sadiyah. Setelah semua terpampang jelas, ia pun menikmati apa yang ada di hadapannya sepanjang malam itu.
Serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Kagendra membuat Sadiyah luluh lantak. Ia tertidur dengan posisi miring dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya hingga batas bahunya.
Kagendra menatap wajah Sadiyah yang kelelahan. Ia sibakkan rambut yang menghalangi wajah cantik Sadiyah. Ada kata maaf yang tidak mampu ia ucapkan.
Kagendra mengecup kening Sadiyah sebelum ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badannya dan bersiap untuk pergi ke bandara.
Tepat jam empat pagi, Kagendra sudah siap untuk pergi ke bandara. Rudi, sekretarisnya telah siap menunggu di tempat parkir.
Kagendra berjalan menghampiri Sadiyah yang masih tertidur lelap. Ia elus rambut Sadiyah dan mengecup keningnya dengan lembut. Tak tahan melihat bibir Sadiyah yang terlihat sedikit membengkak hasil dari serangannya, Kagendra mencium bibir Sadiyah cukup lama.
__ADS_1
Setelah Kagendra berlalu, Sadiyah membuka matanya dan meluncurlah air mata yang sejak tadi ditahannya. Jari-jari tangannya menyentuh bibirnya yang sudah kenyang mendapatkan serangan dari bibir Kagendra sejak tadi malam hingga kecupan ringan yang tadi diberikan sebelum Kagendra pergi.
Sadiyah tidak memahami suasana hatinya sekarang. Disisi lain, ia merasa benci dengan sikap Kagendra yang seenaknya, tapi disisi lain ia merasa tidak sanggup untuk membenci Kagendra dengan segala perlakukan buruknya.