Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
102. Tunggu


__ADS_3

Beberapa hari ini Kagendra disibukkan oleh pekerjaan yang tidak bisa lagi diabaikan sehingga ia belum sempat mencari alamat Sadiyah di Bandung tidak pula menengok sahabatnya yang sedang tergolek tak berdaya di rumah sakit.  Akibatnya, Arfian mencak-mencak di telepon karena Kagendra tak kunjung menengoknya dan hanya dibalas kekehan oleh sang tersangka.


Setelah beberapa hari Arfian pulang dari rumah sakit, Kagendra memutuskan untuk menengok. Hari ini juga diadakan syukuran aniversary pernikahan tante dan om-nya yang tidak lain adalah orangtua Arfian, sekalian syukuran atas kesembuhan Arfian.


Kagendra tidak menemukan Arfian diantara kerumunan sanak saudaranya. Setelah bertanya pada tantenya, Kagendra langsung menuju kamar Arfian yang ada di lantai dua.


Tok….tok….tok…


Kagendra mencoba mengetuk pintu kamar Arfian perlahan karena khawatir mengganggu.


Tidak ada jawaban dari dalam, Kagendra mencoba mengetuk pintu lagi dengan agak keras.


Tok…tok…tok…


Masih belum ada respon dari Arfian yang entah sedang tidur ataupun malas membukakan pintu.


Setelah dua kali ketukan tidak diindahkan oleh manusia yang ada di dalam kamar, Kagendra menggedor pintu kamar Arfian.


Dok…dok…dok…


Tidak lama setelah gedoran keras yang dilakukan oleh Kagendra, Arfian membukakan pintu dengan malas.


“Yaelah, ternyata orang-orangan sawah yang datang. Mau ngapain lo kemari? Kenapa tidak menengok ke rumah sakit? Sepupu macam apa Anda yang tidak peduli pada sepupu dan sahabat satu-satunya yang saat itu sedang tergolek lemah tak berdaya?” umpat Arfian kesal ketika mengetahui bahwa yang mengetuk pintu kamarnya itu Kagendra, sepupu yang nasibnya sama-sama belangsak. Terlebih ia merasa sangat kesal karena selama satu minggu dirawat di rumah sakit, tidak satu kali pun Kagendra menengoknya.


“Sorry, gue sibuk.” Kagendra menjawab dengan tawa kecil yang membuat Arfian semakin kesal dan melemparkan bantal yang sedang dipegangnya. Sebenarnya Arfian sudah mengetahui apa yang dialami oleh Kagendra. Alena, memberitahu tentang Sadiyah yang masih menolak Kagendra saat menengoknya.


“Gue cari-cari lo di bawah gak ada. Kata Tante, lo kabur dari pesta gara-gara ciuman dahsyatnya.” kata Kagendra sambil tertawa terbahak-bahak membayangkan tantenya yang ceriwis itu menciumi Arfian di depan banyak orang. Tingkah adik dari Abahnya itu memang ajaib.


Arfian kembali menghempaskan tubuhnya di atas kasur, berbaring dengan posisi telentang dengan kedua tangan di bawah kepala dijadikan sebagai bantal.


“Lo kenapa? Masih galau? Ditolak sama Keisha?” tanya Kagendra tanpa basa-basi.


Alih alih menjawab pertanyaan Kagendra, Arfian malah asyik memandangi langit-langit di atas kamarnya.


“Keisha nolak lo?” tanya Kagendra.

__ADS_1


“Hmmmm…..”


“Terus lo nyerah gini aja? Cemen lo jadi laki-laki.” ejek Kagendra yang sebenarnya ejekan yang dilontarkan menohok dirinya juga.


Hening


“Penantian lo selama 10 tahun bakalan sia-sia kalau sikap lo gini.” ujar Kagendra yang duduk di samping Arfian yang sedang terbaring di atas kasur.


“Terus gue musti gimana?” tanya Arfian datar.


“Ya lo pikirin sendiri lah.” sahut Kagendra kesal.


Arfian membuang nafasnya dengan kasar.


Kagendra menarik dan menghemburkan nafasnya juga dengan kasar.


“Gimana gue mau kasih ide sama lo, Yan. Gue aja lagi bingung ngadepin Sadiyah yang sekarang jadi galak banget.” Kagendra ikut membaringkan tubuh di samping Arfian.


“Hmmmm…”


“Nasib kita berdua tragis begini. Kita itu ganteng dan juga mapan. Kurang apa lagi coba?” Kagendra menanyakan pertanyaan yang anehnya tidak bisa ia jawab dengan tepat.


“Hmmm…” Kagendra ikut-ikutan menatap langit-langit kamar Arfian.


“Sekarang lo beneran cinta sama Sadiyah, Ndra?” tanya Arfian.


“Hmmm…” jawab Kagendra.


“Lo udah cinta dari dulu atau setelah dia ninggalin lo?” tanya Arfian lagi.


“Sepertinya gue udah cinta sama Sadiyah dari sebelum dia kabur. Jauh sebelum dia kabur. Mungkin juga dari awal. Entahlah, yang pasti sebelum Natasha datang, tapi saat itu nafsu yang menguasai hingga gue hilang logika. Kalau diingat lagi, gue nyesel banget, Yan. Andaikan Natasha gak pernah balik lagi ke Indonesia….” Kagendra mengungkapkan isi hatinya dengan sedih.


“Sudah terlambat.” Ucap Arfian.


“Apa maksud lo?” Kagendra mengalihkan pandangannya ke arah Arfian.

__ADS_1


“Kita berdua sudah terlambat. Kita terlambat menyadari perasaan kita dan ketika kita menyadarinya, semua sudah terlambat. Bukannya berjuang, kita masih tetap di tempat yang sama tidak melakukan apapun. Jangan beranda-andai karena gak ada gunanya. Biasanya juga lo gak pernah gini. Berandai-andai itu bukan sifat lo banget, Ndra.” ujar Arfian.


“Tepat. Apa yang lo bilang itu sangat tepat.” sahut Kagendra.


“Apa kita harus pasrah saja dengan keadaan seperti ini?” tanya Arfian lebih pada bertanya pada diri sendiri.


Keadaan kembali hening. Keduanya kembali termenung dengan pikirannya masing-masing.


Arfian tiba-tiba bangkit dari posisi berbaringnya.


“Gue gak mau pasrah seperti ini, Ndra. Gue nunggu dia selama 10 tahun dan gak mau waktu itu jadi sia-sia. Gue harus siapin amunisi buat berjuang mendapatkan kembali cinta Keisha.” ujar Arfian berapi-api.


Kagendra juga bangkit dari berbaringnya.


“Gue setuju. Gue mau jadi orang yang bahagia bersama Sadiyah dan juga anak-anak. Gue gak bisa ngebayangin ada laki-laki lain yang dipanggil ayah oleh mereka. Gue gak rela.” Kagendra juga menguatkan tekadnya untuk mendapatkan kembali cinta istri dan anak-anaknya.


Mata kedua pria dewasa yang nelangsa itu kembali berkobar menandakan semangat untuk mendapatkan cinta mereka yang sempat hilang.


Setelah Kagendra kembali ke apartemennya, ia langsung bergerilya untuk mencari alamat Sadiyah. Pertama-tama, ia mencoba menelepon Sadiyah. Tiap kali ia mencoba menghubungi, Sadiyah langsung menolak panggilannya. Setelah lebih dari sepuluh kali Kagendra mencoba, sebuah pesan masuk.


Jangan menelepon terus, nanti Iyah block nomor Aa.


Kamu kok tega begitu sama Aa. Aa kangen sama kamu. Ingin dengar suara kamu, bidadariku yang cantik.


Sadiyah bergidik membaca pesan yang mengandung kegombalan tingkat tinggi dari Kagendra. Tidak ingin diganggu terus, Sadiyah langsung mematikan daya ponselnya.


Kagendra tidak mengetahui Sadiyah mematikan daya ponselnya, ia menyangka Sadiyah kembali memblokir lagi nomornya ketika pesan yang dikirimkan masih bertanda centang satu.


Sedikit panik, Kagendra langsung meminta bantuan Alena untuk menghubungi Sadiyah. Ia mengirimkan nomor telepon Sadiyah yang baru dan meminta Alena untuk menghubungi Sadiyah dari ponselnya.


Setelah Alena mengabari bahwa Sadiyah tidak menjawab panggilan dan pesan yang dikirimkan juga masih bertanda centang satu, barulah Kagendra merasa tenang karena ada kemungkinan Sadiyah hanya mematikan daya ponsel dan bukan memblokir nomornya kembali.


Kagendra mencoba peruntungannya dengan menghubungi Mak Isah. Ia tidak menyangka Mak Isah akan langsung membalas pesannya padahal waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Kagendra meminta maaf pada Mak Isah sekaligus berterima kasih karena telah memberikan alamat lengkap kediaman Sadiyah di Bandung.


“Tunggu Aa, sayang…” gumam Kagendra dengan senyum lebar menghiasi wajah.

__ADS_1


********************


to be continued...


__ADS_2