Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
42. Syukuran Rumah Baru


__ADS_3

Sebelum jam 12, Sadiyah telah beres memasak semua hidangan. Ada ayam goreng, capcay, sambal dadak, karedok, goreng tempe dan tahu, dan tentu saja ceker ayam mercon dan angsio. Dengan bantuan rice cooker, nasi juga sudah siap dihidangkan.


30 menit kemudian rombongan Aki Musa tiba di rumah baru mereka.


“Iyaaaah…Ibu kangen.” Indriani segera memeluk menantu kesayangannya itu.


“Iyah juga kangen sama Ibu.” Sadiyah mencium punggung tangan Indriani dan membalas pelukan mertuanya tak kalah eratnya.


Setelah mencium tangan indriani, Sadiyah mencium punggung tangan Aki Musa dan Yusuf. Hal yang sama dilakukan oleh Kagendra.


“Teteeeeeh…Lena kangen banget loh sama teteh. Mana ceker merconnya, Teh?” Alena memeluk erat kakak iparnya.


“Kamu tuh, dateng-dateng yang ditanyakan bukannya kabar Aa dan Teteh kamu, malah menanyakan ceker.” protes Indriani pada Alena yang dibalas kikikan oleh Alena.


“Kita makan siang dulu, setelah itu baru deh hajar cekernya.” ujar Sadiyah.


“Siap, Teh. Masak apa aja, Teh?”Alena melihat ke arah meja makan.


“Nanti setelah makan, Aki mau melihat-lihat rumah baru kalian.” Ujar Aki Musa.


“Kamu beli rumah tidak memberitahu kami. Tiba-tiba saja kamu mengabari kami untuk syukuran rumah baru.” protes Yusuf.


“Biar jadi kejutan, Bah.” sahut Kagendra cuek.


“Kalau kamu bilang kan Abah bisa sumbang saran ataupun dana.”


“Itulah kenapa Aa tidak mau bilang sama Abah. Takutnya Abah jadi ngerecokin.”


“Dasar anak nakal.” Indriani menjewer telinga Kagendra karena kesal tidak diberitahu perihal pembangunan rumah baru putra satu-satunya itu.


“Aduh sakit Bu. Soalnya Ibu suka cerewet kalau tahu.” Kagendra memberikan alasan kenapa ia tidak memberi tahu Aki dan orangtuanya perihal rumah barunya.


“Ya sudah. Yang terpenting sekarang Aa dan Iyah tinggalnya di rumah biar nanti ketika punya anak sudah siap dengan lingkungan yang baik tidak seperti di gedung apartemen yang menurut Aki, lingkungannya tidak terlalu baik untuk pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.” Aki Musa menengahi perdebatan antara anak dan orangtua.


“Iyah juga baru diberitahu Aa dua hari sebelum pindah.” Sadiyah melayangkan protesnya juga karena tidak dilibatkan dalam proses pembangunan rumah mereka.


“Dasar emang nyebelin.” Indriani mencubit gemas pipi anak laki-lakinya itu.


“Sakit Buuuu…” teriak Kagendra.


“Syukurin.” ucap  Sadiyah dan Alena kompak dan setelahnya mereka tertawa cekikikan sedangkan Aki Musa dan Yusuf tersenyum melihat Indriani yang membuli anak laki-lakinya.

__ADS_1


Setelah selesai makan siang, mereka sholat dzuhur berjamaan dengan Yusuf sebagai imamnya.


“Rumah kalian cukup luas. Ada berapa kamar?” tanya Aki Musa.


“Di bawah ada dua kamar, satu untuk kamar tamu dan satu lagi jika nanti ada ART yang menginap. Untuk sekarang sih, kita belum memerlukan ART yang menginap. Paling, ada orang yang bersih-bersih tiga kali seminggu seperti di apartemen. Di atas ada dua kamar, kamar untuk kami dan untuk siapa saja lah yang menginap di sini.” Kagendra menjelaskan jumlah kamar dan peruntukkannya.


“Sudah menyiapkan kamar untuk anak kalian?” tanya Indriani tiba-tiba.


“Belum terpikirkan. Hamil saja belum. Nanti saja kalau memang Sadiyah sudah hamil, kita pakai kamar yang ada di lantai dua.” jelas Kagendra.


“Kalian berencana punya anak berapa?” tanya Yusuf tanpa basa-basi.


“Belum ada rencana jumlah.” sahut Kagendra tegas, sedangkan rona merah sudah menghiasi wajah Sadiyah.


“Ibu usul sih kalian punya anak sebanyak-banyaknya. Sepi kalau punya anak sedikit. Sekarang Ibu baru menyesal karena punya anak cuma dua. Coba dulu, kita punya anak banyak ya Bah, kita gak akan kesepian seperti sekarang.” sesal Indriani.


“Sudah takdirnya kita hanya memiliki dua orang anak, Bu. Punya dua anak saja sudah jadi perjuangan yang berat buat Ibu.” Yusuf kembali terkenang beratnya perjuangan istrinya ketika mengandung Kagendra dan Alena.


“Berarti cucu saja yang banyak ya. Iyah, Ibu harap kamu nanti punya anaknya yang banyak. Kalau bisa punya anak kembar, soalnya keluarga kita memang ada gen anak kembar. Sepupunya Aa ada yang kembar. Uyutnya Aa juga kembar. Jadi ada kemungkinan kalian juga punya anak kembar. Sekalian saja kembar empat biar hamilnya sekali saja langsung keluar empat bayi.” harap Indriani.


Sadiyah mengeryit ketakutan membayangkan di perutnya hidup empat bayi.


“Kembar dua saja deh kalau begitu.” ralat Indriani.


“Bagaimana diberinya saja.” ujar Sadiyah berharap jikalau nanti hamil yang normal-normal saja hamil satu bayi.


“Ibu do’akan semoga kamu cepat hamil.” do’a Indriani.


“Aamiin…” semuanya mengaminkan.


“Teh, mana nih ceker merconnya. Aku udah gak sabar pengen icip ceker buatan kakak iparku yang jago masak.” Alena menagih olahan ceker ayam yang dijanjikan oleh Sadiyah.


“Sebentar ya, Teteh ambilkan dulu.” Sadiyah segera menuju dapur untuk mengambilkan olahan ceker ayam yang tadi dimasaknya. Tidak lupa ia menghangatkannya dulu agar tidak menggumpal ketika dimakan.


Alena tidak sabar menunggu sehingga ia mengikuti Sadiyah ke dapur. Begitu juga dengan Kagendra yang mengekor Alena, penasaran dengan rasa olahan ceker ayam yang sedari pagi disiapkan oleh istrinya.


Dua macam olahan ayam ceker tersaji di hadapan Alena dan Kagendra. Satu piring berisi ayam ceker mercon berwarna merah cerah dan satu piring lagi berisi angsio ceker yang berwarna kecoklatan.


Pertama-tama Alena mencicipi ceker ayam bumbu mercon yang warnanya sudah terlihat menggoda. Ketika melihat Alena memasukkan ceker ayam ke dalam mulutnya, Kagendra mengernyit karena masih merasa jijik dengan bahan dasar cekernya. Satu ceker selesai dihabiskan, lanjut ceker kedua, ketiga, keempat, Alena tak hentinya memasukkan ceker ayam ke dalam mulutnya.


Bibir Alena berubah menjadi warna merah saking pedasnya ceker bumbu mercon yang dibuat oleh Sadiyah.

__ADS_1


“Cekernya enak banget Teh. Pedasnya nendang, asin, manis dan gurihnya pas, cekernya juga empuk banget. Pokoknya ceker ayam bumbu mercon buatan Teh Iyah enaknya pakai banget.” puji Alena.


Karena tidak tahan dengan pedasnya, Alena beralih mencicipi angsio ceker.


Hampir setengah piring isi angsio ceker telah berpindah ke dalam perut Alena.


“Angsionya juga top markotop deh. Mantap.” puji Alena yang terbuai dengan nikmatnya angsio ceker buatan Sadiyah.


Kagendra yang melihat Alena yang begitu lahap menghabiskan ceker ayam merasa penasaran juga dengan rasanya. Ia mengambil satu ceker ayam bumbu mercon. Tidak lama setelah ceker ayam yang pedas itu masuk ke dalam mulutnya, ia pun terbatuk karena tidak tahan dengan rasa pedasnya.


Sadiyah segera mengambilkan segelas air hangat untuk Kagendra.


“Minum air hangatnya, A. Biar bekas pedasnya cepat hilang.” Sadiyah mengasongkan gelas berisi air hangat itu pada Kagendra yang langsung ditandaskannya hingga tak bersisa.


Bibir dan wajah Kagendra berubah menjadi kemerahan karena rasa pedas. Berusaha untuk menstralisir rasa pedas dalam mulutnya, Kagendra mengambil angsio ceker.


“Yang ini pedas tidak?” tanya Kagendra.


“Kalau yang itu tidak pedas. Rasanya manis dan gurih.” jawab Sadiyah.


Setelah mendengar penjelasan Sadiyah, Kagendra segera memasukkan angsio ceker tersebut ke dalam mulutnya. Ia menguyahnya dengan hati-hati sekali, keningnya berkerut karena mengantisipasi dari rasa yang dia sangka aneh. Setelah menghabiskan satu ceker angsio, Kagendra mengambil lagi ceker angsio keduanya, ketiga, keempat dan terus sampai piring berisi ceker angsio habis.


“Enak cekernya, A?” tanya Sadiyah retoris setelah melihat Kagendra menandaskan semua ceker angsio yang tersisa.


“Lumayan.” jawab Kagendra singkat dan jelas.


“Pasti enak lah. Tuh sisa setengah piring dihabiskan sama Aa.” sindir Alena.


Sadiyah dan Alena menutup mulut mereka karena menahan tawa melihat Kagendra yang masih saja gengsi mengakui rasa ceker buatan Sadiyah yang memang lezat.


Setelah menjilati sisa bumbu yang masih menempel di jarinya, Kagendra segera beranjak dari tempat duduknya menuju wastafel untuk mencuci tangannya.


“Aa mah orangnya gengsian.” ledek Alena.


Sadiyah meresponnya dengan senyum bahagia.


Menjelang sore, Aki Musa, Yusuf, Indriani, dan Alena pamit pulang. Aki Musa kembali menasihati Kagendra untuk menjaga Sadiyah dengan baik. Tidak lupa Indriani membisikkan kata-kata penyemangat pada Kagendra untuk membuat istrinya hamil yang tidak ditanggapi oleh Kagendra.


***********


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2