
Sadiyah membuka kulkas yang ada di dapur dan melihat bahan masakan yang dia beli kemarin sudah berpindah ke kulkas yang ada di rumah ini.
“Malam ini mau makan apa, A?” tanya Sadiyah pada Kagendra yang duduk di sofa di ruang tengan dan masih asyik dengan ponselnya.
“Terserah.” jawab Kagendra asal.
“Nasi sama ceplok telur saja ya.” tawar Sadiyah.
“Masa cuma telur ceplok?” Kagendra mengalihkan tatapannya dari ponsel dan memandang Sadiyah dengan tatapan membunuhnya.
“Cuma becanda, A. Habis ditanya mau makan apa jawabnya terserah berarti kan terserah saya mau masak cuma telur ceplok juga.” sahut Sadiyah asal juga.
Kagendra mendengus kasar.
“Jadi mau makan apa?” Sadiyah mengulangi lagi pertanyaannya.
“Terse….ehm. Ada bahan masakan apa saja?” Kagendra malah balik bertanya.
Sadiyah melihat lagi ke dalam kulkas.
“Ada fillet ayam, wortel, buncis, sawi putih, tahu putih, daging cincang, telur, banyak deh pokoknya.” jawab Sadiyah.
“Ya sudah kamu masakin ayam kecap dan capcay saja.” pinta Kagendra.
“Siap Bos!” sahut Kagendra.
“Kamu panggil saya Bos seperti bawahan saya saja.” protes Kagendra.
“Jadi mau dipanggil apa?” tanya Sadiyah iseng.
“Terserah!” jawab Kagendra.
__ADS_1
“Baik Bos.” seru Sadiyah.
Kagendra menembakkan laser dengan tatapannya.
“Becanda, A.” Sadiyah terkikik melihat wajah kesal Kagendra.
“Besok kita undang Aki, Abah, Ibu dan Lena kesini.” ujar Kagendra setelah mereka selesai makan malam.
“Iya A. Berarti besok saya harus belanja lagi bahan masakan karena sepertinya bahan-bahan yang ada di dalam kulkas tidak akan cukup.” ujar Sadiyah.
“Hmmmm….”
“Pasarnya dekat gak dari sini, A?” tanya Sadiyah.
“Kita belanja ke supermarket saja.” perintah Kagendra.
“Saya mau belanja di pasar aja ah. Kemarin kan saya mau belanja ke pasar, Aa maksa belanja ke supermarket. Sekarang giliran saya dong yang maksa mau belanja ke pasar. Kalau Aa tidak mau mengantar ke dalam pasarnya, antar saja sampai di depan pasarnya.” rajuk Sadiyah.
Sadiyah tersenyum mendengar jawaban kesal Kagendra. Sepertinya pasangan suami istri ini hobi sekali membuat pasangannya kesal.
*******
Jam 7 pagi Sadiyah sudah selesai membuatkan sarapan untuk suaminya dan sekarang ia tengah bersiap-siap untuk pergi ke pasar tradisional untuk berbelanja bahan-bahan masakan karena mereka akan menyambut Aki Musa, Abah dan Ibunya Kagendra dan juga Alena, adiknya Kagendra yang rencananya akan berkunjung pada jam makan siang.
“Kamu mau pergi kemana?” tanya Kagendra yang melihat tampilan Sadiyah yang bersiap untuk pergi. Ia baru saja kembali dari lari pagi keliling komplek.
“Kan saya mau pergi ke pasar. Semalam saya sudah googling pasar terdekat di daerah sini. Ternyata pasarnya tidak jauh. Kalau Aa tidak bisa mengantar, saya bisa pergi pakai ojek saja.” Sadiyah sudah bersiap membawa tas belanja kain untuk menyimpan belanjaannya nanti. Ia berusaha untuk menggunakan seminimal mungkin kantong plastik. Sepupu sekaligus teman semasa kuliah di jurusan pertanian dulu, Rahyang, seorang aktivis pecinta lingkungan selalu mengingatkannya akan bahaya limbah sampah plastik.
“Tunggu saya mandi dan sarapan dulu. Saya antar kamu.” ujar Kagendra sambil bersegera memasuki kamar mandi.
Sadiyah menunggu di ruang tengah sambil membaca berita terkini dari portal berita di ponselnya.
__ADS_1
30 menit kemudian, Kagendra keluar dari kamar tidur dan terlihat segar dan tampan setelah menghabiskan waktu di kamar mandi hampir setengah jam lamanya.
“Huh, dasar pria genit, mandi saja lama sekali sampai lamanya mengalahkan mandinya putri raja saja.” gerutu Sadiyah yang menyesal karena menyetujui untuk diantar Kagendra sehingga waktu berharganya terbuang percuma hingga lebih dari setengah jam.
Kagendra segera duduk untuk menikmati sarapan paginya dengan menu nasi goreng dan dadar telur campur sayur. Ia menghabiskan waktu 15 menit untuk sarapan.
“Sadiyah, ayo cepat. Nanti kita terlalu siang sampai di pasarnya.” Kagendra berteriak memanggil Sadiyah yang masih asyik membaca berita-berita terkini dari ponselnya.
“Huh, sebenarnya siapa sih yang salah. Kenapa jadi dia yang teriak-teriak marah begitu. Harusnya juga Iyah yang marah sama dia karena mandinya lama sekali.” Sadiyah semakin kesal setelah mendengar teriakan Kagendra yang tidak sabaran.
“Kamu lama sekali sih, saya panggil-panggil dari tadi.” Kagendra bersungut-sungut di atas motornya.
“Yang bikin lama itu siapa? Yang mandinya lama mirip mandinya putri raja itu siapa?” sindir Sadiyah yang sedang menerima helm yang disodorkan Kagendra.
“Sudah jangan ngomel. Cepat naik!” perintah Kagendra.
“Dih, yang pertamanya ngomel siapa coba? Yang teriak-teriak gak sabaran juga siapa?” tanya Sadiyah kesal.
“Hehehe, iya maaf.” ucap Kagendra cengengesan.
Sadiyah mendengus sebal.
“Pegangan kalau kamu tidak mau jatuh dari motor. Saya ngebut nih.” Kagendra mulai menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi.
“Pelan-pelan, Aa. Jangan ngebut! Apalagi di komplek seperti ini, nanti kalau ngebut bisa saja mencelakakan pengguna jalan lainnya.” Sadiyah mengingatkan sambil mencubit perut Kagendra.
“Iya. Dasar cerewet.” Kagendra mengurangi kecepatan laju motornya.
***********
to be continued...
__ADS_1