
Hoek…hoek…
Terdengar suara Kagendra muntah-muntah di pagi hari. Setelah sarapan, ia merasa mual dan langsung berlari ke kamar mandi dekat dapur lalu mengeluarkan semua makanan dalam perutnya hingga terasa cairan asam baru ia berhenti muntah. Sadiyah menghampiri sambil menepuk-nepuk punggungnya.
“Aargh…” Kagendra terduduk setelah muntah, tubuhnya terasa lemas.
Sadiyah membawa teh manis hangat dan memberikannya pada Kagendra.
“Tidak mau. Tidak suka aroma teh.” Kagendra menolak teh manis hangat yang disodorkan Sadiyah. Kagendra tidak tahan menghidu hampir semua jenis makanan dan minuman. Ia hanya mampu minum air putih dan buah-buahan saja.
“Aa mau minum apa?”
“Air putih hangat saja.”
“Semua makanan dimuntahkan. Aa pasti lapar dan lemas. Mau makan lagi?”
Kagendra menggeleng.
“Masa tidak makan apapun? Nanti Aa sakit. Makan, ya,” bujuk Sadiyah.
“Tidak mau. Nanti mual lagi, muntah lagi.”
“Harus dipaksakan makan, A.”
“Buah-buahan saja.”
“Mau makan buah apa? Jangan bilang kalau mau makan mangga muda.”
“Melon saja. Ada, kan?”
“Ada. Sebentar Iyah kupaskan dulu.”
Sadiyah bergegas mengambil melon dalam kulkas lalu mengupas melon dengan potongan kecil.
“Aa jadi ke Thailand?” tanya Sadiyah. Tadi malam Kagendra mengatakan bahwa ia akan pergi ke Thailand untuk perjalanan bisnis.
“Jadi.”
“Kalau sakit jangan memaksakan.”
“Tidak apa-apa. Aa akan merasa baikan kalau sudah siang. Dulu juga seperti ini, pagi muntah-muntah dan tidak mau makan apapun tapi siang bisa makan banyak,” ungkap Kagendra.
“Berarti sewaktu Iyah hamil, Aa yang menderita, ya?” tanya Sadiyah sambil terkikik.
“Iya, setidaknya dulu kamu tidak merasakan penderitaan morning sickness walau tanpa Aa di sisi kamu. Hal itu sedikit mengurangi rasa bersalah Aa.”
“So sweet.” Sadiyah menjawil dagu Kagendra.
Kagendra tersenyum sambil menatap Sadiyah penuh cinta.
“Setiap kamu hamil, Aa rela dan ikhlas mual dan muntah di pagi hari.”
“Jadi setelah kehamilan ini, ada kehamilan-kehamilan lainnya, huh?”
“Kalau kamu berkenan, kita produksi anak sebanyak-banyaknya,” kata Kagendra mengungkapkan harapannya.
“Yey, memangnya hamil itu gampang. Masalah hamil itu bukan perkara mual dan muntah di pagi hari saja. Kalau perut Iyah makin membesar, punggung dan kaki Iyah jadi cepat pegal. Nafas juga jadi pendek-pendek. Tidur tidak nyaman, mau telentang sesak mau miring juga pegal. Apalagi kalau hamil kembar, bebannya juga dua kali lipat,” ungkap Sadiyah.
“Tapi kamu ikhlas kan ketika hamil Aras dan Aris?”
“Ikhlas.”
“Nah, jadi…”
“Ikhlas sih ikhlas tapi gak harus hamil terus juga, A. Memiliki anak itu bukan perkara mudah. Kita harus mampu mendidik mereka dengan baik supaya menjadi anak-anak saleh dan salehah. Jangan hobi bikin anak tapi tidak memiliki kemampuan untuk mendidik anak,” pungkas Sadiyah.
__ADS_1
“Iya, Aa paham. Kita bikin banyak anak kita didik juga mereka dengan baik. Kita harus yakin kalau kita mampu mendidik mereka dengan baik. Kita punya senjata, yaitu doa. Selain mendidik mereka seoptimal mungkin, kita juga harus selalu berdoa agar keturunan kita menjadi manusia beriman dengan akhlak yang baik. Kan ada doa agar anak-anak kita menjadi orang yang saleh. Iya, kan?”
“Iya Pa Ustadz. Tumben Aa pinter masalah agama.”
“Kamu mengejek Aa, huh?” Kagendra menjawil hidung mungil Sadiyah.
“Bukan mengejek tapi takjub sama sikap Aa yang sekarang," puji Sadiyah. "Oh iya, Aa sudah hapal doa supaya anak-anak kita jadi anak yang saleh?”
“Sudah dong.”
“Bagaimana doanya?”
“Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa”
“Artinya apa, A?”
“Kamu mengetes Aa, huh?”
Sadiyah terkikik mendengar protes Kagendra.
“Bukan ngetes A, tapi menguji apa Aa tahu juga artinya?”
“Mengetes dan menguji artinya sama, Sayang... ”
“Iya, iya, Jadi apa artinya?”
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
“Suami Iyah pintar banget sih…” ucap Sadiyah bangga.
Kagendra tersipu mendengar pujian Sadiyah.
“Masih banyak ilmu agama yang harus Aa pelajari, termasuk ilmu parenting.”
“Hm…”
“Masih mual?”
“Sedikit.”
“Maaf ya, Iyah yang hamil Aa yang mualnya.”
“Tidak apa-apa, Sayang. Ini bentuk support Aa pada kamu. Malah Aa bahagia karena bisa ikut merasakan beratnya ibu hamil.”
Cup
Sadiyah mencium kening dan pipi Kagendra.
“Yang ini tidak kebagian?” tanya Kagendra menunjuk bibirnya.
Cup
Sadiyah mengecup bibir Kagendra sekilas.
“It’s not enough, Babe.”
Kagendra menyerang bibir Sadiyah. Ternyata bibir Sadiyah bisa menjadi obat mual paling mujarab, terbukti sekarang Kagendra sudah tidak merasakan mual lagi.
********
“Kapan kita mengabarkan kehamilan kamu pada keluarga kita?” tanya Kagendra saat mereka bersiap untuk tidur.
“Nanti saja, A. Sekalian dengan syukuran wisudanya Atep. Boleh, kan?”
“Hm…”
__ADS_1
“Iyah ingin buat syukuran buat Atep sekalian memperkenalkan Atep pada Lena. Kita kan punya rencana menjodohkan mereka. Aa setuju, kan?”
“Hm…”
“Apa sih dari tadi ham hem ham hem saja. Jawab pertanyaan Iyah dengan jawaban yang jelas! Bukan ham hem ham hem saja.
“Hm juga jawaban yang jelas. Harusnya kamu mengerti.”
“Iyah gak ngerti!” seru Sadiyah.
Kagendra menarik nafasnya. “Iya. Jawabannya iya dan boleh. Aa setuju dan mendukung semua rencana kamu.”
“Nah begitu dong kalau memberi jawaban. Jelas dan lugas.”
Sadiyah beranjak dari kasur menuju kamar mandi, ia lupa belum mencuci muka dan gosok gigi.
Kagendra harus memanjangkan sabarnya dalam menghadapi istri yang sedang hamil muda. Ia pun menikmati peran suami yang mendampingi istri yang hamil, tidak seperti tujuh tahun lalu ketika ia melewatkan masa ketika Sadiyah mengandung Faras dan Faris.
Faras dan Faris juga belum diberitahu kalau mereka akan segera memiliki adik. Mereka pasti senang saat mengetahui Sadiyah sedang hamil adik mereka yang ditunggu-tunggu dan inginkan sejak lama bahkan saat Sadiyah belum berbaikan dengan Kagendra.
*****
Hari Sabtu, keluarga besar Kagendra dan Sadiyah berkumpul untuk merayakan syukuran. Sadiyah mengumumkan kepada keluarganya bahwa syukuran kali ini adalah syukuran untuk adik angkatnya, Atep yang berhasil mendapatkan gelar sarjana.
Akhir-akhir ini, Kagendra dan Sadiyah memang sering mengadakan syukuran. Dalam kurun waktu beberapa bulan, sudah empat kali mereka mengadakan syukuran. Yang pertama syukuran rumah baru, kemudian syukuran ulang tahun pernikahan, syukuran ulang tahun si kembar dan sekarang syukuran kelulusan adik angkat Sadiyah.
“Assalamu’alaikum semuanya!” seru Kagendra menarik perhatian semua yang hadir di halaman belakang rumahnya yang luas.
“Terima kasih kepada keluarga dan sahabat karena telah berkenan hadir pada acara syukuran hari ini di tempat kami yang sederhana.”
Alena berdecih mendengar kata-kata manis dan rendah hati yang diucapkan kakaknya. Alena tidak menyangka jika kakaknya mampu bicara manis semanis gula-gula. Ia menduga efek cinta Sadiyah yang mampu merubah sikap Kagendra yang dingin dan sombong.
“Hari ini kami mengadakan syukuran atas kebahagiaan dan keberkahan yang telah Allah limpahkan kepada kami.” Kagendra meneruskan pidatonya.
“Yang pertama, kami mengadakan syukuran untuk adik angkat Iyah yang baru saja selesai sidang dan berhasil lulus dengan nilai terbaik. Walaupun aktor utamanya belum hadir tapi tidak mengurangi rasa syukur kami, terutama Mak Isah, ibu dari Atep, adik angkat istri saya.
Mendengar kata demi kata yang meluncur dari mulut Kagendra membuat Mak Isah meneteskan air mata haru. Ia merasakan kasih sayang luar biasa dari Sadiyah dan suaminya.
“Yang kedua dan tak kalah pentingnya adalah kabar bahagia dari kami berdua.” Kagendra dan Sadiyah saling menatap penuh cinta.
Seketika terdengar suara berbisik-bisik. Mereka menerka-nerka kabar yang akan disampaikan Kagendra.
“Kabar apa, Ndra?” tanya Yusuf tidak sabar.
Kagendra masih menatap Sadiyah penuh cinta dan dibalas Sadiyah dengan tatapan yang sama.
“Sudah… sudah… jangan terus saling menatap. Bisa-bisa kami mati penasaran kalau kalian terus-terusan saling tatap seperti itu. Dunia berasa milik berdua yang lain ngontrak, huh,” protes Arfian.
Kagendra tertawa mendengar protes dari sahabatnya.
“Kabar baiknya adalah …”
Kagendra menggantung kalimatnya.
“Aa… Endra…”
Semua orang kompak menggerutu sedangkan Sadiyah memukul pelan lengan suaminya. Mereka semua kesal karena ulah Kagendra.
“Baiklah, keluarga dan sahabatku tercinta. Kabarnya adalah, Insya Allah, Aras dan Aris akan punya adik dalam kurun waktu 7 bulan lagi.” Kagendra mengumumkan kabar kehamilan Sadiyah dengan senyum merekah. Sadiyah tersenyum dengan wajah merona di sampingnya.
“Alhamdulillah.” Semua yang hadir mengucapkan syukur.
**********
to be continued...
__ADS_1