Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
122. Pernikahan Bahagia


__ADS_3

Kagendra menyaksikan akad pernikahan Arfian dan Keisha dengan perasaan yang campur aduk. Ia mengingat kembali sikapnya yang enggan menikahi Sadiyah saat itu. Dengan perasaan dongkol ia terpaksa mengucapkan akad nikahnya dengan Sadiyah. Sekarang Kagendra menyesal dan berharap andai saja mereka lebih saling mengenal sebelum menikah, mungkin ia akan merasa bahagia ketika mengucapkan akad seperti bahagianya Arfian yang terpancar dari wajahnya saat mengucap nama lengkap pasangannya saat akad.


Arfian dan Keisha memang berjodoh, setelah 10 tahun berpisah, akhirnya mereka bertemu lagi dan ternyata selama perpisahan 10 tahun itu, cinta mereka tidak pernah hilang dari hati masing-masing. Arfian dan Keisha telah sah menjadi suami istri dan nanti malam mereka akan melangsungkan resepsi di hotel milik salah seorang kerabat Keisha.


Setelah selesai akad nikah, semua saudara Arfian berada di ruang makan sedangkan pasangan pengantin baru sedang beristirahat di kamar sang pengantin perempuan.


Arini, ibu dari Keisha membangunkan Keisha dan menyuruh mereka untuk bergabung makan siang bersama sanak saudara. Saat di meja makan, Arini menyuruh Keisha untuk menyiapkan nasi dan lauk pauk untuk Arfian.


Keisha mengambil satu piring dan mengisinya dengan nasi, lauk dan sayur kemudian memberikannya pada Arfian yang sudah duduk dengan manis di kursi meja makan. Kemudian ia mengambil satu piring lengkap dengan nasi, sayur dan lauk untuk dirinya sendiri.


Keisha duduk di samping Arfian. Mereka berdua makan dalam diam.


Kagendra yang duduk di depan Keisha melihat sesuatu yang mencurigakan.


“Kei, kenapa tuh leher kamu merah-merah gitu?” goda Kagendra.


Keisha gelagapan karena tanda cinta yang diberikan Arfian di lehernya terlihat jelas oleh orang lain. Wajahnya memerah merona seketika sedangkan Arfian hanya senyum-senyum saja.


bletak …


Terdengar suara benda yang dipukulkan pada benda lainnya.


“Jangan suka menggoda pengantin baru!” Sadiyah memukulkan sendok yang sedang dipegangnya di kepala Kagendra.


“Sakit, Sayang….” Kagendra meringis mengusap bagian kepalanya yang sakit terkena sambitan sendok Sadiyah.


“Syukurin.” ejek Arfian sambil terus menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Sadiyah mengulum senyumnya.


**************


Kagendra melihat sepupu sekaligus sahabatnya itu bersanding dengan wanita yang dicintai di atas pelaminan. Ia bersyukur jika dirinya dan juga sepupunya itu berhasil dalam menggapai cinta perempuan yang mereka cintai walaupun harus terpisah dulu sebelum akhirnya bersama.


“Sayang, lihat tuh di sana, Fian sama Keisha memang benar-benar berjodoh ya. Aa tidak menyangka kalau Aa bertemu dengan Keisha di butik kamu. Bertahun-tahun kami mencari dia sampai ngubek seluruh kota di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri, eh ketemunya malah di butik kamu. Kisah kita berempat memang aneh tetapi mirip dan saling terhubung. Kamu tidak kenal sebelumnya dengan Keisha tapi malah menjadi jalan bagi kami untuk menemukan dia. Kamu tidak tahu bagaimana Fian uring-uringan selama sepuluh tahun. Enam tahun tidak bertemu kamu saja, Aa sudah menderita bagaimana Arfian yang ditinggal lebih lama? Tapi dia beruntung karena menikah ketika dalam keadaan saling mencintai, tidak seperti kita.”


“Maksud Aa apa bicara begitu?”


“Bicara yang mana?”


“Tidak seperti kita.”


“Dulu kita menikah tanpa rasa cinta. Ketika Aa mengucap kalimat akad, hati Aa sangat kesal dan dongkol. Rasanya tidak ikhlas mengucapkan akad di hadapan penghulu dan harus tanda tangan di buku nikah.”


“Jadi Aa tidak ikhlas dan ridho menikah sama Iyah?” tanya Sadiyah dengan nada suara kesal.

__ADS_1


“Dulu memang tidak ikhlas dan ridho tetapi sekarang sangat bersyukur, sangat ikhlas dan ridho. Dulu, kamu juga begitu kan?”


“Enggak. Dari dulu juga Iyah sudah ikhlas dan ridho menikah dengan Aa. Pengorbanan Iyah kan untuk kebahagian keluarga kita.”


“Nah itu. Kamu juga sebenarnya enggan. Buktinya kamu bilang kalau kamu mengorbankan diri untuk kebahagian orang lain.”


Sadiyah memukul lengan suaminya dengan kesal. “Iyah memang sedikit merasa enggan tapi tidak sampai mengingkari dan merutuk takdir yang terjadi. Iyah berusaha untuk ikhlas dan ridho menerima Aa sebagai suami. Tidak seperti Aa yang benar-benar tidak menerima. Karena tidak ikhsas dan tidak ridho mendapatkan istri bukan pilihan, makanya Aa selingkuh sama cinta pertama yang datang kembali.”


“Sudah ah, jangan bicarakan masa lalu.”


“Siapa juga yang memulai?” ucap Sadiyah ketus.


“Iya, maaf… Aa sangat bersyukur karena kamu mau memaafkan dan menerima Aa kembali. Kamu tidak akan mampu membayangkan bahagianya Aa mendapatkan cinta kamu kembali plus anak kembar yang cerdas dan tampan.” Kagendra tidak pernah bosan untuk terus mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.


“Aa memang seharusnya bersyukur Iyah tidak meninggalkan Aa selama 10 tahun seperti Keisha.” goda Sadiyah.


“Huh, kalau Aa tidak bertemu dengan Aras dan Aris mungkin kamu tidak ada niat untuk kembali pada Aa. Iya kan?”


Sadiyah terkekeh mendengar ucapan Kagendra yang sedikit ketus.


“Allah yang mentakdirkan Aa pergi ke desa Cibeber untuk syuting iklan lalu bertemu dengan Aras dan Aris. Lalu Aras dan Aris mengantarkan Aa untuk bertemu lagi dengan kamu. Saat Aa pertama kali bertemu dengan Aras dan Aris, Aa sudah merasakan hal yang berbeda pada mereka. Kamu juga tahu kan kalau Aa sulit untuk berkomunikasi dengan orang yang pertama kali ditemui, tetapi dengan Aras dan Aris tidak begitu. Aa sudah merasa sayang sejak pertama kali bertemu. Mungkin karena mereka anak kandung Aa, jadi sudah ada ikatan.”


“kita memang tidak bisa menghindari dari takdir. Iyah sudah berusaha menjauh dari Aa sampai tinggal di desa yang jauh dari Jakarta, namun Allah mentakdirkan kita untuk bertemu lagi. Iyah juga tidak menyangka kalau Keisha yang saat itu akan menjadi rekan Iyah adalah perempuan yang sedang dicari-cari oleh sepupunya Aa. Jodoh memang tidak ada yang bisa menebaknya ya A. Allah menuliskan skenario terbaik untuk hamba-hamba-Nya.”


“Hmm…” Kagendra memeluk Sadiyah dari samping.


“Iiih dasar nakal.” Kagendra menjawil hidung mungil Sadiyah. Sadiyah mengeratkan pelukan tangannya di pinggang Kagendra.


“Iyah juga sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menjadi istri Aa dan menjadi ibu dari anak-anaknya Aa.”


Kagendra mengurai pelukan sampingnya lalu memeluk Sadiyah dari belakang dan mencium puncak kepala Sadiyah.


“Kita menikah lagi yuk.” ajak Kagendra.


“Ish…apa-apaan sih A? Kita kan sudah menikah dan belum bercerai, jadi untuk apa kita menikah lagi?”


“Aa iri sama Fian. Aa juga ingin duduk bersanding dengan kamu di atas pelaminan dengan senyum tulus. Dulu, pas kita nikah sepertinya wajah kita berdua jarang mengumbar senyum karena rasa dongkol dalam hati kita.”


“Betul juga sih. Tapi menurut Iyah mah yang terpenting dalam pernikahan bukan pesta pernikahannya tapi apa yang akan kita lakukan untuk menggapai pernikahan yang sakinah, mawaddah warohmah. Iyah ingin berjodoh dengan Aa tidak hanya di dunia saja tapi juga di surga. Pokoknya Aa harus bawa Iyah dan anak-anak kita ke surga.” Sadiyah membalikkan badannya hingga berhadapan dengan Kagendra.


“Insya Allah sayang. Bantu Aa untuk mewujudkan apa yang kamu inginkan.” sahut Kagendra.


Sadiyah membalikkan badan lalu memeluk Kagendra tanpa peduli jika tamu-tamu pernikahan Arfian dan Keisha melihat mereka yang sedang berpelukan.


“Kamu tahu, sayang?” tanya Kagendra setelah mengurai pelukan mereka.

__ADS_1


“Tau apa?”


“Sebelum bertemu kamu, Aa tidak tahu apa itu cinta yang sebenarnya. Aa pikir dulu cinta Aa untuk Natasha adalah cinta sejati.”


“Ish, Aa. Jangan ngomongin lagi perempuan itu. Iyah gak suka.” protes Sadiyah.


“Iya maaf… Aa cuma mau menegaskan cinta Aa.”


“Cinta buat siapa?” tanya Sadiyah ketus.


“Ya cinta buat sayangnya Aa.” Kagendra menatap Sadiyah dengan tatapan sayang.


“Siapa itu sayangnya Aa? Natasha atau Grace?” Sadiyah semakin memanyunkan bibirnya.


“Kasih tau gak yaaa….” goda Kagendra.


Sadiyah memelototkan matanya. “Aa…”


“Siapa lagi sih sayangnya Aa kalau bukan wanita tercantik yang ada dalam dekapan Aa ini.” Kagendra kembali memeluk Sadiyah dengan erat.


“Aa tukang ngegombal.” Sadiyah merasakan wajahnya menghangat dan senyuman menghias wajah cantiknya.


Cup


Dengan berani, Sadiyah mengecup pipi suaminya.


Kagendra terkejut dengan keagresifan Sadiyah. Ini pertama kalinya Sadiyah berinisiatif untuk memberikan ciuman padanya di depan umum.


“Iyah….”


“Hmmm…”


“Kamu tahu? Aku menemukan cinta bersama denganmu. Aa sayang sekali pada Iyah.”


“Iyah juga. Iyah menemukan cinta bersama dengan Aa.”


Kagendra kembali memeluk pundak Sadiyah dari samping sambil menatap ke arah pelaminan dimana Arfian dan Keisha tersenyum bahagia di atas pelaminan.


Kagendra dan Sadiyah bersyukur dalam hati mereka karena Allah begitu baik dengan mempersatukan mereka setelah terpisah cukup lama.


********


“Cih…kalian berdua berbahagia di atas penderitaan orang lain. Aku tidak akan pernah rela kalian berbahagia di atas penderitaanku.” Seorang wanita berkacamata hitam melihat kemesraan Kagendra dan Sadiyah dengan sorot mata kebencian.


************

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2