
Setelah istirahat selama tiga hari demi proses penyembuhan luka-lukanya. Kagendra meminta Rudi untuk mengantar ke rumah keluarga Sadiyah. Walaupun luka-lukanya sudah hampir sembuh, tapi Kagendra belum berani untuk menyetir sendiri menempuh perjalanan yang lumayan jauh.
Baru hari ini, deman tinggi Kagendra sudah mulai menurun. Sejak tiga hari yang lalu, Kagendra mengalami deman tinggi yang membuatnya dirinya bahkan tidak sanggup hanya untuk bangun dari tempat tidur.
“Bos yakin mampu melakukan perjalanan jauh?”
“Yang nyetir kan kamu bukan saya. Saya hanya duduk saja di kursi penumpang. Saya masih bisa istirahat dalam perjalanan.”
“Tapi tetap saja Bos. Kalau tubuh Bos masih lemah, jadi penumpang pun akan membuat tubuh Bos cepat letih.”
“Kalau semakin ditunda, saya takut akan terlambat.”
Kagendra sudah menceritakan semua detail masalah dirinya dan Sadiyah. Juga tentang gugatan cerai yang didaftarkan Sadiyah pada Rudi. Sebelum mendapatkan panggilan dari pengadilan, Kagendra ingin mencoba untuk meluruskan semua kesalahpahaman ini. Kagendra akan menceritakan kejadian sebenarnya bahwa dia tidak pernah tidur bersama dengan Natasha.
Kagendra juga akan menjelaskan kejadian di bandara Suvarnabhumi, Thailand. Ia tidak pernah pergi bersama dengan Natasha. Ia bertemu Natasha di bandara secara kebetuan karena menurut Natasha dirinya ada kerja di negara yang sama dengannya.
Kagendra tidak pernah menyangka Natasha akan nekad untuk menyuruh sang asisten untuk memfoto dirinya bersama Natasha. Kagendra teringat ketika bertemu tidak sengaja dengan Natasha di bandara Suvarnabhumi, perempuan itu bersikap sangat agresif dan selalu menempel pada dirinya. Ternyata hal itu dimanfaatkan oleh Natasha untuk menampilkan seolah-olah ia dan Natasha pergi bersama ke Thailand untuk berliburan.
“Bos yakin mau pergi? Suhu tubuh Bos masih tinggi. Masih 38 derajat.” Rudi memperlihatkan angka di termometer.
“Sudah saya katakan kalau saya menunggu lebih lama lagi, saya takut Sadiyah akan semakin membenci saya. Saya harus cepat menjelaskan semuanya sebelum terlambat.”
“Sekarang, kelimpungan mencari istri untuk memberikan penjelasan dan memohon maaf. Dulu seenaknya bermain api dengan wanita lain. Kalau bukan Bos gue, udah gue bakar tuh makhluk ampe jadi debu.” dumel Rudi dengan suara yang sangat rendah karena takut Kagendra mendengarnya.
“Bicara apa kamu, Rud?”
“Saya tidak bicara, Bos. Mungkin Bos berhalusinasi mendengar saya berbicara.” jawab Rudi sekenanya.
“Saya yakin kamu mengeluarkan kata-kata. Tapi saya tidak yakin kamu berbicara apa dan pada siapa? Apa kamu mengumpat pada saya?” tebak Kagendra.
“Mana mungkin saya mengumpat pada Bos sendiri, apalagi Bos sedang sakit. Masa saya mengumpat pada orang yang sedang sakit.” Rudi heran dengan tajamnya pendengaran Kagendra. Padahal ia bicara dengan suara yang sangat rendah dengan jarak yang cukup jauh juga dari Kagendra. Rudi bergidik dengan kemampuan yang dimiliki Kagendra ini.
**********
“Kita berangkat sekarang, Rud.” Kagendra sudah bersiap untuk pergi menuju rumah keluarga Sadiyah di Bandung. Suhu tubuhnya masih tinggi tapi ia bersikeras untuk tetap pergi.
“Bos benar-benar yakin. Suhu tubuh Bos masih tinggi, tadi pagi juga Bos masih muntah-muntah.”
“Cerewet kamu Rud. Sudah berapa kali saya bilang kalau saya mau pergi hari ini.” tegas Kagendra.
__ADS_1
“Baiklah Bos. Tapi kalau di jalan Bos merasa pusing, mual, atau letih, Bos harus segera bilang sama saya. Jangan memaksakan diri.”
“Iya…iya…jangan cerewet kaya Ibu saya.” protes Kagendra.
**********
Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam lebih, akhirnya Kagendra sampai di rumah keluarga Sadiyah. Ia turun dari mobil dengan sedikit terhuyung. Rudi memegang lengan Kagendra dan memapahnya sampai pintu depan.
“Assalamu’alaikum……” Rudi mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
“Wa’alaikumsalam”
Seorang perempuan muda membukakan pintu.
“Mau bertemu dengan siapa?” tanya perempuan muda itu.
“Saya mau bertemu dengan Sadiyah.” jawab Kagendra.
“Siapa, In?” terdengar suara Rostita dari dalam rumah.
“Ini Mbu. Ada yang mencari Teh Iyah.” jawab perempuan muda yang membantu pekerjaan Rostita di rumah ini menggantikan Mak Isah yang menemani Sadiyah di tempat lain.
Rostita melihat wajah Kagendra yang masih pucat. Karena belum sanggup untuk berjalan dengan ajeg, Rudi membantu Kagendra untuk duduk di kursi yang ditujukkan oleh Rostita.
“Mau minum apa, Ndra?”
“Apa saja, Bi.”
“Iin, buatkan minum 3 cangkir. Air teh tawar saja. Endra kurang suka dengan teh manis.
“Baik, Mbu.” Iin segera berlalu menuju dapur untuk membuatkan teh tawar untuk Kagendra, Rudi dan Rostita.
“Saya mau bertemu dengan Sadiyah. Bisa bertemu sekarang?” tanya Kagendra tidak sabar.
Iin datang dengan membawa 3 cangkir teh tawar.
“Diminum dulu tehnya, Ndra.”
Kagendra dan Rudi meminum teh di hadapan mereka.
__ADS_1
“Bagaimana, Bi. Bisa saya bertemu dengan Sadiyah sekarang?”
“Kita tunggu dulu Mang Awan pulang dari Masjid. Kamu sudah sholat dzuhur?”
“Belum, Bi.”
“Ya sudah kamu sholat dzuhur dulu.”
Rostita menyiapkan sajadah di kamar tamu agar Kagendra dan Rudi bisa sholat dan mungkin beristirahat sebentar setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh.
Setelah selesai sholat dan berbaring sebentar mengistirahatkan tubuhnya yang masih lemas, Kagendra yang dipapah oleh Rudi kembali ke ruang tamu. Di sana sudah tampak Darmawan yang baru saja pulang dari masjid.
“Kita makan siang dulu, Ndra.” tawar Darmawan.
“Mang, saya mau bertemu dengan Sadiyah.”
“Kita makan dulu.” ucap Darmawan tegas, tidak mau dibantah.
Kagendra menuruti perkataan Darmawan. Mereka makan siang bersama dengan menu yang seadanya karena Rostita tidak tahu Kagendra akan datang sehingga ia tidak menyiapkan makanan lebih ataupun menu khusus untuk Kagendra.
“Makannya seadanya saja, Ndra. Bi Ita tidak tahu kalau kamu mau datang. Kalau saja kamu bilang sama Bi Ita sebelumnya, Bibi bisa siapkan makanan kesukaan kamu.”
“Tidak apa-apa, Bi.”
Setelah mereka selesai makan, mereka kembali ke ruang tamu.
“Sadiyahnya ada dimana, Mang?” Kagendra tidak sabar untuk bertemu dengan Sadiyah. Ia juga sangat merindukan Sadiyah karena sudah hampir 2 minggu tidak bertemu dengan Sadiyah.
“Begini, Ndra…..” Darmawan mengela nafasnya berat.
“Sadiyah sudah tidak ada disini. Satu hari setelah mendaftarkan gugatan cerai, Iyah pergi bersama dengan Mak Isah. Dia tidak memberitahu kami kemana dia akan pergi dan menetap. Kami pun tidak memiliki nomor kontaknya yang baru. Iyah bilang kalau nanti ia yang akan menghubungi kami. Tapi sampai sekarang kami belum menerima kabar darinya.”
Kagendra terhenyak mendapatkan kabar tentang Sadiyah dari Darmawan.
“Mang Awan tidak berbohong kan? Tidak dengan sengaja menyembunyikan Sadiyah dari saya? Saya sadar memang saya yang bersalah. Tapi saya ingin menjelaskan semua kesalahpahaman ini. Iyah harus tahu cerita yang sebenarnya. Apa yang tampak di dalam foto itu bukan kejadian yang sebenarnya. Rudi bisa menjadi saksinya.”
Kagendra berusaha meyakinkan Rostita dan Darmawan bahwa apa yang dilihat Sadiyah bukanlah yang sebenarnya terjadi.
Rostita dan Darmawan sedikit kaget dengan tindakan yang dilakukan oleh Kagendra sekarang. Mereka tidak menyangka Kagendra akan semenderita seperti ini karena ditinggal pergi oleh Sadiyah.
__ADS_1
*********