Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
85. Tidak Bertemu


__ADS_3

Malam harinya, Faris sedikit demam karena selain terlalu lama bermain di sungai ditambah tadi sore ia nekad minum air es.


“Aris kenapa bisa sampai demam seperti ini?” tanya Sadiyah yang sedang memeras kain basah untuk diletakkan di dahi Faris. Ketika Sadiyah baru saja sampai rumah, ia melihat wajah Faris yang memerah dengan suhu tubuh yang agak tinggi.


“Tadi siang main di sungai terus sorenya minum air es.” Faras yang menjawabnya.


“Kan Ibu sudah bilang kalau Aris tidak bisa minum air es. Apalagi siangnya sudah bermain di sungai.”


Faris diam saja mendengar omelan ibunya karena merasa memang dia yang bersalah.


“Besok kalau masih demam, kita ke dokter.”


“Tapi besok Aris sudah janjian sama Om.”


“Om siapa?” tanya Sadiyah.


“Om yang tadi main sama-sama di sungai. Itu Om nya dari yang syuting. Om sudah janji sama Aris dan Aras mau ngajak ketemu sama artis-artis yang ada di tivi.” rengek Faris.


“Kalau Aris masih sakit, besok tidak boleh keluar.” larang Sadiyah tegas.


“Aras juga tadi matanya perih kena air.” lapor Faris.


“Coba sini Ibu lihat matanya.”


“Mata Aras mah dari tadi juga sudah tidak perih lagi. Kan sudah biasa kalau mata kena air suka perih. Jadi besok Aras boleh kan ikut nonton syutingnya, Bu?”


“Tidak boleh. Kalau adik kamu tidak pergi kamu juga tidak boleh pergi.”


“Ah Ibu mah gak adil. Aris yang sakit kenapa Aras juga tidak boleh pergi.” protes Faras.


“Kalau kamu pergi nanti Aris juga ingin pergi. Memangnya Aras tega pergi sendiri tidak bersama Aris?” Sadiyah tahu sisi sensitif Faras dan Faris. Mereka akan tersentuh jika diingatkan kalau mereka itu anak kembar.


“Iya deh Aras tidak akan pergi.” setelah berkata seperti itu, Faras langsung ngeloyor pergi ke dapur.


********


Keesokan paginya, suhu tubuh Faris sudah mulai menurun.

__ADS_1


“Bu, Aris sudah sembuh. Boleh tidak pergi nonton syuting?” Faris bertanya pada Sadiyah ketika mereka sedang sarapan bersama di meja makan.


Sadiyah menempelkan telapak tangannya di dahi Faris.


“Sudah tidak panas seperti tadi malam tapi masih sedikit hangat. Aris belum boleh pergi ke luar.” kata Sadiyah tegas dan tidak bisa dibantah.


“Yaaah Ibu mah gitu…Aris kan sudah sembuh.” protes Faris.


Sadiyah diam tidak menanggapi protes dari Faris.


“Aras saja yang tidak sakit tidak protes sama Ibu.” celetuk Faras.


“Tapi kan hari ini kita sudah janjian sama Om.”


“Besok juga masih bisa ketemu.” timpal Faras santai.


******


“Rud, kamu tidak melihat Aras dan Aris?” tanya Kagendra memanjangkan lehernya mencari keberadaan Faras dan Faris di kerumunan orang-orang yang sudah berkumpul untuk menonton proses syuting. Hari ini, warga yang menonton tidak terlalu banyak seperti kemarin sehingga tidak terlalu mengganggu proses syuting.


Kagendra menghela nafas dengan kasar, ia sedikit kecewa karena hari ini tidak bertemu dengan Faras dan Faris.


Syuting hari ini berjalan dengan lancar dan sesuai target. Kagendra berencana untuk melakukan audisi untuk merekrut ekstra untuk keperluan film yang akan diproduserinya. Ia memerintahkan kepada timnya untuk mengaudisi anak muda lokal sebagai pemeran ekstra.


Kagendra akan memproduseri sebuah film petualangan anak-anak dan hari ini dia harus kembali ke Jakarta untuk berdiskusi dengan sutradara mengenai aktor utama yang akan terlibat di filmnya.


“Bos, bagaimana kalau Bos merekomendasikan Aras dan Aris untuk terlibat di film?”


“Tidak boleh.” tegas Kagendra.


“Kenapa tidak boleh, Bos?. Mereka pasti senang kalau bisa main di film dan ketemu sama artis-artis.”


“Mereka masih terlalu kecil. Nanti mereka kecapekan kalau harus syuting.”


“Memangnya usia mereka berapa, Bos?”


“Saya juga tidak tahu. Tapi yang pasti, saya tidak mau mereka ikut syuting.”

__ADS_1


“Bos bisa merekrut mereka sebagai ekstra saja. Tidak akan terlalu capek.”


“Pokoknya tidak bisa.” Kagendra tetap dengan keputusannya.


Rudi heran melihat sikap Kagendra yang sangat protektif terhadap anak-anak yang baru saja dikenalnya.


“….atau mereka bisa jadi cameo saja. Jadi anak desa yang cuma numpang lewat.”


“Kenapa kamu ngotot supaya mereka ikut syuting?” dengus Kagendra.


“Ya tidak kenapa-kenapa sih Bos. Mareka berdua kan ganteng, cocok jadi aktor cilik.”


“Gak boleh. Nanti kalau jadi aktor, pendidikan mereka terbengkalai. Saya tidak mau seperti itu.”


“Lah, Bos kan bukan ayahnya. Gak boleh ngatur-ngatur seperti itu.”


“Kamu juga bukan ayahnya. Kenapa kamu ngotot supaya mereka jadi aktor.”


“Anggap saja saya itu pencari bakat. Yang namanya pencari bakat itu kalau melihat bakat dari orang yang akan direkrutnya. Tapi Bos malah yang ngotot melindungi mereka padahal Bos bukan ayahnya.”


“Kamu juga bukan pencari bakat. Keputusan saya sudah bulat. Mereka tidak boleh terlibat syuting apapun.” tegas Kagendra.


“Kalau orangtua mereka mengizinkan mereka untuk syuting bagaimana?” pancing Rudi.


Kagendra terdiam mendengar pertanyaan Rudi. Hatinya seperti tidak terima jika orangtua Faras dan Faris menginginkan mereka menjadi aktor. Ia sepertinya tidak rela kalau Faras dan Faris mempunyai seorang ayah yang mengizinkan mereka bermain film.


“Saya tidak akan mengizinkannya.” tegas Kagendra lagi.


“Kan sudah saya bilang kalau Bos bukan ayah ….” kalimat Rudi terpotong oleh hardikan Kagendra.


“Diam kamu.!”


Rudi menutup mulutnya tapi ia juga berusaha menahan tawa. Kagendra terlihat lucu jika sedang dalam mode protektif terhadap orang-orang yang disayanginya. Rudi yakin jika ada perasaan tidak biasa yang Kagendra rasakan untuk Faras dan Faris.


******


to be continued.....

__ADS_1


__ADS_2