Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
95. Anak Kandung


__ADS_3

“Bos…” panggil Rudi menyusul Kagendra yang berlari mengejar Sadiyah.


“Rud, itu Sadiyah istri saya. Tadi itu Iyah. Kamu juga melihatnya, kan? Iya kan, Rud? Kamu juga lihat, kan?” Kagendra mengulang-ngulang perkataan dan pertanyaannya.


“Iya, Bos. Saya juga melihatnya. Itu memang Bu Bos, istri dari Bos. Perempuan yang Bos sangat cintai. Perempuan yang Bos cari-cari sampai sekarang.”


“Rud, kamu tahu Aras dan Aris, Rud?” tanya Kagendra riang.


“Kenapa dengan Aras dan Aris?” goda Rudi yang sebenarnya sudah bisa menerka siapa Aras dan Aris bagi Kangendra.


“Mereka memanggil Sadiyah dengan sebutan Ibu. Aras dan Aris, mereka anaknya Sadiyah. Mereka, apa mereka anak-anak saya? Mereka anak-anak saya kan, Rud?”


“Sepertinya begitu, Bos. Apalagi kalau dilihat dari umurnya Aras dan Aris. Kemungkinan mereka anak-anak Bos. Itu juga kalau Aras dan Aris itu memang benar anak kandungnya Bu Bos. Atau…kalau kita salah menerka usia Aras dan Aris, bisa jadi mereka anak-anak Bu Bos dengan suami barunya.”


Kagendra menatap Rudi dengan tajam setelah mendengar pernyataan Rudi yang meragukan kalau Faras dan Faris anak kandung darinya.


Rudi tertawa kecil melihat sikap Kagendra yang sudah terlihat posesif.


“Rud, saya harus bertemu dengan Sadiyah. Kita harus cepat ke sana.”


Kagendra sudah mulai berlari menuju mobilnya di parkirkan dekat lokasi syuting. Rudi berlari mengikutinya.


“Kuncinya, Rud.” teriak Kagendra meminta kunci mobil yang dipegang oleh Rudi.


“Biar saya yang nyetir, Bos. Kalau Bos yang nyetir, bukannya ke rumah Bu Bos tapi ke rumah sakit atau kantor polisi.


“Cepat, Rud.” seru Kagendra tidak sabaran. Ia sudah duduk di kursi penumpang.


“Sabar, Bos. Sepertinya kali ini kita tidak akan kehilangan jejak lagi.”


Mereka sudah berada dalam mobil dan Rudi mulai menjalankan mobil dengan kecepatan normal karena mereka melintas di jalanan kota kecil bukan jalan tol yang bisa melajukan mobil hingga 100 km/jam.


“Saya tidak menyangka kalau selama ini, Sadiyah begitu dekat. Kita pernah mengantar Aras dan Aris pulang dan itu adalah rumah Sadiyah. Rud, Aras dan Aris itu benar kan anak-anak saya? Mereka anak-anak kandung saya, kan? Saya punya anak kembar, Rud. Aras dan Aris itu anak-anak kandung saya.” Kagendra sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Faras dan Faris lagi, apalagi dengan Sadiyah. Ia sudah begitu merindukannya.


“Sebenarnya saya sudah bisa melihat kemiripan karakter antara Bos dengan Aras yang sama-sama galak dan ketus. Hanya saja saya tidak pernah menyangka kalau Aras dan Aris itu anak-anak Bos.”


Kagendra tidak marah mendengar perkataan Rudi yang menyebutnya galak dan ketus. Ia malah tersenyum bahagia mendengar kalau Aras mirip dengan dirinya.


“Saya juga memang merasa seperti itu ketika pertama kali bertemu dengan Aras. Saya seperti melihat diri saya sendiri sewaktu masih kecil. Saya sampai sering dinasihati Ibu karena suka berkata ketus sama orang lain. Saya juga pernah bilang kan kalau saya seperti melihat mata Sadiyah ketika melihat tatapan Aris.”


“Iya, Bos. Alhamdulillah. Ini cara Allah untuk mempertemukan Bos dengan istri Bos dan juga anak-anak Bos.”

__ADS_1


“Tidak pernah terlintas sekalipun dalam pikiran saya selama ini kalau saya akan memiliki anak-anak bersama dengan Sadiyah. Aris dan Aris itu anak-anak saya, Rud.”


“Iya Bos. Bos sudah ngomong itu ratusan kali sampai saya bosan mendengarnya.”


“Belum ratusan kali. Saya baru mengatakannya beberapa kali saja.” protes Kagendra.


“Iya belum ratusan kali tapi cukup sering sampai saya bosan mendengarnya.”


“Tapi saya tidak akan bosan untuk mengatakan kalau Aras dan Aris itu anak-anak saya. Mereka anak-anak saya, Rud. Anak-anak kandung saya.”


Sepanjang perjalanan menuju rumah Sadiyah, Kagendra tak berhenti tersenyum.


“Bos bahagia?”


“Jangan ditanya, Rud. Saya belum pernah merasa sebahagia seperti hari ini.”


“Bagaimana kalau nanti Bos ditolak sama istri Bos, lalu Aras dan Aris tidak menerima Bos sebagai ayah mereka karena Bos sudah meninggalkan mereka.”


Kagendra menembakkan tatapan tajamnya.


“Yang meninggalkan saya itu Sadiyah. Bukan saya yang meninggalkan Sadiyah. Saya tidak pernah tahu kalau Sadiyah sedang mengandung saat dia pergi.”


“Tetap saja Bos yang bersalah karena sudah selingkuh sama wanita iblis itu.”


Rudi tidak menanggapi pertanyaan Kagendra.


“Saya juga sudah menyayangi mereka tanpa tahu kalau mereka itu anak-anak saya. Itu karena mereka memang anak kandung saya. Iya kan Rud? Aras dan Aris itu anak-anak saya. Mereka itu anak kandung saya.”


“Bos…saya menghitung berapa kali Bos mengatakan kalau Aras dan Aris itu anak-anak Bos. Sudah lebih dari sepuluh kali Bos menyebut kalau Aras dan Aris itu anak kandung Bos. Satu kali bilang juga saya sudah paham dan mengerti kalau mereka itu anak kandung Bos. Tidak usah berkali-kali bilangnya.”


“Sudah saya bilang kalau saya tidak akan bosan mengatakan kalau Aras dan Aris itu anak saya. Kamu tidak punya hak untuk protes!” dengus Kagendra.


“Terserah Bos saja.” Rudi sudah pasrah melihat kelakuan bosnya.


“Cepat nyetirnya, Rud.” perintah Kagendra tidak sabar.


“Sabar, Bos. Sebentar lagi juga kita sampai.”


Dalam waktu tidak lebih dari 15 menit, Kagendra dan Rudi sudah sampai di depan rumah Sadiyah.


Belum sempurna Rudi memarkirkan mobilnya, Kagendra sudah bergegas keluar dari mobil dan berlari memasuki pekarangan rumah Sadiyah.

__ADS_1


Kagendra melihat pintu depan rumah Sadiyah terbuka. Ia mengucapkan salam dan melihat Rostita sedang duduk di kursi ruang tamu.


“Bi….”


“Endra….kamu….” Rostita terkejut melihat Kagendra yang sudah berdiri hadapannya.


“Kenapa Bi Ita tidak pernah bilang pada saya kalau Bibi tahu tempat Iyah tinggal? Bi Ita kan pernah janji sama saya kalau Bibi akan memberitahu saya kalau Bibi tahu tempat Iyah tinggal.” tanya Kagendra kecewa.


“Maaf, Ndra. Bi Ita juga baru tahu tempat Iyah tinggal sekarang. Ini pertama kalinya Bibi berkunjung ke tempat Iyah.”


“Tapi Bi Ita pernah kan bertemu dengan Iyah sebelumnya?”


“Bibi baru bertemu dengan Iyah setahun terakhir saja. Iyah baru menghubungi Bibi awal tahun ini dan Iyah memohon pada Bibi untuk tidak memberitahukan pertemuan Bibi dan Iyah pada kamu.” jelas Rostita.


“Mana Iyah?” tanya Kagendra.


“Bagaimana kamu bisa tahu tempat ini?”


“Takdir.” jawab Kagendra sekenanya.


Kagendra menerobos masuk ke dalam rumah Sadiyah dan memanggil-manggil Sadiyah.


“Iyah….Iyah….kita harus bicara.”


Tidak mendapatkan respon dari Sadiyah, Kagendra kembali berteriak-teriak lagi memanggil Sadiyah.


“Iyah….Iyah…kamu harus mendengarkan penjelasan dari saya.”


“Pergi kamu!” teriak Sadiyah dari dalam kamar.


Kagendra terus mengetuk-ngetuk pintu kamar dan ketika tidak mendapatkan respon dari Sadiyah, ia menggedor-gedor pintu kamar tersebut.


“Pergi!” teriak Sadiyah lagi.


“Sudahlah Ndra, biarkan Iyah tenang dulu. Besok saja kamu ke sini lagi.” bujuk Rostita.


“Tapi, Bi….”


“Biarkan Iyah tenang dulu ya. Kamu harus sabar. Tidak mudah menjadi Iyah. Dia berjuang sendirian selama enam tahun ini dan mungkin belum siap jika harus bertemu dan bicara sama kamu sekarang. Bibi harap kamu bersabar.”


“Iya Bi. Besok saya kesini lagi.” ujar Kagendra mengalah.

__ADS_1


*************


to be continued...


__ADS_2