
“Om…Om…kalau orang besar berenangnya jangan di sini.” seru Faras yang melihat Kagendra sedang berendam di sungai yang dangkal.
“Siapa ini bocah seenaknya melarang-larang.” omel Kagendra dalam hatinya.
“Kenapa tidak boleh?” tanya Kagendra ketus.
“Di sini sungainya gak dalam, Om. Kalau orang yang sudah besar, berenangnya di sungai yang dalam di sana.” ujar Faris yang tiba-tiba muncul di hadapan Kagendra.
“Eh, kalian ada dua?”
Kagendra kaget melihat dua orang anak yang mukanya mirip seperti pinang dibelah dua muncul secara tiba-tiba di hadapannya.
“Kalian siapa?”
“Ini Aras.” Faras menunjuk dirinya sendiri. “Kalau ini Aris.” Faras menunjuk adik kembarnya.
“Kalian kembar?”
Faras dan Faris mengangguk bersamaan.
“Kalian ke sini sama siapa?” tanya Kagendra.
“Sama Mang Atep dan Teh Tuti.” Faris menunjuk ke arah Atep dan Tuti yang sedang duduk di tepi sungai agak jauh dari tempat Kagendra, Faras dan Faris bertemu untuk pertama kalinya.
“Kalian tidak takut berenang hanya berdua di sini?”
“Tidak, Om. Kan sungainya juga tidak dalam. Berenang di sungai yang dalam juga kita berani tapi tidak boleh sama Ibu. Aris pernah hampir tenggelam terbawa arus sungai.” jelas Faris.
“Kamu pernah tenggelam?” tanya Kagendra.
“Belum tenggelam sih, Om. Cuma terbawa arus saja. Aris juga sudah bisa berenang kok. Cuma Aris gak kuat berenang ke tepi jadi seperti mau tenggelam.” ujar Faras menjelaskan kejadian ketika Faris hampir tengelam terbawa arus sungai yang deras.
“Mana yang Aras dan mana yang Aris?” tanya Kagendra bingung karena tidak bisa membedakan dua anak kembar di hadapannya.
“Ini Aras.” sahut Faras menunjuk dada dengan telunjuknya.
“Ini Aris.” sahut Faris juga sambil menunjuk dirinya.
“Bedanya kalian apa?”
“Apa ya, Om? Aris juga gak tau.” jawab Faris terkikik karena dia merasa bingung juga perbedaan antara mereka.
“Ibu kalian suka salah tidak kalau memanggil?”
“Tidak pernah sih. Ibu mah tau yang mana Aras dan yang mana Aris.” sahut Faras.
“Kalau Om bingung membedakannya. Kalau Upin Ipin kan ada bedanya. Kenapa kalian tidak potong rambut seperti Upin dan Ipin?”
“Yeeey si Om mah. Masa kita disamain sama Upin dan Ipin yang botak. Aris sama Aras mah rambutnya banyak.” protes Faris karena disamakan dengan karakter animasi dari negara tetangga itu.
“Jadi Aras itu kakak dan Aris itu adik?” tebak Kagendra.
“Betul, betul, betul….” seru Faras dan Faris menirukan suara khas Upin dan Ipin.
“Tuh kan kalian ngomongnya juga mirip sama Upin dan Ipin.” Kagendra tertawa terbahak melihat ekspresi Faras dan Faris yang tertangkap basah menirukan ucapan Upin dan Ipin.
Faras dan Faris yang tidak terima ditertawakan langsung mencipratkan air sungai ke arah tubuh dan wajah Kagendra.
__ADS_1
Mereka tertawa melihat Kagendra yang kaget karena wajahnya terciprat air sungai.
“Dasar bocah.” Kagendra pun balas mencipratkan air. Dengan tangannya yang besar, alhasil cipratannya juga jauh lebih besar dibandingkan cipratan yang dihasilkan oleh Faras dan Faris.
“Om curaaaang…..” teriak Faras dan Faris sambil mengusap-ngusap wajah yang terkena cipratan air.
“Siapa yang duluan main serang?” balas Kagendra.
Mereka pun kembali perang cipratan air yang hasilnya sudah pasti dimenangkan oleh Kagendra. Ayah dan anak itu bermain dan tertawa bersama tanpa mengetahui status masing-masing
“Udah Om, nyerah Om…..” Faras menutup matanya yang terasa perih karena terkena cipratan air.
Kagendra yang melihat mata merah Faras segera menghampirinya.
“Kamu tidak apa-apa?” Kagendra mendongakkan kepala Faras untuk memeriksa matanya.
“Tidak apa-apa Om. Mata Aras cuma perih kena air sungai.” sahut Faras.
“Siapa mereka, Bos?” tanya Rudi yang datang menghampiri. Sebenarnya Rudi melihat apa yang dilakukan oleh Kagendra bersama Faras dan Faris dari kejauhan. Rudi melihat Kagendra yang tertawa lepas. Sudah lama sekali ia tidak melihat Kagendra tertawa dengan begitu lepasnya. Selama lima tahun ini, belum pernah sekalipun Rudi melihat Kagendra tertawa. Jika memang harus terpaksa tertawa di pesta-pesta yang harus Kagendra hadiri, Rudi tidak pernah melihat tawa Kagendra terlihat sampai mata. Tawanya hanya sebatas menggerakkan bibir saja, tidak dari hati.
Hari ini, Rudi benar-benar kaget melihat Kagendra dengan tawa yang terlihat tulus dan lepas. Tawanya sampai hingga pancaran mata. Bosnya itu terlihat sangat bahagia bermain air dengan dua anak yang baru pertama kali bertemu.
Kagendra melihat Rudi datang menghampiri.
“Rud, kamu tahu gimana caranya supaya mata anak ini tidak perih lagi?” tanya Kagendra khawatir.
“Saya juga tidak tahu, Bos.”
“Tidak apa apa, Om. Nanti juga sembuh sendiri. Aras kan sering main air sungai. Mata Aras juga sering kemasukan air, jadi sudah biasa.”
“Gak ah. Aras takut disuntik.” tolak Faras.
Atep dan Tuti melihat Faras dan Faris sedang berbicara dengan dua laki-laki dewasa asing.
“Aras, Aris, kita pulang yuk. Sudah siang, Mang Atep mau sholat dzuhur di masjid.” panggil Atep.
Tuti yang melihat wajah tampan Kagendra dan Rudi langsung salah tingkah dan menarik-narik kaus yang dikenakan Atep.
“Apaan sih Tut.” bentak Atep.
“Aa…itu cowok-cowok ganteng.” bisik Tuti malu-malu.
“Jangan bikin malu.” desis Atep.
Atep melihat Faras yang mengucek-ngucek matanya.
“Mata Aras kenapa?” tanya Atep.
Kagendra yang mendengar Atep memanggil Faras dengan tepat dan tidak terlihat bingung untuk membedakan antara Faras dan Faris segera menghampiri Atep.
“Maaf, Pak. Tadi Aras dan Aris bermain bersama saya. Matanya Aras terkena cipratan air sungai dan dia bilang matanya perih. Ini salah saya. Kalau anda berkenan, saya akan membawa Aras ke dokter.”
“Aras tidak mau ke dokter.” kata Faras sedikit berteriak.
Kagendra mengira kalau Atep adalah ayah dari Faras dan Faris walaupun tadi Faras menyebut bahwa ia dan Faris diantar oleh Atep yang dipanggilnya Mang Atep dan Tuti yang dipanggilnya Teh Tuti.
“Tidak apa-apa, Pak. Biasa kalau mata kena air jadi perih, nanti juga biasa lagi. Kecuali kalau ada benda asing yang masuk, baru kita bawa ke dokter.” kata Atep sambil memeriksa mata Faras.
__ADS_1
“Aras, benar tidak apa-apa?” tanya Kagendra lagi untuk memastikan.
“Tidak, Om. Kan tadi Aras sudah bilang kalau Aras tidak apa-apa. Om saja yang riweuh.” ujar Faras kesal karena dari tadi ditanya hal yang sama.
“Eh Aras, tidak boleh bicara yang tidak sopan begitu sama Om.” kata Atep mengingatkan.
“Habis Aras kesal dari tadi ditanya terus. Sudah Aras bilang juga dari tadi kalau Aras tidak apa-apa.”
“Ya sudah kita pulang saja yuk. Minta maaf dulu sama Om.” perintah Atep.
“Maaf, Om.” ucap Faras singkat dan dingin. Sepertinya karakter Faras ini lebih mendekati karakter Kagendra yang tegas, serius dan dingin, sebaliknya karakter Faris lebih mirip Sadiyah yang lebih hangat, santai dan suka bercanda.
“Om…Aris pulang dulu yaaa….besok ketemu lagi. Besok ada yang syuting lagi kan? Aris mau nonton lagi. Tadi tidak sempat melihat artis-artis yang ada di tivi. Besok ada kan, Om?” tanya Faris
“Kamu tahu siapa Om?”
“Om yang main di syuting itu kan?”
“Kenapa kamu bisa tahu kalau Om…..” belum sempat Kagendra meneruskan kalimatnya, Faris sudah memotongnya.
“Soalnya Aris baru melihat Om hari ini jadi pasti Om yang dari syuting itu.”
“Besok kamu cari Om. Nonton syutingnya dekat Om jadi tidak berdesakan sama orang lain.”
“Benar Om? Kita boleh ketemu sama artis-artis yang ada di tivi?”
“Asyiiiik……” Faris melompat-lompat senang dan memeluk Kagendra.
Kagendra yang tiba-tiba mendapatkan pelukan dari Faris jadi tertegun. Ia merasakan hal yang aneh pada jantungnya. Ada perasaan hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Kagendra balas memeluk Faris.
Kagendra juga ingin memeluk Faras, tapi Faras berada jauh dari jangkauannya. Ia menghampiri Faras tapi Faras hanya melambaikan tangannya.
“Ketemu besok ya Om.” Faras membalikkan badan dan berlalu dari pandangan Kagendra.
“Kalau begitu, saya pamit dulu.” Atep menjulurkan tangan kanan untuk bersalaman dengan Kagendra. “Terima kasih karena sudah mengizinkan Aras dan Aris untuk menonton bersama Anda besok.
Setelah kepergian Faras dan Faris, Kagendra masih mematung di tempatnya berdiri.
“Kenapa, Bos?” pertanyaan Rudi mengagetkannya.
“Saya merasakan hal yang aneh sejak tadi bermain dengan mereka. Sepertinya saya sudah mengenal mereka sejak lama.”
“Saya juga tadi melihatnya. Bos tertawa lepas ketika bermain dengan mereka.”
“Kamu melihatnya?”
“Iya. Tadi saya melihat Bos bermain bersama anak kembar itu dan saya melihat Bos tertawa lepas. Ini pertama kalinya saya melihat Bos yang seperti ini selama enam tahun terakhir. Senyum Bos hadir kembali di wajah Bos. Tadi, Bos terlihat seperti menikmati hidup. Saya juga kaget melihat Bos yang seperti itu.”
“Begitu ya?”
“Kalau saya tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri, saya juga tidak akan percaya.” Rudi terkekeh.
“Kita balik lagi ke hotel. Besok kalau kamu melihat Aras dan Aris di kerumunan orang yang menonton, bawa mereka ke dekat saya.”
“Siap, Bos.”
***********
__ADS_1