
“Teh, bangun Teh….” Alena menggoyangkan bahu Sadiyah pelan.
Sadiyah terkesiap merasakan tangan Alena yang menggoyangkan bahunya.
“Eh…Len…kapan sampai?”
Terlihat mata Sadiyah yang bengkak karena banyak menangis dan kurang tidur.
“Teh, sebaiknya teteh istirahat saja dulu. Biar Lena yang jaga Aa disini.” Alena tidak tega melihat kondisi Sadiyah yang terlihat sangat letih. Kakak laki-lakinya pun sejak kemarin belum sadarkan diri.
“Gak, Len. Teteh mau tunggu sampai Aa bangun.”
Alena memahami apa yang dirasakan oleh Sadiyah saat ini karena ia pun pernah merasakannya saat Kagendra dalam kondisi yang hampir sama saat dulu ditinggalkan Sadiyah.
“Len, titip Aa dulu. Teteh mau ke kamar mandi sebentar saja mau wudhu.” pinta Sadiyah dengan enggan. Sepertinya ia tidak ingin beranjak meninggalkan Kagendra walau hanya sedetik.
Alena menganggukkan kepala. Ia melihat punggung Sadiyah yang terlihat sangat lelah. Air matanya pun meleleh tanpa bisa ia tahan lagi. Ia merasa sangat sedih melihat kondisi kakaknya yang belum siuman dan juga kakak iparnya.
“A…bangun A. Aa gak kasihan sama Aras dan Aris juga sama Teh Iyah. Kasihan Teh Iyah A, dari kemarin belum istirahat nungguin Aa bangun. Anak kembar Aa juga menangis terus karena gak bisa ketemu sama ayah mereka.” Alena menghapus air mata yang mengalir dengan punggung tangannya.
“A…Lena pengen curhat sama Aa. Ada laki-laki nyebelin yang bikin Lena kesal. Aa harus cepat sadar biar bisa ngelindungi Lena. Kalau gak ada Aa, nanti Lena gimana. Cepet bangun dong A!”
Alena terus bicara pada kakaknya dengan kalimat yang terputus-putus karena dada yang begitu sesak menahan tangis.
Dua hari Alena menemani Sadiyah menunggui Kagendra. Karena ada jadwal mengajar dan rapat yang tidak bisa ditinggalkan, dengan berat hati Alena harus pergi ke kampusnya.
“A, Lena pamit dulu ya. Lena ada jadwal mengajar dan rapat. Jangan marah ya A. Setelah Lena selesai mengajar dan rapat, Lena pasti kesini lagi nemenin Aa. Kalau Lena kesini lagi, Aa harus sudah bangun. Lena tidak mau tau lagi, pokoknya Aa harus bangun. Kalau pas Lena kesini Aa belum bangun, Lena marah.”
Setelah memberikan ancaman pada Kagendra, Alena mengecup kening Kagendra dan memeluknya.
“Lena sayang Aa. Jangan tinggalin Lena.” air mata kembali merembes dari pelupuk mata Alena.
Alena memeluk Sadiyah dengan erat. “Yang sabar ya, Teh. Insya Allah Aa bakal segera bangun. Kita do’a terus.” ia menguatkan kakak ipar satu-satunya itu sekaligus menguatkan hatinya sendiri. Mereka berdua saling berpelukan dengan air mata berderai.
“Lena pergi dulu ya. Kalau urusan pekerjaan Lena sudah selesai, Lena kesini lagi. Teteh jangan lupa jaga kesehatan juga. Lena pergi ya, Teh. Assalamu’alaikum.” pamit Alena.
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam.” jawab Sadiyah lirih dengan wajah yang terlihat sangat lelah. Jejak air mata di pipinya terlihat dengan sangat jelas.
*******
Sudah tiga hari berlalu namun Kagendra masih belum sadarkan diri. Sadiyah hampir tidak pernah meninggalkan Kagendra. Ia hanya beranjak dari tempat duduknya untuk sholat, ke kamar mandi dan makan saja.
“Iyah, sebaiknya kamu pulang dan istirahat saja dulu di rumah. Biar Ibu dan Abah yang menjaga Endra di sini.” Indriani merasa kasihan pada Sadiyah yang sejak Kagendra selesai dioperasi hampir tidak pernah beranjak dari duduknya di sebelah kiri ranjang Kagendra.
“Tidak apa-apa, Bu. Iyah belum tenang kalau Aa masih belum sadar. Biarkan Iyah menemani Aa disini.”
“Kasihan Aras dan Aris di rumah kalau Ayah dan Ibunya berada jauh dari mereka.”
Sadiyah terperanjat kaget karena baru teringat Faras dan Faris. Sejak Kagendra mengalami musibah, fokusnya tercurah pada Kagendra seorang. Ia pun mengabaikan dirinya sendiri dengan tidak makan secara teratur dan juga kurang tidur.
“Bu, tapi Iyah ingin disini. Iyah takut kalau Aa tidak akan bangun selamanya. Iyah belum minta maaf sama Aa. Iyah berdosa karena marah dan meninggalkan Aa. Iyah takut kalau Iyah tidak akan bisa lagi jadi……” Sadiyah tidak sanggup meneruskan kalimatnya, ia mulai terisak karena tidak kuat lagi menahan kesedihan dan kekhawatirannya.
“Sttt…jangan putus asa. Kita do’akan Aa supaya cepat bangun.” Indriani memeluk Sadiyah dengan erat. Air matanya pun menurun deras meninggalkan jejak di pipi.
*******
Sepertinya Kagendra masih enggan untuk membuka matanya. Hampir setiap waktu, Sadiyah berbicara apapun yang ingin ia katakan di samping Kagendra yang masih menutup matanya.
“Assalamu’alaikum, Teh.” Alena memberi salam pada kakak iparnya. Setelah dua hari menyelesaikan segala urusan pekerjaannya di kampus, ia langsung meluncur kembali untuk menemani kakaknya.
“Wa’alaikumsalam.” jawab Teh Iyah lirih. Wajahnya terlihat semakin kuyu.
“Aa masih belum bangun?” tanya Alena.
Sadiyah hanya sanggup menggelengkan kepalanya.
“Yang sabar ya, Teh.” Alena mengusap lembut punggung Sadiyah. “Teteh sudah makan?”
Sadiyah hanya menganggukkan kepala. Sepertinya energi ia untuk berbicara sudah benar-benar habis
“Teteh rebahan aja dulu di sofa. Biar Lena yang jaga di sini.” Tawar Alena. Ia tidak tega melihat wajah Sadiyah yang terlihat sangat lelah.
__ADS_1
Tiba-tiba Sadiyah memeluk Alena dan membenamkan wajahnya di bahu adik iparnya itu. Terdengar isakan tangis tertahan Sadiyah. Alena membalas pelukannya sambil mengusap lembut punggung Sadiyah.
“Teteh takut, Len. Teteh takut kalau A Endra tidak akan pernah bangun lagi.”
Mendengar perkataan Sadiyah, air mata Alena kembali bobol. Mereka berdua saling berpelukan sambil menangis.
*********
Seharian penuh kemarin Alena menemani Sadiyah dan hari ini dengan berat hati Alena harus kembali ke kampusnya. Ia merasa kesal dengan berbagai rapat dan bimbingan yang harus dilakukannya. Jika menuruti keinginannya, rasanya ia ingin mengambil cuti saja seperti dulu saja ia menemani Kagendra yang sedang terpuruk. Tetapi saat ini ia bukan lagi asisten dosen seperti dulu. Kali ini ia adalah seorang dosen tetap yang tidak bisa seenaknya mengambil libur.
Sadiyah kembali sendirian menemani Kagendra yang sepertinya masih menikmati tidur panjangnya. ia akan memulai kembali kegiatan rutin yang sudah hampir seminggu ini dilakoninya yaitu berbicara pada Kagendra walaupun tidak ada respon dari orang yang diajaknya bicara.
Seperti saat ini, setelah selesai membaca beberapa lembar Al-Qur’an, Sadiyah mulai berbicara lagi pada Kagendra seperti sebelum-sebelumnya. Walaupun Kagendra belum pernah sekalipun merespon apa yang Sadiyah katakan, tapi ia tetap berbicara pada Kagendra.
Banyak hal yang Sadiyah katakan pada Kagendra. Ia menceritakan awal ia hamil si kembar, kemudian beratnya masa kehamilan dengan membawa dua janin di perut, perjuangan saat ia melahirkan dan membesarkan Faras dan Faris hingga perasaannya yang masih sama sejak saat sebelum pergi meninggalkan Kagendra hingga sekarang.
“A…bangun A! jangan tidur terus. Kalau Aa tidur terus, nanti Aa tidak bisa bermain sama Aras dan Aris. Kasihan mereka di rumah, menunggu Ayah mereka untuk mengajak bermain ke hutan. Iyah minta maaf kalau saat kalian main di hutan, Iyah mengajak paksa mereka untuk pulang. Mulai sekarang, Iyah tidak akan lagi melarang Aa untuk bermain bersama dengan mereka.”
Masih belum tampak respon positif dari Kagendra. Tubuhnya masih tidak bergerak sama sekali. Hanya terdengar bunyi alat pendeteksi jantung yang terdengar di ruangan perawatan ini sebagai tanda bahwa nyawa Kagendra masih di dalam raganya.
“Kalau Aa tidur terus seperti ini, jangan salahkan kalau nanti Aras dan Aris mencari ayah baru yang mau mengajak mereka bermain bersama. Memangnya Aa ridho kalau mereka punya ayah baru?” Sadiyah mencoba peruntungannya dengan mulai membicarakan kandidat ayah baru buat Faras dan Faris.
Sadiyah mulai kesal dan frustasi karena sudah banyak hal yang ia katakan pada Kagendra tapi tidak mendapatkan respon sama sekali.
Sadiyah mulai memukul pelan lengan kiri Kagendra yang terbebas dari selang infus.
“Kalau Aa keras kepala seperti ini, jangan salahkan Iyah kalau Iyah mencari suami baru pengganti Aa. Iyah mau mulai mencarinya hari ini juga. Iyah hitung sampai tiga, kalau Aa tidak juga bangun, Iyah mau pergi mencari suami dan ayah baru buat Aras dan Aris. Satu…dua…tiga….” Sadiyah mulai mengancam Kagendra.
Sadiyah melihat tubuh Kagendra yang masih terdiam tak bergerak.
“A…Iyah serius ini. Aa masih keras kepala tidak mau bangun? Aa tidak kasihan sama Iyah, Aras dan Aris. Aa jahat….” air mata kembali mengalir deras di pipi Sadiyah.
*********
to be continued....
__ADS_1