
Sepertinya perpisahan selama enam tahun telah banyak merubah Sadiyah. Sadiyah yang dulu mungkin tidak akan berani berkata ketus atau membalas setiap perkataan Kagendra namun sekarang ia lebih berani. Sebaliknya, Kagendra menjadi lebih lembut dibandingkan enam tahun yang lalu. Dulu, Kagendra akan marah jika Sadiyah berkata ketus namun cinta telah merubah segalanya. Ia menjadi lebih lembut pada Sadiyah.
Sadiyah sudah berada di dalam ruangan Kagendra. Ruangannya baru karena terakhir Sadiyah berkunjung ke kantor Kagendra, ruangannya masih berada di lantai 20.
“Ruangan Aa baru?”
“Sekarang Aa kan di lantai 30, pasti ruangannya juga baru dan lebih luas.”
Sadiyah melihat ruangan yang baru ini jauh lebih luas. Terdapat ruangan khusus untuk Kagendra jika ia terpaksa bermalam di kantor. Ada juga space khusus untuk anak-anak bermain. Kagendra menyiapkannya space khusus itu untuk Faras dan Faris bermain saat ia harus mengurus kedua anak kembarnya sendiri.
“Bagus deh, jadi Iyah tidak akan teringat lagi adegan tidak senonoh itu.”
“Jangan mulai lagi, Sayang. Kamu kan sudah memutuskan untuk memaafkan dan menerima Aa lagi. Seharusnya kamu tidak perlu mengungkit-ungkit kejadian itu lagi. Bagi Aa, itu adalah masa lalu Aa yang kelam. Jangan kamu ingatkan lagi hal yang menyakitkan baik untuk kamu maupun untuk Aa!”
Rudi yang menyaksikan drama sepasang anak manusia di hadapannya itu terlihat sangat jengah dan canggung. Ia memutuskan untuk diam-diam menyelinap ke luar dari ruangan bosnya.
“Pak Rudi mau ke mana?” tanya Sadiyah mengagetkan Rudi.
“Eeeh… Saya mau keluar makan siang dulu Bu Bos.” jawab Rudi sekenanya.
“Saya sudah membawakan makan siang spesial untuk Pak Rudi. Makan siang di sini saja, Pak. Selama ini, bosnya Pak Rudi sudah sering menyusahkan, terutama satu bulan terakhir ini. Pak Rudi pasti lelah sekali. Anggap saja makan siang ini sebagai bentuk permintaan maaf dari saya.” ucap Sadiyah yang membuat Rudi semakin tidak enak hati.
“Ah, bukan masalah besar Bu Bos. Saya sudah biasa sibuk.”
“Jangan terlalu sibuk, Pak. Oh iya, Pak Rudi sudah menikah? Sudah lama saya tidak mendengar kabar Pak Rudi.”
“Belum Bu Bos.” jawab Rudi semakin canggung apalagi ketika melihat tatapan tajam milik bosnya.
“Mau saya bantu carikan?”
“Oh, eh… tidak perlu Bu Bos. Nanti biar saya cari sendiri saja,” Sekilas Rudi melirik ke arah Kagendra dan masih melihat muka masamnya.
“Kalau Pak Rudi mau, ada si Tuti, tapi dia masih dua puluh tahun dan terlalu muda untuk Pak Rudi. Atau mau sama teman kuliah saya?”
“Eh, tidak usah. Bu Bos, kenapa itu suami Bu Bos mukanya masam sekali? Mirip asinan Bogor,” bisik Rudi.
“Gak usah dipikirkan dan gak usah diperhatikan! Sekarang Pak Rudi makan saja dulu. Ini satu kotak untuk Pak Rudi. Saya masak spesial untuk Pak Rudi yang selalu dibuat sibuk sama laki-laki itu.”
Sadiyah menyerahkan satu kotak makanan berisi nasi, capcay, ayam teriyaki, dan perkedel jagung pada Rudi.
“Kamu makan di luar!” perintah Kagendra tegas.
“Siapa juga yang mau makan di dekat singa marah.” Rudi ngedumel dengan suara rendah sambil meninggalkan ruangan Kagendra.
__ADS_1
“Beraninya kamu bersikap mesra di depan suami kamu sendiri, hah.” Kagendra berkata dengan nada marah.
“Siapa yang bersikap mesra? Jangan suka nuduh yang tidak-tidak.”
“Barusan kamu memberikan makan siang buat Rudi. Apa namanya itu kalau bukan bersikap mesra, hah?”
“Kan tadi Aa yang menyuruh Iyah untuk menyiapkan makan siang untuk Pak Rudi juga. Kenapa jadi menyalahkan Iyah?”
“Tapi tidak perlu bersikap mesra sampai bilang kalau kamu masak sesuatu yang spesial untuk laki-laki lain.”
“Kenapa? Cemburu?”
“Iya. Aa cemburu dan tidak suka kamu bersikap terlalu berlebihan pada laki-laki lain termasuk Rudi. Walaupun Rudi itu seperti bayangan Aa, tapi kamu tidak boleh memperlakukan dia secara khusus.”
“Iyah juga tidak suka kalau karyawan Aa yang berjenis kelamin perempuan bersikap berlebihan dalam bekerja. Iyah tidak suka kalau para pegawai perempuan itu mengenakan busana yang kekurangan bahan sampai aset mereka yang seharusnya tertutup malah dipamerkan secara gratis.”
Kagendra tertawa terbahak mendengar suara kecemburuan Sadiyah. Ia bahagia.
“Kenapa tertawa? Mengejek Iyah? Senang kalau istrinya cemburu, hah?” tanya Sadiyah sinis.
“Harus ada yang dijelaskan di sini supaya kamu tidak marah-marah dan salah sangka. Aa memang pimpinan di perusahaan tapi Aa tidak bisa memaksakan cara mereka berpakaian selama mereka berpakaian sopan dan rapi. Bisa diterima alasannya?”
“Sebagai pemimpin, Aa berkewajiban untuk menjaga martabat semua pegawai perempuan yang bekerja di sini.”
“Aa pikir busana kerja mereka masih dalam batas wajar. Setelah makan siang, kita berkeliling untuk berkenalan dengan semua karyawan Aa. Lalu kamu nilai, apakah mereka berpakaian pantas atau kurang pantas.”
Kagendra tersenyum saat menyadari kecemburuan yang sedang diperlihatkan oleh Sadiyah saat ini. Walaupun istrinya itu tidak terang-terangan menyebutkan bahwa dirinya cemburu tapi Kagendra sudah mulai paham alasan suasana hati Sadiyah yang kacau dan ia sangat bahagia dengan cemburu yang ditunjukkan oleh istrinya.
Sebelumnya, Kagendra merasa bingung dengan Sadiyah yang marah-marah. Namun saat Sadiyah menyebut-nyebut tentang pegawai perempuan yang cantik dan seksi, Kagendra langsung paham dengan situasi ini.
“Kenapa jawabannya ketus? Kamu cemburu?”
“Kalau Iyah cemburu memangnya kenapa? Tidak boleh? Jadi hanya Aa yang boleh cemburu sama Iyah, hah?”
“Bukannya begitu, sayang. Aa malah bahagia kalau kamu cemburu karena artinya kamu sangat mencintai Aa, iya kan?”
“Kata siapa? Siapa juga yang cemburu?” Sadiyah masih menyangkal jika dirinya kesal karena cemburu.
“Ya sudah, tidak perlu dibahas lagi. Aa sudah lapar. Mana makan siangnya?” Kagendra memilih untuk mengalah saja daripda istrinya meneruskan marahnya.
“Tuh, ambil saja sendiri.” Sadiyah menunjuk kotak makanan berwarna biru yang diletakkan di atas meja.
“Tadi kamu memberikan langsung kotak makan untuk Rudi. Kenapa sama suami sendiri malah menyuruh ambil sendiri?”
__ADS_1
“Iyah masih kesal sama Aa.”
“Sekesal apapun, kamu masih punya kewajiban untuk melayani suami.”
“Iya… iya.” Sadiyah beranjak dari duduknya lalu mengambilkan kotak makan siang untuk Kagendra.
“Harus ikhlas juga dalam melayani suami. Jangan sambil cemberut begitu.”
Sadiyah menatap Kagendra tajam, bersiap untuk mengeluarkan kekesalannya lewat kata-kata lagi tetapi Kagendra langsung mengalihkan perhatian Sadiyah dengan langsung memeluknya.
“Terima kasih bidadariku.”
Kagendra menciumi wajah Sadiyah.
“Jangan marah. Kalau marah terus nanti cepat tua. Kita makan siang bersama, ya. Aa suapin.”
Kagendra mengambil kotak makan siangnya dari tangan Sadiyah kemudian ia duduk di atas sofa dan mulai menikmati masakan buatan istrinya yang tersayang.
“Sini, Sayang.”
Sadiyah duduk di samping Kagendra.
Kagendra menyuapkan satu sendok penuh berisi nasi dan ayam teriyaki ke dalam mulut Sadiyah lalu menyuapkan satu sendok lagi ke mulutnya sendiri. “Hmm, lezatnya masakan istriku.”
Kagendra terus menyuapkan makanannya bergantian ke dalam mulut Sadiyah dan dirinya sendiri hingga tandas.
“Kenyang tidak? Seharusnya Aa makan sendiri. Iyah menyiapkan satu kotak makan untuk satu orang tapi malah kita makan satu kotak untuk berdua.”
“Makan bersama kamu membuat Aa kenyang dan puas. Tapi kalau kamu mau ngasih makanan yang lain, Aa akan terima dengan senang hati.” Kagendra mengedipkan sebelah matanya.
“Maksudnya? Makanan lain?”
“Ini…”
Kagendra mengecup bibir Sadiyah sekilas.
“Ih siang-siang begini pikirannya sudah mesum. Salat zuhur dulu. Iyah siapkan sajadah dan sarungnya. Di mana Aa simpan sajadah dan sarungnya?”
“Di kamar, di pojok kanan.”
Sadiyah berjalan ke kamar khusus untuk menyiapkan perlengkapan salat.
“Aa … Kok ada mukena di sini sih? Siapa perempuan yang suka salat di sini?” tanya Sadiyah berteriak ketika menemukan satu set mukena berwarna putih.
__ADS_1
*********
to be continued...