
Sebenarnya ada alasan kuat di belakang larangan Kagendra. Ada satu kejadian yang membuat Kagendra khawatir jika banyak pria yang memandang istrinya dengan pandangan yang berbeda. Walaupun pulau Maldives terkenal sebagai tempat tujuan untuk berbulan madu, namun ada saja pria hidung belang yang mengincar perempuan yang sudah memiliki pasangan.
Kemarin malam saat Kagendra dan Sadiyah makan malam di sebuah restoran, seorang pria mendatangi meja mereka ketika Kagendra sedang sendirian karena Sadiyah pergi ke kamar kecil. Pria yang terlihat necis dengan barang-barang branded menempel di sekujur tubuhnya menawari Kagendra sejumlah uang, saham, sampai perempuan-perempuan cantik yang bisa diperistri. Ia akan mendapatkan seluruh materi yang mungkin jika dirupiahkan akan mencapai tidak kurang dari 1 triliun untuk ditukar dengan istrinya.
Ya benar, laki-laki necis itu tertarik pada Sadiyah dan menginginkannya untuk dijadikan istri. Tentu saja Kagendra marah besar dan memaki-maki pria lancang itu. Ia mengatakan pada pria itu bahwa dirinya tidak akan pernah menukarkan Sadiyah walau dengan dunia dan seisinya. Laki-laki necis itu tidak tahu kalau kekayaan Kagendra selevel dengan kekayaannya atau bahkan lebih jika ditambah dengan warisan yang mungkin akan didapatkan oleh Kagendra.
Berkaca dari kejadian yang membuatnya kesal dan marah sampai level tertinggi, Kagendra melarang Sadiyah pergi jalan-jalan bahkan jika mereka jalan-jalan bersama. Kagendra tidak ingin kejadian malam itu terulang kembali. Rasanya ia ingin cepat-cepat pulang saja ke Indonesia. Setidaknya di Indonesia tidak akan ada pria lancang yang akan memintanya untuk menukar istri dengan sejumlah materi yang tidak seberapa.
“Kalau kamu bandel dan memaksa untuk jalan-jalan, kita pulang saja. Hari ini juga kita pulang!” tegas Kagendra.
“Aa kenapa sih? Kemarin-kemarin saja Aa bilang tidak sabar untuk pergi liburan sama Iyah. Yang namanya liburan itu kita jalan-jalan menikmati keindahan alam, bukan hanya berdiam di kamar saja.”
“Dari sini juga kita bisa menikmati alam. Sama saja, kan?”
“Seminggu di sini terus pasti bosan, A. Iyah juga ingin melihat-lihat pemandangan yang lain. Iyah ingin makan di restoran bawah laut itu. Kapan lagi coba kita bisa menikmati ini semua kalau bukan sekarang. Ada kesempatan tapi tidak kita manfaatkan kan mubazir.”
“Pokoknya Aa melarang!”
“Kenapa? Apa alasannya? Kalau Iyah tidak tahu alasan dibalik larangan Aa, Iyah tidak akan terima.”
Kagendra sedang menimbang-nimbang untuk menceritakan kejadian yang membuatnya kesal hingga melarang Sadiyah untuk keluar dari villa.
“Tidak bisa jawab?”
“Tunggu sebentar! Aa sedang berpikir dulu.”
“Berpikir apa? Cari-cari alasan yang tidak masuk akal?”
__ADS_1
“Ya sudah, Aa ceritakan saja. Kamu dengarkan baik-baik. Setelah Aa selesai cerita, silahkan kamu pikirkan apakah sikap Aa ini benar atau salah di mata kamu.”
Kagendra menceritakan kejadian malam itu yang membuatnya kesal tanpa ditutup-tutupi. Sadiyah tercenung setelah mendengar cerita Kagendra. Ia tidak percaya ada pria berengsek seperti itu.
“Aa tidak berbohong, kan?” tanya Sadiyah lirih.
“Buat apa Aa berbohong? Tidak ada untungnya.”
“Iyah masih belum percaya ada laki-laki seperti itu. Memangnya Iyah barang yang bisa ditukar seenaknya saja. Dasar laki-laki berengsek. Iyah paling benci sama laki-laki yang menganggap perempuan seperti barang yang bisa seenaknya ditukar, diganti, atau dibuang. Dasar berengsek!” Sadiyah mendumel tak henti-henti.
“Nah, sekarang kamu paham kenapa Aa melarang untuk jalan-jalan keluar dari pulau ini, kan? Aa khawatir ada pria berengsek yang hobi melecehkan perempuan, apalagi perempuan itu istri dari pria lain. Kamu saja marah, apalagi Aa.”
“Tapi Aa benar tidak akan menukar Iyah dengan apapun, kan? Kalau laki-laki itu menawarkan materi yang dua atau tiga kali lipat dari itu, Aa tidak akan melepaskan Iyah, kan? Aa tidak akan tergoda dengan perempuan-perempuan cantik yang dia tawarkan, kan?” tanya Sadiyah sedikit khawatir. Ia memeluk Kagendra dengan begitu eratnya. Sadiyah takut jika tidak memeluk seerat itu, suaminya akan pergi dan menghilang.
“Kalau Aa menerima tawaran laki-laki berengsek itu, kamu sudah tidak akan ada di dekapan Aa lagi,” Kagendra sedikit melonggarkan pelukan mereka dan memandang wajah Sadiyah.
Sadiyah menganggukkan kepala dengan senyum terkembang di bibir. “I love you. I love you so much. Nothing’s gonna change my love for you.”
“I love you more than you love me.”
“Jangan pernah ada lagi ada wanita lain di hati Aa, ya.”
Kagendra mengeratkan pelukannya. “You’re the only one.”
“Jadi kita habiskan waktu di sini saja, hm?” goda Kagendra.
“Iya, di sini saja sudah cukup.”
__ADS_1
Sadiyah merasa khawatir juga setelah mendengar cerita Kagendra. Saat ini mereka berada di luar negeri, jauh dari negara mereka. Walaupun Kagendra memiliki kekuatan yang cukup untuk melindunginya, tetapi kekuatannya belum terukur di luar Indonesia. Kagendra pun tidak memiliki koneksi di negara yang sedang mereka kunjungi sehingga mereka harus bersikap low profile.
Tiga hari berturut-turut, Kagendra dan Sadiyah menghabiskan waktu di villa dan sekitarnya saja. Banyak kegiatan yang merela lakukan bersama-sama. Mereka berenang baik di kolam renang privat yang berada di depan villa maupun di pantai. Mereka juga menikmati pemandangan bawah laut dengan menggunakan perlengkapan menyelam. Untuk makan pagi hingga makan malam, mereka menggunakan fasilitas restoran yang berada di kawasan villa.
Siang hari setelah selesai beraktivitas di pantai, mereka kembali ke villa untuk membersihkan diri dan bersiap untuk menyantap makan siang mereka. Sambil menunggu makanan diantarkan, Sadiyah dan Kagendra duduk santai di kursi depan villa.
“Empat hari di sini, kulit Iyah tambah hitam karena terpapar matahari terus padahal sudah pakai sunblock. Kalau Iyah berubah jadi jelek banget, Aa bakal ninggalin Iyah tidak?” keluh Sadiyah sambil mengaplikasikan krim pelembab di kaki dan tangannya.
“Tidak apa-apa hitam juga. Di mata Aa, kamu tetap manis. Kalau kamu berubah tidak secantik sekarang, hm … Memangnya apa yang akan membuat kamu tidak cantik, huh?”
“Banyak laaah… Sewaktu Iyah hamil Aras dan Aris, badan Iyah melar, wajah Iyah juga penuh dengan jerawat,”
“Untung saja dulu Aa tidak melihat wajah kamu yang sedang jelek,” goda Kagendra.
“Aa… jahaaat…!” Sadiyah mencubiti perut dan lengan Kagendra.
“Sayang… kamu itu perempuan yang sangat Aa cintai. Aa akan berusaha dengan keras agar kamu tidak banyak berubah. Aa tidak seperti laki-laki lain yang selingkuh karena terpincut perempuan lain yang lebih cantik tapi membiarkan istrinya tidak merawat diri. Fitrahnya laki-laki itu menyukai perempuan yang cantik dan tugas laki-laki untuk menyiapkan dana buat istrinya merawat diri. Namun, di mata Aa, kamu adalah perempuan tercantik sejagat raya.”
“Gombal teruuss…” sungut Sadiyah.
“Aa selalu bilang kalau gombalnya Aa hanya untuk kamu,”
“Makin gombaal…”
Gemas dengan ucapan dan sikap merajuk istrinya, Kagendra langsung menyergap bibir Sadiyah.
Lalu terjadilah kegiatan yang selama empat hari ini selalu mereka lakukan dalam setiap kesempatan.
__ADS_1
*******