Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
145. Sadiyah & Alena


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu…


Kandungan Sadiyah sudah membesar. Beberapa minggu lagi ia akan melahirkan. Semua persiapan sudah hampir beres. Kamar bayi pun sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Menurut hasil USG, bayi kembar yang dikandung berjenis kelamin laki-laki. Saat pertama kali Kagendra mengetahui jenis kelamin anak kembar keduanya, ia sedikit kecewa karena harapannya mendapatkan bayi kembar berjenis kelamin perempuan belum terwujud.


Sadiyah dan Alena sedang bersantai di teras belakang. Sebentar lagi pernikahan Alena dan Atep akan dilangsungkan. Sadiyah bersikeras untuk membantu detail pernikahan adik ipar dan adik angkatnya kendati Kagendra marah akibat sifat kepala batunya. Semua protes Kagendra tidak didengarnya.


“Teh, Atep sudah bilang ke Teteh kalau kita mau melangsungkan akad dan resepsi di café tempat dia kerja?” tanya Alena.


“Sudah,” jawab Sadiyah sambil mengunyah goreng tahu dan bakwan hangat lengkap dengan cabe rawit.


“Kita main ke sana yuk.”


“Atep belum bilang apa-apa sama kamu?”


“Bilang apa?”


“Tentang café.”


“Memangnya kenapa dengan café? Oh, maksudnya biaya sewa café? Nanti biar dia minta diskon sama yang punya café. Diskon pegawai gitu.”


“Kamu itu pelit banget sih Len. Punya abah banyak duit, punya kakak banyak duit, duit sendiri juga banyak tapi masih minta diskon. Malu-maluin abah sama kakak kamu saja.”


“Ha-ha-ha, yang namanya perempuan itu gak bisa lepas dari yang namanya diskonan atuh, Teh.”


“Iya juga sih. Oh iya, nanti kamu tanya-tanya saja ke Atep tentang café. Tanyanya yang detail.”


Alena sedikit bingung dengan perkataan Sadiyah. Ia bertanya-tanya kenapa kakak iparnya itu bersikeras agar ia bertanya lebih detail mengenai café tempat Atep bekerja. Apa cafénya akan dijual? Kalau memang cafénya akan dijual mungkin ia akan membelinya. Dengan jumlah tabungan ditambah meminjam pada abah atau kakaknya mungkin ia akan sanggup membeli café tersebut.


“Iya, Teh. Lena suka sama cafénya. Indah banget. Mungkin nanti Lena bisa invest uang Lena buat bikin usaha café. Biar Atep gak kerja ke orang lagi.”


“Hm, bagus itu.” Sadiyah mengangguk-angguk sambil mengambil lagi bakwan yang entah sudah berapa banyak yang masuk ke dalam perutnya. Sadiyah sudah tidak peduli dengan protes suaminya tentang makanan yang seharusnya dan tidak seharusnya masuk ke dalam perutnya. Sudah sering Kagendra mengingatkan Sadiyah akan bahaya mengkonsumsi gorengan tapi tidak digubrisnya.


“Mau jam berapa kita pergi ke café?” tanya Sadiyah.


“Sekarang saja yuk. Sekalian makan siang di sana.”


“Memang hari ini kamu tidak ada kelas?”


“Ih Teteh mah baru nanya sekarang. Lena gak ada kelas hari ini, jadi ambil cuti saja lah sekalian mau melihat tempat akad sama resepsi.”


“He-he-he.” Sadiyah meringis mendengar gerutuan adik iparnya.


Alena memanyunkan bibir mendengar kekehan Sadiyah.

__ADS_1


“Teteh bahagia melihat kamu bahagia seperti ini. Mudah-mudah kamu berjodoh dengan Atep dunia dan akhirat.


“Aamiiin.”


“Lena siap-siap dulu, Teh.” Setelah pamit pada Sadiyah, Alena langsung menuju kamar untuk berganti pakaian dan memoles wajah dengan sedikit make up.


Tidak lama kemudian Sadiyah masuk ke kamar Alena membawa satu set gamis lengkap dengan kerudungnya.


“Apa ini, Teh?”


“Pakaian buat kamu. Teteh yakin kamu lagi kebingungan. Iya, kan?” goda Sadiyah.


“Lena bisa pakai yang ada saja di sini. Teteh gak usah repot-repot.”


“Ah Lena, adiknya Kagendra. Teteh tahu kamu mau tampil cantik tapi bingung mau pakai apa karena pakaian yang ada di sini terbatas. Karena itulah  Teteh kasih pakaian ini buat kamu. Bukan pakaian baru juga sih, Teteh udah pernah pakai ini tapi baru sekali jadi belum terlihat kusam.”


“Ya gak mungkin kusam lah Teh kalau baru dipakai sekali. Lagian ini pasti harganya mahal, gak mungkin warnanya langsung pudar.”


“Aa yang beli ini, tapi Teteh kurang suka sama modelnya karena terlalu banyak detil seperti ini.”


“Memangnya Aa tidak akan marah kalau pakaian yang dia beli malah Teteh kasih sama Lena.”


“Kamu itu adik kesayangannya, gak mungkin dia marah kalau adiknya yang pakai.”


“Percayalah kalau Teteh sangat tahu,” kata Sadiyah dengan bola mata yang membesar.


Alena cekikikan melihat ekspresi Sadiyah.


“Makasih gamisnya Teh.”


“Hm… Mau Teteh dandanin juga? Teteh lagi suka mendandani orang-orang. Mungkin karena Teteh ingin anak perempuan jadi Teteh suka dandanin orang-orang.”


“Tapi kenapa Teteh malas dandan buat diri sendiri?”


“Gak tau juga nih. Pakai basic skin care saja Teteh malas sampai jerawatan begini. Mungkin karena si kembar di dalam perut laki-laki, jadi malas dandan.”


“Ah, Teteh mah ada-ada saja. Emang percaya sama mitos begituan?”


“Enggak juga sih tapi kata orangtua dulu kalau suka dandan nanti anaknya perempuan sebaliknya kalau malas dandan nanti anak yang keluar laki-laki. Tapi pada padasarnya emang Teteh malas dandan sih.”


Alena tertawa mendengar ucapan kakak iparnya.


“Walau tidak dandan dan ada jerawat di wajah tapi gak akan bikin Aa berpaling. Iya, kan?” kata Alena sambil menunjuk beberapa jerawat yang menghiasi wajah Sadiyah.

__ADS_1


“Halah, kamu bisa saja.”


Setelah Alena selesai mandi, Sadiyah kembali mengetuk kamar.


“Ada apa, Teh?”


“Mau dandanin kamu.”


“Gak usah, Teh. Lena cuma mau pakai pelembab saja sama bedak.”


“Teteh ngidam ngedandanin kamu,” ucap Sadiyah.


“Tapi, Teh….”


“Sudah. Kamu duduk manis saja. Kalau kamu gak mau didandanin, Teteh lapor sama Aa.”


“Iiiih, kenapa harus main lapor segala? Dasar tukang ngadu,” cebik Alena.


“Kamu sudah punya wudu, Len?”


“Sudah, Teh.”


“Bagus. Gak asyik kan kalau wajah kamu sudah full make up seperti ini, harus touch up lagi karena kena air.”


“Harusnya tadi Lena bilang kalau Lena belum wudu.”


“Awas saja kalau kamu berani bohong sama Teteh.”


Alena tertawa melihat ekspresi wajah Sadiyah dengan mata melototnya.


“Tuh lihat cermin deh. Keterampilan Teteh sangat berkembang pesat. Tadinya Teteh gak bisa dandan tapi hasilnya tidak mengecewakan.”


“Itu sih emang pada dasarnya Lena udah cantik,” ucap Lena sedikit menyombongkan diri.


“Iya…iya. Alena Damayanti adik dari Kagendra Kamandaka memang cantik luar biasa sampai-sampai adik Teteh yang bernama Atep Dananjaya itu bertekuk lutut.”


“Teteh….” Alena tersipu malu mendengar pujian Sadiyah.


“Yuk, kita pergi sekarang!” ajak Sadiyah.


*********


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2